Pria ataukah wanita?

Bayangkan jika Anda sebagai “modin wanita” dimintai tolong untuk memandikan tetangga baru yang hampir setiap hari dengan rok panjangnya dengan sepeda motornya lewat di depan rumah Anda; memang hanya kadang-kadang saja dia mengenakan jilbab.  Tetangga ini meninggal setelah sepekan terserang demam. Ketika Anda hendak mulai memandikannya, Anda menjumpai “keanehan”, yaitu ada “burung” yang tersembunyi di balik roknya. Banci?

Klinik.

Pakaian biasanya menggambarkan jenis kelamin pemakainya. Namun yang demikian ini tidak selalu terjadi, apalagi di perkotaan; di sini ada yang beda, yaitu lelaki yang bepakaian perempuan.  Orang yang berpakaian sebagai lawan jenisnya dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya pengaruh lingkungan. Kadang-kadang ada orang tua sangat ingin punya anak perempuan, ketika anaknya lahir laki-laki kemudian ia “memaksa” anaknya menjadi perempuan dengan selalu memberikan kepada anaknya ini pakaian perempuan, memanggilnya dengan sebutan perempuan, memberi mainan anak-anak perempuan, bahkan mendorongnya untuk bermain hanya dengan anak-anak perempuan. Keadaan mungkin mulai bemasalah ketika si anak mulai tumbuh dan “mengenal” jenis kelamin (umur di tas 2-3 tahun), bahwa dirinya berbeda dari teman-temannya. Di sisi lain ada sejumlah orang yang merasa dirinya aneh jika harus tetap berpakaian seperti yang sebelumnya, karena dia merasa dia tidak seharusnya begitu. Ini dapat bermula karena merasa akan memperoleh “keuntungan” jika dia menjadi berjenis kelamin lain; lalu dia berpakaian yang tidak seperti biasanya selama ini. Memang ada juga yang  memakai pakaian lawan jenisnya karena dia merasa yakin sepenuh hati bahwa dirinya tergolong pada jenis yang pakaiannya dipakai itu; ia merasa bukan sekedar ikut-ikutan.

Jenis kelamin pada dasarnya ditentukan oleh struktur pembawa sifat yang ada di dalam setiap sel, yang disebut dengan chromosome, penentu sifat keturunan. Sifat manusia secara menyeluruh ditentukan oleh 23 pasang kromosom ini, yaitu sepasang kromosom kelamin (X dan Y, yang nantinya menentukan jenis kelaminnya) dan 22 pasang kromosom yang menentukan sifat-sifat lainnya (autosome). Autosom ini menentukan  misalnya tinggi tubuhnya, warna kulitnya, bentuk hidungnya, termasuk akan dapat berpenyakit apa, dapat menjadi pandai ataukah tidak. Semua sel-sel tubuh masing-masingnya mengandung 23 pasang kromosom ini; kecuali sel-sel kelaminnya. Di dalam sel kelamin ini (sel telur pada perempuan, dan sel sperma pada lelaki) masing-masingnya hanya terdapat 23 kromosom saja, yaitu 22 autosom, dengan satu kromosom kelamin X atau Y saja. Jika terjadi pembuahan terbentuklah satu sel bibit (zygote) yang menjadi mempunyai 23 pasang kromosom,  gabungan dari kromosom telur si ibu dan sperma si bapak. Sel bibit inilah yang kemudian membelah diri di dalam rahim; awalnya membelah menjadi dua, terus menjadi empat, delapan, 16 dan seterusnya dan tetap menyatu,  sampai jika sudah cukup umur akan keluar dari rahim sebagai bayi yang masing-masing sel tubuhnya punya 23 pasang kromosom.

Jika di tahap awal sel-sel itu boleh dibilang sama semua, namun dengan bertambahnya umur sel-sel itu mulai “membagi diri” (differentiation) menjadi berbagai macam struktur atau organ tubuh, misalnya ada yang menjadi kulit, menjadi usus, menjadi jantung, dan sebagainya. Masing-masingnya pun selanjutnya berkembang (develop) sehingga misalnya dari “kulit” itu ada yang menjadi bakal syaraf yang kemudiannya ada yang menjadi bakal otak, bakal mata, dan sebagainya. Semua proses itu terjadwal dengan rinci, sehingga jika misalnya jika pada umur kehamilan 3 bulan seorang ibu hamil terserang gabag, perkembangan mata dapat terganggu sehingga bayi dapat lahir dalam keadaaan buta. Jika pada umur-umur itu si ibu minum obat “rematik” karena sakit yang dideritanya, ada peluang bayi yang dikandungnya itu nanti lahir dengan jantung cacat. Oleh karena itulah ibu-ibu yang hamil muda diminta untuk lebih berhati-hati dalam berobat; dokter harus diberitahu tentang kehamilannya. Ini untuk menghindari  dokter memberi obat yang ternyata bersifat teratogen, yang dapat menjadikan bayi itu lahir cacat ataupun memicu serangan kangker di usia muda dalam pertumbuhan bayi itu kelak.

Begitulah di umur kehamilan enam minggu sudah mulai terjadi pertumbuhan bakal sistem perkemihan dan kelamin, yang secara menyeluruh dikendalikan oleh hormon kelamin dalam “kekuasaan” kromosom kelamin X dan Y itu; pasangan kromosom   inilah yang mengatur ketersediaan berbagai macam hormon terkait; XX mengarahkan ke bentuk perempuan XY mengarahkan ke bentuk laki-laki. Pada dasarnya hormon-hormon androgen membuat bayi tumbuh menjadi lelaki, sedangkan hormon estrogen menjadikan bayi kemudian tumbuh menjadi perempuan. Hasil dari kerja hormon-hormon inilah nanti menjadikan bayi yang lahir dikenali sebagai laki-laki ataukah perempuan. Bila “ada masalah” mungkin saja si penolong persalinan itu mengalami kesulitan untuk menentukan apakah bayi yang baru terlahir itu laki-laki ataukah perempuan, misalnya karena tak tampak  “burung” (penis) ataupun “telurnya” (testis). Jika yang menolong persalinan itu tenaga kesehatan yang terdidik, dia akan segera menasihatkan kepada si ibu atau keluarganya tentang apa yang harus dilakukan nantinya.

Akibat dari gangguan pertumbuhan organ-organ di dalam tubuhnya, bisa terjadi produksi hormon androgen kurang sehingga “si burung” tidak cukup besar tumbuhnya, disertai dengan tidak munculnya “si telor”. Akibatnya walaupun bayi yang kromosom kelaminnya XY (laki-laki), oleh si penolong persalinan disebutnya sebagai bayi perempuan.  Bakal “telor” itu ketika pertama terbentuk bersama dengan bakal ginjal berada di dalam rongga perut. Pengaruh hormon androgen (terutama testosteron) menjadikan testis ini tumbuh memisahkan diri dari ginjal, lalu “turun” keluar dari rongga perut. Biasanya pada saat bayi laki-laki itu lahir, “telur” itu sudah berada di kantungnya di luar perut. Ada kalanya produksi hormon androgen itu kurang mencukupi sehingga “perjalanannya” terlambat sehingga mungkin baru sampai di tempat yang seharusnya setelah bayi mencapai umur dua tahun. Keterlambatan seperti ini dapat juga terjadi sebagai akibat dari tersedianya berlebih hormon estrogen dari ibu ataupun dari uri (placenta) ketika bayi masih di dalam kandungan. Keadaan ini juga menjadikan “burung” tumbuh sangat kecil, hanya sebesar kelentit (clitoris), sehingga bayi laki-laki ini oleh si penolong persalinan dianggap bayi perempuan.  

Di dalam pertumbuhannya seorang gadis dapat tampak seperti lelaki jika ada gangguan keseimbangan hormon kelaminnya, misalnya karena ada tumor yang tumbuh, ataupun karena meminum obat yang mengandung hormon androgen. Akibatnya muncul kelainan-kelainan, misalnya kulitnya menjadi lebih kasar dengan pertumbuhan bulu yang kaku, suara yang menjadi parau bernada rendah, tumbuh kumis.

 Hermaprodite. Jika kita beternak belut kita tidak perlu terlalu memusingkan diri dengan memilih mana yang jantan dan mana yang betina. Kalaupun yang kita kumpulkan itu jantan semua, nanti kita akan mendapatkan anakannya juga. Hal ini dapat terjadi karena setiap belut dirinya dilengkapi dengan kelamin jantan maupun betina. Jika tak ada belut betina, maka belut yang semula terkesan jantan itu akan mengubah fungsi kelaminnya untuk menjadi betina, siap dibuahi dan bertelur. Walaupun sangat-sangat jarang memang ada juga orang bersifat hampir seperti itu; pada satu orang ada kelamin perempuan maupun lelaki yang “sempurna”.  Pada orang seperti ini dapat dijumpai sel-sel tubuh dengan kromosom XX (perempuan) dan sel-sel tubuh yang berkromosom XY (laki-laki); jadi pada orang ini boleh dibilang dua orang (laki-laki dan perempuan) yang menyatu (seperti mozaic) menjadi satu tubuh.

Diagnosa.

Menentukan secara pasti apakah seseorang itu laki-laki ataukah perempuan saat ini tidaklah terlalu mudah; orang dengan mudah berganti pakaian sehingga tidak dapat lagi hanya berdasarkan pada bagaimana pakaiannya. Dengan bantuan teknik operasi plastik dapat saja seorang laki-laki tampil dengan dada menonjol. Bayi yang baru lahir ada kalanya tampak seperti perempuan padahal dia laki-laki. Jika ingin memperoleh kepastian dalam keadaan yang meragukan itu yang dapat diandalkan adalah memeriksa kromosomnya. Dari pemeriksaan ini nanti dapat diketahui apakah seseorang itu benar-benar lelaki (punya kromosom XY), benar-benar perempan (punya kromosom XX), ataukah penampilannya itu merupakan akibat dari kelainan kromosom (punya kromosom semisal XXX, XXY, XYY, YYY, XYXY), ataupun akibat dari gangguan keseimbangan hormon kelamin (karena adanya tumor penghasil  hormon, pemakaian obat hormon).

Tindak lanjut.

Dalam kehidupan masyarakat bersusila dan beragama kepastian jenis kelamin merupakan hal yang penting, dalam pergaulan sehari-hari, maupun yang terkait dengan kehidupan beragama, misalnya cara shalat, perkawinan, persaksian, pewarisan, perawatan jenazah. Jika perilaku atau tindakan menyimpang dari jenis kelamin yang senyatanya, perlu dinasihati ataupun bahkan dikonsultkan ke dokter. Jika perlu pastikan dulu jenis kelaminnya dengan  pemeriksaan kromosomnya, selanjutnya mungkin perlu nasihat lebih mendalam; berkonsultasilah dengan dokter ahli jiwa (psikiater). Kadang-kadang dokter ahli yang lain perlu dimintai pertolongan untuk sekedar menyeimbangkan perimbangan hormon kelaminnya dengan obat-obatan; mungkin perlu pembedahan memperbaiki alat kelamin, ataupun juga membuang tumor yang mengganggu. 

Pencegahan.

Untuk menghindari permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat, maka anak-anak harus dibesarkan dalam lingkungan yang benar sehingga anak dapat tumbuh sesuai dengan kenyataan dirinya, termasuk pakaian dan permainannya. Pergaulan ini dapat mencegah penyimpangan perilakunya nanti. Jika terlihat ada penyimpangan, maka pendekatan diperlukan untuk penelusuran dan pengarahan; jangan takut bertanya kepada ahlinya, jika perlu.

Penutup.

Dalam kehidupan bermasyarakat bersusila dan beragama kepastian jenis kelamin merupakan hal yang penting, dalam pergaulan sehari-hari, terutama terkait dengan kehidupan beragama. Jika tampak ada perilaku atau tindakan yang menyimpang dari segi jenis kelaminnya perlu ditelusuri, dinasihati, ataupun bahkan dikonsultkan ke dokter sebelum permasalahan kian rumit.

Semoga uraian di atas bermanfaat.

0 Responses to “Pria ataukah wanita?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: