Tahajjud

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Sejak bergabung di grup Tahajjud WA 3, saya melihat sejumlah postingan yang menurut saya sangat penting untuk dapat sesekali ataupun bahkan brkali-kali dilihat. Nyatanya saya tidak mampu menyimpan semua itu di piranti saya; apalagi yang mungkin ingin melihat-lihat ulang posting terdahulu bukan hanya saya. Oleh karena itulah saya usulkan untuk menyimpan posting-posting seperti itu di dalam blog; rupanya pengelola tidak berkeberatan. Oleh karena itulah saya siapkan blog tahajjud ini dengan nama WA3Tahajjud, karena nama lain sudah termanfaatkan oleh orang lain.

Semoga bermanfaat.

Terimakasih atas perhatian Anda semua.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.,

tauhid

Daftar Kebutuhan Obat selama Jamnas HW 2015 di Makassar.

Kebutuhan obat kontingen HW Jawa Timur (untuk sekitar 400 ABG dengan 80 orang senior pendamping; 7 hari yang “dibulatkan” menjadi 5 hari)

*** Untuk kemudahan silakan unduh lalu edit baris-baris angkanya,kemudian cetak untuk revisi seperlunya.

Yg Sakit,           Lama     Keluaran     Persediaan

**Panas & Nyeri: %/hr Org/hr Dosis/hr hr pakai Jml/hr       utk 5hr

Parasetamol      3  12  3       3       108    500

Antalgin        3  12     3      2        72       350

Ibuprofen       2  8      3      3        72     350

Piroxicam 20 mg 1  4      2      3        24       100

Obat gosok ointment0,2     0,8                                  6

Obat gosok cair 0,1 0,4                                  3

**Sakit perut:

Papaverin       3  12     3     2         72       350

Lomotil         2  8      4       2         64       300

New Diatab      5  20     3×2     2         240       1000

Metoclopramide  2  8      3      2         48       200

Antasida        3  12      4       2         96         400

Alumy susp.100 ml 0,1 0,7     3       1                     5

Laxadin/Dulcolax 1  4      2       2         16         90

*Spasmium       0,5 2      3       2         12        60

*Spasmal        1  4       4       2         32         150

*Librozym         3  12      3       1         36         150

**Flu:

Paratusin        5  20      3       3         180         750

Demacolin       5  20      3       3         180         750

Dextral         3  12      2       2         48         200

Nasafed         1  4       2       2         16         75

OBH 100 ml      3  12      3       2         36         30

Glyc.Guayacol.     3   12     3×2     2         144         500

**Mabuk perjalanan

Antimo          5   20      2       1         40           100

**Antihistamin:

Interhistin           5   20   3       2         120        500

CTM            5   20   3       2         120         500

Dexamethason    1   4       3       2         24           100

Dexamethason ampul                                            10 amp

Serum anti bisa ular (SABU)                                   5 unit

**Asthma:

Salbutamol      0,5  2       4       3         24           100

**Jantung darah tinggi:

Nifedipin 10 mg 0,5  2    3       3         18           100

HCT             0,5   2                                         50

**Penenang:

Diazepam 5 mg 1    4    1       3         12             50

Valium ampul                                                     10 amp

Fluoxetin 10 mg 0,5   2       2       3         12             50

Cepezet 100mg   1    4    2       3           24             100

Cepezet ampul                                                     10 amp

**Antibiotika:

Tetracycline

250 mg cps    2    8    4      4         128             500

Amoxicillin

500 mg       3    12   3       4         144             500

Cyprofloxacine

500 mg     1    4    2       5         40               200

Serum anti bisa ular (SABU)                                      5 unit

**Obat luar:

Bedak                                                         100 g

Salep anti alergi Inerson                                       5 tube

Salep anti radang Lasonil                                       5 tube

Salep garamisin 5 g                                           5 tube

Salep tetrasiklin 15 g                                         3 tube

Salep Zinc Oxyde 15 g                                           3 tube

Salep Betadine 15 g                                            3 tube

Lotion biang keringat Caladin                                   5 fl

Betadine 10% 60 ml                                             3 fl

Sofratule                                                       10 lbr

**Lain-lain:

Rohto                                                           10   btl

Terramycin eye oint.                                           5   tube

Larutan pencuci mata

Gelas cuci mata                                                 3 pc

Madu                                                           350 ml

Hansaplast ukuran kecil                                         50 lbr

Sedang                                        25 lbr

Besar                                         10 lbr

=======================

Kebutuhan PPGD; via PMI(?) tambahkan juga:

-obat penghenti perdarahan kecil.

-lancet pemecah bisul/lepuh

Milis “HW-Penuntun”

MILIS HW-PENUNTUN. Secara sederhana mailing list (sebutannya kadang disederhakan menjadi: milis) adalah sarana komunikasi sesama pemegang e-mail address yang telah bergabung sebagai anggotanya. Cara bergabung dengan mengisi kelengkapan untuk JOIN (BERGABUNG) ketika membuka atau mengunjungi < http:// groups.yahoo.com/group/hw-penuntun >, menjawab undangan yang telah dikirim moderator, ataupun haya mengirim e-mail ke < hw-penuntun-subscribe@yahoogroups.com >. Dalam bentuk dasarnya semua unggahan posting akan langsung dikirim ke semua anggota, sehingga semua pemikiran, komentar, petanyaan dapat tersampaikan dengan cepat ke seluruh anggota tanpa harus mengetik alamat masing-masing, untuk nantinya dibuka si penerima sesuai dengan kesempatan masing-masingnya. Jika mailing list ini bersifat terbuka, maka siapa saja dapat membuka isinya maupun mengirim masukan atau komentar.

Untuk keperluan khusus keanggotaan mailing list dapat dibatasi dengan keharusan mendaftar dulu; moderator yang menentukan diterima atau tidaknya permintaan itu. Untuk postingnya dapat juga dibuat seperti itu, artinya unggahan harus disetujui dulu oleh moderator untuk dapat disebarkan.

Tolong teruskan kabar keberadaan milis ini ke teman-teman HW lainnya.

Terima kasih.

2/12/2014

Mailing list “HW-Penuntun”

MILIS HW PENUNTUN. *** Tertarik pada adanya kegiatan HW Penuntun yang diselenggarakan di UnMuh Ponorogo yang “dilaporkan” oleh Rmd Ketut Darmanto, yang saya yakin bahasannya tak ada yang bersifat “rahasia”. Jika hasil bahasannya disampaikan ke publik, insya Allah akan memberi hasil guna lebih; apalagi jika diunggah secara lebih rinci. Paling tidak dengan cara ini hasilnya akan lebih banyak diketahui para penuntun dan mungkin diterapkan di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah lain maupun oleh para penuntun lainnya. Untuk cepatnya unggah dulu kesimpulannya, lalu unggah pula rinciannya; jika sudah ada pedoman operasionalnya akan lebih baik lagi.

Agar tidak mudah hilang, unggah semua hsil itu ke dalam blog yang kini dapat dengan mudah dibuat, ataupun ke dalam mailing list “HW Penuntun” ini.

Semoga dengan berbagi tugas, kita dapat membangun bangsa dengan lebih cepat lewat pembinaan kader lewat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.

Untuk meningkatkan manfaat mailing list HW Penuntun ini, sampaikan kepada siapapun yang Anda kenal punya e-mail address untuk bergabung dengan mengirim e-mail ke < hw-penuntun-subscribe@yahoogroups.com >

Terima kasih atas perhatian dan bantuan Anda.

28/11/14

Mint cake, permen energi.

MINT CAKE Baru-baru ini cucu saya berkunjung ke neneknya di Inggris (Sommerset, di selatan London). Dia membawa oleh-oleh yang merupakan kebanggaannya, yaitu “Kendal mint cake”. Bentuk makanan ini sudah dibuat di sana sekitar tahun 1886; ini merupakan “bekal” baku bagi para penjelajah, termasuk pejelajahan ketika tim mereka berhasil mencapai puncak Gunung Himayala (Mt. Everest). Cucu saya ini tidak jarang mengkonsumsinya untuk berbuka. Penjelajahan ke benua antartika (kutub utara) juga selalu membawa bekal ini; bekal ini merupakan bekal sumber energi yang mudah membawanya, tak perlu memasaknya. Pada hakikatnya “mint cake” adalah “energy bar”, bahasa kita permen (gula-gula) bukannya roti atau kue sebagai salah satu makna “cake” (cake dapat juga bermakna “intip”, makanan, kue, ataupun bentukan yang tipis, rapuh, dan kering). Mint cake yang saya peroleh itu tersusun dari gula, sirup glukosa, dan minyak permen (mint oil), terbungkus rapi dengan plastik kedap udara, dengan berat 340 gram. Dari internet saya kemudian tahu harganya $ 3 untuk ukuran 170 gram, termasuk mahal jika kita tahu cara membuatnya.

 

Mint cake (kue permen energi) sudah dikembangkan dan diproduksi secara komersial oleh beberapa perusahaan, dengan resep rahasianya masing-masing, walaupun dengan unsur dasarnya “sama”: gula. Awalnya dulu yang digunakan bukan sirup glukosa, tetapi susu. Untuk memperkaya rasa, kini juga diproduksi mint cake yang dilapisi coklat. Kalau semula yang digunakan gula putih kini juga ada yang menggunakan gula tanjung (brown sugar, gula coklat). Dari pengalaman saya ketika berlatih militer bersama KKO (kini Marinir) saya ingin mencoba membuat permen energi seperti ini dengan bahan dasar gula merah (gula aren ataupun gula kelapa) karena keduanya mengandung mineral, dengan menambahkan serai sebagai pemberi rasa.

 

 

Jika mengikuti “pelajaran” memasak di kursus-kursus ataupun yang disajikan di berbagai macam media tulis (buku, majalah) maupun elektronik (radio, tv, internet) akan kita jumpai prinsip dasar yang digunakan oleh para juru masak unggulan (chef): menyajikan RASA terbaik bagi indera sang pemakan yang dilayaninya. Selanjutnya si pelangganlah yang menentukan apakah yang disajikan itu ENAK ataukah tidak. Di sinilah kita akan jumpai dominasi si pelanggan, sehingga soto yang enak menurut si Fulan dapat saja tidak sama dengan yang menurut si Bejo. Begitulah rawon yang sama akan dinilai tidak sama enak oleh pelanggan yang berbeda. Berbeda lagi niainya jika nasi goreng yang sama disajikan oleh pramu saji yang berbeda, dalam suasana yang bebeda pula, ketika si pelanggan punya masalah yang tak sama dalam hal fikirannya maupun kesehatannya. Namun demikian secara menyeluruh pada dasarnya makanan itu seharusnya memenuhi kebutuhan: energi, sumber bahan pembangun tubuh, dan bahan pengatur. Bagaimanapun ENAKNYA, makanan akan menjadi kurang baik jika kurang memenuhi ketiga unsur itu. Di sinilah dituntut kepiawaian seorang juru masak untuk memenuhi kebutuhan orang; semisal apakah untuk anak yang sakit, untuk pekerja, untuk ibu hamil, untuk atlet.

 

Kadang-kadang orang menentukan pemilihan makanannya menurut mana yang utama di suatu masa. Oleh karena itulah kita jumpai bekal para penjelajah “beneran” lebih di dominasi pemenuhan energi, karena  jika tubuh kekurangan ini maka tubuh akan mengalami kelemahan, ataupun harus “membakar” tubuh sendiri yang kian melemahkan. Kebutuhan protein sebagai bahan penyusun tubuh dapat agak ditunda dengan kiat dasar tubuh bongkar-pasang, sedangkan kebutuhan bahan pengatur (vitamin dan mineral) dianggap tidak mendesak karena yang ada di dalam tubuh biasanya masih cukup untuk kegiatan sepekan ataupun lebih. Oleh karena itulah bekal andalan penjelajah kutub, penakluk gunung-gunung tinggi, atlet olahraga daya tahan, adalah “energy bar” (batangan energi, batangan gula, permen energi batangan). Permen ini kini diproduksi dalam berbagai ragam bentuk dan rasanya oleh beberapa perusahaan komersial dunia dengan sebutan umum “mint cake”.

Mint cake, permen energi.

MINT CAKE Baru-baru ini cucu saya berkunjung ke neneknya di Inggris (Sommerset, di selatan London). Dia membawa oleh-oleh yang merupakan kebanggaannya, yaitu “Kendal mint cake”. Bentuk makanan ini sudah dibuat di sana sekitar tahun 1886; ini merupakan “bekal” baku bagi para penjelajah, termasuk pejelajahan ketika tim mereka berhasil mencapai puncak Gunung Himayala (Mt. Everest). Cucu saya ini tidak jarang mengkonsumsinya untuk berbuka. Penjelajahan ke benua antartika (kutub utara) juga selalu membawa bekal ini; bekal ini merupakan bekal sumber energi yang mudah membawanya, tak perlu memasaknya. Pada hakikatnya “mint cake” adalah “energy bar”, bahasa kita permen (gula-gula) bukannya roti atau kue sebagai salah satu makna “cake” (cake dapat juga bermakna “intip”, makanan, kue, ataupun bentukan yang tipis, rapuh, dan kering). Mint cake yang saya peroleh itu tersusun dari gula, sirup glukosa, dan minyak permen (mint oil), terbungkus rapi dengan plastik kedap udara, dengan berat 340 gram. Dari internet saya kemudian tahu harganya $ 3 untuk ukuran 170 gram, termasuk mahal jika kita tahu cara membuatnya.

 

Mint cake (kue permen energi) sudah dikembangkan dan diproduksi secara komersial oleh beberapa perusahaan, dengan resep rahasianya masing-masing, walaupun dengan unsur dasarnya “sama”: gula. Awalnya dulu yang digunakan bukan sirup glukosa, tetapi susu. Untuk memperkaya rasa, kini juga diproduksi mint cake yang dilapisi coklat. Kalau semula yang digunakan gula putih kini juga ada yang menggunakan gula tanjung (brown sugar, gula coklat). Dari pengalaman saya ketika berlatih militer bersama KKO (kini Marinir) saya ingin mencoba membuat permen energi seperti ini dengan bahan dasar gula merah (gula aren ataupun gula kelapa) karena keduanya mengandung mineral, dengan menambahkan serai sebagai pemberi rasa.

 

 

Jika mengikuti “pelajaran” memasak di kursus-kursus ataupun yang disajikan di berbagai macam media tulis (buku, majalah) maupun elektronik (radio, tv, internet) akan kita jumpai prinsip dasar yang digunakan oleh para juru masak unggulan (chef): menyajikan RASA terbaik bagi indera sang pemakan yang dilayaninya. Selanjutnya si pelangganlah yang menentukan apakah yang disajikan itu ENAK ataukah tidak. Di sinilah kita akan jumpai dominasi si pelanggan, sehingga soto yang enak menurut si Fulan dapat saja tidak sama dengan yang menurut si Bejo. Begitulah rawon yang sama akan dinilai tidak sama enak oleh pelanggan yang berbeda. Berbeda lagi niainya jika nasi goreng yang sama disajikan oleh pramu saji yang berbeda, dalam suasana yang bebeda pula, ketika si pelanggan punya masalah yang tak sama dalam hal fikirannya maupun kesehatannya. Namun demikian secara menyeluruh pada dasarnya makanan itu seharusnya memenuhi kebutuhan: energi, sumber bahan pembangun tubuh, dan bahan pengatur. Bagaimanapun ENAKNYA, makanan akan menjadi kurang baik jika kurang memenuhi ketiga unsur itu. Di sinilah dituntut kepiawaian seorang juru masak untuk memenuhi kebutuhan orang; semisal apakah untuk anak yang sakit, untuk pekerja, untuk ibu hamil, untuk atlet.

