Archive for the 'Pelita Hikmah' Category

Perlunya mengingatkan menggunakan kekuatan.

Perlunya mengingatkan menggunakan kekuatan.

 

 

Bismi ‘l-lahi ‘r-rahmani ‘r-rahiem.

 

 

Allah SwT sudah mengingatkan kita dengan firmanNya:

 

“WASPADAI, HINDARI, BENCANA SIKSA UMUM YANG AKAN MENIMPA BUKAN KHUSUS ATAS ORANG-ORANG KALIAN YANG BERBUAT ANIAYA SAJA. KETAHUILAH ALLAH ITU SANGAT KERAS SIKSANYA” (QS al-Anfal [8]:28)

 

Secara tersirat mudah kita fahami bahwa siksa, bencana, atau malapetaka yang diancamkan Allah itu adalah malapetaka yang  merupakan akibat dari tindakan orang-orang yang aniaya. Kenapa hal itu terjadi adalah akibat lanjut dari “kelemahan” atau tidak acuhnya orang-orang baik terhadap masyarakat di sekitarnya, masyarakat di kampung setempat, di wilayah yang lebih luas, ataupun bahkan di seluruh negara. Dalam hal ini lebih lanjut sebenarnya kita sudah sering mendengar peringatan para pemikir bahwa langkah menuju ke kebajikan yang tidak terorganisasi dengan baik akan terkalahkan oleh upaya ke kebatilan yang terorganisasi dengan baik.

 

Rasulullah Muhammad saw sudah menggingatkan pentingnya langkah-langkah pencegahan dengan mengingatkan pentingnya langkah “amar ma’ruf, nahi munkar”  dengan menyebutkan:

 

“Pilih, kalian melakukan amar ma’ruf <menyuruh berbuat baik> dan nahi ‘anil munkar <mencegah kemungkaran>, ataukah Allah akan menjadikan orang-orang yang memusuhimu menguasaimu; jika sudah demikian maka jikapun kemudian orang-orang baik kalian berdoa tidaklah akan dikabulkan lagi oleh Allah”.(Musnad Ahmad 22223)

 

“Siapa saja melihat kemungkaran di masyarakat kalian, haruslah mengatasinya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya; ini adalah pertanda selemah-lemahnya iman.” (Shahih Muslim 70)

 

Pentingnya kekuatan ini terlihat juga dalam upaya penyelamatan, pemberian pertolongan. Dalam hal ini ada contoh dalam kasus penyelamatan orang yang teraniaya maupun si penganiaya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim (aniaya) dan yang dizhalimi”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, jelas kami faham menolong orang yang dizhalimi, tetapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zhalim?”  Beliau bersabda: “Pegang tangannya (agar tidak berbuat zhalim) ” (Shahih Bukhary 2264).

Di sejumlah riwayat disebutkan dalam berbagai redaksinya, misalnya “Apabila ia berbuat zhalim/aniaya, maka cegahlah ia untuk tidak berbuat kezhaliman; itu berarti menolongnya (Shahih Muslim 4681), “Caranya, kau cegah supaya ia tidak berbuat aniaya”. (Musna Ahmad 12606), “Jika ia orang yang menzhalimi, maka hendaklah ia dicegah, karena tindakan itu adalah cara menolongnya.” (Sunan Darimi 2365), “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman; itulah cara menolongnya.” (Shahih Bukhary 6435).

Bagaimana halnya jika si pelaku aniaya iu kelompok atau orang kuat? Bagaimana pula jika pelaku itu pejabat? Di sinilah mudah kita fahami bahwa kita perlu kekuatan, kekuasaan, untuk menegakkan kebenaran dan mengatasi kejahatan.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat bernegara di Indonesia, kita terikat pada kesepakatan bersama yang berupa ketentuan dan perundang-undangan, yang seibarat perjanjian, yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, jika ummat Islam di Indonesia ingin tidak “dikuasai” oleh orang-orang yang memusuhinya, maka kita tidak boleh memberi kesempatan berkuasanya orang-orang secara langsung ataupun dengan peluang untuk membuat peraturan ataupun perundang-undangan yang merugikan. Artinya ummat Islam dalam PEMILU harus demi Allah menggunakan haknya, kesempatan, untuk hanya memilih yang terbaik. Jika “tak ada” yang baik, pilihlah yang paling sedikit berpeluang salah.

 

Allah akan memintai pertanggungjawaban atas yang kita lakukan! Semoga Allah “membuka mata” kita, menampakkan kepada kita jalan yang terbaikNya.

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

========================================

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Beramallah dengan mem-forward pelita hikmah ini. Untuk terus menerima ataupun membuka posting lainnya kirim e-mail ke: pelita-hikmah-subscribe@yahoogroups.com. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

H.R.M. Tauhid-al-Amien, dr., MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

Jika lingkungan mengancam

130924

Jika lingkungan mengancam.

Bismi ‘l-lahi ‘r-rahmani ‘r-rahiem.

 

Kenyataan di lingkungan di sekitar kita kadang-kadang membuat kita sepertinya tak dapat berbuat apa-apa; permasalahan yang ada demikian besarnya: kemungkaran. Permasalahan yang besar ini tidak boleh dibiarkan jika kita tidak ingin munculnya permasalahan yang lebih besar lagi, yang oleh Allah SwT kita telah diingatkan dengan firmanNya:

 

WASPADALAH TERHADAP MUNCULNYA BENCANA UMUM, YANG TIDAK HANYA DITIMPAKAN ATAS MEREKA YANG BERBUAT ANIAYA DARI KALIAN ITU SAJA..” (QS al-Anfal [8]: 25)

 

 

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sebenarnya Allah juga sudah memberi petunjuk kepada kita dalam menghadapi permasalahan-permasalahan, apalagi jika permasalahan itu besar:

 

BEKERJASAMALAH DALAM URUSAN KEBAIKAN DAN TAQWA, JANGANLAH BEKERJA SAMA DALAM PERBUATAN DOSA ATAUPUN PERMUSUHAN” (QS al-Maidah [5]:2)

 

Kerja sama memerlukan kesefahaman, yang harus diawali dengan saling kenal untuk saling percaya. Di sinilah antara lain pentingnya silaturakhim.

 

Untuk efektifnya suatu kerja sama diperlukan pimpinan yang dapat diturut, yang punya keberanian dari wewenang yang dimilikinya untuk berbuat, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah SaW dalam sabdanya:

 

Siapapun yang melihat kemungkaran di sekelilingnya, haruslah dia mengatasinya dengan tangan kekuasaannya. Kalau tak sanggup untuk ini, maka dengan bicaranya (dengan mulutnya ataupun dengan tulisannya.) Kalau untuk yang begini juga tak sanggup, maka hendaklah dengan hatinya (baca: semangat dan doanya); hanya saja yang ini merupakan pertanda selemah-lemahnya iman” (HSR Ahmad, Muslim, Arba’in)

 

Mencegah kemungkaran memang “tidak mudah” banyak risikonya, apalagi jika kemungkaran itu sudah merebak luas dan pelakunya merupakan kelompok yang “penguasa” yang tidak kecil lagi; di sinilah mudah kita fahami bahwa mereka yang punya kekuasaan karena jabatannya berpeluang untuk lebih mudah untuk menjalankan pencegahan kemungkaran. Adapun yang lebih mudah atau kecil risikonya adalah jika hanya sekedar ber-”amar ma’ruf”. Namun perlu juga digarisbawahi bahwa pejuang yang ber-”nahi munkar” itu jika sampai terbunuh dia tergolong yang mati syahid!

 

Bagaimanapun juga amar ma’ruf nahi munkar harus kita lakukan seawal mungkin, jangan sampai terlambat, sebagaimana Rasulullah telah mengingatkan kita dengan sabdanya:

 

Pilih, kalian melakukan amar ma’ruf nahi munkar, ataukah Allah akan membiarkan musuh-musuh kalian menguasai kalian, yang kemudiannya kalaupun orang-orang baik kalian memohon bantuan kepada Allah tidaklah dikabulkan lagi”.(HHR Thabrani)

 

Semoga kita masih mampu untuk berbuat untuk ber-”amar ma’ruf, nahi munkar” sehingga kita dan anak-cucu terselamatkan dari keadaan yang tidak kita inginkan.

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292

 

Shalat sebagai kebutuhan

130606

 Shalat sebagai kebutuhan.

 Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

 Saya masih terharu setiap teringat apa yang disampaikan anak saya yang waktu itu sedang menuntut ilmu di fakultas dakwah; di bilang “Shalat sebagai kebutuhan, bukan kewajiban”. Saya tidak menanyakan dari mana dia dapat ungkapan itu ataupun maknanya; namun saya dapat memahami kebenarannya, walaupun pasti sulit diterima oleh sebagian orang, lebih-lebih lagi bagi orang munafik.   

 Pada hakikatnya shalat memang kewajiban, karena ada perintahnya. Karena shalat ini perintah maka mudah kita fahami bahwa ada yang menurut ada pula yang membangkang; jika ditelusuri lebih lanjut ini mungkin karena menyadari perihal kedekatannya kepada Allah, karena keterpaksaannya, ataupun karena hal yang lainnya. Namun jika kita perhatian sasaran shalat bahwa shalat akan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, maka shalat akan merupakan kebutuhan; jika orang ingin selamat dari melakukan kekejian ataupun dari melakukan kemungkaran, maka dia perlu menjalani shalat.

 BACALAH APA YANG TELAH DIWAHYUKAN KEPADAMU, YAITU AL-KITAB (AL-QURAN) DAN DIRIKANLAH SHALAT. SESUNGGUHNYA SHALAT ITU MENCEGAH DARI (PERBUATAN-PERBUATAN) KEJI DAN MUNGKAR. DAN SESUNGGUHNYA MENGINGAT ALLAH (SHALAT) ADALAH LEBIH BESAR (KEUTAMAANNYA DARI IBADAT-IBADAT LAIN). DAN ALLAH MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN. (Surah al-‘Ankabut [29] ayat 45)

 Apapun alasannya, shalat bermanfaat bagi manusia; paling tidak ini sudah merupakan kepatuhan terhadap perintah Allah, Penguasa seluruh alam, yang mencipta manusia disertai dengan segala pedoman hidupnya. Namun jika ingin memperoleh lebih, maka mutu pelaksanaan shalat haruslah ditingkatkan.

 Seburuk-buruk shalat yang seibarat “rubuh-rubuh gedhang” (Jw., sekedar mengikuti gerakan imam)sudah boleh, diterima oleh Allah. Untuk pendekatan diri kepada Allah, maka harus difahami bahwa shalat pada hakikatnya adalah doa; orang harus sadar sepenuhnya apa yang diminta dalam doanya itu, orang harus tahu makna apa yang dibaca. Untuk ini setidak-tidaknya orang harus faham bahwa shalat itu pendekatan diri kepada Allah dengan tata cara menjalankannya secara benar, menuruti apa-apa yang diperintahkanNya; selanjutnya sesudah shalat itulah barulah dia berdoa. Dengan melakukan ritual shalat itu, dia merasa telah dekat kepada Allah, maka dia lalu menyampaikan permasalahan yang dihadapinya dan mengajukan permintaan dengan bahasanya sendiri yang dia menjiwainya.

 Lebih jauh lagi, jika orang ingin selamat dari melakukan kekejian ataupun dari melakukan kemungkaran, maka dia perlu menjalani shalat dengan penuh pengertian. Bacaan shalatnya bukan sekedar melafalkan bacaan shalat, tetapi mengucapkan kata-kata dengan penuh kesadaran, memahami apa bacaan yang keluar dari mulutnya; setiap kata ataupun kalimat. Orang yang sudah mampu menjalankan shalat seperti ini akan selalu mengkaitkan dirinya dengan Allah.

 Orang seperti itu tidak hendak berfikir tentang yang tidak dimaui oleh Allah, tetapi berfikir bagaimana mensyukuri semua apa yang telah diberikan oleh Allah dengan memanfaatkan sebaik-baiknya. Dia tidak mau melakukan hal-hal terlarang; dia berusaha melaksanakan yang benar dalam pandangan Allah. Untuk itu semua dia selalu berusaha meningkatkan pemahaman diri, sehingga semisal kalaupun tak ada orang yang melihat dia tidak mau melakukan pelanggaran karena dia yakin Allah selalu memperhatikan dirinya. Orang seperti ini tidak akan melakukan korupsi walaupun peluang terbuka baginya….

Semoga kita sudah dapat merasakan bahwa shalat sudah menjadi kebutuhan yang perlu kita lakukan, bukannya sekedar kewajiban yang kita harus melakukannya. Semoga dengannya kita terjaga diri.

 

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

                                    e-mail: tauhidHW@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

Aqidah kokoh menuju akhlaq mulia.

 130426

Aqidah kokoh menghasilkan akhlaq mulia.

 Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Kadang-kadang kita merasa telah “banyak” mempelajari tentang aqidah, namun sepertinya tak ada hasilnya. Mungkin ini karena semua yang kita pelajari itu hanyalah kaidah-kaidahnya (rumusan-rumusan) dalam masalah aqidah. Jika hanya sekedar kaidah atau rumusan, seperti halnya rumus matematika dan kimia ataupun rumus lainnya, maka tanpa praktek nyata, rumusan tinggal rumusan “tanpa arti” walaupun sebanyak apapun kita menghafalnya. Oleh karena itu jika kita ingin merasakan dalamnya aqidah tertanam di hati dan jiwa kita, maka kita perlu meresapi kandungan Al-Qur’an dan menghayatinya.

Allah SwT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka (karena teringatkan adanya Allah, Tuhannya), dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karena adanya bimbingan, guidance), dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfal [8]: 2)

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. … (QS. Al-Sajdah [32]: 15)

Banyak orang menyangka bahwa akhlaq tidak ada sangkut pautnya dengan aqidah, melihat nyatanya seseorang yang sudah belajar aqidah ada yang tidak juga merasa risih ketika mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata kotor kepada saudaranya sesama muslim; seharusnyalah dia bukan menyumpahinya. Kita dituntut untuk berusaha meluruskan dengan mengingatkannya jika ada teman atau saudara sesama muslim masih tersalah langkah, agar kita tidak merugi dalam memanfaatkan masa hidup kita; itu jika kita beriman (mengakui benarnya) apa yang difirmankan Allah:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr [103]: 1–3)

Puluhan nasehat Rasulullah yang mengaitkan keimanan dengan akhlaq, karena akhlaq mewarnai ucapan, sikap dan adab kita, termasuk bahwa menyingkirkan duri dari jalanan itupun manifestasi iman. Tidak asing bagi kita sabda Rasulullah Muhammad saw:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat di atas Mizan (timbangan amal di akhirat nanti) dibandingkan akhlak yang baik” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan beliau menyatakan bahwa Hadits ini Shahih)

 

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Janganlah engkau meremehkan amal kebajikan meskipun kecil, walaupun itu hanya berupa wajah yang manis ketika engkau bertemu saudaramu.” (HR. Muslim)

 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam saja.” (Muttafaq Alaih)

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Shodaqoh tidaklah akan mengurangi harta sedikitpun, dan tidaklah seorang hamba yang memberi maaf, melainkan Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan kehormatan, dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri di hadapan Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

 

Semoga kita dapat memanifestasikan akhlaq mulia dalam pergaulan kita sehari-hari sehingga bahasan perumusan pemikiran bersama maupun penerapannya untuk kebaikan bersama tidak sulit lagi dengan tidak adanya saling curiga sesama kita.

 

 

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidHW@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

 

 

Menampilkan akhlaq mulia

130413

Menampilkan akhlaq mulia.

 

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Tugas utama Rasulullah Muhammad saw. adalah menyempurnakan keutamaan akhlaq. Ini meliputi antara lain memberi perlakuan yang baik kepada semua makhluq, misalnya tak boleh ada sifat takabur ataupun sombong. Harus ditegakkan keadilan, persaudaraan, tolong menolong untuk kebajikan, menyampaikan hak kepada pemiliknya, dan adanya toleransi yang penuh dalam segala hal yang menyangkut kemashlahatan secara perseorangan maupun bermasyarakat. Rasulullah Muhammad saw adalah contoh yang paling utama. Rasulullah adalah orang yang terbaik dalam bermu’amalah maupun bergaul. Beliau adalah orang yang penuh kasih sayang terhadap semua orang, dan sangat mencintai kaum muslimin.

 

SESUNGGUHNYA TELAH ADA PADA (DIRI) RASULULLAH ITU SURI-TELADAN YANG YANG BAIK BAGIMU (YAITU) BAGI ORANG-ORANG YANG MENGHARAP (RAHMAT) ALLAH DAN (KEDATANGAN) HARI KIAMAT, DAN DIA BANYAK MENYEBUT ALLAH. (Surah al-Ahzab [33] ayat 21)

 

Oleh karena itulah Allah SwT telah memerintahkan kita agar mengikuti jejak, hidayah, dan sunnah Rasulillah, agar dapat memperoleh kemenangan dan meraih kebahagiaan. Dengan cara itu akan sempurnalah amal perbuatan kita, mencapai kehidupan surga dan terselamatkan dari siksa neraka Sa’ir.

 

Dengan memperhatikan hal itu, seharusnyalah kita menjadi orang yang lemah-lembut, penuh kasih sayang, berakhlaq mulia, berlaku baik dalam bergaul dan bermu’amalah. Seharusnyalah kita menjauhkan dri dari dosa dan dari perbuatan tercela semisal mengurangi takaran dan timbangan, curang dalam segala seginya, mengurangi hak orang lain, mempersulit orang, memeras, menipu, mencuri, korupsi, berzina, mengkonsumsi yang haram, ataupun lainnya.

 

 

Semoga kita dapat melaksanakan semua itu walau dalam segala keterbatasan kita, berbelas kasihan kepada sesama, menolong sejauh kita mampu dengan harta, potensi, ataupun kedudukan; menebarkan salam, saling cinta-mencintai maupun saling menasihati karena Allah, sehingga terbentuklah masyarakat Islam yang tergambarkan seibarat bangunan kokoh, yang komponen satu dan lainnya saling mengikat, saling menunjang.

 

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO

e-mail: tauhidHW@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

 

Sangu ber-umrah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Umrah

Kini banyak orang berduit yang ber-umrah, misalnya karena khawatir umur tak sampai karena lamanya antre untuk ber-hajji. Berikut ini sekedar “sangu”, mungkin membantu.

Umrah memang bukanlah ibadah yang wajib, namun sebagian ahli menggambarkan bahwa umrah merupakan salah satu pendekatan diri kepada Allah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai jihad tanpa penumpahan darah; nilainya sangat tinggi, yang tak boleh disia-siakan jika berkesempatan.

 

Harus kita fahami bahwa berumrah ataupun berhajji adalah bertamu, menjadi tamu Allah, karena bersengaja menghadap menemui Allah di “rumah”Nya, Masjidil Haram.

 

Bertamu harus memenuhi tata cara Yang Punya Rumah, bahkan Rasulullah menyebut orang yang bertamu itu seperti mayit, tak dapat berbuat apa-apa, mau diapakan terserah pada Yang Punya Rumah. Oleh karena itulah berangkat berumrah harus dengan kesungguhan yang penuh kepasrahan, walaupun penuh harapan.

 

Janganlah lupa segera bersyukur setiap memperoleh kebaikan, kemudahan, ataupun kesenangan dari siapapun juga, karena pada hakikatnya itu semua dari Allah.

 

Jangan sekali-kali memunculkan kesombongan (walaupun terhadap sesama) dengan tindakan, perkataan, maupun PERASAAN; apalagi terhadap Allah. Jika menganggap atau merasa yakin sepertinya mampu untuk melakukan sesuatu, jangan lupa mengiringinya dengan ungkapan “insya Allah”; Allah Maha Kuasa, kesombongan itu mungkin saja segera “dibalas” dengan “ujian” untuk menunjukkan bahwa anggapan yang memunculkan kesombongan itu keliru.

Bersabarlah jika menjumpai hal-hal yang kurang menyenangkan, hambatan, ataupun bahkan halangan, karena semua itu pada hakikatnya adalah ujian dari Allah, Penguasa Seluruh Alam ini. Ujian adalah untuk peningkatan martabat; yakinlah bahwa yang Anda hadapi itu akan berakhir baik, karena Allah tidak akan membebani hambaNya dengan ujian yang hambaNya tak mampu menanggungnya, apalagi jika si hamba ini terbiasa berdoa: “Ya Allah, ya Tuhan; beri akhir baik atas semua permasalahan yang saya hadapi; jangan Engkau bebankan kepada saya beban yang saya tak akan mampu memikulnya”

 

Saat berihram termasuk saat-saat yang doa mudah dikabulkan oleh Allah; berdoa di depan pintu Ka’bah (Multazam) konon tidak pernah tertolak.Masih banyak lagi kesempatan untuk mudah terkabulnya doa; manfaatkan saat-saat baik maupun tempat baik untuk banyak berdoa.

 

Jangan lewatkan kesempatan yang tak ada di tempat lain: ber-thawwaf. Usahakan selalu thawwaf jika masuk Masjidil haram, bukan sekedar shalat tahiyyatul masjid.

 

Semoga perjalanan umrah Anda maupun rombongan penuh kemudahan disertai dengan barakah yang melimpah kepada seluruh keluarga yang di rumah.

 

Terima kasih atas perhatian Anda.

 

Wassalam,

Sifat-sifat baik

130202

Sifat-sifat baik.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Kita sebagai manusia sebenarnya diamanahi Allah SwT untuk menjadi khalifah (pemangku kekuasaan; wakil) Allah dalam mengelola dunia. Untuk tugas itu kita sudah juga dilengkapi dengan berbagai macam potensi sebagai kelengkapan diri maupun berbagai macam pedoman (guidance), antara lain al-Qur’an di samping bukti-bukti alam yang diungkapkan sebagai hasil penelitian oleh para cerdik cendekiawan. Pedoman di al-Qur’an itu ada yang berupa perintah langsung, anjuran, ataupun contoh-contoh; ada yang diberikan hanya sekali ada pula yang diulang-ulang dalam bentuk kalimat yang sama ataupun dengan redaksi yang berbeda. Secara sederhana dapat kita fahami bahwa pengulangan itu memang perlu karena manusia mudah lupa ataupun suka mencari pembenaran diri (excuse) atas kesalahan yang dilakukannya.

 

Kita sebagai pemegang amanah Allah itu misalnya perlu memahami pedoman-pedoman itu, salah satu contoh manusia yang baik adalah Nabi Yahya a.s. yang oleh Allah diingatkan:

 

HAI YAHYA, AMBILLAH AL-KITAB (TAURAT) ITU DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH.. (Surah Maryam [19] ayat 12)

 

Kita saat ini harus memahaminya sebagai perintah bahwa kita harus mengambil al-Qur’an sebagai pegangan hidup dengan cara memahami maknanya, bukan hanya dengan mampu membaca atau melafalkannya.

 

Adapun orang-orang terpilih akan dilengkapi pula dengan lingkungan yang baik sebagai sarana untuk pengembangan diri sejak masa kanak-kanak untuk peningkatan kemampuan fikirnya (hikmah), seperti yang juga diberikan  kepada Nabi Yahya itu.

 

 …DAN KAMI BERIKAN KEPADANYA HIKMAH SELAGI IA MASIH KANAK-KANAK  (Surah Maryam [19] ayat 12)

 

DAN RASA BELAS KASIHAN YANG MENDALAM DARI SISI KAMI DAN KESUCIAN (TERJAGA DARI BERBUAT DOSA)… (Surah Maryam [19] ayat 13)

 

 

Hasil proses kehidupan seperti itu tampak seperti yang disimpulkan Allah:

 

 … DAN IA ADALAH SEORANG YANG BERTAKWA (Surah Maryam [19] ayat 13)

 

DAN SEORANG YANG BERBAKTI KEPADA KE DUA ORANG TUANYA, DAN BUKANLAH IA ORANG YANG SOMBONG LAGI DURHAKA.(Surah Maryam [19] ayat 14)

 

Tugas Nabi Yahya adalah membimbing ummatnya, menjadi pemimpin. Jadi untuk memilih seorang pimpinan kita perlu merujuk ke gambaran beliau, yang juga ditampilkan oleh Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad saw. yang juga diingatkan oleh Allah bagaimana bersikap dalam memimpin ummat:

 

MAKA DISEBABKAN RAHMAT DARI ALLAHLAH KAMU BERLAKU LEMAH LEMBUT TERHADAP  MEREKA.  SEKIRANYA KAMU BERSIKAP KERAS LAGI  BERHATI  KASAR, TENTULAH MEREKA MENJAUHKAN DIRI DARI SEKELILINGMU. KARENA ITU MAAFKANLAH MEREKA, MOHONKANLAH AMPUNAN BAGI MEREKA, DAN BERMUSYAWARAHLAH DENGAN MEREKA DALAM URUSAN ITU. KEMUDIAN APABILA KAMU TELAH BERSEPAKAT (MEMBULATKAN TEKAD), MAKA BERTAWAKKALLAH   KEPADA ALLAH. SESUNGGUHNYA ALLAH MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERTAWAKKAL KEPADANYA.(Surah Ali Imran [3] ayat 159)

 

DAN RENDAHKANLAH DIRIMU TERHADAP ORANG-ORANG YANG MENGIKUTIMU, YAITU ORANG-ORANG YANG BERIMAN.(Surah asy-Syu’ara [26] ayat 215)

 

 

Semoga kita dapat lebih baik dalam menghayati pedoman yang diberikan Allah dalam “mengelola” dunia, serta menyiapkan anak-anak kita untuk tumbuhnya sikap yang benar sebagai penerus kita.

 

 

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292