Archive for the 'Kesehatan' Category

PosKes-Masjid untuk Hidup Sehat.

PROGRAM PENGEMBANGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)

BERBASIS MASJID DAN RUMAH TANGGA

MELALUI PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

 

 

 

PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu aspek dalam konsep pembinaan masyarakat sehat; melalui pengembangan PHBS berpusat di lingkungan masjid maupun di lingkungan Rumah Tangga jamaah masyarakat akan mewujudkan masyarakat yang sehat dan mandiri dalam mewujudkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Kesadaran masyarakat dan berbagai institusi terkait untuk melaksanakan PHBS masih perlu dioptimalkan.

Implementasi PHBS di rumah tangga dilihat pada penerapan 10 indikator PHBS umum di rumah rangga, yaitu:

1) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan,

2) Memberi bayi ASI Eksklusif,

3) Menimbang Balita Setiap Bulan,

4) Menggunakan Air Bersih,

5) Mencuci Tangan dengan sabun,

6) Menggunakan Jamban Sehat,

7) Memberantas Jentik nyamuk,

8) Mengonsumsi buah dan sayur setiap hari,

9) Melakukan aktivitas fisik setiap hari,

10)Tidak Merokok di dalam rumah.

Implementasi PHBS di rumah ibadah (masjid) yang terkait dengan penerapan 10 indikator PHBS di rumah ibadah, terutama:

1) Mencuci Tangan dengan sabun,

2) Menggunakan jamban sehat,

3) Membuang sampah di tempat sampah,

4) Tidak merokok,

5) Tidak mengkonsumsi NAPZA,

6) Tidak meludah di sembarang tempat,

7) Memberantas jentik nyamuk.

Fakta.

Data kelompok yang mempraktikkan perilaku PHBS di tahun 2009, baru 64,41% sarana yg telah terbina kesehatannya dengan keragaman pencapaian yang meliputi:

institusi pendidikan (67,52%),

tempat kerja (59,15%),

tempat ibadah (58,84%),

fasilitas kesehatan (77,09%)

sarana lainnya (62,26%).

Upaya.

Sangat diperlukan kemitraan strategis dari berbagai pihak untuk meningkatkan prosentasi ber PHBS di lingkungan rumah ibadah sebagai tempat umum.  Masjid menjadi salah satu komponen dan lembaga sosial kemasyarakatan strategis yang ada di masyarakat, merupakan organisasi berbasis agama (Faith Base Organization-FBO) . Masjid bagi masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan sangat sentral, menjadi tumpuan harapan, tempat berkumpulnya masyarakat. Masjid dalam masyarakat sudah menjadi community centre, pusat kegiatan masyarakat, mulai dari merayakan hari-hari besar Islam, pernikahan, tempat ibadah, menshalatkan jenazah, pesta menyambut bulan suci ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dll. Dalam perkembangannya Masjid menjadi semakin strategis dan berperan penting dalam melakukan berbagai kegiatan di segala bidang; pendidikan, ekonomi, budaya dan kesehatan. Banyak masjid yang memiliki sekolah, poliklinik, mengadakan pelatihan dan konsultasi masalah syariah agama, hukum, ekonomi, dll. Di bidang kesehatan, masjid dapat menjadi pusat informasi berbagai info tentang kesehatan beragam penyakit, cara pencegahan, maupun cara penanggulangannya.

Masjid sebagai community centre dapat efektif jika melaksanakan program-program pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang, termasuk bidang kesehatan, karena  masjid memiliki elemen penting , yaitu :

1)      Adanya Imam/khotib, yaitu pihak yang “ditokohkan” dan menjadi panutan bagi

masyarakat luas

2)      Pengurus mesjid: pengurus yayasan, pengelola/pengurus harian beserta staff, muadzin, marbot, dll, yang melakukan fungsi manajemen atau pengelolaa mesjid

3)      Jamaah tetap, yaitu anggota masyarakat yang tinggal disekitar mesjid, yang merupakan komunitas mesjid

4)      Jamaah tidak tetap dan masyarakat luas, yang sewaktu-waktu datang ke mesjid untuk malaksanakan ibadah maupun kegiatan lain.

Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang melakukan pembinaan dan pendampingan pada masjid-masjid di seluruh wilayah Indonesia, bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI merintis program PENGEMBANGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT ( PHBS ) BERBASIS MASJID DAN RUMAH TANGGA MELALUI PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT.

Untuk mensukseskan program itu pengurus DMI serta pengurus/takmir masjid perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang hal ini.  Ini dapat dilakukan dengan banyak membaca dan bertanya kepada ahlinya lewat forum-forum yang dapat diadakan. Lebih lanjut kegiatan ini dapat dikembangkan dengan pembentukan kader-kader yang terutama bersumber dari jamaah masjid itu sendiri dengan juga membentuk rumah tangga binaan untuk menjadi contoh. Mereka ini dapat disatukan dalam forum Pos Kesehatan Masjid, sejalan dengan PosKesDes, Posyandu Balita, Posyandu Lansia, PosKesTren, Pos UKK, Posbindu PTM.

Takmir maupun kader selanjutnya dapat secara aktif melakukan pembahasan-pembahasan permasalahan yang ada untuk mencari penyelesaiannya dengan memanfaatkan nara sumber yang ada. Hasilnya dapat digunakan sebagai bahan khuthbah, tabligh, maupun dakwah secara umum.

  PENUTUP

Semoga tulisan di atas dapat menjadi panduan awal dalam melaksanakan kegiatan pengembangan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat  (PHBS) berbasis masjid dan rumah tangga melalui promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat . Lebih rincinya mereka yang ingin ikut berperan dapat bertanya ke pimpinan Puskesmas ataupun Dinkes setempat.            

Iklan

Racun di sekitar kita.

Kini banyak bahan kimia yang terbukti ataupun dicurigai menjadi penyebab lebih cepatnya  kematangan seksual anak, gangguan perhatian (attention deficit hyperactivity disorder, ADHD), kegemukan,  autism, maupun sejumlah masalah besar lainnya dalam bidang kesehatan. Upaya menyehatkan anak dengan selain memperhatikan bagaimana aktvitasnya dan makanan,  adalah adanya mengurangi peluang mereka terdedah ke berbagai macam bahan kimia beracun itu, yang mengundang bahaya. 

Arsen (warangan) adalah bahan yang memicu kangker kulit, kandung kemih, ginjal, dan paru. Bahan ini dapat dijumpai pada pencemaran makanan semisal apel, anggur, beras  yang petaninya menggunakan pestisida yang mengandung arsen itu. Arsen kadang-kdang juga digunakan untuk pengawen kayu.

 Formalin dikenal sebagai pemicu kangker hidung (nasal squamous cell cancer), merusak kulit, alergi di mata, tenggorokan, ruam-ruam kulit. Selain itu formalin juga dapat menimbulkan pening-pening, kelelahan, ataupun mual. Formalin kadang-kadang digunakan untuk mengawetkan ikan, daging, jus, jeli, cairan pembersih (pada tisu basah). Selain itu formalin juga digunakan untuk pengawet sejumlah bahan perabot, “cat”, pelapis, ataupun perekat (semisal papan partikel), pelapis laci, meja.

 Merkuri (air raksa) akan mengakibatkan kerusakan perkembangan sistem syaraf, ADHD. Yang perlu diperhatikan lebih jauh adalah kenyataan bahwa perkembangan syaraf itu banyak terjadi selama dalam kandungan dan awal masa kanak-kanak, sehingga ibu hamil maupun anak kecil perlu dijauhkan dari bahan ini. Asalnya merkuri adalah logam cair; namun  selain karena kontak ataupun termakan (ikan atau kerang yang hidup di air yang tercemar), merkuri ini dapat masuk tubuh dari uapnya di polusi udara yang terhirup pernafasan.

 Bisphenol A (BPA) dan Phthalates merupakan pengganggu fungsi hormonal tubuh karena bentuk kimiawinya mirip hormon yang beredar di dalam tubuh sehingga mempengaruhi kesehatan tubuh, termasuk perkembangan sistem reproduksinya. Misalnya saja BPA mempercepat kedewasaan anak peprempuan, ftalat menghambat produksi hormon testosteron sehingga menghambat pertumbuhan seksual anak lelaki. Selain untuk mengawetkan bau (sabun, lotio, parfum), kedua mcam bahan sering digunakan dalam pembuatan plastik; BPA sebagai pengeras, phtalate sebagai pelemas.

PBDE (polybrominated diphenyl ethers) sering digunakan untuk menjadikan kain ataupun spons tahan api yang dipakai untuk bulsak mebel ataupun kasur. Selain merusak sistem reproduksi, bahan ini mengganggu sistem syaraf (kemampuan motorik, belajar, ingatan, maupun pendengaran.

Fluorida. Walaupun bahan ini jika digunakan dengan benar dapat mengurangi kerusakan gigi, namun jika berlebihan bahan ini akan menghilangkan putihnya gigi, retaknya email gigi, tulang rapuh, ataupun gangguan syaraf. Secara alami fluorida ada dalam kadar aman di air sumur, maupun tapal gigi, namun ada juga yang memasarkan sebagai “obat tetes” ataupun “vitamin” dengan peluang takaran berlebih. 

 Pestisida (racun serangga) . Bahan ini sering digunakan untuk menyelamatkan buah ataupun sayur, yang kadang-kadang kurang tercuci baik sehingga sampai termakan anak.  Ada jenis yang memicu kangker lemak (Non-Hodgkin lymphoma) kangker darah (leukemia) pada anak-anak.

Timbal (Plumbum, timah hitam) dapat merusak sistem syaraf, , merusak ginjal, kerdil (terhambat pertumbuhan). Bahan ini kadang-kadang terdapat pada mainan anak, pernik-pernik, ataupun permen; dulu timbal banyak terdapat sebagai pewarna cat ataupun campuran bahan bakar bensin.

Perchlorate (HClO5). Adanya bahan ini dalam kadar tinggi akan menyaingi penyerapan yodida oleh kelenjar gondok; akibatnya perkembangan tubuh dapat terganggu karena kurangnya produksi hormon tiroksin. Bahan ini terdapat di kembang api, bahan peledak, pemutih, pupuk tertentu,

Untuk menghindari keracunan oleh bahan-bahan di atas hindari langsung barang-barang yang mengandung bahan itu, mencucinya, ataaupun cuci tangan stelah terkena bahan termaksud.

Semoga tulisan di atas bermanfaat.

 

Disadur dari tulisan Keely Savoie di Parents Magazine

Donor darah, mungkin untuk Anda juga.

Donor darah

Setiap hari sekitar 500-600 kantong darah ditransfusikan ke pasen-pasen yang memerlukan di kota-kota besar, dengan berbagai penyebabnya. Sampai sekarang para ahli di bidang kesehatan belum berhasil membuat bahan pengganti darah yang dapat menggantikan fungsi darah secara lengkap, walaupun sudah dapat disusun berbagai macam larutan yang aman diinfuskan untuk keperluan tubuh tertentu, semisal untuk penderita muntah-berak yang parah, penderita keracunan, ataupun juga penderita perdarahan sebelum mendapatkan darah pengganti. Ada juga yang mendadak semisal untuk operasi akibat kecelakaan, ataupun karena perdarahan parah yang terjadi pada penderita penyakit hati (liver cirrhosis lanjut) ataupun perdarahan pada ibu yang melahirkan. Ada juga penderita yang secara berkala memerlukan transfusi, misalnya karena kelainan darah (misalnya sickle cell anemia), kerusakan jaringan pembuat sel-sel darah (aplastic anemia). Kadang-kadang yang diperlukan bukan darah “utuh”, tetapi hanya komponennya saja, semisal hanya butir-butir merah darahnya saja, ataupun thrombocyte saja. Mereka ini adalah pasen yang perlu tambah darah ataupun komponennya karena mereka tak mampu membuat darah sendiri saat itu. Pasokan darah yang tersedia teratur sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan darah seperti itu. Tidak tersedia-nya darah akan berarti terancamnya keselamatan jiwa pasen seperti itu. Karena itulah diperlukan orang-orang yang mau mendonorkan darahnya secara teratur.

 

Fungsi darah.

Darah diperlukan tubuh untuk menjalankan fungsi kehidupan. Kebutuhan zat gizi untuk seluruh tubuh dipenuhi dengan mengangkutnya dengan darah yang mengalir. Untuk pembakaran guna menghasilkan energi diperlukan oksigen (zat asam); ini dipasok dengan mengangkutnya dengan sarana haemoglobine (zat warna merah di dalam butir-butir darah merah). Jika orang kekurangan sarana angkut ini (misalnya kurang darah, anemia) maka sel-sel tubuh akan kekurangan oksigen sehingga sulit memperoleh energi, tubuh di menjadi lemah, mudah lelah, pening; otak yang kurang oksigen mudah mengantuk. Aliran darah dibantu oleh sistem peredaran darah (circulation) yang meliputi jantung sebagai pompa ditambah dengan berbagai macam bentuk pembuluh darah sebagai jalannya. Fungsi sistem sirkulasi ini menuntut adanya kecukupan darah (volume maupun komponennya) untuk sempurnanya.

 

Jika seseorang mendonorkan darahnya, darah yang diambil untuk didonorkan itu hanya 350 ml. Jumlah ini merupakan sebagian kecil dari sejumlah 5-6 liter darah yang ada di dalam tubuh seseorang yang sehat. Orang boleh dikata masih terselamatkan (baca: tidak akan mengalami hal yang membahayakan) jika darahnya hilang hanya sampai sekitar 30 %. Jadi berkurangnya darah oleh pengambilannya untuk donor itu aman-aman saja. Darah yang didonorkan itu volumenya dapat terganti dari asupan makanan dan minuman dalam waktu kurang dari 72 jam. Adapun butir-butir darah merah yang terambil ketika berdonor itu barulah akan terpulihkan secara sempurna dengan produksi baru yang akan terganti dalam waktu 21 hari (untuk darah putihnya ada yang telah terpulihkan dalam waktu kurang dari 12 jam!). Biasanya donor darah dilakukan 4-5 kali setahun, atau setiap 2-3 bulan; masa ini jauh lebih dari waktu yang diperlukan untuk pemulihan darah yang terambil itu.  Pada orang yang pas-pasan, sehabis donor kadang-kadang timbul rasa sedikit lelah akibat berkurangnya fungsi sirkulasi oleh berkurangnya darah itu. Ini dapat mengakibatkan orang cenderung ingin makan lebih banyak. Jika dorongan makan seperti ini terlalu dituruti, maka orang pun dapat menjadi mudah gemuk sesudah menjadi donor.

 

Proses pendonoran.

Darah yang diambil untuk donor ditampung dalam kantong yang telah diisi zat penghalang penjendelan (pembekuan, clotting) darah. Darah diambil dari vena cubiti (pembuluh darah balik) dengan menggunakan jarum yang cukup besar, yang ditusukkan ke dalam kulit di daerah lipatan siku untuk mencapai pembuluh tersebut. Tidak sedikit orang yang takut di suntik, walaupun banyak juga pasen yang menganggap suntikan itu merupakan suatu keharusan jika dia berobat, meskipun secara umum tidak ada suntikan yang tidak menimbulkan nyeri. Hanya saja nyeri suntikan itu ada yang ringan ada pula yang sangat, tergantung pada macam obatnya maupun tempat penyuntikannya. Namun bagaimanapun selalu muncul kengerian ketika akan disuntik. Begitulah maka adalah hal yang wajar saja jika orang melihat jarum untutk mengambil darah donor, lalu merasa takut pada waktu akan diambil darahnya untuk donor; apalagi jika ketika itu adalah yang pertama kali mendonorkan darahnya. Padahal yang terjadi adalah sedikit rasa nyeri ketika jarum pengambil darah ditusukkan ke kulit; bahkan nyerinya itu tidak separah nyerinya ketika disuntik dengan obat yang paling ringan nyerinya. Oleh karena itu ada yang menggambarkan nyerinya itu  “seperti digigit semut”. Kengerian yang ada sebenarnya lebih merupakan akibat dari rasa takut saja. Hanya sesederhana itulah kenyataannya proses donor darah.

 

Donor adalah kegiatan “sederhana” untuk menolong orang, tidak dimaksud untuk mempersulit ataupun mencelakakan seseorang. Oleh karena itu hanya orang sehat saja yang boleh menjadi donor. Untuk kemudahan maka donor hanya dipilih dari orang yang berumur 17-60 tahun. Untuk menyaring bahwa calon donor sehat, tidak bermasalah jika diambil darahnya, maka dilakukan pemeriksaan kesehatan calon donor dengan memberi sejumlah pertanyaan tentang kesehatannya, dan dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana. Karena darah ini nanti akan dimasukkan tubuh orang lain, maka darah dari donor itu lebih lanjut diperiksa dengan berbagai pemeriksaan laboratoris untuk memastikan  bahwa darah yang diambil dari donor tersebut aman untuk ditransfusikan, misalnya aman dari kandungan virus HIV ataupun hepatitis.

 

Penutup.

Sampai sekarang para ahli di bidang kesehatan belum berhasil membuat bahan pengganti darah yang dapat menggantikan fungsi darah secara lengkap. Oleh karena itulah masih diperlukan tersedianya darah asli yang sewaktu-waktu dapat diberikan kepada yang memerlukan. Meningkatnya tindakan di rumah sakit yang memerlukan darah, memerlukan lebih banyak donor.

Donor darah merupakan tindakan sukarela membantu orang yang sangat memerlukan, merupakan salah satu bentuk amal tolong-menolong (ta’awwun) yang ternyata masih perlu digalakkan. Mudah-mudahan uraian di atas memberi pemahaman masalah donor, yang dapat meningkatkan kepedulian kita untuk menjadi donor.

 

Jalan pun juga olah raga

Jalan pun olah raga.

Ketika saya masuk Fakultas Kedokteran lebih dari setengah abad yang lalu perploncoan masih merupakan hal yang baku bagi mahasiswa baru. Salah satu bentuknya adalah para mahasiswa baru itu dibawa lari tak tentu arah, maunya untuk melemahkan semangat mereka jika sampai mereka tak mampu. Ketika lebih dari tiga orang senior yang bergantian “membawa” saya lari melihat saya masih dapat mengikutinya, kemudian mereka bertanya apa olahraga saya. Saya bilang tak ada, namun saya membiasakan diri untuk bersepeda secepat-cepatnya ketika berangkat mupun pulang sekolah. Itu merupakan salah satu bukti bahwa ada kebiasaan yang jarang disebut sebagai olahraga ternyata juga mampu membawa ke stamina (kekokohan tubuh) yang tinggi, yaitu bersepeda untuk anak muda. Apa kegiatan untuk kaum tua? Jawabnya sederhana: berjalan.

 

Olahraga dan kesehatan.

Banyak orang bilang bahwa sehat itu mahal. Ini tidak salah jika orang berfikir bahwa jika sudah terlanjur sakit, maka upaya menebus keshatan yang hilang itu, upaya pemulihan kesehatannya itu ternyata perlu beaya yang tak sedikit. Misalnya beaya untuk berbagai pemeriksaan laboratorium, obat-obat yang harus diminum, maupun honorarium dokter maupun  tenaga kesehatan lainnya yang terlibat (misalnya fisioterapist, perawat, laboran). Di sisi lain tidak sedikit orang yang menyatakan bahwa untuk sehat itu murah! Mereka ini berani mengatakan demikian karena telah membuktikan sendiri bahwa dirinya tetap sehat walaupun mnereka itu “tidak”  mengeluarkan uang ekstra untuk mempertahankan kesehatannya.

Sering kali orang tampak kurang menghargai nilai sehat; perilakunya menampakkan hal ini.  Mereka itu sering hanya duduk-duduk menikmati tayangan televisi yang mungkin hanya membuang uang pemakaian listrik tetapi  tidak mendidik. Mereka banyak memanjakan lidahnya dengan makanan yang mahal tetapi justru merusak kesehatan misalnya karena lemak dengan kolesterolnya yang berlebihan ataupun lainnya. Barulah kemudian mereka menyadari betapa mahalnya kesehatan ketika telah jatuh sakit, kehilangan kesehatan. Ternyata untuk “menebus” kesehatan yang hilang itu perlu beaya yang tidak sedikit.

Tidaklah terlalu berlebihan jika organisasi kesehatan dunia WHO menyatakan” Health is not everything, but without it everything is nothing” (Kesehatan memang bukan segalanya, namun tanpa kesehatan itu semuanya jadi tak punya arti). Apa artinya uang banyak, rumah bagus, mobil mewah; jika badan sakit semua kemewahan itu  tak ada artinya. Artinya bahwa untuk dapat menikmati hidup di dunia ini dan memperoleh peluang banyak untuk beramal, upaya menjaga kesehatan mutlak harus kita lakukan.

 

Bagaimana upaya untuk sehat?

Pada dasarnya upaya untuk ini adalah  menjaga keseimbangan makan, istirahat, dan olahraga. Jika orang sudah memilih makanan yang sempurna (tidak harus malah!), bekerja sesuai dengan batas kewajaran, lalu juga memanfaatkan waktu istirahat dengan benar, ditambah dengan olahraga, maka secara umum tubuh orang itu akan terjaga dalam keadaan sehat.

Untuk menjaga kemampuan agar tahan bekerja, para ahli menegaskan bahwa olahraganya harus berupa kegiatan yang lebih berat dari beban pekerjaannya, misalnya orang yang kerjanya duduk, maka olahraganya adalah berdiri ataupun berjalan; jika pekejaannya berjalan maka olahraganya harus lari. Namun demikian jika dimaksudkan untuk sekedar menjaga kesegaran jasmani (baca: kesehatan) ternyata kegiatan berjalan itu sudah merupakan kegiatan sehari-hari yang juga bernilai olahraga. Artinya orang yang membiasakan dirinya berjalan (kalau bisa 10 ribu langkah per harinya) akan juga meningkatkan kemampuan aerobiknya, mengurangi lemak tubuh, menurunkan tekanan darah, mengurangi peluang serangan jantung, menghambat munculnya osteoporosis (pengeroposan tulang).

Ribuan tahun yang lalu Hippocrates yang diberi julukan kehormatan Bapak Kedokteran telah mengatakan “Walking is man’s best medicine” (Berjalan adalah obat yang terbaik bagi manusia), jauh sebelum ilmu kesehatan berkembang. Rasulullah Muhammad SAW pun juga gemar berjalan, bahkan kadang-kadang juga beliau beradu cepat dengan isteri beliau.

Jika dibandingkan dengan berbagai macam olahraga yang banyak dilakukan, ternyata “olahraga berjalan” ternyata mempunyai banyak kelebihan. Misalnya saja olahraga ini tidak memerlukan ketrampilan (baca: tak perlu kursus). Beban yang menerpa persendian-persendian selama kegiatan jauh lebih ringan ketimbang lari ataupun jogging.  Jika untuk berjalan saja seseorang mengalami kesulitan (misalnya karena gangguan tulang ataupun persendiannya), renang boleh juga digunakan sebagai penggantinnya.

Penutup.

Berjalan yang dimaksudkan di uraian di atas boleh saja dikaitkan dengan orang yang lemah ataupun baru sembuh dari penyakitnya, tetapi untuk orang yang masih sehat bukanlah  dimaksudkan untuk sekedar berjalan santai. Oleh karena itu kecepatan jalannya harus diupayakan setinggi mungkin, dengan denyut nadi per menitnya kalau dapat mencapai  sasaran sebesar 60-85 % dari denyut nadi maksimal seseorang. Adapun denyut nadi maksimal (baca: denyut jantung maksimal) itu secara diperhitungkan dengan  rumus: 220 – umur.  Karena yang dituntut dalam kegiatan berjalan ini adalah kegiatan yang bersifat aerobik, maka sebagai pedoman kasar adalah bahwa selama berjalan itu masih dapat mudah bernafas sehingga masih dapat membaca wiridan ataupun berbincang-bincang dengan teman seperjalanan.

Semoga sekedar uraian di atas bermanfaat.

===

Pesan: Jika Anda merasa dapat mengambil manfaat dari tulisan ini, silakan berinfak seikhlasnya ke kotak amal masjid terdekat.

 

Operasi katarak tak perlu menunggu buta.

Operasi katarak tak perlu menunggu buta.

 Mata kita seibarat kamera foto. Untuk dapat melihat dengan jelas sama halnya dengan upaya untuk memperoleh gambaran yag jelas pada film foto untuk nantinya diafdrek (dicetak sesudah film “dicuci”). Untuk itu diperlukan lensa yang jernih. Jika lensa kamera kotor, gambar yang dihasilkan di film tidak akan tajam kalau tidak boleh dikatakan kabur sama sekali. Begitu jugalah, jika lensa mata kita keruh (semisal akibat katarak) maka kita tidak akan dapat melihat huruf dengan tajam. Jika kekeruhan ini parah, mungkin kita menjadi sama sekali tidak dapat melihat alias buta.

 

Katarak.

Katarak pada dasarnya adalah kekeruhan lensa; lensa mata kita terletak di belakang orang-orangan mata, di daerah “hitam” di tengah mata kita. Katarak tampak dari luar sebagai warna keputihan seperti kabut pada daerah lensa itu. Kekeruhan yang ada biasanya dimulai dari bagian tepi lensa, tampak halus ataupun kasar. Keadaan yang masih ringan mengakibatkan penglihatan seperti berkabut. Jika lebih parah maka penglihatan menjadi lebih buruk sehingga penderita tidak dapat lagi menjahit ataupun membaca huruf-huruf yang kecil. Katarak dapat kian parah sehingga penderitanya boleh dibilang menjadi buta. Oleh karena itulah sering juga disebutkan bahwa katarak menjadi penyebab terbanyak kebutaan.

 

Katarak biasanya telah terjadi pada orang yang lanjut usia (70 tahun). Namun dapat juga muncul pada usia yang jauh lebih muda dan muncul mendadak, ataupun bahkan pada bayi; jika ini terjadi perlulah penelusuran lebih lanjut.

 

Penyebab katarak.

Selain karena umur, salah satu penyebab katarak adalah penyakit kencing manis. Katarak juga dapat muncul oleh penyebab-penyebab lainnya lagi semisal oleh karena penggunaan berbagai macam obat; misalnya dinitrophenol (penekan nafsu makan), kortikosteroid (yang digunakan untuk waktu lama, misalnya pada penderita asma ataupun eksim), echothiophate iodide (obat tetes mata pada penderita glaukom). Demam yang tinggi juga dapat memicu munculnya katarak. Pukulan atau benturan pada mata, adanya benda yang menusuk lensa dapat menimbulkan katarak dengan cepat. Tukang las juga mudah mengalami katarak; mungkin karena panas (radiasi inframerah) api dari las.

 

Permasalahan penderita katarak sebenarnya bukanlah pada masalah gangguan penglihatannya itu sendiri, tetapi akibat lanjut dari gangguan penglihatan itu. Jika seseorang terganggu penglihatannya, dan cukup parah, maka itu berarti dia menjadi tidak dapat melihat apa yang seharusnya dapat dilihatnya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dia menjadi buta dengan berbagai macam akibat sosialnya, semisal jadi mengurung diri, merasa tak berguna lagi, ataupun menjadi pemarah karena “kesenangannya” hilang.

 

Tindakan.

Katarak pada dasarnya merupakan akibat dari perubahan kimiawi yang terjadi atas zat penyusun lensa itu. Proses perubahan itu tidak terlalu jelas jalannya; oleh karena itu ada sejumlah perusahaan yang memasarkan berbagai jenis “obat” (tetes ataupun yang diminum) untuk mengurangi ataupun menghambat munculnya katarak.

Lensa mata tersusun dari protein dan bahan-bahan pelengkap lainnya. Struktur kimiawi lensa mengalami peubahan dari waktu ke waktu, dari bentuk yang sangat lentur menjadi yang kian kenyal sejalan dengan bertambahnya umur itu. Perubahan ini tidak jarang juga disertai dengan munculnya kekeruhan. Kekeruhan ini akan kian padat dan meluas sehingga akhirnya nanti penderita benar-benar tidak lagi dapat mengenali bentuk, termasuk tidak dapat mengenali huruf. Keadaan seperti ini boleh dibilang penderitanya jadi buta. Untuk mengatasi permasalahan katarak ini lensa mata yang “keruh” itu harus diambil, yaitu dengan “operasi katarak”.

 

Operasi katarak.

Operasi katarak adalah pembedahan untuk mengambil lensa mata yang telah menjadi keruh itu. Operasi ini secara umum boleh dibilang termasuk operasi ringan sehingga penderitanya dapat saja tanpa harus menginap di rumah sakit. Karena operasi ini termasuk “sederhana” maka operasi ini sering dilakukan dalam bentuk “operasi katarak gratis” yang penderitanya juga tidak perlu rawat nginap.

 

Dengan cara “biasa” maka lensa yang keruh itu harus telah cukup keras untuk mudah diambil. Oleh karena itulah untuk operasi katarak itu dengan teknologi zaman dulu perlu ditunggu sampai kataraknya “matang” dulu (baca: sampai buta). Dalam hal ini kenyataannya adalah bahwa pengerasan lensa itu ada yang sangat lambat berlangsungnya dengan akibat operasi tidak dapat segera dilakukan, padahal selama “menunggu” itu penglihatan kian kabur atau setengah buta. Dengan teknik yang lebih “maju” persyaratan matang itu dapat ditinggalkan sehingga operasi katarak kini dapat dilaksanakan kapan saja.

 

Seusai menjalani operasi katarak penderita harus menggunakan kacamata tebal untuk ganti lensa matanya telah dibuang. Jika tersedia dana, dalam operasi katarak itu juga dapat langsung dipasang lensa baru untuk menggantikan lensa mata yang telah diambil itu. Sesuai dengan tersedianya sarana terkait, dapat dipilih lensa yang sangat mirip lensa mata, lensa multifokus, lensa yang bebas aberasi, lensa yang lentur ataukah yang kaku. Dengan cara ini jika tetap harus memakai kacamata, nantinya dapat menggunakan kacamata yang tidak lagi terlalu tebal.

 

Penutup.

Jumlah orang yang buta di Indonesia ini cukup besar; mereka itu lalu menjadi beban masyarakat. Cukup banyak orang yang buta itu hanya karena lensa matanya mengalami katarak. Padahal penglihatannya dapat dipulihkan dengan tidakan operasi katarak yang cukup sederhana. Sayangnya tidak sedikit orang yang kurang memahami masalah ini. Dengan berkonsultasi ke dokter mungkin cukup banyak permasalahan kebutaan oleh katarak ini yang dapat diatasi.

 

Semoga sekedar uraian di atas bermanfaat.

 

Pesan:

Jika Anda merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, bersedekahlah seikhlasnya ke masjid terdekat.

Kesurupan salah satu bentuk histeria.

Histeri

Kesurupan cukup banyak diperbincangkan dalam berbagai media,  lebih-lebih jika muncul sebagai kesurupan masal siswa di sekolah ataupun buruh di pabrik. Secara tradisional hal ini biasanya dikaitkan dengan adanya gangguan dari roh-roh halus, sedangkan menurut ilmu kejiwaan hal itu merupakan reaksi salah terhadap permasalahan yang dihadapi penderitanya.

Kesurupan.
Kesurupan cukup banyak dijumpai di masyarakat siswa taupun karyawan yang menghadapi krisis. Kesurupan masal yang terjadi sebenarnya pada awalnya merupakan “kesurupan” individual yang kemudian berubah menjadi masal karena ada orang lain yang tersugesti. Kesurupan individual yang terjadi muncul sebagai reaksi atas apa yang sedang dirasakan. Kesurupan pada hakikatnya adalah reaksi kejiwaan yang salah, yang disebut juga reaksi disosiasi ataupun reaksi konversi. Kejadian kesurupan cenderung terjadi berulang atau kambuh-kambuhan, selama penanganan kejiwaannya belum benar.

Histeria.
Gangguan jiwa yang sudah lama di kenal sejak dulu ialah hysteria. Pada mulanya orang menyangka bahwa yang dihinggapi penyakit ini hanya kaum wanita, namun nyatanya laki-laki pun dapat mengalami gangguan ini. Dalam menghadapi suatu masalah seseorang akan bersikap sesuai dengan kemampuannya sejalan dengan pengalaman dan perkembangan kejiwaannya.

Orang yang sehat pertumbuhan kejiwaannya mampu  bersikap benar terhadap permasalahan yang ada, tidak banyak mengubah perilaku dirinya. Dia dapat menerima apa yang ia anggap baik dan menolak apa yang ia anggap buruk berdasarkan norma yang ada. Meski banyak masalah, namun kondisi dalam dirinya tetap stabil dan utuh; dia merespons permasalahan secara realistis dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Orang yang perkembangan jiwanya tidak sempurna ataupun terhambat mungkin menanggapi masalah dengan cara yang salah, misalnya mengadakan reaksi regresi (memundurkan diri); bentuk ini memunculkan orang yang jika menghadapi masalah “berat” lalu menggigit jari tangannya, karena dia menjadikan dirinya kembali seperti bayi yang jika takut lalu lari ke pelukan ibunya untuk mendapatkan ketenangan dengan adanya kesempatan menetek (ibu jarinya dianggap sebagai puting susu ibunya, lambang kasih sayang). Ada orang yang mengompol jika terlalu tegang, ataupun perut kembung ketika khawatir. Bentuk lain yang paling terkenal adalah reaksi konversi; di sini dalam menghadapi masalah itu penderita mengubah sikap dirinya (baca: kejiwaannya) ke bentuk lain, yang dalam hal yang berlebihan ini berupa konversi histerik, yang secara singkat disebut sebagai histeria. Beban fikiran yang berat, rasa tertekan (depresi), putus asa (frustasi), ketidakadilan dapat memunculkan histeria itu.

Seorang yang sedih, memperlihatkan raut muka yang khas. Raut muka sedih itu sebenarnya merupakan reaksi tubuh yang sesungguhnya dan wajar. Penampilan raut muka adalah salah satu bentuk komunikasi non-verbal. Komunikasi seperti itu juga dapat terjadi dalam bentuk lain. Seorang isteri dapat saja tiba-tiba “menjadi lumpuh” kedua kakinya setelah ia mengancam akan meninggalkan suaminya. Itu adalah suatu reaksi konversi atau reaksi histerik sebagai perwujudan suatu bentuk komunikasi. Reaksi konversi histeris  yang berupa kelumpuhan melambangkan pembatalan ancamannya, yang merupakan permohonan kasih sayang baginya. Kelumpuhan itu bukanlah kelumpuhan yang benar-benar senyatanya; artinya kalaulah ada tikus yang lari menuju dirinya dia pun akan bangkit dan lari untuk menghindar.

Tindakan.
Walaupun jika ditanya sepertinya tak mendengar, itu harus difahami sebagai bukti bahwa penderita histeria tidak mau mengungkapkan permasalahannya. Namun sifat histeriknya dapat terungkap oleh pertanyaan-pertanyaan tentang manifestasi psikosomatik (gangguan tubuh yang muncul) yang muncul. Dengan memahami bahwa seseorang lebih rela menderita penyakit badaniah daripada menderita penyakit jiwa, maka kalau dia mendengar orang yang menyatakan “penyakitnya” sebagai manifestasi gangguan mental, ia akan menerimanya sebagai penghinaan, yang merendahkan martabatnya dan nama baik keluarganya. Dia akan berontak dengan “memperparah” penampilan histerisnya. Penderita konversi histerik akan bereaksi lebih histerik jika ditanya tentang penderitaan jiwanya; pertanyaan dapat dijawab dengan tangisan, pingsan atau bahkan kejang-kejang. Pengungkapannya harus dilakukan secara tidak langsung. Misalnya: “Sudah pernah berobat pada dokter mana? Berobat pada dokter  pertama karena apa? Pada dokter lain karena apa?”.

Penutup.
Guru ataupun pendamping perlu memahami bahwa penderita kesurupan atau histeria sebenarnya sadar, dapat mendengar. Pembangkitan semangat perlu dibisikkan, misalnya untuk mendorong penderita untuk berbuat sesuatu demi kebaikan dan kebahagiaan orang
lain bukannya malah menyusahkan orang lain. Jika memungkinkan nantinya penderita dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter ahli jiwa untuk memperoleh bimbingan kejiwaan lebih lanjut demi masa depannya, yaitu untuk mampu bersikap yang benar dalam menghadapi masalah; penderita akan diajari dan dilatih mengelola stress dan konflik dengan baik dan benar.

 

*** Dimuat juga dalam Majalah Mimbar Penerangan Agama, Kanwildepag Jatim