Archive for the 'Kegiatan kita' Category

Mint cake, permen energi.

MINT CAKE Baru-baru ini cucu saya berkunjung ke neneknya di Inggris (Sommerset, di selatan London). Dia membawa oleh-oleh yang merupakan kebanggaannya, yaitu “Kendal mint cake”. Bentuk makanan ini sudah dibuat di sana sekitar tahun 1886; ini merupakan “bekal” baku bagi para penjelajah, termasuk pejelajahan ketika tim mereka berhasil mencapai puncak Gunung Himayala (Mt. Everest). Cucu saya ini tidak jarang mengkonsumsinya untuk berbuka. Penjelajahan ke benua antartika (kutub utara) juga selalu membawa bekal ini; bekal ini merupakan bekal sumber energi yang mudah membawanya, tak perlu memasaknya. Pada hakikatnya “mint cake” adalah “energy bar”, bahasa kita permen (gula-gula) bukannya roti atau kue sebagai salah satu makna “cake” (cake dapat juga bermakna “intip”, makanan, kue, ataupun bentukan yang tipis, rapuh, dan kering). Mint cake yang saya peroleh itu tersusun dari gula, sirup glukosa, dan minyak permen (mint oil), terbungkus rapi dengan plastik kedap udara, dengan berat 340 gram. Dari internet saya kemudian tahu harganya $ 3 untuk ukuran 170 gram, termasuk mahal jika kita tahu cara membuatnya.

 

Mint cake (kue permen energi) sudah dikembangkan dan diproduksi secara komersial oleh beberapa perusahaan, dengan resep rahasianya masing-masing, walaupun dengan unsur dasarnya “sama”: gula. Awalnya dulu yang digunakan bukan sirup glukosa, tetapi susu. Untuk memperkaya rasa, kini juga diproduksi mint cake yang dilapisi coklat. Kalau semula yang digunakan gula putih kini juga ada yang menggunakan gula tanjung (brown sugar, gula coklat). Dari pengalaman saya ketika berlatih militer bersama KKO (kini Marinir) saya ingin mencoba membuat permen energi seperti ini dengan bahan dasar gula merah (gula aren ataupun gula kelapa) karena keduanya mengandung mineral, dengan menambahkan serai sebagai pemberi rasa.

 

 

Jika mengikuti “pelajaran” memasak di kursus-kursus ataupun yang disajikan di berbagai macam media tulis (buku, majalah) maupun elektronik (radio, tv, internet) akan kita jumpai prinsip dasar yang digunakan oleh para juru masak unggulan (chef): menyajikan RASA terbaik bagi indera sang pemakan yang dilayaninya. Selanjutnya si pelangganlah yang menentukan apakah yang disajikan itu ENAK ataukah tidak. Di sinilah kita akan jumpai dominasi si pelanggan, sehingga soto yang enak menurut si Fulan dapat saja tidak sama dengan yang menurut si Bejo. Begitulah rawon yang sama akan dinilai tidak sama enak oleh pelanggan yang berbeda. Berbeda lagi niainya jika nasi goreng yang sama disajikan oleh pramu saji yang berbeda, dalam suasana yang bebeda pula, ketika si pelanggan punya masalah yang tak sama dalam hal fikirannya maupun kesehatannya. Namun demikian secara menyeluruh pada dasarnya makanan itu seharusnya memenuhi kebutuhan: energi, sumber bahan pembangun tubuh, dan bahan pengatur. Bagaimanapun ENAKNYA, makanan akan menjadi kurang baik jika kurang memenuhi ketiga unsur itu. Di sinilah dituntut kepiawaian seorang juru masak untuk memenuhi kebutuhan orang; semisal apakah untuk anak yang sakit, untuk pekerja, untuk ibu hamil, untuk atlet.

 

Kadang-kadang orang menentukan pemilihan makanannya menurut mana yang utama di suatu masa. Oleh karena itulah kita jumpai bekal para penjelajah “beneran” lebih di dominasi pemenuhan energi, karena  jika tubuh kekurangan ini maka tubuh akan mengalami kelemahan, ataupun harus “membakar” tubuh sendiri yang kian melemahkan. Kebutuhan protein sebagai bahan penyusun tubuh dapat agak ditunda dengan kiat dasar tubuh bongkar-pasang, sedangkan kebutuhan bahan pengatur (vitamin dan mineral) dianggap tidak mendesak karena yang ada di dalam tubuh biasanya masih cukup untuk kegiatan sepekan ataupun lebih. Oleh karena itulah bekal andalan penjelajah kutub, penakluk gunung-gunung tinggi, atlet olahraga daya tahan, adalah “energy bar” (batangan energi, batangan gula, permen energi batangan). Permen ini kini diproduksi dalam berbagai ragam bentuk dan rasanya oleh beberapa perusahaan komersial dunia dengan sebutan umum “mint cake”.

Iklan

Mint cake, permen energi.

MINT CAKE Baru-baru ini cucu saya berkunjung ke neneknya di Inggris (Sommerset, di selatan London). Dia membawa oleh-oleh yang merupakan kebanggaannya, yaitu “Kendal mint cake”. Bentuk makanan ini sudah dibuat di sana sekitar tahun 1886; ini merupakan “bekal” baku bagi para penjelajah, termasuk pejelajahan ketika tim mereka berhasil mencapai puncak Gunung Himayala (Mt. Everest). Cucu saya ini tidak jarang mengkonsumsinya untuk berbuka. Penjelajahan ke benua antartika (kutub utara) juga selalu membawa bekal ini; bekal ini merupakan bekal sumber energi yang mudah membawanya, tak perlu memasaknya. Pada hakikatnya “mint cake” adalah “energy bar”, bahasa kita permen (gula-gula) bukannya roti atau kue sebagai salah satu makna “cake” (cake dapat juga bermakna “intip”, makanan, kue, ataupun bentukan yang tipis, rapuh, dan kering). Mint cake yang saya peroleh itu tersusun dari gula, sirup glukosa, dan minyak permen (mint oil), terbungkus rapi dengan plastik kedap udara, dengan berat 340 gram. Dari internet saya kemudian tahu harganya $ 3 untuk ukuran 170 gram, termasuk mahal jika kita tahu cara membuatnya.

 

Mint cake (kue permen energi) sudah dikembangkan dan diproduksi secara komersial oleh beberapa perusahaan, dengan resep rahasianya masing-masing, walaupun dengan unsur dasarnya “sama”: gula. Awalnya dulu yang digunakan bukan sirup glukosa, tetapi susu. Untuk memperkaya rasa, kini juga diproduksi mint cake yang dilapisi coklat. Kalau semula yang digunakan gula putih kini juga ada yang menggunakan gula tanjung (brown sugar, gula coklat). Dari pengalaman saya ketika berlatih militer bersama KKO (kini Marinir) saya ingin mencoba membuat permen energi seperti ini dengan bahan dasar gula merah (gula aren ataupun gula kelapa) karena keduanya mengandung mineral, dengan menambahkan serai sebagai pemberi rasa.

 

 

Jika mengikuti “pelajaran” memasak di kursus-kursus ataupun yang disajikan di berbagai macam media tulis (buku, majalah) maupun elektronik (radio, tv, internet) akan kita jumpai prinsip dasar yang digunakan oleh para juru masak unggulan (chef): menyajikan RASA terbaik bagi indera sang pemakan yang dilayaninya. Selanjutnya si pelangganlah yang menentukan apakah yang disajikan itu ENAK ataukah tidak. Di sinilah kita akan jumpai dominasi si pelanggan, sehingga soto yang enak menurut si Fulan dapat saja tidak sama dengan yang menurut si Bejo. Begitulah rawon yang sama akan dinilai tidak sama enak oleh pelanggan yang berbeda. Berbeda lagi niainya jika nasi goreng yang sama disajikan oleh pramu saji yang berbeda, dalam suasana yang bebeda pula, ketika si pelanggan punya masalah yang tak sama dalam hal fikirannya maupun kesehatannya. Namun demikian secara menyeluruh pada dasarnya makanan itu seharusnya memenuhi kebutuhan: energi, sumber bahan pembangun tubuh, dan bahan pengatur. Bagaimanapun ENAKNYA, makanan akan menjadi kurang baik jika kurang memenuhi ketiga unsur itu. Di sinilah dituntut kepiawaian seorang juru masak untuk memenuhi kebutuhan orang; semisal apakah untuk anak yang sakit, untuk pekerja, untuk ibu hamil, untuk atlet.

 

Kadang-kadang orang menentukan pemilihan makanannya menurut mana yang utama di suatu masa. Oleh karena itulah kita jumpai bekal para penjelajah “beneran” lebih di dominasi pemenuhan energi, karena  jika tubuh kekurangan ini maka tubuh akan mengalami kelemahan, ataupun harus “membakar” tubuh sendiri yang kian melemahkan. Kebutuhan protein sebagai bahan penyusun tubuh dapat agak ditunda dengan kiat dasar tubuh bongkar-pasang, sedangkan kebutuhan bahan pengatur (vitamin dan mineral) dianggap tidak mendesak karena yang ada di dalam tubuh biasanya masih cukup untuk kegiatan sepekan ataupun lebih. Oleh karena itulah bekal andalan penjelajah kutub, penakluk gunung-gunung tinggi, atlet olahraga daya tahan, adalah “energy bar” (batangan energi, batangan gula, permen energi batangan). Permen ini kini diproduksi dalam berbagai ragam bentuk dan rasanya oleh beberapa perusahaan komersial dunia dengan sebutan umum “mint cake”.

Berkarya dari mengolah limbah.

 

Salah satu langkah untuk menyelamatkan bumi adalah upaya untuk sebanyak mungkin mengurangi limbah dengan berbagai macam cara, misalnya 3R (Reduce, Reuse, Recycle atau Kurangi jumlah, Pakai lagi, Daur ulang); semua langkah itu memang dapat terkait dengan uang, namun secara menyeluruh kita dapat berhemat uang, ataupun bahkan  di tangan orang yang MAU BERUSAHA langkah-langkah itu dapat menghasilkan uang:  “Dari sampah mendulang rupiah”

Daur ulang (recycle) yang cukup terkenal antara lain pemanfaatan limbah kayu (produksi kerajinan tangan, sarana pendidikan, karya seni/boneka), ban bekas (kursi, meja, tali), kain perca  (boneka, lap, keset, aplikasi, pakaian anak, kantong HP), kulit ikan (dompet, sepatu, tas, gantungan kunci), limbah kerang (hiasan dinding, kalung, gelang, kaligrafi, asbak, kap lampu, tempat tissue), karpet (keset, sandal), tali pita peti kemas (tas anyaman, tas belanja, sandal tempat tissue, kotak sampah), limbah kaca (aksesori, manik-manik, “patung kaca”, hiasan meja), kertas bekas (kantong belanja, “masak ulang” kertas untuk kartu nama, undangan, wadah aksesori), kantong semen (tas belanja, kantong belanja), kertas koran (kantong belanja, tas dari gulungan atau tali pilinan dari kertas koran yang telah “diolah”), dan masih sangat banyak lagi….

Bagaimana “mengolah”  limbah itu cukup banyak diunggah di internet (gunakan kata kuci semisal: how to, recycle, success,  bagaimana, usaha sampingan, berbahan limbah)  juga  banyak ditulis di koran, majalah, ataupun buku.

Keberhasilan mereka yang berusaha di bidang ini lebih tergantung pada kesungguhan si pengusaha untuk mau menekuni maupun mengembangkan ide atau usahanya, mengarah untuk “bisa buat, bisa jual, dan bisa untung”

Perlunya mengingatkan menggunakan kekuatan.

Perlunya mengingatkan menggunakan kekuatan.

 

 

Bismi ‘l-lahi ‘r-rahmani ‘r-rahiem.

 

 

Allah SwT sudah mengingatkan kita dengan firmanNya:

 

“WASPADAI, HINDARI, BENCANA SIKSA UMUM YANG AKAN MENIMPA BUKAN KHUSUS ATAS ORANG-ORANG KALIAN YANG BERBUAT ANIAYA SAJA. KETAHUILAH ALLAH ITU SANGAT KERAS SIKSANYA” (QS al-Anfal [8]:28)

 

Secara tersirat mudah kita fahami bahwa siksa, bencana, atau malapetaka yang diancamkan Allah itu adalah malapetaka yang  merupakan akibat dari tindakan orang-orang yang aniaya. Kenapa hal itu terjadi adalah akibat lanjut dari “kelemahan” atau tidak acuhnya orang-orang baik terhadap masyarakat di sekitarnya, masyarakat di kampung setempat, di wilayah yang lebih luas, ataupun bahkan di seluruh negara. Dalam hal ini lebih lanjut sebenarnya kita sudah sering mendengar peringatan para pemikir bahwa langkah menuju ke kebajikan yang tidak terorganisasi dengan baik akan terkalahkan oleh upaya ke kebatilan yang terorganisasi dengan baik.

 

Rasulullah Muhammad saw sudah menggingatkan pentingnya langkah-langkah pencegahan dengan mengingatkan pentingnya langkah “amar ma’ruf, nahi munkar”  dengan menyebutkan:

 

“Pilih, kalian melakukan amar ma’ruf <menyuruh berbuat baik> dan nahi ‘anil munkar <mencegah kemungkaran>, ataukah Allah akan menjadikan orang-orang yang memusuhimu menguasaimu; jika sudah demikian maka jikapun kemudian orang-orang baik kalian berdoa tidaklah akan dikabulkan lagi oleh Allah”.(Musnad Ahmad 22223)

 

“Siapa saja melihat kemungkaran di masyarakat kalian, haruslah mengatasinya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya; ini adalah pertanda selemah-lemahnya iman.” (Shahih Muslim 70)

 

Pentingnya kekuatan ini terlihat juga dalam upaya penyelamatan, pemberian pertolongan. Dalam hal ini ada contoh dalam kasus penyelamatan orang yang teraniaya maupun si penganiaya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim (aniaya) dan yang dizhalimi”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, jelas kami faham menolong orang yang dizhalimi, tetapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zhalim?”  Beliau bersabda: “Pegang tangannya (agar tidak berbuat zhalim) ” (Shahih Bukhary 2264).

Di sejumlah riwayat disebutkan dalam berbagai redaksinya, misalnya “Apabila ia berbuat zhalim/aniaya, maka cegahlah ia untuk tidak berbuat kezhaliman; itu berarti menolongnya (Shahih Muslim 4681), “Caranya, kau cegah supaya ia tidak berbuat aniaya”. (Musna Ahmad 12606), “Jika ia orang yang menzhalimi, maka hendaklah ia dicegah, karena tindakan itu adalah cara menolongnya.” (Sunan Darimi 2365), “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman; itulah cara menolongnya.” (Shahih Bukhary 6435).

Bagaimana halnya jika si pelaku aniaya iu kelompok atau orang kuat? Bagaimana pula jika pelaku itu pejabat? Di sinilah mudah kita fahami bahwa kita perlu kekuatan, kekuasaan, untuk menegakkan kebenaran dan mengatasi kejahatan.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat bernegara di Indonesia, kita terikat pada kesepakatan bersama yang berupa ketentuan dan perundang-undangan, yang seibarat perjanjian, yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, jika ummat Islam di Indonesia ingin tidak “dikuasai” oleh orang-orang yang memusuhinya, maka kita tidak boleh memberi kesempatan berkuasanya orang-orang secara langsung ataupun dengan peluang untuk membuat peraturan ataupun perundang-undangan yang merugikan. Artinya ummat Islam dalam PEMILU harus demi Allah menggunakan haknya, kesempatan, untuk hanya memilih yang terbaik. Jika “tak ada” yang baik, pilihlah yang paling sedikit berpeluang salah.

 

Allah akan memintai pertanggungjawaban atas yang kita lakukan! Semoga Allah “membuka mata” kita, menampakkan kepada kita jalan yang terbaikNya.

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

========================================

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Beramallah dengan mem-forward pelita hikmah ini. Untuk terus menerima ataupun membuka posting lainnya kirim e-mail ke: pelita-hikmah-subscribe@yahoogroups.com. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

H.R.M. Tauhid-al-Amien, dr., MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

Kompor spiritus

Kompor spiritus

Untuk berkemah ataupun persiapan ke Jambore Nasional HW di Makassar tahun 2015 nanti, ada baiknya mengenal kompor spiritus (alcohol stove) yang sederhana untuk keperluan “sendiri”. Dengan 15 ml spiritus saja kompor ini dalam waktu kurang dari 5 menit dapat mendidihkan air dua cangkir, cukup untuk memasak sebungkus mi instan. Kompor ini dibuat dari dua kaleng aluminium bekas minuman 330 ml (10 oz.), walaupun kompor spiritus yang buatan pabrik ada yang dijual dengan harga sekitar US$ 65,-

Cara membuat:

  1. Siapkan dua kaleng aluminium bekas, untuk dasar dan “sumbu”.
  2. Buat 1-4 lubang di tengah pantat kaleng sumbu; nantinya untuk mengisikan spiritus.
  3. Buat “garis potong“ melingkar pada kaleng sumbu setinggi 3 cm dari pantat; pada kaleng dasar setinggi 2,5 cm, dan “garis batas” setinggi 0,5 cm.
  4. Potong kaleng pada garis potong yang di buat itu dengan menggunaan “cutter”; tumpulkan pinggiran potongan dengan menggunakan kertas empelas ataupun batu.  Jika dikerjakan di rumah, ambil buku tebal sisipkan bilah kater di antara halaman buku setinggi 2,5 cm lalu putar kaleng sedemikian rupa sehingga ujung kater membuat garis potong di kaleng itu; putar terus dengan berhati-hati berulang kali maka kaleng dapat terpotong dengannya.  Lakukan hal yang sama untuk bakal bagian sumbu dengan memindah ketinggian letak bilah kater menjadi 3 cm.
  5. Lebarkan pinggir bagian sumbu dengan menekankannya sambil memutar-mutarnya ke pantat gelas besar sampai pinggir bagian bawah dapat didorong masuk.
  6. Satukan pasangan dasar dan sumbu itu dengan menekannya keduanya pelan-pelan sampai pinggir bagian sumbu mencapai garis batas (lihat tahap 3 di atas); untuk ini dapat dibantu menekannya dengan menggunakan papan atau buku tebal.
  7. Dengan menggunakan jarum kasur ataupun jarum tempel (pines) bertangkai buatlah sebanyak 32 lubang sumbu di tepi luar “pantat”. Untuk ini tandai dulu titik lubang di sudut 0, 180, 90, dan 270  derajat. Selanjutnya tandai titik tengah antara dua titik yang berdekatan (menjadi 8), kemudian ulang lagi untuk menjadi 16, dan ulang sekali lagi untuk menjadi 32.
  8. Kompor siap dipakai; isikan sekitar 15 ml spiritus. Untuk menghindarkan terjadinya ledakan maka lubang pengisian spiritus itu ditutup dengan koin sebelum kompor dinyalakan.  Untuk pemanasan (priming) kompor diletakkan pada alas gelas, tutup kaleng semir, kertas, kain, ataupun serat fiberglass yang nanti dituangi sedikit spiritus untuk disulut. Setelah cukup pemanasan maka dari lubang-lubang sumbu akan keluar uap spiritus yang membentuk nyala api karena terbakar.
  9. Dudukan tempat masak dapat dibuat dari kerangka kawat, seng, ataupun batu. Untuk efisiensi panas, upayakan pantat tempat masak sekitar 3,5 cm di atas kompor. Akan lebih baik lagi jika juga dibuatkan pelindung dari tiupan angin; pelindung ini dapat dibuat dari seng, kaleng besar, batu bata, papan ataupun karton tebal (awas jangan ikut terbakar!).
  10. Selamat mencoba.

Dalil tahlilan

Sedikit-sedikit minta dalil, sedikit-sedikit minta dalil !!!!!!

Ini dalil tahlilan dan selamatan !!!!

1.Dalil pengkhususan waktu selamatan kematian (1
hari,3 hari,40 hari dstrsnya).
“Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari
pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu”
(Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99,
192, 193).
Perintah penyembelihan hewan pada hari tersebut:

“Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara
korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa
untuk kebaikan dunia.”
(kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39).

Perkataan ulama’:
“Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian
orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas
adalah ajaran Hindu”
(Ida Bedande Adi Suripto laknatullah ‘alaihi,lihat kitab
“Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa).

2.Dalil selamatan (kenduri/kenduren):
Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra
aranggaymaya jekmayipatsiyad aduweni narah”.
“Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang
Maha Mengetahui”. Yang gunanya untuk menjauhkan
kesialan”
(kitab sama weda hal. 373 no.10).

a. Dewa Yatnya (selamatan) Yaitu korban suci yang
secara tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi
dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa
yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.
b. Pitra Yatnya Yaitu korban suci kepada leluhur
(pengeling- eling) dengan memuji yang ada di akhirat
supaya memberi pertolongan kepada yang masih
hidup.
c. Manusia Yatnya Yaitu korban yang diperuntukan
kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai
dan tentram.
d. Resi Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan
kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan)
.
e. Buta Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan
kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak,
untuk kemulyaan dunia ini.
(kitab Siwa Sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’
dan pada Upadesa hal. 34).

Tuh kan jelas Dalilnya …

by akh Syafiq Yahya.

 
Suka ·  · 15 Maret 2014  pukul 15:11  di FaceBook/Muhammadiyah

Kain Sutra.

Sutra.

Kain sutra masih digemari orang, terutama oleh kaum perempuan. Sebagian besar kain sutra merupakan produk luar negeri. Sutra produk dalam negeri masih jauh dari mencukupi jumlah yang dibutuhkan orang; hanya sepersepuluhnya yang dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri!!!

Sutra dibuat dari “benang” yang diuraikan dari kokon (kepompong), bentukan “pondokan” ulat sutra sebelum berubah menjadi kupu-kupu. Untuk menghasilkan benang sutra ini diawali dengan memelihara ulatnya. Ulat sutra dihasilkan dari menetaskan telurnya, lalu memberinya makanan yang khas buatnya, yaitu daun murbei. Telur ini biasanya disediakan oleh pemasoknya dalam kotak (boks) yang tiap kotak ini berisi sekitar 20.000 telur; dengan pemeliharaan yang baik akan dihasilkan 20-30 kg kokon, yang jika diuraikan akan menghasilkan 2,5 kg benang sutra. Lama pemeliharaan dari menetasnya telur sampai “panen” perlu waktu sekitar satu bulan, yang memerlukan sekitar 250 kg “daun” murbei. Itu berarti dalam satu tahun proses itu dapat diulang dua belas kali, atau berpeluang dua belas kali mendapat keuntungan; keuntungannya sekitar 50% dari modal.

Jika ingin efisien, murbei utuk makanan ulat sutra itu perlu ditanam sendiri di lahan seluas ¼ ha. Murbei dapat ditanam secara khusus, ataupun dengan cara tumpangsari dengan tanaman palawija. Semua itu dapat ditangani secara sambilan oleh satu keluarga; jika mau lebih serius satu keluarga dapat menangani pemeliharaan 3 kotak ulat sutra seperti itu dengan areal murbei sekitar 1 ha.

Dengan peluang variasi harga yang ada dapatlah disebutkan bahwa seluruh beaya untuk pemeliharaan ulat sutra ini tidak sampai mencapai separo dari keuntungan yang dicapai dari usaha ini. Modal sekitar 11,5 juta rupiah diperlukan untuk pemeliharaan ulat sutra yang memerlukan 1 ha tanaman murbei sebagai makanannya.