Arsip untuk Desember, 2013

Susu jagung

SUSU JAGUNG.

Pernah dengan “susu jagung”? Ini seperti “susu kedelai”, hanya saja bahannya jagung. Ada juga yang menggabungkan kedelai dan jagung, bahkan ada pula yang menambahkan kacang hijau. Jika diminum dingin, segar rasanya. Membuatnya juga tak susah: jagung pipil 100 g yang sudah direbus ditambah 1-3 gelas air lalu diblender; tambahkan gula secukupnya; boleh juga ditambah sedikit garam.
Minuman ini di Thailand sudah dipasarkan dalam kemasan 100 ml sejak tahun 2000; laris juga. Di lemari pendingin susu ini dapat tahan sampai sepekan. Mereka dapat menghabiskan 300 kg jagung! Mungkin ini karena mereka menyebutkan bahwa minuman ini mengurangi risiko munculnya kangker, walaupun kajian ilmiahnya belum ada.

Untuk meminumnya susu jagung dikocok dulu. Karena komposisi partikel jagungnya mungkin masih cukup besar, pengendapan adalah hal yang biasa, apalagi jika sudah sedikit masam karena terlalu lama disimpan ataupun pemrosesannya yang kurang bersih (karena “pembusukan”).  Pengendapan susu “dikurangi” dengan menyaringnya segera sesudah diblender; ada yang menyebut penyaringnya dengan mesh 100, ada juga yang menyebut “kain” begitu saja. Dengan begitu dihasilkan “susu” dan ampas. Ampas ini dapat diolah lanjjut dengan menambahkan gula lalu dipanaskan untuk menjadi dodol jagung yang lezat.

Iklan

Pemikiran Pulau ODHA

Pulau ODHA
Oleh
HRM Tauhid-al-Amen, dr., MSc., DiplHPEd., AIF.
(Konselor HIV/AIDS, Muballigh senior.)
Adalah suatu kenyataan yang pahit bahwa sampai saat ini para ahli kesehatan se dunia belum ada yang berhasil mendapatkan obat untuk menghilangkan virus HIV ataupun yang benar-benar mampu menyembuhkan penyakit AIDS yang mematikan itu. Padahal dari waktu ke waktu jumlah penderita AIDS terkesan bukan berkurang, tetapi justru melonjak dengan cepat dan menakutkan, termasuk di Indonesia. Semua itu mengarah ke kebutuhan dana penanganan yang tak kecil, yang terkadang mengalahkan jumlah dana yang diperlukan untuk penanganan penyakit penting lainnya.
AIDS sebagai penyakit.
“Penyakit” AIDS (Ackquired Immuno-Deficiency Syndrome; Gejala Kekurangan Sistem Kekebalan-tubuh yang dapatan, bukannya keturunan) yang terlanjur salah kaprah disebut sebagai sekedar “gejala” (syndrome), meskipun sudah diyakini pasti bahwa ini sebenarnya adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang dikenali dengan sifat khasnya sebagai perusak sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini biasanya berjalan “lambat”, meskipun ada juga yang dengan cepat merebak dan segera menimbulkan kematian pada pengidapnya. Yang begini ini mematikan dalam waktu dua tahunan dengan proses yang “cepat”.
Jika berjalan lambat, penyakit ini baru mengantar ke kematian setelah pengidapnya terhuni oleh virus ini selama sekira 20 tahun ataupun lebih, yang di masa akhir-akhirnya memberikan kengerian penderitaan yang luar biasa.
Jika nyatanya obat belum mungkin menyembuhkan mereka, padahal pada saat akhir hidupnya dia memerlukan lebih banyak pertolongan, apa yang harus kita perbuat untuk mereka? Sejak awal-awalnya mulai merebaknya HIV/AIDS di
Indonesia seperempat abad yang lalu, para pegiat penanggulangan HIV/ AIDS sudah berulangkali menyampaikan bahwa penyebaran HIV/AIDS yang tak terkendali nantinya akan menghabiskan dana yang lebih besar dari dana
penanganan kesehatan secara umum, ataupun bahkan dapat mencapai angka yang melebihi belanja negara di luar bidang kesehatan.
Dalam tahap awal pengidap HIV/AIDS sepertinya “tdak memerlukan” apa-apa, karena dalam tahap itu dia tidak merasakan gangguan apapun, meskipun mungkin virus itu bersarang di tubuhnya sudah cukup lama. Ini berarti
sebenarnya orang seperti ini perlu diberitahu baik-baik perihal dirinya, misalnya bahwa dia dapat menulari orang lain. Selain itu dia perlu menyadari masa depan hidupnya, bahwa penyakitnya secara pasti akan berkembang, cepat ataupun lambat, menuju ke pemunculan secara utuh gejala-gejala hilangnya daya tahan tubuhnya. Pemberian pengertian seperti ini harus menjaga benar-benar agar penderita tidak berputus asa lalu bertindak nekat, mencelakan dirinya sendiri dengan bunuh diri, ataupun mencelakakan orang lain dengan lebih giat menularkan penyakitnya ke orang lain. Sangat beruntung dia jika dia memahami permasalahannya, bertaubat, lalu berupaya membaktikan sisa hidupnya untuk  membantu orang lain, antara lain membantu pengidap HIV/AIDS yang keadaannya sudah parah, yang mungkin dijauhi oleh masyarakat umum maupun keluarganya sendiri.
Bayangkan jika seorang pengidap HIV/AIDS dan mulai merasakan gangguan-gangguan ringan yang kian parah, menampakkan gangguan seperti adanya penyakit-penyakit lain (misalnya batuk, mencret, gatal) yang tak mau sembuh walaupun sudah sering berobat. Dalam keadaan seperti ini tidak jarang dia menjadi penyulit dalam kehidupan di keluarganya. Jika penyakitnya kemudian diketahui oleh orang lain, tidak mustahil dirinya dan keluarganya
menjadi dijauhi oleh masyarakat. Siapa yang akan menolong mereka? Tenaga kesehatan mungkin sesekali dapat membantunya; sukarelawan dari sejumlah LSM mungkin juga ada yang mengulurkan tangan untuk membantunya. Semua mereka yang membantu ini tak mungkin memberikan bantuannya sepenuh hati, sebab mereka pun tidak dapat lepas dari rasa takut tertulari walaupun mereka ini tahu pasti apa-apa yang memungkinkan penularan kepada diri mereka. Di sinilah akan sangat berarti peran seorang pengidap HIV/AIDS dalam membantu sesama pengidap; bantuan yang diberikannya tak terkendala lagi karena dia tak takut lagi tertulari! Dari bukti-bukti perhatiannya kepada sesama pengidap ini nantinya dapat diharapkan bahwa ketika dirinya sampai ke tahap munculnya AIDS seperti itu, maka sesama pengidap HIV/AIDS yang belum parah pun akan membantu dirinya juga. Di mana suasana yang seperti ini dapat berlangsung? Di rumah sakit mungkin ini tak akan terjadi karena birokrasi yang ada. Di suatu
perkampungan suasana seperti juga tak mungkin muncul karena keburu banyak orang tahu lalu kampung itu dijauhi orang; kampung di sekitarnya juga akan ditinggalkan orang karena takut.
Pulau ODHA

Mungkin tidak ada tempat yang dianggap “aman” oleh orang awam untuk menampung dan merawat penderita   HIV/AIDS pada semua tahapnya. Itu berarti bahwa jika suasana bantu-membantu seperti yang diuraikan di atas itu   dapat diterima, yang memadai, di mana semua itu dapat diterapkan? Untuk penanganan orang-orang  dengan    HIV/AIDS (ODHA) ini pemerintah perlu menyediakan satu pulau yang cukup luas di lingkungan laut yang bersahabat,  tenang,  yang tidak terlalu jauh dari daratan untuk cepatnya transportasi laut, untuk kemudahanan pasokan bahan-bahan yang diperlukan (misalnya sembako, air) untuk kehidupan sehari-hari penghuninya, ataupun juga   jika sewaktu-waktu sangat diperlukan di kala perlu tindakan darurat.  Kemudahan jangkauan ini juga memberi kemudahan bagi keluarga mereka kalau-kalau ada yang bermaksud menjenguk.  Kehidupan di sini tentu saja harus dilengkapi denan layanan kesehatan yang memadai, yang  ditangani secara profesional oleh para dokter maupun paramedis yang berdedikasi tinggi, yang menguasai benar permasalahan HIV/AIDS maupun pengidapnya. Untuk itu fasilitas kesehatan yang memadai juga perlu disediakan.

Kehidupan sosial di pulau itu diupayakan berlangsung seperti tatanan sosial kemasyarakatan pada umumnya, termasuk dengan adanya perangkat dasar pemerintahan maupun adanya perumahan maupun tersedianya sarana kehidupan beragama maupun hiburan; bahkan pernikahan sesama ODHA pun dapat dilakukan. Kegiatan pendidikan informal maupun non-formal juga diselenggarakan agar para pemikir ataupun remaja-remaja yang pandai juga dapat mengembangkan kemampuannya untuk berprestasi ataupun berproduksi dalam masa-masa “tenang” mereka. (Catatan: Virus HIV tak dapat bertahan lama hidup di produk mereka, sehingga produk mereka itu aman bagi orang lain).   Tidak mustahil dari Pulau ODHA seperti ini ditangani kegiatan di luar pulau dengan pemanfaatan jaringan internet (Tidak sedikit kegiatan bisnis berkomputer di Amerika Serikat yang pengerjaannya dilakukan oleh tenaga-tenaga mahir di India maupun pulau-pulau negara yang jauh dari benua Amerika, memanfaatkan keluasan jaringan internet global!). Tidak mustahil pula obat pembasmi HIV/AIDS dapat dimunculkan dari Pulau ODHA ini; semoga.

Siapa memulai?

Dalam bermasyarakat di kawasan yang bertata negara,  maka penanganan ODHA harus berdasarkan pada perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu maka para pejabat (baca: penguasa) negaralah yang harus memulai langkah mulia ini. Karena tidak semua pejabat yang terkait punya pemahaman yang cukup tentang HIV/AIDS ini, maka para pegiat pperlu banyak melakukan pendekatan-pendekatan tentang hal ini, termasuk gagasan untuk pengadaan dan pangnanan pulau ODHA ini. Para dermawan juga dituntut untuk tidak tinggal diam. Adalah suatu kebanggaan bahwa provinsi Jawa Timur dapat mulai merintis penyediaan satu atau dua pulau,  memilih dari pulau-pulau  di selat Madura.

Penutup.

Harus saya akui bahwa pemikiran kawasan khusus ODHA (baca: Pulau ODHA)  ini sudah beberapa tahun yang lalu saya hanya  saja waktu itu tanggapan terlalu kecil, karena permasalahan HIV/AIDS belum tampak separah seperti yang terekspos saat ini. Pemikiran ini merupakan pemikiran lanjut, yang saya  tak ingat lagi siapa yang memicu benih pemikiran ini . Semula pemikiran itu baru mengarah ke sekedar “Kampung ODHA”, yang terasa punya banyak kendala.

 

Revisi: 05 Des 2013

Pulau ODHA

Peringatan Hari HIV/AIDS adalah upaya dunia untuk menyadarkan manusia tentang penyakit yang “belum ada” obatnya ini. Secara menyeluruh perlu kita sadari kembali bahwa penyakit menular ini merupakan penyakit yang mematikan, dengan cepat ataupun lambat. Yang cepat penderitanya dapat meninggal dunia dalam waktu enam bulan saja, sedangkan yang lambat mungkin baru meninggal setelah lebih dari 25 tahun menderita; selama itu dia dapat menulari orang lain! Hilangnya daya tahan tubuh mengakibatkan penderitanya mudah terserang penyakit luar (kulit) maupun penyakit dalam (termasuk batuk-batuk dan mencret yang tak sembuh-sembuh); bahkan kangker pun mudah muncul padanya. Semua itu akan disertai dengan penderitaan sakit atau nyeri yang memilukan orang yang melihatnya; semua itu “tak ada” obatnya.Obat yang kinni dierikan kepada pengidap AIDS pada hakikatnya bukanlah untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi “hanya” untuk mengurangi penderitaanya. Infeksi ikutan yang ada diatasi dengan bantuan berbagai macam obat antibiotika taupun bakteriostatika. Gejala-gejala penyakit yang muncul diredakan dengan berbagai macam obat simptomatik. Vitamin-vitamin dan roboransia diberikan untuk membantu “menyegarkan” tubuhnya.

Apa yang harus kita lakukan? Hewan yang sakit parah dapat “diringankan” penderitaannya dengan membunuhnya. Pengidap HIV/AIDS tidak dapat diperlakukan demikian. Di sinilah antara lain perlunya kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. 
Mereka yang masih sehat berusaha untuk tidak tertulari dengan menjaga perilakunya, yang terlanjur sakit harus lebih mawas diri dan bermohon ampun kepada Allah, bertaubat. Pengidap HIV/AIDS perlu berusaha menyelamatkan orang lain dengan tidak menularkan penyakitnya. Ini dapat dilakukan dengan menjaga diri..Jika dia terkena HIV karena suntikan narkoba, di harus menghindari pemakaian alat suntik bersama. Jika berobat hindari penggunaan obat suntik; kalaulah suntikan tak bisa dihindari, harus disampaikan  kepada yang menyuntik bahwa dirinya pengidap HIV/AIDS. Dokter gigi yang merawatnya harus diberi tahu bahwa dirinya adalah ODHA. Begitu pulalah jika dia ke tukang potong rambut, sampaikan bahwa diirinya tidak menghendaki dicukur; cukupkan penggunaan gunting saja. Di dalam kehidupan rumah tangga pengidap HIV/AIDS sebaiknya menggunakan sendok dan garpu tersendiri yang keduanya harus dicuci dengan menggunakan bersih-bersih sabun agar kalaulah ada virus dari yang terbawa oleh cairan tubuh dari mulutnya yang terluka mati, tidak lagi menulari orang lain. Dalam kehidupan suami isteri  pasangan harus saling memahami untuk saling menjaga; pasangan harus tahu keadaan pasangannya dengan memberi tahu sendiri ataupun dengan bantuan konselor AIDS. Masa depan anak-anak harus dipersiapkan dengan baik menghindarkan mereka dari stress jika mengetahui keadaan orang tuanya, ataupun mengetahui keadaan dirinya sendiri jika ternyata juga sudah tertulari HIV/AIDS.

Pengidap HIV/AIDS  harus menyadari sepenuhnya jalan penyakit yang dideritanya itu, yaitu bahwa dari waktu ke waktu penyakitnya akan kian parah sampai akhir hidupnya, atau sampai ditemukannya obat yang benar-benar dapat menyembuhkannya. Oleh karena itu jika pengidap HIV/AIDS keadaanya  belum parah maka dia harus berusaha memanfaatkan benar potensi dirinya untuk mengisi sisa umurnya agar dirinya bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas. Jika dia dapat membayangkan bagaimana  nanti akhir  penyakitnya, maka ketika dia masih mampu berbuat, dia dapat membantu ODHA lainnya yang mungkin tak tertangani karena banyak orang takut mendekatinya, mudah-mudahan di kemudian hari ketika penyakitnya yang pasti kian parah itu nanti juga ada orang lain yang mencontohnya, lalu juga menolongnya. Semoga “pertaubataan” ini membuka ampunan Allah baginya, berupa berbagai macam pertolongan atau kemudahan dariNya. 

Kalaulah penyakit HIV/AIDS yang diderita oleh seseorang itu “bukan” karena kesalahannya (misalnya “hadiah” dari pasangannya, tertulari dari ibu yang melahirkannya) ataupun akibat lanjut dari tindakan operasi yang dijalaninya, penderita perlu untuk  dapat sabar atas musibah yang menimpanya; mungkin ini adalah ujian dari Allah, ataupun sarana permaafan Allah atas dosa dari kesalahan-kesalahannya yang lalu.

Dalam  keadaan masyarakat yang secara umum belum memahami hakikat permasalahan penyakit HIV/AIDS, sehingga pengidapnya dikucilkan, ada baiknya  difikirkan untuk menyediakan wilayah  khusus untuk menangani mereka ini. Di sini disediakan sarana penghidupan yang memadai, termasuk rumah sakit,  pasar, sarana hiburan maupun sekolah. Industri “sederhana” maupun pertanian diberi fasilitasnya; sarana komunikasi maupun transportasi juga tercukupi. Bahkan mereka yang punya ketrampilan dalam bidang teknologi informasi dapat membentuk perusahaan pengolahan data, menangani pekerjaan dari negara-negara maju (konon tidak sedikit perusahaan di negara maju yang pengolahan datanya dilakukan jarak jauh, di India!). Jika masyarakat umum masih sulit menyediakan area untuk ini, mungkin pemerintah dapat memilih dari sekian banyak pulau yang ada satu pulau untuk pelayanan ini sebagai “Pulau ODHA”,  yang di situ nanti terbentuk masyarakat yang menyatu dan saling membantu karena senasib.