Sayang Allah

Sayang Allah

 

Keadilan.

Mungkin kita pernah menjumpai orang orang baik, suka menolong orang, tidak mudah marah, tak suka mendendam; karena kebaikannya itu dia sering ditipu, “dimanfaatkan” oleh orang-orang jahat, sehingga kita melihat orang ini sampai matinyapun terkesan dalam keadaan sengsara. Sebaliknya, mungkin kita tahu ada oang yang suka menipu, jika memperoleh jabatan selalu menggunakan jabatannya untuk korupsi; walaupun demikian dia terlihat “bahagia” hidupnya, bahkan tak pernah terjerat oleh urusan hukum. Dia sangat lihai, sepertinya kebal hukum. Kalaulah ada orang yang melaporkan kejahatannya justru yang melapor itu yang masuk bui. Adilkah keadaan masyarakat yang demikian itu? Akan  begitu teruskah masyarakat kita itu? Lalu di manakah letak keadilan?

Dari sifat adilNya, Allah menentukan adanya kehidupan akhirat sebagai kelanjutan kehidupan di dunia; bentuk kehidupan ini diawali dengan adanya qiyamat, qiyamat kecil yang berupa kematian sedangkan berikutnya ada qiyamat besar dengan pengadilan di padang makhsyar nanti. Dalam pengadilan di hari qiyamat itu hakimnya adalah Allah sendiri; Allah itu seadil-adilnya hakim (QS 95:8). Allah tidak dapat disuap untuk memenangkan yang salah, ataupun disuap untuk mengalahkan yang benar.  Jika di pengadilan dunia ada saksi yang dibayar untuk membenarkan seseorang ataupun untuk mencelakakan seseorang,  di pengadilan Allah nanti tak ada saksi  yang dapat disuap. Saksi kuncinya adalah organ tubuhya sendiri; seseorang tak dapat berkilah atau mencari-cari alasan; mulutnya ditutup, tangan dan kakinyalah yang “melapor” apa yang telah diperbuat oleh seseorang (QS 36:65).  Semua keputusan Allah didasarkan pada kenyataan dalam rekaman para malaikat tang tersimpan di lauhul mahfudz, yang ada bagi masing-masing  individu. Dari pengadilan itu yang benar diberi ganjaran pahala surga, sedangkan yang salah akan mendapat  hukuman siksa neraka; semuanya sepadan dengan nilai perbuatannya dalam kehidupannya di dunia (QS 6:132); tidak ada yang dirugikan  (QS 40:17).

Allah itu Maha Penyayang. Sifat penyayangnya lebih dominan ketimbang murkaNya; murkaNya ini dapat menimbulkan bencana mendunia. Oleh karena Penyayangnya itu orang yang berbuat kebajikan dibalas  dengan pahala berlipat ganda (paling sedikit sepuluh kalinya), sedangkan jika orang berbuat salah hanya dihukumi satu saja ataupun bahkan dimaafkan jika mau betaubat (QS 4: 17-18); Allah penerima taubat (QS 6:54).

 

Allah menguji manusia.

Allah sudah menetapkan ketentuan umum bahwa manusia diciptakan untuk berada dalam “permasalahan”. Begitu lahir manusia sudah dihadapkan masalah kedinginan ketika dia pindah dari lingkungan enak dalam suhu hangat tubuh ibunya ke suhu luar yang mungkin terasa terlalu dingin baginya. Jika sebelum lahir seluruh kebutuhan zat gizi untuk tubuhnya dicukupi dari ibunya diangkut darah yang mengalir lewat tali pusatnya; sesudah talipusatnya dipotong dia akan merasakan haus dan lapar, padahal dia belum dapat berjalan untuk menuju kulkas ataupun lemari makan.

Ketika umur bertambah anak dituntut untuk dapat berbuat banyak agar nantinya mampu menghadapi   permasalahan-permasalahan dalam kehidupan ini. Dia dituntut untuk belajar dan belajar, yang di dalamnya kita juga dihadapkan kepada berbagai macam masalah juga: ujian ataupun ulangan.            

Semua kejadian dalam tahap-tahap kehidupan itu harus disikapi secara positip, bahwa semua itu adalah ujian. Jika kita telisik, kita tahu bahwa Allah terkadang menguji manusia dengan kesulitan, tetapi kadang-kadang Allah menguji dengan berbagai macam kesenangan (QS 21:35), semisal harta dan jabatan. Oleh Rasulullah Muhammad saw diberitahukan bahwa sikap yang positip itu akan selalu membawa kebaikan, karena setiap kesulitan disikapi dengan sabar yang berpahala, sedangkan setiap kesenangan disikapi dengan bersyukur yang mengundang kesenangan berikutnya.

Kebiasaan untuk bersyukur merupakan hal yang tak boleh diabaikan karena mengabaikannya dapat berujung petaka. Allah secara tegas menyebutkan: “Kalau kamu bersyukur pasti akan aku tambah nikmatku, tetapi jika kufur ingatlah bahwa sungguh siksaKu amatlah pedih” (QS 14:7).

Rasulullah Muhammad saw mengingatkan bahwa dua nikmat penting yang sering dilupakan orang adalah kesehatan dan waktu. Keduanya baru kita rasakan sebagai kenikmatan adalah ketika kehilangan keduanya, bersamaan ataupun tidak. Orang baru sadar betapa tingginya nilai kesehatan jika dia telah jatuh sakit; ketika begitu dia merasa tak dapat terbuat apa-apa. Begitu juga jika waktu yang tersedia buat kita telah habis, semisal sudah keburu tua karena melewatkan masa muda, kita baru merasa sudah tak dapat berbuat apa-apa lagi. Jika kesehatan mungkin dapat “dipulihkan” dengan berobat, waktu yang telah hilang tak dapat dikembalikan lagi!!!

Sikap terhadap orang tua.

Salah satu kesyukuran yang sering kita lupakan adalah bersyukur atas kebaikan orang tua, padahal kebaikan yang dilakukan oleh orang tua kita itu tak ternilai besarnya, kita tak mampu menghitungnya, sampai-sampai Rasulullah Muhammad saw menyebutkan:

“Kalaulah semua harta yang kamu miliki itu kamu serahkan kepada orang tuamu, itu tidaklah cukup sebagai balas budimu kepadanya, kecuali jika kamu menjumpai orang tuamu dalam keadaan sebagai budak lalu kamu menebus dengan hartamu untuk memerdekakannya”

Sekedar untuk bersikap yang benar terhadap orang tua adalah “menghargai” orang tua dengan menjaga sopan santun; semisal tidak boleh menunjukkan rasa tak suka kepada orang tua sehingga Allah dalam hal ini melarang seorang anak berucap “Ah” ketika ia tidak menyukai kata-kata orang tuanya. Bahkan kalaupun orang tua kita masih kafir, kita pun masih diperintahkan untuk mempergaulinya dengan penuh hormat dan kasih sayang (QS 17:23-24).

Dalam hal hubungan dengan orang tua ini lebih lanjut perlu kita fahami bahwa tidak jarang orang tua kita berpendapat yang berbeda dengan pendapat kita. Ini dapat terjadi karena sikap orang tua kita yang diwarnai oleh pola kehidupan di “tempo dulu”, sedangkan sikap kita telah diwarnai oleh pola kehidupan di masa kini yang mungkin dicemari oleh budaya sinetron, majalah porno, ataupun SMS “gaul”. Mungkin juga perbedaan pendapat seperti itu hanya karena kemampuan orang tua yang terbatas sehingga mereka tidak mampu menjelaskan kepada kita apa maunya, padahal mungkin yang dimaksud oleh orang tua kita itu benar, bahkan sejalan dengan apa yang kita maui. Di sinilah perlunya dijaga hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Akan lebih baik lagi jika kita dapat menjadikan suasana rumah keluarga kita sebagai sorga seperti yang disebutkan Rasulullah “Rumahku adalah surgaku”, sehingga kita betah di rumah.

Kasih sayang Allah itu berlimpah. Rasulullah menggambarkan jika misalnya semua kasih sayangNya dibayangkan sebagai sebanyak seratus bagian, dengan yang satu bagian saja Allah sudah menjadikan seekor induk hewan mau menyusui anaknya. Kita mudah memahami kalau Allah menyatakan bahwa tak ada seekor hewan yang melatapun yang tidak diberi rezeki oleh Allah (QS 11:6). Namun yang harus difahami lebih lanjut adalah bahwa rezeki itu tidak diberikan dalam benntuk seibarat sepiring nasi dengan lauk yang siap makan; rezeki diberikan setelah ada usaha.

Dalam hal  ini Allah menggambarkan secara sederhana dalam firmanNya:

“Dialah (Allah) yang menjadikan bumi penuh kemudahan untuk kalian.  Telusurilah seluruh pelosok penjurunya, dan makanlah dari yang direzekikanNya.” (QS 67:15).

 

Dalam memberi  rezeki ini Allah tidak membedakan apakah orang yang berusaha atau bekerja itu beriman ataukah tidak. Asalkan dia bersungguh-sungguh akan diberi sesuai dengan “jatah” yang disediakanNya. Kalaulah dalam usaha itu orang berorientasi untuk pendekatan diri kepada Allah (baca: berorientasi akhirat), maka dia akan diberi sukses dunia dan akhirat (QS 17:18). Sebaliknyalah jika dalam usahanya orang hanya berorientasi dunia, usahanya akan “sepenuhnya” diberi hasil usaha untuk kehidupan dunianya itu saja tanpa sedikitpun perolehan untuk kehidupan akhiratnya yang dilupakannya itu, yang telah menjadikannya mengabaikan ketentuan  Allah; baginya tak ada kaidah halal dan haram ataupun bahkan baginya tujuan menghalalkan cara, untuk mencapai tujuannya jalan apapun akan ditempuhnya tak peduli akan merugikan orang lain ataukah tidak. Orang yang seperti ini boleh dibilang lupa (baca juga: tidak mengakui adanya) kehidupan akhirat sehingga boleh dipastikan akan masuk neraka  (QS 17:17), jika tak sempat bertaubat.

Rasulullah Muhammad saw menyebutkan betapa besarnya kasih sayang Allah itu juga tampak sebagaimna Allah menyikapi orang yang mau memperbaiki dirinya; orang yang bertaubat dimaafkan dosanya, walaupun tertumpuk setinggi langit! Sikap orang yang mau memperbaiki diri akan disambut Allah dengan yang lebih besar. Digambarkan oleh Rasulullah: “Jika kamu mendekat sejengkal, Allah mendekat sehasta; jika kamu mendekat dengan berjalan, Allah menyambutmu dengan berlari!”                               

Sayang untuk  seluruh alam.

Pada dasarnya Allah menyerahkan seluruh alam ini kepada kita (QS 45:13), namun bukan untuk digunakan semau-maunya. Tugas kita adalah mengelolanya, menggunakannya dengan benar, seibarat Allah menyediakannya dengan penuh kesempunaan; ini terlihat dari bagaimana Allah memproklamasikan nabi  Adam kepada para malaikat dengan menyebutkan fungsi manusia sebagai khalifah (QS 2:30). Sejalan dengan itulah maka kita dapat memahami mengapa Rasulullah Muhammad saw dalam penugasannya oleh Allah disebutkan: ”Tidaklah Kami mengutus engkau kecuali hanyalah menjadi penebar kasih sayang untuk seluruh alam” (QS 21:107)

Sebagai tidak lanjut Rasulullah mengingatkan kita untuk bersikap proaktif dengan sabdanya:

“Sayangilah yang di bumi, niscaya kalian disayangi oleh Allah Yang di Langit”

Pengumuman hasil akhir ujian-ujian dalam seluruh kehidupan itu nanti ada di padang makhsyar, dihari qiyamat. Marilah kita coba merenungkan kembali, sejauh mana yang kita telah berhasil “menyelesaikan” ujian-ujian yang diberikan oleh Allah? Sudahkah pantas kita masuk surga?

Semoga uraian di atas ada manfaatnya untuk menjadikan kita pantas menjadi penghuni surga.

 

 

 

Rasyid Moh. Tauhid-al-Amien,

dr., MSc, DipHPEd., AIF, AIFO.

0 Responses to “Sayang Allah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: