Arsip untuk Maret, 2014

Dalil tahlilan

Sedikit-sedikit minta dalil, sedikit-sedikit minta dalil !!!!!!

Ini dalil tahlilan dan selamatan !!!!

1.Dalil pengkhususan waktu selamatan kematian (1
hari,3 hari,40 hari dstrsnya).
“Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari
pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu”
(Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99,
192, 193).
Perintah penyembelihan hewan pada hari tersebut:

“Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara
korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa
untuk kebaikan dunia.”
(kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39).

Perkataan ulama’:
“Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian
orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas
adalah ajaran Hindu”
(Ida Bedande Adi Suripto laknatullah ‘alaihi,lihat kitab
“Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa).

2.Dalil selamatan (kenduri/kenduren):
Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra
aranggaymaya jekmayipatsiyad aduweni narah”.
“Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang
Maha Mengetahui”. Yang gunanya untuk menjauhkan
kesialan”
(kitab sama weda hal. 373 no.10).

a. Dewa Yatnya (selamatan) Yaitu korban suci yang
secara tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi
dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa
yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.
b. Pitra Yatnya Yaitu korban suci kepada leluhur
(pengeling- eling) dengan memuji yang ada di akhirat
supaya memberi pertolongan kepada yang masih
hidup.
c. Manusia Yatnya Yaitu korban yang diperuntukan
kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai
dan tentram.
d. Resi Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan
kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan)
.
e. Buta Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan
kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak,
untuk kemulyaan dunia ini.
(kitab Siwa Sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’
dan pada Upadesa hal. 34).

Tuh kan jelas Dalilnya …

by akh Syafiq Yahya.

 
Suka ·  · 15 Maret 2014  pukul 15:11  di FaceBook/Muhammadiyah
Iklan

Kain Sutra.

Sutra.

Kain sutra masih digemari orang, terutama oleh kaum perempuan. Sebagian besar kain sutra merupakan produk luar negeri. Sutra produk dalam negeri masih jauh dari mencukupi jumlah yang dibutuhkan orang; hanya sepersepuluhnya yang dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri!!!

Sutra dibuat dari “benang” yang diuraikan dari kokon (kepompong), bentukan “pondokan” ulat sutra sebelum berubah menjadi kupu-kupu. Untuk menghasilkan benang sutra ini diawali dengan memelihara ulatnya. Ulat sutra dihasilkan dari menetaskan telurnya, lalu memberinya makanan yang khas buatnya, yaitu daun murbei. Telur ini biasanya disediakan oleh pemasoknya dalam kotak (boks) yang tiap kotak ini berisi sekitar 20.000 telur; dengan pemeliharaan yang baik akan dihasilkan 20-30 kg kokon, yang jika diuraikan akan menghasilkan 2,5 kg benang sutra. Lama pemeliharaan dari menetasnya telur sampai “panen” perlu waktu sekitar satu bulan, yang memerlukan sekitar 250 kg “daun” murbei. Itu berarti dalam satu tahun proses itu dapat diulang dua belas kali, atau berpeluang dua belas kali mendapat keuntungan; keuntungannya sekitar 50% dari modal.

Jika ingin efisien, murbei utuk makanan ulat sutra itu perlu ditanam sendiri di lahan seluas ¼ ha. Murbei dapat ditanam secara khusus, ataupun dengan cara tumpangsari dengan tanaman palawija. Semua itu dapat ditangani secara sambilan oleh satu keluarga; jika mau lebih serius satu keluarga dapat menangani pemeliharaan 3 kotak ulat sutra seperti itu dengan areal murbei sekitar 1 ha.

Dengan peluang variasi harga yang ada dapatlah disebutkan bahwa seluruh beaya untuk pemeliharaan ulat sutra ini tidak sampai mencapai separo dari keuntungan yang dicapai dari usaha ini. Modal sekitar 11,5 juta rupiah diperlukan untuk pemeliharaan ulat sutra yang memerlukan 1 ha tanaman murbei sebagai makanannya.