Archive for the 'Uncategorized' Category



Corona Virus, MERS CoV

Asy-Syifa’                   Hidup Sehat       dr. HRM Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF, AIFO

Corona, mungkin menjadi oleh-oleh 

 

Nama corona cukup menarik atau menantang karena maknanya yang berarti mahkota, menantang karena virus dengan nama ini akhir-akhir ini cukup merisaukan karena di Arab Saudi pernah mematikan 49 orang dari 104 penderitanya; katakanlah peyakit ini juga “belum ada obatnya”.

Virus Corona MERS CoV yang akhir-akhir ini banyak dibahas hanya ”kebetulan” saja yaitu dengan adanya peluang besar penyebarannya karena mendekati musim hajji,  padahal penyakit oleh virus ini menyeruak di Arab Saudi, walaupun di Eropa maupun Tunisia juga ada. Virus macam ini yang sebelumnya sudah ada, yang terkenal adalah Human Coronnavirus 229E, OC43, SARS-CoV, NL63, HKU1.  Virus MERS CoV (Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus) mulai diyakini sebagai virus “baru” di akhir tahun 2012  yang lalu, dan masuk ke dalam peraturan kesehatan di Arab Saudi 4 Juni 2013; ternyata penderita merebak sejak 30 Agustus 2013, sehingga “dunia” terpaksa harus bersiap-siap.

Penyakit yang disebabkan oleh virus MERS CoV ini boleh dikata “sama” dengan flu biasa, tetapi jauh lebih ganas, yaitu berupa munculya demam tinggi (lebih dari 38oC) dengan batuk hebat, sebagai petunjuk adanya peradangan saluran pernafasan. Masa tunas virus penyakit biasanya tidak lebih dari 10 hari sejak tertulari. Paru-paru akan menunjukkan gejala pneumonia (batuk, sesak, demam) yang dapat merupakan akibat berkembangnya virus ini sendiri ataupun karena kuman yang “biasa” ada di dalam paru ikut-ikutan menyerang dengan hebat. Kadang-kadang serangan ini cukup parah sampai mengganggu kecukupan oksigen di dalam tubuh sehingga sampai merusak ginjal. Dahak dengan virus yang tertelan juga berpeluang untuk menimbulkan gangguan di saluran pencernaan, yang bisanya muncul sebagai berak-berak. Jika lebih parah lagi penderita dapat mengalami sepsis , yaitu infeksi tubuh secara menyeluruh karena virus ataupun kuman lain yang telah terbawa oleh aliran darah; jika sampai ke otak penderitanya akan kejang-kejang. Keadaan sakit yang parah itu dapat membawa ke kematian oleh gangguan umumnya ataupun akibat kegagalan fungsi-fungsi tubuhnya. 

Untuk memastikan adanya virus MERS CoV ini tidak mudah karena memerlukan mikroskop elektron, sedangkan pemeriksaan serologis (laboratorium darah untuk mengenali virus itu) belum ada. Oleh karena itu dugaan adanya penyakit oleh virus ini lebih didasarkan pada adanya sejumlah fakta demam yang mendadak tinggi, batuk parah, berada di atau baru pulang dari Timur Tengah dalam waktu 10 hari, dan tidak terbukti mengidap penyakit lain sebelumnya yang mengarah ke munculnya gejala-gejala parah seperti itu, apalagi jika ada tanda-tanda sepsis.

Sampai saat ini belum ditemukan  obat yang dapat membasmi virus MERS CoV ini, walaupun awal September 2013 ini dilaporkan adanya pasangan obat (ribavirin + interferon alpha-2b) yang dapat “menghambat” (stop replication) virus ini, walaupun obat ini juga bukan tanpa bahaya. Namun demikian itu bukan berarti penderita yang sakit lalu dibiarkan begitu saja; obat-obat tetap diberikan untuk mengatasi gejala yang ada (tambah cairan infus; demam, batuk, sesak) ataupun antibiotika untuk menekan kuman yang ikut-ikutan “nimbrung” dan memperparah keadaan.

 

Pemeo menyebutkan “Mencegah lebih baik dari mengobati”; ini juga berlaku terhadap penyakit oleh virus  MERS CoV ini. Virus ini belum dapat “dibiakkan” sehingga sifat-sifatnya belum banyak diketahui, termasuk bagian mananya yang dapat digunakan untuk mengenalinya oleh sistem kekebalan tubuh, sehingga upaya untuk menyiapkan vaksin pencegahnya juga belum berhasil, apalagi untuk mengenali obat apa yang dapat mematikannya.

Sama halnya dengan flu, penyebaran penyakit yang disebabkan oleh  virus MERS CoV ini tak nampak; pada dasarnya penularan terjadi akibat dari masuknya virus ke dalam tubuh seseorang. Ini terjadi misalnya lewat percikan liur ataupun ingus yang mengandung virus ini yang terhirup ketika penderita bersin-bersin ataupun batuk. Oleh karena itu “kontak” dengan pengidap penyakit ini perlu dihindari, ataupun perlu memperhatikan sarana-sarana untuk menghindari penularaan ini, misalnya dengan memakai masker. Tangan harus dicuci baik-baik setelah  memegang barang-barang (termasuk uang, pensil, HP) yang mungkin tercemar oleh virus MERS CoV dari penderitanya, agar tangan itu tidak menyampaikan virus itu ke jalur penularannya di tubuh kita , yaitu ke selaput lendir mata, hidung, ataupun mulut.  

Karena masa tunas penyakit oleh  virus  MERS CoV ini dapat sampai 10 hari, maka yang pulang dari berhaji harus bersedia “menyelamatkan” tamu mereka yang bersilaturakhim kepadanya dengan selalu memakai masker ketika menerima tamu, agar tidak memberi “oleh-oleh” yang berupa penyakit oleh  virus MERS CoV ini.

Semoga uraian di atas bermanfaat.

Ternak kelinci.

Ternak Kelinci. Secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa beternak kelinci sama dengan beternak kambing dalam ukuran kecil; keduanya adalah upaya untuk mmenghasilkan daging untuk meningkatkan konsumsi protein. Ukuran kelinci yang demikian kecil tidak memerlukan ruang yang besar; pakannya pun sedikit dan sederhana. Oleh karena itu cukup “mudah” juga untuk dijadikan “kerja sampingan”. Dengan ketekunan dan kesungguhan, insya Allah akan diperoleh “keuntungan” walaupun dengan modal kecil. Jika berminat silakan buka website (yang cukup tersedia), misalnya:
http://panduanusaha.com/kelinci-pedaging-sebagai-usaha-sampingan/
http://mohtarkhoiruddin.blogspot.com/2013/06/cara-budidaya-kelinci-pedaging-mudah.html
http://ternakviterna.blogspot.com/2013/02/panduan-cara-budidaya-ternak-kelinci-pedaging-nasa-naturalnusantara-viterna-pocnasa-hormonik-distributor-resmi.html

Hari tenang.

HARI TENANG.

Ketika ditanyakan bagaimana harus menolong orang yang berbuat zhalim (aniaya),  Rasulullah menjawab: “Pegang tangannya (agar tidak berbuat zhalim) (Shahih Bukhary 2264). Riwayat itu mengisyaratkan bahwa untuk berhasilnya “amar makruf nahi munkar” perlu kekuatan,kekuasaan.

Jangan biarkan yang memusuhi ummat Islam berkuasa menentukan peraturan-peraturan.

Fikirkan dengan tenang, siapa yang akan Anda pilih. Jika tak ada yang ideal, pilihlah saja yang terbaik dari yang ada. Semoga masih diridhai Allah.

 

Pria ataukah wanita?

Bayangkan jika Anda sebagai “modin wanita” dimintai tolong untuk memandikan tetangga baru yang hampir setiap hari dengan rok panjangnya dengan sepeda motornya lewat di depan rumah Anda; memang hanya kadang-kadang saja dia mengenakan jilbab.  Tetangga ini meninggal setelah sepekan terserang demam. Ketika Anda hendak mulai memandikannya, Anda menjumpai “keanehan”, yaitu ada “burung” yang tersembunyi di balik roknya. Banci?

Klinik.

Pakaian biasanya menggambarkan jenis kelamin pemakainya. Namun yang demikian ini tidak selalu terjadi, apalagi di perkotaan; di sini ada yang beda, yaitu lelaki yang bepakaian perempuan.  Orang yang berpakaian sebagai lawan jenisnya dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya pengaruh lingkungan. Kadang-kadang ada orang tua sangat ingin punya anak perempuan, ketika anaknya lahir laki-laki kemudian ia “memaksa” anaknya menjadi perempuan dengan selalu memberikan kepada anaknya ini pakaian perempuan, memanggilnya dengan sebutan perempuan, memberi mainan anak-anak perempuan, bahkan mendorongnya untuk bermain hanya dengan anak-anak perempuan. Keadaan mungkin mulai bemasalah ketika si anak mulai tumbuh dan “mengenal” jenis kelamin (umur di tas 2-3 tahun), bahwa dirinya berbeda dari teman-temannya. Di sisi lain ada sejumlah orang yang merasa dirinya aneh jika harus tetap berpakaian seperti yang sebelumnya, karena dia merasa dia tidak seharusnya begitu. Ini dapat bermula karena merasa akan memperoleh “keuntungan” jika dia menjadi berjenis kelamin lain; lalu dia berpakaian yang tidak seperti biasanya selama ini. Memang ada juga yang  memakai pakaian lawan jenisnya karena dia merasa yakin sepenuh hati bahwa dirinya tergolong pada jenis yang pakaiannya dipakai itu; ia merasa bukan sekedar ikut-ikutan.

Jenis kelamin pada dasarnya ditentukan oleh struktur pembawa sifat yang ada di dalam setiap sel, yang disebut dengan chromosome, penentu sifat keturunan. Sifat manusia secara menyeluruh ditentukan oleh 23 pasang kromosom ini, yaitu sepasang kromosom kelamin (X dan Y, yang nantinya menentukan jenis kelaminnya) dan 22 pasang kromosom yang menentukan sifat-sifat lainnya (autosome). Autosom ini menentukan  misalnya tinggi tubuhnya, warna kulitnya, bentuk hidungnya, termasuk akan dapat berpenyakit apa, dapat menjadi pandai ataukah tidak. Semua sel-sel tubuh masing-masingnya mengandung 23 pasang kromosom ini; kecuali sel-sel kelaminnya. Di dalam sel kelamin ini (sel telur pada perempuan, dan sel sperma pada lelaki) masing-masingnya hanya terdapat 23 kromosom saja, yaitu 22 autosom, dengan satu kromosom kelamin X atau Y saja. Jika terjadi pembuahan terbentuklah satu sel bibit (zygote) yang menjadi mempunyai 23 pasang kromosom,  gabungan dari kromosom telur si ibu dan sperma si bapak. Sel bibit inilah yang kemudian membelah diri di dalam rahim; awalnya membelah menjadi dua, terus menjadi empat, delapan, 16 dan seterusnya dan tetap menyatu,  sampai jika sudah cukup umur akan keluar dari rahim sebagai bayi yang masing-masing sel tubuhnya punya 23 pasang kromosom.

Jika di tahap awal sel-sel itu boleh dibilang sama semua, namun dengan bertambahnya umur sel-sel itu mulai “membagi diri” (differentiation) menjadi berbagai macam struktur atau organ tubuh, misalnya ada yang menjadi kulit, menjadi usus, menjadi jantung, dan sebagainya. Masing-masingnya pun selanjutnya berkembang (develop) sehingga misalnya dari “kulit” itu ada yang menjadi bakal syaraf yang kemudiannya ada yang menjadi bakal otak, bakal mata, dan sebagainya. Semua proses itu terjadwal dengan rinci, sehingga jika misalnya jika pada umur kehamilan 3 bulan seorang ibu hamil terserang gabag, perkembangan mata dapat terganggu sehingga bayi dapat lahir dalam keadaaan buta. Jika pada umur-umur itu si ibu minum obat “rematik” karena sakit yang dideritanya, ada peluang bayi yang dikandungnya itu nanti lahir dengan jantung cacat. Oleh karena itulah ibu-ibu yang hamil muda diminta untuk lebih berhati-hati dalam berobat; dokter harus diberitahu tentang kehamilannya. Ini untuk menghindari  dokter memberi obat yang ternyata bersifat teratogen, yang dapat menjadikan bayi itu lahir cacat ataupun memicu serangan kangker di usia muda dalam pertumbuhan bayi itu kelak.

Begitulah di umur kehamilan enam minggu sudah mulai terjadi pertumbuhan bakal sistem perkemihan dan kelamin, yang secara menyeluruh dikendalikan oleh hormon kelamin dalam “kekuasaan” kromosom kelamin X dan Y itu; pasangan kromosom   inilah yang mengatur ketersediaan berbagai macam hormon terkait; XX mengarahkan ke bentuk perempuan XY mengarahkan ke bentuk laki-laki. Pada dasarnya hormon-hormon androgen membuat bayi tumbuh menjadi lelaki, sedangkan hormon estrogen menjadikan bayi kemudian tumbuh menjadi perempuan. Hasil dari kerja hormon-hormon inilah nanti menjadikan bayi yang lahir dikenali sebagai laki-laki ataukah perempuan. Bila “ada masalah” mungkin saja si penolong persalinan itu mengalami kesulitan untuk menentukan apakah bayi yang baru terlahir itu laki-laki ataukah perempuan, misalnya karena tak tampak  “burung” (penis) ataupun “telurnya” (testis). Jika yang menolong persalinan itu tenaga kesehatan yang terdidik, dia akan segera menasihatkan kepada si ibu atau keluarganya tentang apa yang harus dilakukan nantinya.

Akibat dari gangguan pertumbuhan organ-organ di dalam tubuhnya, bisa terjadi produksi hormon androgen kurang sehingga “si burung” tidak cukup besar tumbuhnya, disertai dengan tidak munculnya “si telor”. Akibatnya walaupun bayi yang kromosom kelaminnya XY (laki-laki), oleh si penolong persalinan disebutnya sebagai bayi perempuan.  Bakal “telor” itu ketika pertama terbentuk bersama dengan bakal ginjal berada di dalam rongga perut. Pengaruh hormon androgen (terutama testosteron) menjadikan testis ini tumbuh memisahkan diri dari ginjal, lalu “turun” keluar dari rongga perut. Biasanya pada saat bayi laki-laki itu lahir, “telur” itu sudah berada di kantungnya di luar perut. Ada kalanya produksi hormon androgen itu kurang mencukupi sehingga “perjalanannya” terlambat sehingga mungkin baru sampai di tempat yang seharusnya setelah bayi mencapai umur dua tahun. Keterlambatan seperti ini dapat juga terjadi sebagai akibat dari tersedianya berlebih hormon estrogen dari ibu ataupun dari uri (placenta) ketika bayi masih di dalam kandungan. Keadaan ini juga menjadikan “burung” tumbuh sangat kecil, hanya sebesar kelentit (clitoris), sehingga bayi laki-laki ini oleh si penolong persalinan dianggap bayi perempuan.  

Di dalam pertumbuhannya seorang gadis dapat tampak seperti lelaki jika ada gangguan keseimbangan hormon kelaminnya, misalnya karena ada tumor yang tumbuh, ataupun karena meminum obat yang mengandung hormon androgen. Akibatnya muncul kelainan-kelainan, misalnya kulitnya menjadi lebih kasar dengan pertumbuhan bulu yang kaku, suara yang menjadi parau bernada rendah, tumbuh kumis.

 Hermaprodite. Jika kita beternak belut kita tidak perlu terlalu memusingkan diri dengan memilih mana yang jantan dan mana yang betina. Kalaupun yang kita kumpulkan itu jantan semua, nanti kita akan mendapatkan anakannya juga. Hal ini dapat terjadi karena setiap belut dirinya dilengkapi dengan kelamin jantan maupun betina. Jika tak ada belut betina, maka belut yang semula terkesan jantan itu akan mengubah fungsi kelaminnya untuk menjadi betina, siap dibuahi dan bertelur. Walaupun sangat-sangat jarang memang ada juga orang bersifat hampir seperti itu; pada satu orang ada kelamin perempuan maupun lelaki yang “sempurna”.  Pada orang seperti ini dapat dijumpai sel-sel tubuh dengan kromosom XX (perempuan) dan sel-sel tubuh yang berkromosom XY (laki-laki); jadi pada orang ini boleh dibilang dua orang (laki-laki dan perempuan) yang menyatu (seperti mozaic) menjadi satu tubuh.

Diagnosa.

Menentukan secara pasti apakah seseorang itu laki-laki ataukah perempuan saat ini tidaklah terlalu mudah; orang dengan mudah berganti pakaian sehingga tidak dapat lagi hanya berdasarkan pada bagaimana pakaiannya. Dengan bantuan teknik operasi plastik dapat saja seorang laki-laki tampil dengan dada menonjol. Bayi yang baru lahir ada kalanya tampak seperti perempuan padahal dia laki-laki. Jika ingin memperoleh kepastian dalam keadaan yang meragukan itu yang dapat diandalkan adalah memeriksa kromosomnya. Dari pemeriksaan ini nanti dapat diketahui apakah seseorang itu benar-benar lelaki (punya kromosom XY), benar-benar perempan (punya kromosom XX), ataukah penampilannya itu merupakan akibat dari kelainan kromosom (punya kromosom semisal XXX, XXY, XYY, YYY, XYXY), ataupun akibat dari gangguan keseimbangan hormon kelamin (karena adanya tumor penghasil  hormon, pemakaian obat hormon).

Tindak lanjut.

Dalam kehidupan masyarakat bersusila dan beragama kepastian jenis kelamin merupakan hal yang penting, dalam pergaulan sehari-hari, maupun yang terkait dengan kehidupan beragama, misalnya cara shalat, perkawinan, persaksian, pewarisan, perawatan jenazah. Jika perilaku atau tindakan menyimpang dari jenis kelamin yang senyatanya, perlu dinasihati ataupun bahkan dikonsultkan ke dokter. Jika perlu pastikan dulu jenis kelaminnya dengan  pemeriksaan kromosomnya, selanjutnya mungkin perlu nasihat lebih mendalam; berkonsultasilah dengan dokter ahli jiwa (psikiater). Kadang-kadang dokter ahli yang lain perlu dimintai pertolongan untuk sekedar menyeimbangkan perimbangan hormon kelaminnya dengan obat-obatan; mungkin perlu pembedahan memperbaiki alat kelamin, ataupun juga membuang tumor yang mengganggu. 

Pencegahan.

Untuk menghindari permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat, maka anak-anak harus dibesarkan dalam lingkungan yang benar sehingga anak dapat tumbuh sesuai dengan kenyataan dirinya, termasuk pakaian dan permainannya. Pergaulan ini dapat mencegah penyimpangan perilakunya nanti. Jika terlihat ada penyimpangan, maka pendekatan diperlukan untuk penelusuran dan pengarahan; jangan takut bertanya kepada ahlinya, jika perlu.

Penutup.

Dalam kehidupan bermasyarakat bersusila dan beragama kepastian jenis kelamin merupakan hal yang penting, dalam pergaulan sehari-hari, terutama terkait dengan kehidupan beragama. Jika tampak ada perilaku atau tindakan yang menyimpang dari segi jenis kelaminnya perlu ditelusuri, dinasihati, ataupun bahkan dikonsultkan ke dokter sebelum permasalahan kian rumit.

Semoga uraian di atas bermanfaat.

Untuk memperoleh kebaikan

140113  

Dengan yang baik untuk memperoleh kebaikan.

 

 

Bismi ‘l-lahi ‘r-rahmani ‘r-rahiem.

 

 

Allah SwT berfirman:

 

HAI RASUL-RASUL, MAKANLAH DARI MAKANAN YANG BAIK-BAIK, DAN KERJAKANLAH AMAL YANG SALEH…” (Surah al-Mu’minun [23] ayat 51)

 

Sekalipun ayat di atas lafadznya mengarah ke para Rasul, namun itu juga berlaku bagi para pengikut Rasul. Mufassir al-Maraghi menyebutkan bhwa ayat itu harus difahami seakan Allah SwT berfirman: “Wahai kaum muslimin di seluruh dunia, makanlah dari makanan yang halal, bersih, dan lurus; kerjakanlah amalan yang shalih. Makanan yang halal adalah yang tidak mengandung kedurhakaan terhadap Allah; yang bersih ialah yang tidak mengandung perkara yang melupakan Allah; yang lurus ialah yang menahan nafsu dan memelihara akal”.

 

Dalam kaitan dengan ayat ini ada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, dan lain-lain, bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

 

Wahai manusia, sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Baik, Dia tidak menerima selain yang baik-baik; dan sesungguhnya Allah Ta’ala ttelah memerintahkan kepada orang-orang berimman apa yang telah Dia perintahkan kepada para Rasul. Dia berfirman:

 

HAI RASUL-RASUL, MAKANLAH DARI MAKANAN YANG BAIK-BAIK, DAN KERJAKANLAH AMAL YANG SHALEH. SESUNGGUHNYA AKU MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.” (Surah al-Mu’minun [23] ayat 51) ”,

 

dan Dia berfirman:

 

HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, MAKANLAH DI ANTARA REZEKI YANG BAIK-BAIK YANG KAMI BERIKAN KEPADAMU DAN BERSYUKURLAH KEPADA ALLAH, JIKA BENAR-BENAR HANYA KEPADANYA KAMU MENYEMBAH.” (Surah al-Baqarah [2] ayat 172)

 

Kemudian beliau menceritakan adanya seorang lelaki yang banyak mengadakan perjalanan, rambutnya kusut dan penuh debu, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dari yang haram, kemudian dia mengulurkan tangannya ke langit sambil menyeru (berdoa): “Ya Tuhanku, ya Tuhanku,…”. Rasulullah mengakhiri ceritanya dengan menyebutkan: “Bagaimana mungkin doanya akan terkabul?”

 

Sejalan dengan itu Rasulullah dengan tegas menolak ketika ada shahabat yang mengusulkan agar budak-budak yang cantik dilacurkan saja agar dapat diperoleh uang guna pembeayaan anak-anak yatim.

 

Di ayat 51 surat al-Mu’minun itu didahulukannya perintah untuk memakan makanan yang halal atas perintah mengerjakan amal shalih menunjukkan bahwa “amal shalih” tidak akan diterima jika tidak didahului dengan memakan makanan yang halal.

 

Dalam hadits shahih lainnya ada pula disebutkan bahwa Rasulullah menyatakan: “Daging manapun yang tumbuh dari makanan yang haram, maka neraka adalah yang lebih pantas untuk tempatnya”

 

Di akhir ayat 51 Surah al-Mu’minun [23] itu Allah menyampaikan peringatanNya (warning) agar manusia cermat, tidak lalai, bahwa apapun yang dilakukannya tidak luput dari amatan Allah dengan menyebutkan:

 

...SESUNGGUHNYA AKU MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.”

 

Semoga kita dapat dengan segala cara selalu menjaga diri dan keluarga dari peluang masuk neraka; semoga dengan ini barakah Allah akan banyak terlimpahkan kepada bangsa kita.

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan mem-forward-nya. Untuk menerima ataupun membuka posting lainnya kirim e-mail ke pelita-hikmah-subscribe@yahoogroups.com. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

H.R.M. Tauhid-al-Amien, dr., MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292 

Susu jagung

SUSU JAGUNG.

Pernah dengan “susu jagung”? Ini seperti “susu kedelai”, hanya saja bahannya jagung. Ada juga yang menggabungkan kedelai dan jagung, bahkan ada pula yang menambahkan kacang hijau. Jika diminum dingin, segar rasanya. Membuatnya juga tak susah: jagung pipil 100 g yang sudah direbus ditambah 1-3 gelas air lalu diblender; tambahkan gula secukupnya; boleh juga ditambah sedikit garam.
Minuman ini di Thailand sudah dipasarkan dalam kemasan 100 ml sejak tahun 2000; laris juga. Di lemari pendingin susu ini dapat tahan sampai sepekan. Mereka dapat menghabiskan 300 kg jagung! Mungkin ini karena mereka menyebutkan bahwa minuman ini mengurangi risiko munculnya kangker, walaupun kajian ilmiahnya belum ada.

Untuk meminumnya susu jagung dikocok dulu. Karena komposisi partikel jagungnya mungkin masih cukup besar, pengendapan adalah hal yang biasa, apalagi jika sudah sedikit masam karena terlalu lama disimpan ataupun pemrosesannya yang kurang bersih (karena “pembusukan”).  Pengendapan susu “dikurangi” dengan menyaringnya segera sesudah diblender; ada yang menyebut penyaringnya dengan mesh 100, ada juga yang menyebut “kain” begitu saja. Dengan begitu dihasilkan “susu” dan ampas. Ampas ini dapat diolah lanjjut dengan menambahkan gula lalu dipanaskan untuk menjadi dodol jagung yang lezat.

Pemikiran Pulau ODHA

Pulau ODHA
Oleh
HRM Tauhid-al-Amen, dr., MSc., DiplHPEd., AIF.
(Konselor HIV/AIDS, Muballigh senior.)
Adalah suatu kenyataan yang pahit bahwa sampai saat ini para ahli kesehatan se dunia belum ada yang berhasil mendapatkan obat untuk menghilangkan virus HIV ataupun yang benar-benar mampu menyembuhkan penyakit AIDS yang mematikan itu. Padahal dari waktu ke waktu jumlah penderita AIDS terkesan bukan berkurang, tetapi justru melonjak dengan cepat dan menakutkan, termasuk di Indonesia. Semua itu mengarah ke kebutuhan dana penanganan yang tak kecil, yang terkadang mengalahkan jumlah dana yang diperlukan untuk penanganan penyakit penting lainnya.
AIDS sebagai penyakit.
“Penyakit” AIDS (Ackquired Immuno-Deficiency Syndrome; Gejala Kekurangan Sistem Kekebalan-tubuh yang dapatan, bukannya keturunan) yang terlanjur salah kaprah disebut sebagai sekedar “gejala” (syndrome), meskipun sudah diyakini pasti bahwa ini sebenarnya adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang dikenali dengan sifat khasnya sebagai perusak sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini biasanya berjalan “lambat”, meskipun ada juga yang dengan cepat merebak dan segera menimbulkan kematian pada pengidapnya. Yang begini ini mematikan dalam waktu dua tahunan dengan proses yang “cepat”.
Jika berjalan lambat, penyakit ini baru mengantar ke kematian setelah pengidapnya terhuni oleh virus ini selama sekira 20 tahun ataupun lebih, yang di masa akhir-akhirnya memberikan kengerian penderitaan yang luar biasa.
Jika nyatanya obat belum mungkin menyembuhkan mereka, padahal pada saat akhir hidupnya dia memerlukan lebih banyak pertolongan, apa yang harus kita perbuat untuk mereka? Sejak awal-awalnya mulai merebaknya HIV/AIDS di
Indonesia seperempat abad yang lalu, para pegiat penanggulangan HIV/ AIDS sudah berulangkali menyampaikan bahwa penyebaran HIV/AIDS yang tak terkendali nantinya akan menghabiskan dana yang lebih besar dari dana
penanganan kesehatan secara umum, ataupun bahkan dapat mencapai angka yang melebihi belanja negara di luar bidang kesehatan.
Dalam tahap awal pengidap HIV/AIDS sepertinya “tdak memerlukan” apa-apa, karena dalam tahap itu dia tidak merasakan gangguan apapun, meskipun mungkin virus itu bersarang di tubuhnya sudah cukup lama. Ini berarti
sebenarnya orang seperti ini perlu diberitahu baik-baik perihal dirinya, misalnya bahwa dia dapat menulari orang lain. Selain itu dia perlu menyadari masa depan hidupnya, bahwa penyakitnya secara pasti akan berkembang, cepat ataupun lambat, menuju ke pemunculan secara utuh gejala-gejala hilangnya daya tahan tubuhnya. Pemberian pengertian seperti ini harus menjaga benar-benar agar penderita tidak berputus asa lalu bertindak nekat, mencelakan dirinya sendiri dengan bunuh diri, ataupun mencelakakan orang lain dengan lebih giat menularkan penyakitnya ke orang lain. Sangat beruntung dia jika dia memahami permasalahannya, bertaubat, lalu berupaya membaktikan sisa hidupnya untuk  membantu orang lain, antara lain membantu pengidap HIV/AIDS yang keadaannya sudah parah, yang mungkin dijauhi oleh masyarakat umum maupun keluarganya sendiri.
Bayangkan jika seorang pengidap HIV/AIDS dan mulai merasakan gangguan-gangguan ringan yang kian parah, menampakkan gangguan seperti adanya penyakit-penyakit lain (misalnya batuk, mencret, gatal) yang tak mau sembuh walaupun sudah sering berobat. Dalam keadaan seperti ini tidak jarang dia menjadi penyulit dalam kehidupan di keluarganya. Jika penyakitnya kemudian diketahui oleh orang lain, tidak mustahil dirinya dan keluarganya
menjadi dijauhi oleh masyarakat. Siapa yang akan menolong mereka? Tenaga kesehatan mungkin sesekali dapat membantunya; sukarelawan dari sejumlah LSM mungkin juga ada yang mengulurkan tangan untuk membantunya. Semua mereka yang membantu ini tak mungkin memberikan bantuannya sepenuh hati, sebab mereka pun tidak dapat lepas dari rasa takut tertulari walaupun mereka ini tahu pasti apa-apa yang memungkinkan penularan kepada diri mereka. Di sinilah akan sangat berarti peran seorang pengidap HIV/AIDS dalam membantu sesama pengidap; bantuan yang diberikannya tak terkendala lagi karena dia tak takut lagi tertulari! Dari bukti-bukti perhatiannya kepada sesama pengidap ini nantinya dapat diharapkan bahwa ketika dirinya sampai ke tahap munculnya AIDS seperti itu, maka sesama pengidap HIV/AIDS yang belum parah pun akan membantu dirinya juga. Di mana suasana yang seperti ini dapat berlangsung? Di rumah sakit mungkin ini tak akan terjadi karena birokrasi yang ada. Di suatu
perkampungan suasana seperti juga tak mungkin muncul karena keburu banyak orang tahu lalu kampung itu dijauhi orang; kampung di sekitarnya juga akan ditinggalkan orang karena takut.
Pulau ODHA

Mungkin tidak ada tempat yang dianggap “aman” oleh orang awam untuk menampung dan merawat penderita   HIV/AIDS pada semua tahapnya. Itu berarti bahwa jika suasana bantu-membantu seperti yang diuraikan di atas itu   dapat diterima, yang memadai, di mana semua itu dapat diterapkan? Untuk penanganan orang-orang  dengan    HIV/AIDS (ODHA) ini pemerintah perlu menyediakan satu pulau yang cukup luas di lingkungan laut yang bersahabat,  tenang,  yang tidak terlalu jauh dari daratan untuk cepatnya transportasi laut, untuk kemudahanan pasokan bahan-bahan yang diperlukan (misalnya sembako, air) untuk kehidupan sehari-hari penghuninya, ataupun juga   jika sewaktu-waktu sangat diperlukan di kala perlu tindakan darurat.  Kemudahan jangkauan ini juga memberi kemudahan bagi keluarga mereka kalau-kalau ada yang bermaksud menjenguk.  Kehidupan di sini tentu saja harus dilengkapi denan layanan kesehatan yang memadai, yang  ditangani secara profesional oleh para dokter maupun paramedis yang berdedikasi tinggi, yang menguasai benar permasalahan HIV/AIDS maupun pengidapnya. Untuk itu fasilitas kesehatan yang memadai juga perlu disediakan.

Kehidupan sosial di pulau itu diupayakan berlangsung seperti tatanan sosial kemasyarakatan pada umumnya, termasuk dengan adanya perangkat dasar pemerintahan maupun adanya perumahan maupun tersedianya sarana kehidupan beragama maupun hiburan; bahkan pernikahan sesama ODHA pun dapat dilakukan. Kegiatan pendidikan informal maupun non-formal juga diselenggarakan agar para pemikir ataupun remaja-remaja yang pandai juga dapat mengembangkan kemampuannya untuk berprestasi ataupun berproduksi dalam masa-masa “tenang” mereka. (Catatan: Virus HIV tak dapat bertahan lama hidup di produk mereka, sehingga produk mereka itu aman bagi orang lain).   Tidak mustahil dari Pulau ODHA seperti ini ditangani kegiatan di luar pulau dengan pemanfaatan jaringan internet (Tidak sedikit kegiatan bisnis berkomputer di Amerika Serikat yang pengerjaannya dilakukan oleh tenaga-tenaga mahir di India maupun pulau-pulau negara yang jauh dari benua Amerika, memanfaatkan keluasan jaringan internet global!). Tidak mustahil pula obat pembasmi HIV/AIDS dapat dimunculkan dari Pulau ODHA ini; semoga.

Siapa memulai?

Dalam bermasyarakat di kawasan yang bertata negara,  maka penanganan ODHA harus berdasarkan pada perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu maka para pejabat (baca: penguasa) negaralah yang harus memulai langkah mulia ini. Karena tidak semua pejabat yang terkait punya pemahaman yang cukup tentang HIV/AIDS ini, maka para pegiat pperlu banyak melakukan pendekatan-pendekatan tentang hal ini, termasuk gagasan untuk pengadaan dan pangnanan pulau ODHA ini. Para dermawan juga dituntut untuk tidak tinggal diam. Adalah suatu kebanggaan bahwa provinsi Jawa Timur dapat mulai merintis penyediaan satu atau dua pulau,  memilih dari pulau-pulau  di selat Madura.

Penutup.

Harus saya akui bahwa pemikiran kawasan khusus ODHA (baca: Pulau ODHA)  ini sudah beberapa tahun yang lalu saya hanya  saja waktu itu tanggapan terlalu kecil, karena permasalahan HIV/AIDS belum tampak separah seperti yang terekspos saat ini. Pemikiran ini merupakan pemikiran lanjut, yang saya  tak ingat lagi siapa yang memicu benih pemikiran ini . Semula pemikiran itu baru mengarah ke sekedar “Kampung ODHA”, yang terasa punya banyak kendala.

 

Revisi: 05 Des 2013