 

Kadang-kadang orang menentukan pemilihan makanannya menurut mana yang utama di suatu masa. Oleh karena itulah kita jumpai bekal para penjelajah “beneran” lebih di dominasi pemenuhan energi, karena  jika tubuh kekurangan ini maka tubuh akan mengalami kelemahan, ataupun harus “membakar” tubuh sendiri yang kian melemahkan. Kebutuhan protein sebagai bahan penyusun tubuh dapat agak ditunda dengan kiat dasar tubuh bongkar-pasang, sedangkan kebutuhan bahan pengatur (vitamin dan mineral) dianggap tidak mendesak karena yang ada di dalam tubuh biasanya masih cukup untuk kegiatan sepekan ataupun lebih. Oleh karena itulah bekal andalan penjelajah kutub, penakluk gunung-gunung tinggi, atlet olahraga daya tahan, adalah “energy bar” (batangan energi, batangan gula, permen energi batangan). Permen ini kini diproduksi dalam berbagai ragam bentuk dan rasanya oleh beberapa perusahaan komersial dunia dengan sebutan umum “mint cake”.

Bagaimana memulai kegiatan BKM?

Bagaimana cara memulai kegiatan BKM? Mulailah dengan menentukan dulu bidang minat calon anggota kelompok; calon dapat diambil dari anggota penghela maupun penuntun yang sudah tergerak untuk mempersiapkan diri untuk cari uang. Langkah ini dapat dilakukan dengan menanyai masing-masingnya secara langsung ataupun mengajukan sejumlah pilihan; dengan kwestioner singkat boleh juga (open ataupun closed). Yang dapat ditawarkan adalah bidang kegiatan yang Anda rasakan (ataupun dirasakan pula oleh sesepuh HW ataupun warga persyarikatan yang lain) bermanfaat ataupun dapat dikembangkan, misalnya yang terkait dengan potensi ekonomi di daerah. Banyak bidang maupun kegiatan yang dapat dipilih.
Sejalan dengan itu cari “ahli ” atau instruktur pembinanya; akan lebih baik lagi jika dapat memperoleh mitra kerja yang sesuai. Jumlah anggota tidak harus banyak; lima orang saja sudah dapat dimulai. Tempat kegiatan (sanggar bakti) maupun perlengkapan dapat nanti-nanti saja difikirkan; peminat bisanya sudah punya alat sendiri walaupun sederhana.

Bidang kegiatan BKM itu ada yang sederhana (jualan ubi goreng dengan kereta dorong), tetapi ada pula yang tidak mudah, atau yang tergolong “tidak lumrah” (tak lazim, semisal bidang jagabaya). Bidang jagabaya merupakan kegiatan kemanan (security), dapat untuk pribadi, rumah, toko, kompleks AUM, kompleks perumahan, pertokoan, ataupun lainnya. Kegiatannya dapat dari yang sederhana sampai yang canggih, misalnya dari bentuk bela diri, baris-berbaris (disiplin), sampai pun kordinasi satpam, maupun kegiatan intelligent. Semuanya itu nanti tergantung pada kesepakatan bersama, mau menjadi atau mencapai tingkat yang mana dengan tetap berfikir ke: asalkan memberi peluang untuk memperoleh uang.