Archive for the 'Kegiatan kita' Category



Mengasah pisau dan kapak

Mengasah pisau dan kapak.

Ketika Idul Ad-ha sudah kian mendekat, jika Anda sudah lebih mempersiapkann diri dalam kegiatan penyembelihan ternak qurban, selain menyediakan ternak qurban Anda dapat mempersiapkan “senjata” utama dalam kegiatan itu: pisau dan kapak. Untuk itu keduanya harus diasah baik-baik, lebih-lebih pisau untuk penyembelih harus benar-benar tajam.

Pisau yang baik terbuat dari “baja” khas dengan ukuran dan bentuk bilah yang disesuaikan dengan peruntukannya . Bahkan ketebalannya sudah disesuaikan dengan dibentuk sedemikian rupa agar awet tajam dan mengasahnya “mudah”. Untuk mempertajam pisau ini yang paling sederhana adalah menggunakan batu pengasah. Walau batu pengasah kering dapat juga digunakan, namun lebih disukai menggunakan batu asahan yang dibasahi air ataupun minyak. Mengasah pisau secara benar adalah menajamkan mata pisau, bukannya menipiskan pisau; untuk inilah ketika mengasah itu punggung bilah pisau sedikit diangkat (membentuk sudut sekitar 30 derajat) sehingga yang termakan batu pengasah hanya mata pisaunya, bukan seluruh permukaan bilahnya. Yang harus “sedikit” ditekan adalah gerakan majunya, agak melengkung, seakan-akan hendak mengiris batu asah, bukannya ketika mundur; untuk gerakan mundurnya pisau dapat diangkat dari pengasah. Jika bukan untuk pisau tertentu, asahlah kedua belah sisinya secara seimbang.

Paling tidak ada enam macam tingkat kehalusan batu asah (compound sharpening stone) yang dikeluarkan oleh berbagai macam pabrik, dari yang agak kasar sampai ke yang halus;  makin tinggi kode angkanya menunjukkan makin halus. Selain itu ada juga dipasarkan batu asah yang “sangat” halus semisal yang disiapkan untuk pisau cukur ataupun pisau bedah; secara  lebih khusus lagi batu permata ruby (mirah) digunakan untuk lebih meningkatkan ketajaman katana, pedang kebanggaan para samurai.

Jika punya peralatan yang memadai, mengasah pisau dapat dimulai dengan menggunakan gerinda; gerinda ini digunakan untuk “meratakan” mata pisau semisal akibat pemakaian sebuah pisau untuk sesuatu yang terlalu keras sehingga mata pisau tidak rata lagi. Pisau yang terbuat dari baja “lunak” akan berkelok-kelok, sedangkan mata pisau yang terbuat dari baja “keras” akan “gopel” (terpatah-patah ataupun terkikis kasar).

Tergantung pada rencana penggunaan pisau itu, mata pisau akan diratakan secara menyeluruh ataukah hanya sedikit ditipiskan (dalam beberapa tahun terakhir ini juga dipasarkan pisau dengan mata pisau menyerupai mata gergaji yang tajam); salah satu model katana mempunyai mata pisau yang berkelok-kelok, tidak lurus rata. Sesudah perataan itu mata pisau dapat juga ditajamkan dengan gerinda terlebih dahulu, untuk kemudian lebih dipertajam lagi dengan menggunakan batu asahan dengan menggunakan batu asahan dengan berbagai kehalusannya, dimulai dengan yang paling kasar sampai ke yang paling halus, termasuk untuk katana samurai yang akhirnya “harus” diasah dengan batu ruby itu. Untuk yang tidak terlalu khusus, mungkin sudah memadai iika tahap akhirnya melengkapi penajamannya dengan “pengasah” yang berupa “sabuk” kulit yang ditaburi atau tidak dengan “debu intan” seperti yang dipakai oleh tukang cukur rambut untuk lebih menajamkan lagi pisau cukurnya. Ketajaman ini dilihat cukup dengan mengiriskan pisau pada sehelai kertas yang dipegang miring, walaupun ada yang mengujinya dengan gerakan mencukur rambut kaki (Hati-hati!!!). Konon untuk menguji ketajaman clurit Madura (bulu ayam) di gunakan kapas  yang diterbangkan lalu ditebas dengannya; jika kapas itu dapat terpotong berarti clurit sudah tajam.

Selain cara di atas itu untuk kemudahan untuk mengasah pisau dapat digunakan juga “kikir” khusus asahan yang berupa batang baja bulat pajang (disebut sebagai “steel oleh kalangan jagal dan penjual daging) , panjangnya sekitar 20-30 cm, bergaris tengah sekitar 1 cm di pangkalnya dan sedikit berkurang di ujungnya. Jika pada kikir “gigi” pengikisnya berarah miring, pada baja pengasah ini garis-garis pengikisnya ”sejajar” memanjang dari ujung ke pangkalnya. Untuk menajamkan pisau maka pisau digerakkan dari ujung ke arah pangkal sepertinya hendak “mengiris” baja pengasah ini. Selain itu ada juga dipasarkan pengasah yang terdiri dari dua pasang piringan-piringan  bulat (disc) baja keras, disusun berselang-seling sehingga pinggiran piringan yang berhadapan sepertinya membentuk sudut hampir 60 derajat. Mata pisau ditajamkan dengan cara mengikisnya dengan menarik dengan sedikit menekankannya di sudut antara kedua deretan piringan itu.

Masih ada lagi alat pengasah pisau yang dipasarkan, semisal batu asahan bulat yang dijepit dengan piringan  logam penuntun yang pada penggunaannya pengasah ini dipegang antara telunjuk dan ibu jari, lalu mata pisau ditarik lewat celah antara batu asah dengan piringan penuntun. Pengasah kecil juga ada yang berbentuk gerinda mini dengan motor listrik rumah ataupun baterai kecil. Bentuk-bentuk yang lainnya pasti ada lagi. Dalam keadaan terpaksa “pungung” pisau lipat ataupun bahkan “cutter”, pisau pembubut (tap), patahan porselen lantai, “kaki” piring, cawan, ataupun cangkir porselin juga dapat digunakan untuk menajamkan pisau yaitu dengan mengerok mata pisau ataupun menggesekkannya.

Untuk kapak pengasahan biasanya dimulai dengan menggunakan kikir untuk “meratakan” mata kapak yang tidak rata, kemudian menajamkan mata kapak menggunakan batu asahan. Jika ada batu asahan yang bulat atau lebar akan lebih baik yaitu dengan menggosok tepi mata kapak dengan gerakan “berputar” seperti ketika menggosokkan kain ke permukaan meja yang kotor. Untuk ini yang harus digosok adalah tepi mata kapak, yang harus benar-benar tampak tergosok yaitu dengan meletakkan kapak pada punggungnya sehingga mata kapak tampak jelas karena menjadi terletak di sebelah atas. Untuk ini dapat juga kapak dibaringkan miring dengan sudut 60-70 derajat lalu menggosok mata kapak dengan batu pengasah yang dipegang horizontal. Jika menggunakan batu asah yang panjang, dapat juga dilakukan dengan menggerakkan kampak itu maju seperti hendak mengikis batu asahan itu; perhatikan kemiringan bilah kapak agar yang terkikis itu adalah mata kapak, bukan permukaan bilahnya yang luas itu!  Cara ini juga dapat diterapkan pada pisau yang besar.  

Revisi: 28/9/2013; 20/8/2015

Iklan

Menggairahkan Bina Karya Mandiri

Menggairahkan BKM

Secara sederhana Bina Karya Mandiri (BKM) adalah wadah bagi pandu peghela dan penuntun untuk memperoleh tambahan pengetahuan, ketrampilan, kecakapan dan pengalaman yang dapat memberikan sejumlah bekal kemampuan untuk menghasilkan uang guna kehidupannya berkeluarga dan bermasyarakat kelak, yang juga memberikan bekal bagi pengabdiannya pada persyarikatan, tanah air, dan bangsa.

 

Di dalam Perkemahan Besar Pandu Penghela (Perpala) HW Kwartir Wilayah Jawa Timur 3-5 September 2013 yang lalu peserta diajak berfikir untuk memanfaatkan lembaga BKM dalam struktur HW, dengan penekanan segi praktisnya, yaitu sebagai sarana pelatihan untuk belajar mencari uang. Setelah diuraikan latar belakang adanya BKM ini, yang digambarkan bahwa tidak sedikit kegiatan-kegiatan yang terkesan kecil, tetapi jika ditangani dengan sungguh-sungguh akan dapat menghasilkan uang. Diingatkan bahwa di tiap daerah pasti ada peluang untuk usaha ini, yang berpangkal pada adanya produk unggulan daerah ataupun adanya kebutuhan daerah lain yang perlu untuk dipenuhi, yang secara menyeluruh merupakan kegiatan perekonomian. Dari beberapa Kwarda eserta ada yang cukup sadar akan potensi yang ada di daerahnya maupun pada dirinya, lalu mampu mulai berfikir untuk mengembangkan berbagai usaha ataupun untuk berproduksi.

 

Para peserta yang telah berfikir untuk usaha di lingkungan Kwardanya:

Nganjuk: Bakso goreng, nasi campur (di sekolah), es tape, es ketan hitam, ternak sapi , jual daging, emping garut, nasi becek, bakso bakar, kopi joss, tahu campur, sambal pecel, susu kedelai, kripik tempe, kripik belut, kripik tahu, getuk pisang, kripik singkong, krupuk puli, cenil, samplok, teh rosela.

Bojonegoro: Ledre, batik Bojonegoro, minyak tanah, kayu jati, paving stone, krupuk, marning,, perdagangan sapi, kebun singkong, olahan singkng, ternak kelinci, ternak kambing etawa,

 Trenggalek: Pindang ikan (sentra ikan laut), kresek/abon, kripik tempe, alen-alen, buah-buahan (manggis, durian, salak), cengkeh, bakso ikan, ikan bakar, gathot

Jember: Ceriping pisang, gethuk, tape, suwar-suwir, cewel, tembakau, krupuk singkong, susu kedelai, rempeyek

Blitar: Baju batik, sari kedelai rasa baru, dessert dari tahu, empek-empek rsa keju, obat herbal

Banyuwangi: Tanaman hias, minuman sehat (yoghurt, nata de coco), krupuk rambak, hijab syar’i modern

Pacitan: Kripik singkong, sale pisang, bakso super Pacitan, onde-onde, kopi

Sidoarjo: Ote-ote potong, kupang lontong, rujak cingur, tahu campur, onde-onde, ceker pedas Lapindo

 Situbondo: Batik Situbodo (Selowogo), kerajinan kulit kerang, produk olahan ikan, tanglur, rujak kelangan

Malang:  Kripik tempe, kripik buah, sari apel, bakso, tahu bulat, lalapan

Gresik: singkong keju, jamur krispi, martabak, nasi krawu, batagor, siomay

Ngawi: Kripik tempe, pabrik tahu, batik Ngawi, air minum (isi ulang?), marning, kripik singkong

 

Ada juga yang “hanya” berorientasi pada langkah-langkah awal dengan mengemukakan pengadaan warung makan tempe penyet, pabrik roti, nasi goreng, bakso bakar.

Secara menyeluruh pemikiran anak-anak muda di atas itu potensiil, artinya tidak sedikit orang yang sudah berhasil dalam usaha semacam itu; ada yang cukup dilakukan secara perseorangan, berkelompok, berkoperasi, ataupun ada yang memang harus dilakukaan dalam suatu perusahaan besar. Kwarcab, Kwarda , ataupun Kwarwil dapat membantu mereka dengan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang telah berhasil di bidang itu dalam bentuk kegiatan kursus, pelatihan, ataupun bentuk magang bersama, dikemas dalam krida Bina Karya Mandiri.

Mudah-mudahan para peserta Perpala itu dapat menentukan pilihan utamanya untuk dibahas lebih rinci nantinya, seperti yang telah ditugaskan kepada mereka.

 

Secara lebih lengkap ide-ide untuk BKM ini nanti insya Allah akan saya sajikan di https://tauhid.wordpress.com

Alat pendingin tanpa listrik

Alat pendingin tanpa listrik.

Kalau kita melihat gambar-gambar masjid “tempo doeloe” kita akan melihat bahwa di dalamnya “selalu” ada kolam dengan atau tanpa tanaman. Kolam ini bukan untuk berwudhu, tetapi sebagai pendingin ruangan. Bahkan literatur ada yang menyebutkan bahwa di daerah padang pasir kolam seperti ini pun dapat dikembangkan sampai bukan hanya mendinginkan ruangan tetapi  untuk menghasilkan es tanpa aliran listrik. Ini dimungkinkan dengan mengalirkan udara kering berhembus menyapu permukaan air, menguapkan air itu. Untuk penguapan ini perlu panas, ini diperoleh dari “mengambil” panas dari air itu (baca:  mendinginkannya), prinsip yang sama dengan lemari pendingin (refrigerator) ataupun pembeku (freezer). Air dalam “kendi” (Jw., “teko” dari tembikar, tanah liat yang dibakar)  juga dingin segar untuk diminum karena pendinginan oleh penguapan air yang merembes ke luar.

Pernah (lebih dari 40 tahun yang lalu) ada penghargaan internasional atas “alat pendingin” tanpa listrik yang untuk digunakan di Afrika. Bahan makanan yang disimpan di dalamnya menjadi mampu bertahan cukup segar lebih dari 24 jam (suhu rendah menghambat pembusukan).  Alat pendingin ini terdiri wadah yang ditaruh di dalam wadah yang lebih besar (sebangsa genthong, Jw.) bertutup,  yang bagian bawahnya terendam air di nampan dasarnya (tatakan) sehingga dinding ini selalu basah. Dinding wadah terluar itu dapat diberi lubang-lubang untuk meningkatkan aliran udara, memperbaiki pendinginan.

Arah Kiblat

Kiblat

 

Untuk yang bermaksud menepatkan arah kiblat shalatnya, ada dua kesempatan terbaik, yaitu ketika matahari tepat di atas Ka’bah. Pada kedua saat itu jika orang menghadap ke arah matahari berarti dia telah menghadap tepat ke arah ka’bah. Saat itu adalah tanggal 28 Mei (atau 27 Mei di tahun kabisat)  jam 16:18 dan tanggal 16 Juli (atau 15 Juli di tahun kabisat) jam 16:28; selisih satu-dua hari tak terlalu salah, selisih 10 menit masih untuk mengarahkan shalat.

 

Bagi yang punya GPS sewaktu-waktu dia dapat “memperoleh” petunjuk arah ke Mekah. Bagi yang punya kompas, dia dapat mengarahkan hadapnya ke barat, sedikit ke utara (sekitar 23-24 derjat dari arah barat, tergantung tempat dia berada; ada daftarnya). Masalahnya ialah kadang-kadang arah utara-selatan kompas agak menyimpang karena adanya pengaruh medan magnet kuat di disekitarnya, semisal akibat banyaknya kerangka besi beton, besi yang tertanam, jaringan listrik tegangan tinggi (perhatikan arah kompas di dalam mobil sebelum dan sesudah mesin dihidupkan).

 

Cara lain adalah menentukan dulu arah barat-timur lalu mengarahkan hadap bangunan sedikit ke utara dengan sudut tertentu.  Menentukan arah timur-barat ini dapat dibantu dengan mengadakan “percobaan” kecil. Tancapkan dengan kokoh “tegak” sebuah tongkat sepanjang 1 m atau lebih, lalu lihat bayangan ujungnya pada sekitar jam 9 pagi beri tanda B pada titik ini;  juga pada jam 3 sore, beri tanda T pada titik bayangan ini. Garis antara kedua titik itu adalah arah timur-barat. Dari titik T (timur) itu tarik satu garis ke arah barat, sepanjang 100 cm tandai titik ini dengan X. Dari titik X ini tariklah garis XY ke arah utara, dengan sudut siku (90 derajat). Panjang XY berbeda untuk masing-masing kota, ada daftarnya; misalnya Surabaya 44,58 cm, Manado 39,12cm, Mataram 43,56  cm, Yogyakarta 46,02 cm.  Arah garis T-Y ini adalah arah kiblat.

Sangu ber-umrah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Umrah

Kini banyak orang berduit yang ber-umrah, misalnya karena khawatir umur tak sampai karena lamanya antre untuk ber-hajji. Berikut ini sekedar “sangu”, mungkin membantu.

Umrah memang bukanlah ibadah yang wajib, namun sebagian ahli menggambarkan bahwa umrah merupakan salah satu pendekatan diri kepada Allah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai jihad tanpa penumpahan darah; nilainya sangat tinggi, yang tak boleh disia-siakan jika berkesempatan.

 

Harus kita fahami bahwa berumrah ataupun berhajji adalah bertamu, menjadi tamu Allah, karena bersengaja menghadap menemui Allah di “rumah”Nya, Masjidil Haram.

 

Bertamu harus memenuhi tata cara Yang Punya Rumah, bahkan Rasulullah menyebut orang yang bertamu itu seperti mayit, tak dapat berbuat apa-apa, mau diapakan terserah pada Yang Punya Rumah. Oleh karena itulah berangkat berumrah harus dengan kesungguhan yang penuh kepasrahan, walaupun penuh harapan.

 

Janganlah lupa segera bersyukur setiap memperoleh kebaikan, kemudahan, ataupun kesenangan dari siapapun juga, karena pada hakikatnya itu semua dari Allah.

 

Jangan sekali-kali memunculkan kesombongan (walaupun terhadap sesama) dengan tindakan, perkataan, maupun PERASAAN; apalagi terhadap Allah. Jika menganggap atau merasa yakin sepertinya mampu untuk melakukan sesuatu, jangan lupa mengiringinya dengan ungkapan “insya Allah”; Allah Maha Kuasa, kesombongan itu mungkin saja segera “dibalas” dengan “ujian” untuk menunjukkan bahwa anggapan yang memunculkan kesombongan itu keliru.

Bersabarlah jika menjumpai hal-hal yang kurang menyenangkan, hambatan, ataupun bahkan halangan, karena semua itu pada hakikatnya adalah ujian dari Allah, Penguasa Seluruh Alam ini. Ujian adalah untuk peningkatan martabat; yakinlah bahwa yang Anda hadapi itu akan berakhir baik, karena Allah tidak akan membebani hambaNya dengan ujian yang hambaNya tak mampu menanggungnya, apalagi jika si hamba ini terbiasa berdoa: “Ya Allah, ya Tuhan; beri akhir baik atas semua permasalahan yang saya hadapi; jangan Engkau bebankan kepada saya beban yang saya tak akan mampu memikulnya”

 

Saat berihram termasuk saat-saat yang doa mudah dikabulkan oleh Allah; berdoa di depan pintu Ka’bah (Multazam) konon tidak pernah tertolak.Masih banyak lagi kesempatan untuk mudah terkabulnya doa; manfaatkan saat-saat baik maupun tempat baik untuk banyak berdoa.

 

Jangan lewatkan kesempatan yang tak ada di tempat lain: ber-thawwaf. Usahakan selalu thawwaf jika masuk Masjidil haram, bukan sekedar shalat tahiyyatul masjid.

 

Semoga perjalanan umrah Anda maupun rombongan penuh kemudahan disertai dengan barakah yang melimpah kepada seluruh keluarga yang di rumah.

 

Terima kasih atas perhatian Anda.

 

Wassalam,

Arah kiblat shalat.

ARAH KIBLAT SHALAT

Cara yang “mudah” untuk berdiri shalat biasanya adalah dengan menentukan dulu kira-kira arah barat-timur lalu mengarahkan hadap berdiri sedikit ke utara; tidak jarang orang hanya mengarah ke barat begitu saja.
Untuk yang bermaksud lebih menepatkan arah kiblat shalatnya, ada dua kesempatan terbaik, yaitu ketika matahari tepat di atas Ka’bah. Pada kedua saat itu jika orang menghadap ke arah matahari berarti dia telah menghadap tepat ke arah ka’bah. Saat seperti itu adalah tanggal 28 Mei 2014 jam 16:17 dan tanggal 16 Juli 2014 jam 16:26.

Bagi yang punya GPS sewaktu-waktu dia dapat “memperoleh” petunjuk arah ke Mekah, di manapun dia berada di bumi ini. Di Indonesia bagi yang punya kompas, dia dapat mengarahkan hadapnya ke barat, sedikit ke utara (sekitar 20-25 derajat dari arah barat, tergantung tempat dia berada; ada daftarnya). Masalahnya ialah kadang-kadang arah utara-selatan kompas agak menyimpang karena adanya pengaruh medan magnet kuat di disekitarnya, semisal akibat banyaknya kerangka besi beton, besi yang tertanam, jaringan listrik tegangan tinggi, dinamo besar, motor listrik, di samping bahwa kutub magnet bumi juga mengalami “sedikit” bergeser (perhatikan arah kompas di dalam mobil sebelum dan sesudah mesin dihidupkan).
Jika ingin sedikit lebih pasti, menentukan arah timur-barat ini dapat dibantu dengan mengadakan “percobaan” kecil:
Tancapkan kokoh sebuah tongkat sepanjang 1 m atau lebih, lalu lihat bayangan titik ujungnya pada sekitar jam 9 pagi beri tanda B pada titik ini, dan juga pada jam 3 sore, beri tanda T pada titik ini. Garis antara kedua titik itu adalah arah timur-barat. Dari titik T (timur) itu tariklah satu garis ke arah barat, sepanjang 100,00 cm, tandai titik ini dengan X. Dari titik X ini tariklah garis XY ke arah utara, dengan sudut siku (90 derajat). ARAH GARIS T-Y INI ADALAH ARAH KIBLAT. Panjang XY ini tertentu untuk masing-masing kota, ada daftarnya (dalam cm); misalnya:

Bandung 47,03

Banjarmasin 42,16

Denpasar 43,98
Gunungkidul 45,99

Jakarta  46,93

Jambi  45,07
Jayapura 40,71
Manado 39,12

Maros  41,28
Malang 44,98
Mataram 43,56
Makassar 41,38

Medan  41,93

Pontianak 41,92

Poso  40,09
Purwosari 44,81
Surabaya 44,58

Sorong 39,19

Wajo  40,80

We, Pulau  40,36
Yogyakarta 46,02

*Jika memerlukan ukuran XY untuk kota lain, tanyalah ke Kantor Kementerian Agama, KUA, ataupun DMI (Dewan Msjid Indonesia) setempat. Boleh juga menghubungi saya dengan alamat e-mail tauhidhw@gmail.com; tuliskan nama kota Anda.

Donor darah.

Donor darah

 

Di Surabaya saja setiap hari sekitar 200-300 unit darah ditransfusikan ke pasen-pasen yang memerlukan, misalnya karena operasi, perdarahan parah pada persalinan, kelainan darah. Mereka ini adalah pasen gawat darurat, yang perlu tambah darah karena mereka tak mampu membuat darah sendiri saat itu. Itu mungkin Anda. Pasokan darah yang tersedia teratur sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebu-tuhan darah seperti itu. Tidak tersedia-nya darah akan berarti terancamnya keselamatan jiwa pasen seperti itu. Karena itulah diperlukan pedonor darah yang teratur; mungkin Anda.

 

Darah yang diambil untuk didonorkan itu hanya 350 ml saja, merupakan sebagian kecil dari sejumlah 5-6 liter darah yang ada di dalam tubuh seseorang yang sehat; darah yang didonorkan itu volumenya dapat terganti dari asupan makanan dan minuman dalam waktu 72 jam. Biasanya donor dilakukan hanya 4-5 kali setahun, atau setiap 2-3 bulan. Secara sempurna darah itu akan terganti dalam waktu 21 hari.

 

Wajar saja jika orang merasa takut pada waktu diambil untuk pertama kali sewaktu mendonorkan darahnya. Padahal yang terjadi adalah sedikit rasa nyeri ketika jarum pengambil darah ditusukkan ke kulit; bahkan ada yang menggambarkan nyerinya “seperti digigit semut”. Hanya sesederhana itulah kenyataannya.

 

Sehabis donor kadang-kadang timbul rasa sedikit lelah, yang mengakibat-kan orang cenderung ingin makan lebih banyak. Jika perasaan seperti ini terlalu dituruti, maka orang pun cenderung menjadi mudah gemuk sesudah donor.

 

Hanya orang sehat saja, dan berumur 17-60 tahun, yang boleh menjadi donor. Oleh karena itulah kesehatan donor maupun calon dipastikan dulu dengan pemeriksaan dokter.

 

 

dr HRM Tauhid-al-Amien,MSc,DipHPEd,AIF

tauhidhw@gmail.com

Ketua Biro Kesehatan

PW DMI Jawa Timur

 

 

____________________________________

 

 

 

 

 

Allah akan menolong seseorang selama dia mau menolong orang lain (Hadits)

 

 

Orang itu mungkin Anda;  Anda dapat menjadi penolong juga, dengan menjadi donor darah.

Semoga Allah memberkahi keputusan Anda. Silakan mendaftarkan diri , sekarang ataupun nanti ke:

 

Unit Transfusi Darah

Palang Merah Indonesia

( PMI )