Archive for the 'HW Kita' Category

Kompor spiritus

Kompor spiritus

Untuk berkemah ataupun persiapan ke Jambore Nasional HW di Makassar tahun 2015 nanti, ada baiknya mengenal kompor spiritus (alcohol stove) yang sederhana untuk keperluan “sendiri”. Dengan 15 ml spiritus saja kompor ini dalam waktu kurang dari 5 menit dapat mendidihkan air dua cangkir, cukup untuk memasak sebungkus mi instan. Kompor ini dibuat dari dua kaleng aluminium bekas minuman 330 ml (10 oz.), walaupun kompor spiritus yang buatan pabrik ada yang dijual dengan harga sekitar US$ 65,-

Cara membuat:

  1. Siapkan dua kaleng aluminium bekas, untuk dasar dan “sumbu”.
  2. Buat 1-4 lubang di tengah pantat kaleng sumbu; nantinya untuk mengisikan spiritus.
  3. Buat “garis potong“ melingkar pada kaleng sumbu setinggi 3 cm dari pantat; pada kaleng dasar setinggi 2,5 cm, dan “garis batas” setinggi 0,5 cm.
  4. Potong kaleng pada garis potong yang di buat itu dengan menggunaan “cutter”; tumpulkan pinggiran potongan dengan menggunakan kertas empelas ataupun batu.  Jika dikerjakan di rumah, ambil buku tebal sisipkan bilah kater di antara halaman buku setinggi 2,5 cm lalu putar kaleng sedemikian rupa sehingga ujung kater membuat garis potong di kaleng itu; putar terus dengan berhati-hati berulang kali maka kaleng dapat terpotong dengannya.  Lakukan hal yang sama untuk bakal bagian sumbu dengan memindah ketinggian letak bilah kater menjadi 3 cm.
  5. Lebarkan pinggir bagian sumbu dengan menekankannya sambil memutar-mutarnya ke pantat gelas besar sampai pinggir bagian bawah dapat didorong masuk.
  6. Satukan pasangan dasar dan sumbu itu dengan menekannya keduanya pelan-pelan sampai pinggir bagian sumbu mencapai garis batas (lihat tahap 3 di atas); untuk ini dapat dibantu menekannya dengan menggunakan papan atau buku tebal.
  7. Dengan menggunakan jarum kasur ataupun jarum tempel (pines) bertangkai buatlah sebanyak 32 lubang sumbu di tepi luar “pantat”. Untuk ini tandai dulu titik lubang di sudut 0, 180, 90, dan 270  derajat. Selanjutnya tandai titik tengah antara dua titik yang berdekatan (menjadi 8), kemudian ulang lagi untuk menjadi 16, dan ulang sekali lagi untuk menjadi 32.
  8. Kompor siap dipakai; isikan sekitar 15 ml spiritus. Untuk menghindarkan terjadinya ledakan maka lubang pengisian spiritus itu ditutup dengan koin sebelum kompor dinyalakan.  Untuk pemanasan (priming) kompor diletakkan pada alas gelas, tutup kaleng semir, kertas, kain, ataupun serat fiberglass yang nanti dituangi sedikit spiritus untuk disulut. Setelah cukup pemanasan maka dari lubang-lubang sumbu akan keluar uap spiritus yang membentuk nyala api karena terbakar.
  9. Dudukan tempat masak dapat dibuat dari kerangka kawat, seng, ataupun batu. Untuk efisiensi panas, upayakan pantat tempat masak sekitar 3,5 cm di atas kompor. Akan lebih baik lagi jika juga dibuatkan pelindung dari tiupan angin; pelindung ini dapat dibuat dari seng, kaleng besar, batu bata, papan ataupun karton tebal (awas jangan ikut terbakar!).
  10. Selamat mencoba.
Iklan

Lokakarya Nasional Membangun HW di PTM

Tanggal 6/03/2013 yang lalu  Lokakarya Nasional Membangun HW Bersama Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia yang diselnggarakan oleh Kwartir Pusat HW bersama Majelis DIKTI PPM, telah menghasilkan kesimpulan yang hasilnya telah dikirim ke seluruh Universitas Muhammadiyah di seluruh Indonesia dan STKIP yang menghadiri Lokakarya, serta Pimpinan Wilayah Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Diharapkan kesimpulan Lokakarya tersebut dapat menjadi pegangan substantif dan praktis pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam membangun HW.

Kiat Cepat Menyiapkan Instruktur

Kiat Cepat

Menyiapkan Instruktur

Disusun oleh HRM Tauhid-al-Amien *)

Surabaya, 17 Juli 2011

Adalah suatu hal yang sangat baik jika pelatihan dilakukan oleh orang yang terlatih paripurna. Sayangnya jumlah pelatih paripurna tidaklah banyak, tidak mencukupi kebutuhan untuk pelatihan-pelatihan HW di demikian banyak sekolah di AUM Pendidikan dalam jajaran DikDasMen.  Oleh karena itu dianggap perlu mengadakan terobosan untuk menyediakan pelatih yang bermutu, untuk nantinya mampu menghasilkan kader andalan dari anak didik HW.

Sebagai ilustrasi awal dapat saya sampaikan bahwa tidak semua yang mendidik mahasiswa untuk menjadi dokter yang baik adalah dokter. Di antara para dosen di fakultas kedokteran itu ada “ahli” di bidang farmasi (sekedar contoh; dari yang sekedar asisten apoteker, apoteker, sarjana farmasi, dokter, ataupun juga professor); demikian juga di bidang-bidang yang lain semisal biologi, fisika, kimia, laboratorium klinik, teknik komputer, dengan klasifikasi tingkat keilmuannya yang seperti itu juga. Dengan kata lain untuk menghasilkan HW tidaklah mutlak harus ditangani oleh mereka yang tergolong “Pelatih HW tulen”. Secara menyeluruh “menciptakan” HW sebagai kader andalan dapat dilakukan bersama oleh mereka yang punya kemampuan-kemampuan berguna yang dapat diajarkan, dengan cara masing-masing  dalam koordinasi yang mengarah. Para pengajar inilah yang secara umum dapat kita sebut sebagai INSTRUKTUR.

Istruktur dapat disiapkan jauh lebih “mudah” ketimbang pelatih paripurna. Dalam orientasi “prestasi nilai” di sekolah-sekolah saat ini tidaklah mudah bagi seorang guru,  siswa, maupun mahasiswa untuk diizinkan ataupun menyisihkan waktu hampir sepekan untuk mengikuti pelatihan baku pendidikan pelatih dalam Jaya Melati I. Padahal  dalam satu pelatihan itu biasanya hanya diperoleh hasil sekitar 40 orang pelatih. Sedangkan dalam prakteknya  untuk melatih anak didik tidaklah  yang diajarkan dalam JaTi I itu digunakan “semua” oleh pelatih itu dalam satu kali melatih. Oleh karena itulah digunakanlah pola penyiapan “kilat” istruktur, yang dalam satu hari “penataran” dapat dihasilkan 40 instruktur. Dari beberapa penataran akan dihasilkan sejumlah instruktur yang dapat dipertukarkan untuk melatih anak didik secara lengkap.  Jika kegiatan ini diselenggarakan hari Sabtu dan Ahad, maka dalam satu bulan dapat dihasilkan sekitar 300 (8 hari X 40 orang)  instruktur ataupun bahkan lebih. Jika ingin dipercepat lagi maka dengan memanfaatkan 70 % dari para instruktur itu mungkin saja diperoleh sekitar 60.000 (200 kelas X 300 orang/bulan) instruktur  baru dalam bulan berikutnya.

Pelaksanaan

1. Mengelompokkan pokok materi ke dalam bidang yang “mirip” (mempunyai kesamaan “dasar”)

Kelompok pokok materi menurut bidang yang “mirip” (mempunyai kesamaan “dasar”)

Jumlah jam

1. Kemuhammadiyahan:                                                                                              5

1-a. Hakikat Muhammadiyah                                                                                                 2

b. Organisasi Otonom Muhammadiyah                                                                          2

9- Qaidah Ortom Muhammadddiyah                                                                                   1

2. Ke-HW-an                                                                                                                              6

2-c. Sejarah singkat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan                                            2

d. Kedudukan dan Fungsi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan                            2

5- Prinsip dasar kepanduan dan metode kepanduan HW                                              2

3. Ciri khas HW                                                                                                                          6

4- Jati diri kepanduan HW                                                                                                          1

6-f. Kode Kehormatan HW                                                                                                         2

27- Seragam dan atribut                                                                                                             2

7- Lambang, simbol, dan motto HW                                                                                       1

4. Peringkat dalam HW                                                                                                       2

21-g.  Syarat KenaikanTingkat (SKT) dan Syarat Kecakapan Pandu (SKP)             2

5a. Ke-Islaman                                                                                                                         6

i. Ibadah praktis harian                                                                                                               4

j. Akhlak mulia (adabul yaumiah)                                                                                           2

5b. Muamalah                                                                                                                           4

17- Uswatun hasanah                                                                                                                  1

18- Adab bergaul                                                                                                                            1

15- Kegiatan bermutu, yang menarik, menyenangkan, menantang,

meningkat, mengandung pendidikan islami                                                                        2

6a. Pembinaan disiplin di lapangan                                                                          8

k. Baris berbaris                                                                                                                          4

22- Upacara  sebagai alat pendidikan                                                                                    2

23- Pelantikan sebagai alat pendidikan                                                                                 1

32- Upacara penutupan                                                                                                               1

6b. Pembinaan disiplin di alam terbuka                                                               10

l. Kehidupan di alam terbuka (perkemahan)                                                                        2

25- Perkemahan sebagai alat  pendidikan                                                                              1

26- Pentas seni dan api unggun sebagai alat pendidikan                                                 1

24- Tadabbur alam                                                                                                                           6

7a. Keorganisasian                                                                                                                   6

m. Kepemimpinan organisasi`                                                                                                   2

n. Manajemen organisasi                                                                                                              2

19- Mengelola satuan                                                                                                                     1

20- Peran, fungsi, dan tanggung jawab pemimpin satuan                                              1

7b. Pendidikan                                                                                                                            5

14- Memahami peserta didik dan kebutuhannya                                                               1

16- Cara membina peserta didik                                                                                                1

11- Program kegiatan peserta didik                                                                                         1

31- Evaluasi (penilaian)                                                                                                                   1

30- Rencana Tindak Lanjut (RTL)                                                                                               1

8. Tabligh (komunikasi)                                                                                                        6

o. Menulis efektif                                                                                                                                2

p. Berbicara di depan umum                                                                                                         2

29- Forum terbuka                                                                                                                             2

9a. Organisasi HW                                                                                                                       6

3- AD dan ART HW                                                                                                                              1

q. Struktur organisasi HW                                                                                                                1

10-Organisasi qabilah                                                                                                                        1

12- Dewan satuan                                                                                                                                 1

r. Dewan Sughli                                                                                                                                      1

28-s. Bina Karya Mandiri kepanduan HW                                                                                   1

9b. Perkantoran HW                                                                                                                    5

h. Jenis-jenis pertemuan dalam HW                                                                                             2

13- Forum silaturahim Pandu                                                                                                          1

t. Administrasi HW                                                                                                                                2

Jumlah total   75      jam

Angka dengan tanda hubung (mis. 3-) merujuk ke Buku Seri 04.11, sedangkan huruf kecil dengan titik (mis. t.) merujuk ke Buku Seri 04.13

2. Alokasi waktu

Untuk lebih mendalam, materi diberikan dalam dalam waktu sebanding dengan waktu pola JM I atau lebih panjang. Ini disesuaikan dengan upaya menguraikan buku serahan JM I (Seri 04.11) serta tambahan makalah uraian terkait dengan pokok materi sebanyak sekitar 8 halaman.

Secara umum dalam satu hari dapat diberikan satu kelompok materi.

Untuk masing-masing kelompok materi diawali dengan pengantar umum sekitar 15 menit setara dengan 2 (dua) halam serahan.

3. Pemateri

Pelatih Nasional, Alumni JM II, JM I, Pimpinan Inti (Ketua, Sekretaris, Bendahara), Ketua Lembaga Diklat (tingkat Kwarda, Kwarwil, Kwarpus) yang bersedia, ataupun Instruktur yang telah melatih dalam bidangnya selama 3 bulan ataupun 4 kali berturut-turut.

4. Penyelanggara:

Kwarwil ataupun Kwarda yang di situ terdapat pemateri dan penyelenggara yang siap.

5. Pembeayaan:

Kwartir yang bersangkutan

Dimintakan dari PWM/PDM/Dikdasmen

Peserta dikenai beaya senilai 2 X (dua kali) makan siang sederhana (nasi bungkus)

6. Peserta

Guru yang disiapkan untuk menjadi pelatih anak didik

Anggota penghela ataupun penuntun yang berkeinginan kuat untuk menjadi pelatih.

Untuk efektivitas interaksi sebagai kelompok (small group), dalam satu kelas diupayakan sekitar 8-25 orang, maksimal 35 orang.

7. Waktu kegiatan

Diupayakan secara rutin pada hari Sabtu, Ahad, maupun hari libur, jam 08-17 ataupun disesuaikan dengan keadaan setempat.

8. Tempat

Ruang kelas AUM DikDasMen atau pondok yang diizinkan

9. Sarana

Sarana untuk penataran ini diupayakan sesederhana mungkin, disesuaikan dengan keadaaan setempat, dapat meliputi  misalnya:

Papan tulis

Serahan

Flip chart

OHP

LCD Projector dengan laptop

10. Administrasi

Peserta yang telah dengan lengkap mengikuti penataran intruktur mendapat sertifikat hak menjadi pengajar/instruktur/pelatih dalam materi yang disebutkan secara jelas (spesifik) kepada anak didik,  dalam JM I,  maupun penataran instruktur dalam bidangnya.

Peserta dapat mengikuti beberapa penataran instruktur secara berturut-turut ataupun tidak, yang jika telah mengikuti seluruh kelompok materi JM I dapat mengikuti Kemah Pemantapan (Boot camp) untuk mendapat sertifikat setara dengan  JM I.

11. Tambahan

Hal-hal lain yang  belum tertulis dalam pedoman ini akan ditambahkan jika diperlukan.

*) Sekretaris Urusan Dalam Badan Diklat Nasional Kwarpus HW (2010-2015), dokter (UNAIR), MSc.(SEAMEO-UI), DiplHPEd. (UNSW), Physiologist, Pens. Lektor Kepala (2008), Ketua HW Kwarwil  Jawa Timur (2005-2010), Wk. Ketua HW Kwarwil  Jawa Timur (2010-2015), mantan Kord. Litbang Kwarpus, Bendahara II (2005-2010)

Sepuluh Tahun Kebangkitan Kembali HW

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Tanggal 18 Nopember 2009 nanti sudah  sepuluh tahun Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendeklarasikan Kebangkitan Kembali Pandu HW sebagai Ortom   Gerakan Kepanduan Hizbul-Wathan (HW) setelah “ditidurkan” sejak tahun 1961. Sudah banyak yang terjadi, sudah banyak yang dilakukan oleh para pegiatnya, pimpinan Kwartirnya, pembina, pelatih, maupun anggauta didiknya, namun seharusnya dapat jauh lebih banyak lagi….

Mari kita renungkan bersama, mengapa?

Kita tata lagilah langkah-langkah ke depan.

Wasalam,

tauhid

Mukaddimah AD-ART HW.

Persyarikatan Muhammadiyah merupakan Gerakan Islam dan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Tajdid, beraqidah Islam, bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah, bertujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, bergerak dalam segala bidang kehidupan, antara lain bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi.

Bahwa untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan harus diperjuangkan secara terus menerus antara lain dengan membina generasi muda yang memiliki aqidah, fisik dan mental kuat, berilmu dan berteknologi serta berakhlaqul karimah.

Allah berfirman yang artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandaimya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mengucapkan perkataan yang benar.” [Q.S. An Nisaa’ (4): 9]

Bahwa membina dan menggerakkan angkatan muda dengan cara memperteguh iman, mempergiat ibadah, mempertinggi akhlaq, dan meningkatkan semangat jihad sehingga menjadi manusia muslim yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, merupakan bagian dari usaha Muhammadiyah untuk mencapai tujuannya.

Gerakan kepanduan Hizbul Wathan sebagai organisasi otonom, mempunyai visi dan mengemban misi Muhammadiyah dalam pendidikan anak, remaja, dan pemuda, sehingga mereka menjadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader Persyarikatan, Umat, dan Bangsa.

Kepanduan Hizbul Wathan adalah sistem pendidikan di luar keluarga dan sekolah untuk anak, remaja, dan pemuda dilakukan di alam terbuka dengan metode yang menarik, menyenangkan dan menantang, dalam rangka membentuk warga negara yang berguna dan mandiri.

Dalam mewujudkan cita-cita di atas, pada tanggal 10 Sya’ban 1420 H bertepatan dengan 18 November 1999 M, Persyarikatan Muhammadiyah membangkitkan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, yang dalam seluruh kegiatannya bersemboyan fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan)

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadaNya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan! Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”  [Q.S.Al-Baqarah (2):148].

Sepintas tentang HW

GERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN (Pandu HW)

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, disingkat HW, adalah organisasi kepanduan dalam Muhammadiyah. Sebagai satu gerakan, berarti setiap anggota harus aktif mengamalkan dan menyebar-luaskan maksud dan tujuan HW. Arti Hizbul Wathan adalah Pembela Tanah Air.

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta tahun 1336 Hijriyah / 1918 Miladiyah. Di awalnya HW dimaksudkan untuk berlatih keteraturan dalam mengabdikan diri kepada Allah. Kemudain selain baris berbaris diajarkan pula hal-hal yang terkait dengan aktivitas kepanduan secara menyeluruh.   Pada tahun 1943 bersama dengan organisasi kepanduan lainnya, HW dibubarkan oleh Pemerintah Penjajahan Jepang. Pada tanggal 29 Januari 1950 HW bangkit lagi dengan berbagai perubahan. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238/61 tanggal 20 Mei 1961 bersama dengan organisasi kepanduan lainnya HW dilebur menjadi Pramuka. Pada tanggal 10 Sya?ban 1420 H. bertepatan dengan tanggal 18 November 1999 M. HW dibangkitkan kembali berdasarkan Surat Keputusan PP Muhammadiyah nomor 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 M  tanggal 10 Sya?ban 1420 H / 18 November 1999 M dan dipertegas dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 10/KEP/I.O/B/2003 M tanggal 1 Dzulhijjah 1423 H / 22 Februari 2003 M.
Gerakan kepanduan Hizbul Wathan sebagai organisasi otonom dalam persyarikatan Muhammadiyah, mempunyai visi dan mengemban misi Muhammadiyah. Secara lebih khusus HW bergerak  dalam pendidikan anak, remaja, dan pemuda, agar  mereka menjadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader Persyarikatan, Umat, dan Bangsa.

Kepanduan Hizbul Wathan pada hakikatnya adalah sistem pendidikan di luar keluarga dan sekolah untuk anak, remaja, dan pemuda dilakukan di alam terbuka dengan metode yang menarik, menyenangkan dan menantang, dalam rangka membentuk warga negara yang berguna dan mandiri.

7 September 2006

(Dari berbagai sumber)