Mint cake, permen energi.

MINT CAKE Baru-baru ini cucu saya berkunjung ke neneknya di Inggris (Sommerset, di selatan London). Dia membawa oleh-oleh yang merupakan kebanggaannya, yaitu “Kendal mint cake”. Bentuk makanan ini sudah dibuat di sana sekitar tahun 1886; ini merupakan “bekal” baku bagi para penjelajah, termasuk pejelajahan ketika tim mereka berhasil mencapai puncak Gunung Himayala (Mt. Everest). Cucu saya ini tidak jarang mengkonsumsinya untuk berbuka. Penjelajahan ke benua antartika (kutub utara) juga selalu membawa bekal ini; bekal ini merupakan bekal sumber energi yang mudah membawanya, tak perlu memasaknya. Pada hakikatnya “mint cake” adalah “energy bar”, bahasa kita permen (gula-gula) bukannya roti atau kue sebagai salah satu makna “cake” (cake dapat juga bermakna “intip”, makanan, kue, ataupun bentukan yang tipis, rapuh, dan kering). Mint cake yang saya peroleh itu tersusun dari gula, sirup glukosa, dan minyak permen (mint oil), terbungkus rapi dengan plastik kedap udara, dengan berat 340 gram. Dari internet saya kemudian tahu harganya $ 3 untuk ukuran 170 gram, termasuk mahal jika kita tahu cara membuatnya.

 

Mint cake (kue permen energi) sudah dikembangkan dan diproduksi secara komersial oleh beberapa perusahaan, dengan resep rahasianya masing-masing, walaupun dengan unsur dasarnya “sama”: gula. Awalnya dulu yang digunakan bukan sirup glukosa, tetapi susu. Untuk memperkaya rasa, kini juga diproduksi mint cake yang dilapisi coklat. Kalau semula yang digunakan gula putih kini juga ada yang menggunakan gula tanjung (brown sugar, gula coklat). Dari pengalaman saya ketika berlatih militer bersama KKO (kini Marinir) saya ingin mencoba membuat permen energi seperti ini dengan bahan dasar gula merah (gula aren ataupun gula kelapa) karena keduanya mengandung mineral, dengan menambahkan serai sebagai pemberi rasa.

 

 

Jika mengikuti “pelajaran” memasak di kursus-kursus ataupun yang disajikan di berbagai macam media tulis (buku, majalah) maupun elektronik (radio, tv, internet) akan kita jumpai prinsip dasar yang digunakan oleh para juru masak unggulan (chef): menyajikan RASA terbaik bagi indera sang pemakan yang dilayaninya. Selanjutnya si pelangganlah yang menentukan apakah yang disajikan itu ENAK ataukah tidak. Di sinilah kita akan jumpai dominasi si pelanggan, sehingga soto yang enak menurut si Fulan dapat saja tidak sama dengan yang menurut si Bejo. Begitulah rawon yang sama akan dinilai tidak sama enak oleh pelanggan yang berbeda. Berbeda lagi niainya jika nasi goreng yang sama disajikan oleh pramu saji yang berbeda, dalam suasana yang bebeda pula, ketika si pelanggan punya masalah yang tak sama dalam hal fikirannya maupun kesehatannya. Namun demikian secara menyeluruh pada dasarnya makanan itu seharusnya memenuhi kebutuhan: energi, sumber bahan pembangun tubuh, dan bahan pengatur. Bagaimanapun ENAKNYA, makanan akan menjadi kurang baik jika kurang memenuhi ketiga unsur itu. Di sinilah dituntut kepiawaian seorang juru masak untuk memenuhi kebutuhan orang; semisal apakah untuk anak yang sakit, untuk pekerja, untuk ibu hamil, untuk atlet.

 

Kadang-kadang orang menentukan pemilihan makanannya menurut mana yang utama di suatu masa. Oleh karena itulah kita jumpai bekal para penjelajah “beneran” lebih di dominasi pemenuhan energi, karena  jika tubuh kekurangan ini maka tubuh akan mengalami kelemahan, ataupun harus “membakar” tubuh sendiri yang kian melemahkan. Kebutuhan protein sebagai bahan penyusun tubuh dapat agak ditunda dengan kiat dasar tubuh bongkar-pasang, sedangkan kebutuhan bahan pengatur (vitamin dan mineral) dianggap tidak mendesak karena yang ada di dalam tubuh biasanya masih cukup untuk kegiatan sepekan ataupun lebih. Oleh karena itulah bekal andalan penjelajah kutub, penakluk gunung-gunung tinggi, atlet olahraga daya tahan, adalah “energy bar” (batangan energi, batangan gula, permen energi batangan). Permen ini kini diproduksi dalam berbagai ragam bentuk dan rasanya oleh beberapa perusahaan komersial dunia dengan sebutan umum “mint cake”.

0 Responses to “Mint cake, permen energi.”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: