Corona Virus, MERS CoV

Asy-Syifa’                   Hidup Sehat       dr. HRM Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF, AIFO

Corona, mungkin menjadi oleh-oleh 

 

Nama corona cukup menarik atau menantang karena maknanya yang berarti mahkota, menantang karena virus dengan nama ini akhir-akhir ini cukup merisaukan karena di Arab Saudi pernah mematikan 49 orang dari 104 penderitanya; katakanlah peyakit ini juga “belum ada obatnya”.

Virus Corona MERS CoV yang akhir-akhir ini banyak dibahas hanya ”kebetulan” saja yaitu dengan adanya peluang besar penyebarannya karena mendekati musim hajji,  padahal penyakit oleh virus ini menyeruak di Arab Saudi, walaupun di Eropa maupun Tunisia juga ada. Virus macam ini yang sebelumnya sudah ada, yang terkenal adalah Human Coronnavirus 229E, OC43, SARS-CoV, NL63, HKU1.  Virus MERS CoV (Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus) mulai diyakini sebagai virus “baru” di akhir tahun 2012  yang lalu, dan masuk ke dalam peraturan kesehatan di Arab Saudi 4 Juni 2013; ternyata penderita merebak sejak 30 Agustus 2013, sehingga “dunia” terpaksa harus bersiap-siap.

Penyakit yang disebabkan oleh virus MERS CoV ini boleh dikata “sama” dengan flu biasa, tetapi jauh lebih ganas, yaitu berupa munculya demam tinggi (lebih dari 38oC) dengan batuk hebat, sebagai petunjuk adanya peradangan saluran pernafasan. Masa tunas virus penyakit biasanya tidak lebih dari 10 hari sejak tertulari. Paru-paru akan menunjukkan gejala pneumonia (batuk, sesak, demam) yang dapat merupakan akibat berkembangnya virus ini sendiri ataupun karena kuman yang “biasa” ada di dalam paru ikut-ikutan menyerang dengan hebat. Kadang-kadang serangan ini cukup parah sampai mengganggu kecukupan oksigen di dalam tubuh sehingga sampai merusak ginjal. Dahak dengan virus yang tertelan juga berpeluang untuk menimbulkan gangguan di saluran pencernaan, yang bisanya muncul sebagai berak-berak. Jika lebih parah lagi penderita dapat mengalami sepsis , yaitu infeksi tubuh secara menyeluruh karena virus ataupun kuman lain yang telah terbawa oleh aliran darah; jika sampai ke otak penderitanya akan kejang-kejang. Keadaan sakit yang parah itu dapat membawa ke kematian oleh gangguan umumnya ataupun akibat kegagalan fungsi-fungsi tubuhnya. 

Untuk memastikan adanya virus MERS CoV ini tidak mudah karena memerlukan mikroskop elektron, sedangkan pemeriksaan serologis (laboratorium darah untuk mengenali virus itu) belum ada. Oleh karena itu dugaan adanya penyakit oleh virus ini lebih didasarkan pada adanya sejumlah fakta demam yang mendadak tinggi, batuk parah, berada di atau baru pulang dari Timur Tengah dalam waktu 10 hari, dan tidak terbukti mengidap penyakit lain sebelumnya yang mengarah ke munculnya gejala-gejala parah seperti itu, apalagi jika ada tanda-tanda sepsis.

Sampai saat ini belum ditemukan  obat yang dapat membasmi virus MERS CoV ini, walaupun awal September 2013 ini dilaporkan adanya pasangan obat (ribavirin + interferon alpha-2b) yang dapat “menghambat” (stop replication) virus ini, walaupun obat ini juga bukan tanpa bahaya. Namun demikian itu bukan berarti penderita yang sakit lalu dibiarkan begitu saja; obat-obat tetap diberikan untuk mengatasi gejala yang ada (tambah cairan infus; demam, batuk, sesak) ataupun antibiotika untuk menekan kuman yang ikut-ikutan “nimbrung” dan memperparah keadaan.

 

Pemeo menyebutkan “Mencegah lebih baik dari mengobati”; ini juga berlaku terhadap penyakit oleh virus  MERS CoV ini. Virus ini belum dapat “dibiakkan” sehingga sifat-sifatnya belum banyak diketahui, termasuk bagian mananya yang dapat digunakan untuk mengenalinya oleh sistem kekebalan tubuh, sehingga upaya untuk menyiapkan vaksin pencegahnya juga belum berhasil, apalagi untuk mengenali obat apa yang dapat mematikannya.

Sama halnya dengan flu, penyebaran penyakit yang disebabkan oleh  virus MERS CoV ini tak nampak; pada dasarnya penularan terjadi akibat dari masuknya virus ke dalam tubuh seseorang. Ini terjadi misalnya lewat percikan liur ataupun ingus yang mengandung virus ini yang terhirup ketika penderita bersin-bersin ataupun batuk. Oleh karena itu “kontak” dengan pengidap penyakit ini perlu dihindari, ataupun perlu memperhatikan sarana-sarana untuk menghindari penularaan ini, misalnya dengan memakai masker. Tangan harus dicuci baik-baik setelah  memegang barang-barang (termasuk uang, pensil, HP) yang mungkin tercemar oleh virus MERS CoV dari penderitanya, agar tangan itu tidak menyampaikan virus itu ke jalur penularannya di tubuh kita , yaitu ke selaput lendir mata, hidung, ataupun mulut.  

Karena masa tunas penyakit oleh  virus  MERS CoV ini dapat sampai 10 hari, maka yang pulang dari berhaji harus bersedia “menyelamatkan” tamu mereka yang bersilaturakhim kepadanya dengan selalu memakai masker ketika menerima tamu, agar tidak memberi “oleh-oleh” yang berupa penyakit oleh  virus MERS CoV ini.

Semoga uraian di atas bermanfaat.

0 Responses to “Corona Virus, MERS CoV”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: