Pemikiran Pulau ODHA

Pulau ODHA
Oleh
HRM Tauhid-al-Amen, dr., MSc., DiplHPEd., AIF.
(Konselor HIV/AIDS, Muballigh senior.)
Adalah suatu kenyataan yang pahit bahwa sampai saat ini para ahli kesehatan se dunia belum ada yang berhasil mendapatkan obat untuk menghilangkan virus HIV ataupun yang benar-benar mampu menyembuhkan penyakit AIDS yang mematikan itu. Padahal dari waktu ke waktu jumlah penderita AIDS terkesan bukan berkurang, tetapi justru melonjak dengan cepat dan menakutkan, termasuk di Indonesia. Semua itu mengarah ke kebutuhan dana penanganan yang tak kecil, yang terkadang mengalahkan jumlah dana yang diperlukan untuk penanganan penyakit penting lainnya.
AIDS sebagai penyakit.
“Penyakit” AIDS (Ackquired Immuno-Deficiency Syndrome; Gejala Kekurangan Sistem Kekebalan-tubuh yang dapatan, bukannya keturunan) yang terlanjur salah kaprah disebut sebagai sekedar “gejala” (syndrome), meskipun sudah diyakini pasti bahwa ini sebenarnya adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang dikenali dengan sifat khasnya sebagai perusak sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini biasanya berjalan “lambat”, meskipun ada juga yang dengan cepat merebak dan segera menimbulkan kematian pada pengidapnya. Yang begini ini mematikan dalam waktu dua tahunan dengan proses yang “cepat”.
Jika berjalan lambat, penyakit ini baru mengantar ke kematian setelah pengidapnya terhuni oleh virus ini selama sekira 20 tahun ataupun lebih, yang di masa akhir-akhirnya memberikan kengerian penderitaan yang luar biasa.
Jika nyatanya obat belum mungkin menyembuhkan mereka, padahal pada saat akhir hidupnya dia memerlukan lebih banyak pertolongan, apa yang harus kita perbuat untuk mereka? Sejak awal-awalnya mulai merebaknya HIV/AIDS di
Indonesia seperempat abad yang lalu, para pegiat penanggulangan HIV/ AIDS sudah berulangkali menyampaikan bahwa penyebaran HIV/AIDS yang tak terkendali nantinya akan menghabiskan dana yang lebih besar dari dana
penanganan kesehatan secara umum, ataupun bahkan dapat mencapai angka yang melebihi belanja negara di luar bidang kesehatan.
Dalam tahap awal pengidap HIV/AIDS sepertinya “tdak memerlukan” apa-apa, karena dalam tahap itu dia tidak merasakan gangguan apapun, meskipun mungkin virus itu bersarang di tubuhnya sudah cukup lama. Ini berarti
sebenarnya orang seperti ini perlu diberitahu baik-baik perihal dirinya, misalnya bahwa dia dapat menulari orang lain. Selain itu dia perlu menyadari masa depan hidupnya, bahwa penyakitnya secara pasti akan berkembang, cepat ataupun lambat, menuju ke pemunculan secara utuh gejala-gejala hilangnya daya tahan tubuhnya. Pemberian pengertian seperti ini harus menjaga benar-benar agar penderita tidak berputus asa lalu bertindak nekat, mencelakan dirinya sendiri dengan bunuh diri, ataupun mencelakakan orang lain dengan lebih giat menularkan penyakitnya ke orang lain. Sangat beruntung dia jika dia memahami permasalahannya, bertaubat, lalu berupaya membaktikan sisa hidupnya untuk  membantu orang lain, antara lain membantu pengidap HIV/AIDS yang keadaannya sudah parah, yang mungkin dijauhi oleh masyarakat umum maupun keluarganya sendiri.
Bayangkan jika seorang pengidap HIV/AIDS dan mulai merasakan gangguan-gangguan ringan yang kian parah, menampakkan gangguan seperti adanya penyakit-penyakit lain (misalnya batuk, mencret, gatal) yang tak mau sembuh walaupun sudah sering berobat. Dalam keadaan seperti ini tidak jarang dia menjadi penyulit dalam kehidupan di keluarganya. Jika penyakitnya kemudian diketahui oleh orang lain, tidak mustahil dirinya dan keluarganya
menjadi dijauhi oleh masyarakat. Siapa yang akan menolong mereka? Tenaga kesehatan mungkin sesekali dapat membantunya; sukarelawan dari sejumlah LSM mungkin juga ada yang mengulurkan tangan untuk membantunya. Semua mereka yang membantu ini tak mungkin memberikan bantuannya sepenuh hati, sebab mereka pun tidak dapat lepas dari rasa takut tertulari walaupun mereka ini tahu pasti apa-apa yang memungkinkan penularan kepada diri mereka. Di sinilah akan sangat berarti peran seorang pengidap HIV/AIDS dalam membantu sesama pengidap; bantuan yang diberikannya tak terkendala lagi karena dia tak takut lagi tertulari! Dari bukti-bukti perhatiannya kepada sesama pengidap ini nantinya dapat diharapkan bahwa ketika dirinya sampai ke tahap munculnya AIDS seperti itu, maka sesama pengidap HIV/AIDS yang belum parah pun akan membantu dirinya juga. Di mana suasana yang seperti ini dapat berlangsung? Di rumah sakit mungkin ini tak akan terjadi karena birokrasi yang ada. Di suatu
perkampungan suasana seperti juga tak mungkin muncul karena keburu banyak orang tahu lalu kampung itu dijauhi orang; kampung di sekitarnya juga akan ditinggalkan orang karena takut.
Pulau ODHA

Mungkin tidak ada tempat yang dianggap “aman” oleh orang awam untuk menampung dan merawat penderita   HIV/AIDS pada semua tahapnya. Itu berarti bahwa jika suasana bantu-membantu seperti yang diuraikan di atas itu   dapat diterima, yang memadai, di mana semua itu dapat diterapkan? Untuk penanganan orang-orang  dengan    HIV/AIDS (ODHA) ini pemerintah perlu menyediakan satu pulau yang cukup luas di lingkungan laut yang bersahabat,  tenang,  yang tidak terlalu jauh dari daratan untuk cepatnya transportasi laut, untuk kemudahanan pasokan bahan-bahan yang diperlukan (misalnya sembako, air) untuk kehidupan sehari-hari penghuninya, ataupun juga   jika sewaktu-waktu sangat diperlukan di kala perlu tindakan darurat.  Kemudahan jangkauan ini juga memberi kemudahan bagi keluarga mereka kalau-kalau ada yang bermaksud menjenguk.  Kehidupan di sini tentu saja harus dilengkapi denan layanan kesehatan yang memadai, yang  ditangani secara profesional oleh para dokter maupun paramedis yang berdedikasi tinggi, yang menguasai benar permasalahan HIV/AIDS maupun pengidapnya. Untuk itu fasilitas kesehatan yang memadai juga perlu disediakan.

Kehidupan sosial di pulau itu diupayakan berlangsung seperti tatanan sosial kemasyarakatan pada umumnya, termasuk dengan adanya perangkat dasar pemerintahan maupun adanya perumahan maupun tersedianya sarana kehidupan beragama maupun hiburan; bahkan pernikahan sesama ODHA pun dapat dilakukan. Kegiatan pendidikan informal maupun non-formal juga diselenggarakan agar para pemikir ataupun remaja-remaja yang pandai juga dapat mengembangkan kemampuannya untuk berprestasi ataupun berproduksi dalam masa-masa “tenang” mereka. (Catatan: Virus HIV tak dapat bertahan lama hidup di produk mereka, sehingga produk mereka itu aman bagi orang lain).   Tidak mustahil dari Pulau ODHA seperti ini ditangani kegiatan di luar pulau dengan pemanfaatan jaringan internet (Tidak sedikit kegiatan bisnis berkomputer di Amerika Serikat yang pengerjaannya dilakukan oleh tenaga-tenaga mahir di India maupun pulau-pulau negara yang jauh dari benua Amerika, memanfaatkan keluasan jaringan internet global!). Tidak mustahil pula obat pembasmi HIV/AIDS dapat dimunculkan dari Pulau ODHA ini; semoga.

Siapa memulai?

Dalam bermasyarakat di kawasan yang bertata negara,  maka penanganan ODHA harus berdasarkan pada perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu maka para pejabat (baca: penguasa) negaralah yang harus memulai langkah mulia ini. Karena tidak semua pejabat yang terkait punya pemahaman yang cukup tentang HIV/AIDS ini, maka para pegiat pperlu banyak melakukan pendekatan-pendekatan tentang hal ini, termasuk gagasan untuk pengadaan dan pangnanan pulau ODHA ini. Para dermawan juga dituntut untuk tidak tinggal diam. Adalah suatu kebanggaan bahwa provinsi Jawa Timur dapat mulai merintis penyediaan satu atau dua pulau,  memilih dari pulau-pulau  di selat Madura.

Penutup.

Harus saya akui bahwa pemikiran kawasan khusus ODHA (baca: Pulau ODHA)  ini sudah beberapa tahun yang lalu saya hanya  saja waktu itu tanggapan terlalu kecil, karena permasalahan HIV/AIDS belum tampak separah seperti yang terekspos saat ini. Pemikiran ini merupakan pemikiran lanjut, yang saya  tak ingat lagi siapa yang memicu benih pemikiran ini . Semula pemikiran itu baru mengarah ke sekedar “Kampung ODHA”, yang terasa punya banyak kendala.

 

Revisi: 05 Des 2013

0 Responses to “Pemikiran Pulau ODHA”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: