Mengasah pisau dan kapak

Mengasah pisau dan kapak.

Ketika Idul Ad-ha sudah kian mendekat, jika Anda sudah lebih mempersiapkann diri dalam kegiatan penyembelihan ternak qurban, selain menyediakan ternak qurban Anda dapat mempersiapkan “senjata” utama dalam kegiatan itu: pisau dan kapak. Untuk itu keduanya harus diasah baik-baik, lebih-lebih pisau untuk penyembelih harus benar-benar tajam.

Pisau yang baik terbuat dari “baja” khas dengan ukuran dan bentuk bilah yang disesuaikan dengan peruntukannya . Bahkan ketebalannya sudah disesuaikan dengan dibentuk sedemikian rupa agar awet tajam dan mengasahnya “mudah”. Untuk mempertajam pisau ini yang paling sederhana adalah menggunakan batu pengasah. Walau batu pengasah kering dapat juga digunakan, namun lebih disukai menggunakan batu asahan yang dibasahi air ataupun minyak. Mengasah pisau secara benar adalah menajamkan mata pisau, bukannya menipiskan pisau; untuk inilah ketika mengasah itu punggung bilah pisau sedikit diangkat (membentuk sudut sekitar 30 derajat) sehingga yang termakan batu pengasah hanya mata pisaunya, bukan seluruh permukaan bilahnya. Yang harus “sedikit” ditekan adalah gerakan majunya, agak melengkung, seakan-akan hendak mengiris batu asah, bukannya ketika mundur; untuk gerakan mundurnya pisau dapat diangkat dari pengasah. Jika bukan untuk pisau tertentu, asahlah kedua belah sisinya secara seimbang.

Paling tidak ada enam macam tingkat kehalusan batu asah (compound sharpening stone) yang dikeluarkan oleh berbagai macam pabrik, dari yang agak kasar sampai ke yang halus;  makin tinggi kode angkanya menunjukkan makin halus. Selain itu ada juga dipasarkan batu asah yang “sangat” halus semisal yang disiapkan untuk pisau cukur ataupun pisau bedah; secara  lebih khusus lagi batu permata ruby (mirah) digunakan untuk lebih meningkatkan ketajaman katana, pedang kebanggaan para samurai.

Jika punya peralatan yang memadai, mengasah pisau dapat dimulai dengan menggunakan gerinda; gerinda ini digunakan untuk “meratakan” mata pisau semisal akibat pemakaian sebuah pisau untuk sesuatu yang terlalu keras sehingga mata pisau tidak rata lagi. Pisau yang terbuat dari baja “lunak” akan berkelok-kelok, sedangkan mata pisau yang terbuat dari baja “keras” akan “gopel” (terpatah-patah ataupun terkikis kasar).

Tergantung pada rencana penggunaan pisau itu, mata pisau akan diratakan secara menyeluruh ataukah hanya sedikit ditipiskan (dalam beberapa tahun terakhir ini juga dipasarkan pisau dengan mata pisau menyerupai mata gergaji yang tajam); salah satu model katana mempunyai mata pisau yang berkelok-kelok, tidak lurus rata. Sesudah perataan itu mata pisau dapat juga ditajamkan dengan gerinda terlebih dahulu, untuk kemudian lebih dipertajam lagi dengan menggunakan batu asahan dengan menggunakan batu asahan dengan berbagai kehalusannya, dimulai dengan yang paling kasar sampai ke yang paling halus, termasuk untuk katana samurai yang akhirnya “harus” diasah dengan batu ruby itu. Untuk yang tidak terlalu khusus, mungkin sudah memadai iika tahap akhirnya melengkapi penajamannya dengan “pengasah” yang berupa “sabuk” kulit yang ditaburi atau tidak dengan “debu intan” seperti yang dipakai oleh tukang cukur rambut untuk lebih menajamkan lagi pisau cukurnya. Ketajaman ini dilihat cukup dengan mengiriskan pisau pada sehelai kertas yang dipegang miring, walaupun ada yang mengujinya dengan gerakan mencukur rambut kaki (Hati-hati!!!). Konon untuk menguji ketajaman clurit Madura (bulu ayam) di gunakan kapas  yang diterbangkan lalu ditebas dengannya; jika kapas itu dapat terpotong berarti clurit sudah tajam.

Selain cara di atas itu untuk kemudahan untuk mengasah pisau dapat digunakan juga “kikir” khusus asahan yang berupa batang baja bulat pajang (disebut sebagai “steel oleh kalangan jagal dan penjual daging) , panjangnya sekitar 20-30 cm, bergaris tengah sekitar 1 cm di pangkalnya dan sedikit berkurang di ujungnya. Jika pada kikir “gigi” pengikisnya berarah miring, pada baja pengasah ini garis-garis pengikisnya ”sejajar” memanjang dari ujung ke pangkalnya. Untuk menajamkan pisau maka pisau digerakkan dari ujung ke arah pangkal sepertinya hendak “mengiris” baja pengasah ini. Selain itu ada juga dipasarkan pengasah yang terdiri dari dua pasang piringan-piringan  bulat (disc) baja keras, disusun berselang-seling sehingga pinggiran piringan yang berhadapan sepertinya membentuk sudut hampir 60 derajat. Mata pisau ditajamkan dengan cara mengikisnya dengan menarik dengan sedikit menekankannya di sudut antara kedua deretan piringan itu.

Masih ada lagi alat pengasah pisau yang dipasarkan, semisal batu asahan bulat yang dijepit dengan piringan  logam penuntun yang pada penggunaannya pengasah ini dipegang antara telunjuk dan ibu jari, lalu mata pisau ditarik lewat celah antara batu asah dengan piringan penuntun. Pengasah kecil juga ada yang berbentuk gerinda mini dengan motor listrik rumah ataupun baterai kecil. Bentuk-bentuk yang lainnya pasti ada lagi. Dalam keadaan terpaksa “pungung” pisau lipat ataupun bahkan “cutter”, pisau pembubut (tap), patahan porselen lantai, “kaki” piring, cawan, ataupun cangkir porselin juga dapat digunakan untuk menajamkan pisau yaitu dengan mengerok mata pisau ataupun menggesekkannya.

Untuk kapak pengasahan biasanya dimulai dengan menggunakan kikir untuk “meratakan” mata kapak yang tidak rata, kemudian menajamkan mata kapak menggunakan batu asahan. Jika ada batu asahan yang bulat atau lebar akan lebih baik yaitu dengan menggosok tepi mata kapak dengan gerakan “berputar” seperti ketika menggosokkan kain ke permukaan meja yang kotor. Untuk ini yang harus digosok adalah tepi mata kapak, yang harus benar-benar tampak tergosok yaitu dengan meletakkan kapak pada punggungnya sehingga mata kapak tampak jelas karena menjadi terletak di sebelah atas. Untuk ini dapat juga kapak dibaringkan miring dengan sudut 60-70 derajat lalu menggosok mata kapak dengan batu pengasah yang dipegang horizontal. Jika menggunakan batu asah yang panjang, dapat juga dilakukan dengan menggerakkan kampak itu maju seperti hendak mengikis batu asahan itu; perhatikan kemiringan bilah kapak agar yang terkikis itu adalah mata kapak, bukan permukaan bilahnya yang luas itu!  Cara ini juga dapat diterapkan pada pisau yang besar.  

Revisi: 28/9/2013; 20/8/2015

0 Responses to “Mengasah pisau dan kapak”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: