Pulau ODHA

Peringatan Hari HIV/AIDS adalah upaya dunia untuk menyadarkan manusia tentang penyakit yang “belum ada” obatnya ini. Secara menyeluruh perlu kita sadari kembali bahwa penyakit menular ini merupakan penyakit yang mematikan, dengan cepat ataupun lambat. Yang cepat penderitanya dapat meninggal dunia dalam waktu enam bulan saja, sedangkan yang lambat mungkin baru meninggal setelah lebih dari 25 tahun menderita; selama itu dia dapat menulari orang lain! Hilangnya daya tahan tubuh mengakibatkan penderitanya mudah terserang penyakit luar (kulit) maupun penyakit dalam (termasuk batuk-batuk dan mencret yang tak sembuh-sembuh); bahkan kangker pun mudah muncul padanya. Semua itu akan disertai dengan penderitaan sakit atau nyeri yang memilukan orang yang melihatnya; semua itu “tak ada” obatnya.Obat yang kinni dierikan kepada pengidap AIDS pada hakikatnya bukanlah untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi “hanya” untuk mengurangi penderitaanya. Infeksi ikutan yang ada diatasi dengan bantuan berbagai macam obat antibiotika taupun bakteriostatika. Gejala-gejala penyakit yang muncul diredakan dengan berbagai macam obat simptomatik. Vitamin-vitamin dan roboransia diberikan untuk membantu “menyegarkan” tubuhnya.

Apa yang harus kita lakukan? Hewan yang sakit parah dapat “diringankan” penderitaannya dengan membunuhnya. Pengidap HIV/AIDS tidak dapat diperlakukan demikian. Di sinilah antara lain perlunya kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. 
Mereka yang masih sehat berusaha untuk tidak tertulari dengan menjaga perilakunya, yang terlanjur sakit harus lebih mawas diri dan bermohon ampun kepada Allah, bertaubat. Pengidap HIV/AIDS perlu berusaha menyelamatkan orang lain dengan tidak menularkan penyakitnya. Ini dapat dilakukan dengan menjaga diri..Jika dia terkena HIV karena suntikan narkoba, di harus menghindari pemakaian alat suntik bersama. Jika berobat hindari penggunaan obat suntik; kalaulah suntikan tak bisa dihindari, harus disampaikan  kepada yang menyuntik bahwa dirinya pengidap HIV/AIDS. Dokter gigi yang merawatnya harus diberi tahu bahwa dirinya adalah ODHA. Begitu pulalah jika dia ke tukang potong rambut, sampaikan bahwa diirinya tidak menghendaki dicukur; cukupkan penggunaan gunting saja. Di dalam kehidupan rumah tangga pengidap HIV/AIDS sebaiknya menggunakan sendok dan garpu tersendiri yang keduanya harus dicuci dengan menggunakan bersih-bersih sabun agar kalaulah ada virus dari yang terbawa oleh cairan tubuh dari mulutnya yang terluka mati, tidak lagi menulari orang lain. Dalam kehidupan suami isteri  pasangan harus saling memahami untuk saling menjaga; pasangan harus tahu keadaan pasangannya dengan memberi tahu sendiri ataupun dengan bantuan konselor AIDS. Masa depan anak-anak harus dipersiapkan dengan baik menghindarkan mereka dari stress jika mengetahui keadaan orang tuanya, ataupun mengetahui keadaan dirinya sendiri jika ternyata juga sudah tertulari HIV/AIDS.

Pengidap HIV/AIDS  harus menyadari sepenuhnya jalan penyakit yang dideritanya itu, yaitu bahwa dari waktu ke waktu penyakitnya akan kian parah sampai akhir hidupnya, atau sampai ditemukannya obat yang benar-benar dapat menyembuhkannya. Oleh karena itu jika pengidap HIV/AIDS keadaanya  belum parah maka dia harus berusaha memanfaatkan benar potensi dirinya untuk mengisi sisa umurnya agar dirinya bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas. Jika dia dapat membayangkan bagaimana  nanti akhir  penyakitnya, maka ketika dia masih mampu berbuat, dia dapat membantu ODHA lainnya yang mungkin tak tertangani karena banyak orang takut mendekatinya, mudah-mudahan di kemudian hari ketika penyakitnya yang pasti kian parah itu nanti juga ada orang lain yang mencontohnya, lalu juga menolongnya. Semoga “pertaubataan” ini membuka ampunan Allah baginya, berupa berbagai macam pertolongan atau kemudahan dariNya. 

Kalaulah penyakit HIV/AIDS yang diderita oleh seseorang itu “bukan” karena kesalahannya (misalnya “hadiah” dari pasangannya, tertulari dari ibu yang melahirkannya) ataupun akibat lanjut dari tindakan operasi yang dijalaninya, penderita perlu untuk  dapat sabar atas musibah yang menimpanya; mungkin ini adalah ujian dari Allah, ataupun sarana permaafan Allah atas dosa dari kesalahan-kesalahannya yang lalu.

Dalam  keadaan masyarakat yang secara umum belum memahami hakikat permasalahan penyakit HIV/AIDS, sehingga pengidapnya dikucilkan, ada baiknya  difikirkan untuk menyediakan wilayah  khusus untuk menangani mereka ini. Di sini disediakan sarana penghidupan yang memadai, termasuk rumah sakit,  pasar, sarana hiburan maupun sekolah. Industri “sederhana” maupun pertanian diberi fasilitasnya; sarana komunikasi maupun transportasi juga tercukupi. Bahkan mereka yang punya ketrampilan dalam bidang teknologi informasi dapat membentuk perusahaan pengolahan data, menangani pekerjaan dari negara-negara maju (konon tidak sedikit perusahaan di negara maju yang pengolahan datanya dilakukan jarak jauh, di India!). Jika masyarakat umum masih sulit menyediakan area untuk ini, mungkin pemerintah dapat memilih dari sekian banyak pulau yang ada satu pulau untuk pelayanan ini sebagai “Pulau ODHA”,  yang di situ nanti terbentuk masyarakat yang menyatu dan saling membantu karena senasib.

0 Responses to “Pulau ODHA”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: