Arsip untuk September, 2013

Jika lingkungan mengancam

130924

Jika lingkungan mengancam.

Bismi ‘l-lahi ‘r-rahmani ‘r-rahiem.

 

Kenyataan di lingkungan di sekitar kita kadang-kadang membuat kita sepertinya tak dapat berbuat apa-apa; permasalahan yang ada demikian besarnya: kemungkaran. Permasalahan yang besar ini tidak boleh dibiarkan jika kita tidak ingin munculnya permasalahan yang lebih besar lagi, yang oleh Allah SwT kita telah diingatkan dengan firmanNya:

 

WASPADALAH TERHADAP MUNCULNYA BENCANA UMUM, YANG TIDAK HANYA DITIMPAKAN ATAS MEREKA YANG BERBUAT ANIAYA DARI KALIAN ITU SAJA..” (QS al-Anfal [8]: 25)

 

 

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sebenarnya Allah juga sudah memberi petunjuk kepada kita dalam menghadapi permasalahan-permasalahan, apalagi jika permasalahan itu besar:

 

BEKERJASAMALAH DALAM URUSAN KEBAIKAN DAN TAQWA, JANGANLAH BEKERJA SAMA DALAM PERBUATAN DOSA ATAUPUN PERMUSUHAN” (QS al-Maidah [5]:2)

 

Kerja sama memerlukan kesefahaman, yang harus diawali dengan saling kenal untuk saling percaya. Di sinilah antara lain pentingnya silaturakhim.

 

Untuk efektifnya suatu kerja sama diperlukan pimpinan yang dapat diturut, yang punya keberanian dari wewenang yang dimilikinya untuk berbuat, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah SaW dalam sabdanya:

 

Siapapun yang melihat kemungkaran di sekelilingnya, haruslah dia mengatasinya dengan tangan kekuasaannya. Kalau tak sanggup untuk ini, maka dengan bicaranya (dengan mulutnya ataupun dengan tulisannya.) Kalau untuk yang begini juga tak sanggup, maka hendaklah dengan hatinya (baca: semangat dan doanya); hanya saja yang ini merupakan pertanda selemah-lemahnya iman” (HSR Ahmad, Muslim, Arba’in)

 

Mencegah kemungkaran memang “tidak mudah” banyak risikonya, apalagi jika kemungkaran itu sudah merebak luas dan pelakunya merupakan kelompok yang “penguasa” yang tidak kecil lagi; di sinilah mudah kita fahami bahwa mereka yang punya kekuasaan karena jabatannya berpeluang untuk lebih mudah untuk menjalankan pencegahan kemungkaran. Adapun yang lebih mudah atau kecil risikonya adalah jika hanya sekedar ber-”amar ma’ruf”. Namun perlu juga digarisbawahi bahwa pejuang yang ber-”nahi munkar” itu jika sampai terbunuh dia tergolong yang mati syahid!

 

Bagaimanapun juga amar ma’ruf nahi munkar harus kita lakukan seawal mungkin, jangan sampai terlambat, sebagaimana Rasulullah telah mengingatkan kita dengan sabdanya:

 

Pilih, kalian melakukan amar ma’ruf nahi munkar, ataukah Allah akan membiarkan musuh-musuh kalian menguasai kalian, yang kemudiannya kalaupun orang-orang baik kalian memohon bantuan kepada Allah tidaklah dikabulkan lagi”.(HHR Thabrani)

 

Semoga kita masih mampu untuk berbuat untuk ber-”amar ma’ruf, nahi munkar” sehingga kita dan anak-cucu terselamatkan dari keadaan yang tidak kita inginkan.

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292

 

Iklan

Mengasah pisau dan kapak

Mengasah pisau dan kapak.

Ketika Idul Ad-ha sudah kian mendekat, jika Anda sudah lebih mempersiapkann diri dalam kegiatan penyembelihan ternak qurban, selain menyediakan ternak qurban Anda dapat mempersiapkan “senjata” utama dalam kegiatan itu: pisau dan kapak. Untuk itu keduanya harus diasah baik-baik, lebih-lebih pisau untuk penyembelih harus benar-benar tajam.

Pisau yang baik terbuat dari “baja” khas dengan ukuran dan bentuk bilah yang disesuaikan dengan peruntukannya . Bahkan ketebalannya sudah disesuaikan dengan dibentuk sedemikian rupa agar awet tajam dan mengasahnya “mudah”. Untuk mempertajam pisau ini yang paling sederhana adalah menggunakan batu pengasah. Walau batu pengasah kering dapat juga digunakan, namun lebih disukai menggunakan batu asahan yang dibasahi air ataupun minyak. Mengasah pisau secara benar adalah menajamkan mata pisau, bukannya menipiskan pisau; untuk inilah ketika mengasah itu punggung bilah pisau sedikit diangkat (membentuk sudut sekitar 30 derajat) sehingga yang termakan batu pengasah hanya mata pisaunya, bukan seluruh permukaan bilahnya. Yang harus “sedikit” ditekan adalah gerakan majunya, agak melengkung, seakan-akan hendak mengiris batu asah, bukannya ketika mundur; untuk gerakan mundurnya pisau dapat diangkat dari pengasah. Jika bukan untuk pisau tertentu, asahlah kedua belah sisinya secara seimbang.

Paling tidak ada enam macam tingkat kehalusan batu asah (compound sharpening stone) yang dikeluarkan oleh berbagai macam pabrik, dari yang agak kasar sampai ke yang halus;  makin tinggi kode angkanya menunjukkan makin halus. Selain itu ada juga dipasarkan batu asah yang “sangat” halus semisal yang disiapkan untuk pisau cukur ataupun pisau bedah; secara  lebih khusus lagi batu permata ruby (mirah) digunakan untuk lebih meningkatkan ketajaman katana, pedang kebanggaan para samurai.

Jika punya peralatan yang memadai, mengasah pisau dapat dimulai dengan menggunakan gerinda; gerinda ini digunakan untuk “meratakan” mata pisau semisal akibat pemakaian sebuah pisau untuk sesuatu yang terlalu keras sehingga mata pisau tidak rata lagi. Pisau yang terbuat dari baja “lunak” akan berkelok-kelok, sedangkan mata pisau yang terbuat dari baja “keras” akan “gopel” (terpatah-patah ataupun terkikis kasar).

Tergantung pada rencana penggunaan pisau itu, mata pisau akan diratakan secara menyeluruh ataukah hanya sedikit ditipiskan (dalam beberapa tahun terakhir ini juga dipasarkan pisau dengan mata pisau menyerupai mata gergaji yang tajam); salah satu model katana mempunyai mata pisau yang berkelok-kelok, tidak lurus rata. Sesudah perataan itu mata pisau dapat juga ditajamkan dengan gerinda terlebih dahulu, untuk kemudian lebih dipertajam lagi dengan menggunakan batu asahan dengan menggunakan batu asahan dengan berbagai kehalusannya, dimulai dengan yang paling kasar sampai ke yang paling halus, termasuk untuk katana samurai yang akhirnya “harus” diasah dengan batu ruby itu. Untuk yang tidak terlalu khusus, mungkin sudah memadai iika tahap akhirnya melengkapi penajamannya dengan “pengasah” yang berupa “sabuk” kulit yang ditaburi atau tidak dengan “debu intan” seperti yang dipakai oleh tukang cukur rambut untuk lebih menajamkan lagi pisau cukurnya. Ketajaman ini dilihat cukup dengan mengiriskan pisau pada sehelai kertas yang dipegang miring, walaupun ada yang mengujinya dengan gerakan mencukur rambut kaki (Hati-hati!!!). Konon untuk menguji ketajaman clurit Madura (bulu ayam) di gunakan kapas  yang diterbangkan lalu ditebas dengannya; jika kapas itu dapat terpotong berarti clurit sudah tajam.

Selain cara di atas itu untuk kemudahan untuk mengasah pisau dapat digunakan juga “kikir” khusus asahan yang berupa batang baja bulat pajang (disebut sebagai “steel oleh kalangan jagal dan penjual daging) , panjangnya sekitar 20-30 cm, bergaris tengah sekitar 1 cm di pangkalnya dan sedikit berkurang di ujungnya. Jika pada kikir “gigi” pengikisnya berarah miring, pada baja pengasah ini garis-garis pengikisnya ”sejajar” memanjang dari ujung ke pangkalnya. Untuk menajamkan pisau maka pisau digerakkan dari ujung ke arah pangkal sepertinya hendak “mengiris” baja pengasah ini. Selain itu ada juga dipasarkan pengasah yang terdiri dari dua pasang piringan-piringan  bulat (disc) baja keras, disusun berselang-seling sehingga pinggiran piringan yang berhadapan sepertinya membentuk sudut hampir 60 derajat. Mata pisau ditajamkan dengan cara mengikisnya dengan menarik dengan sedikit menekankannya di sudut antara kedua deretan piringan itu.

Masih ada lagi alat pengasah pisau yang dipasarkan, semisal batu asahan bulat yang dijepit dengan piringan  logam penuntun yang pada penggunaannya pengasah ini dipegang antara telunjuk dan ibu jari, lalu mata pisau ditarik lewat celah antara batu asah dengan piringan penuntun. Pengasah kecil juga ada yang berbentuk gerinda mini dengan motor listrik rumah ataupun baterai kecil. Bentuk-bentuk yang lainnya pasti ada lagi. Dalam keadaan terpaksa “pungung” pisau lipat ataupun bahkan “cutter”, pisau pembubut (tap), patahan porselen lantai, “kaki” piring, cawan, ataupun cangkir porselin juga dapat digunakan untuk menajamkan pisau yaitu dengan mengerok mata pisau ataupun menggesekkannya.

Untuk kapak pengasahan biasanya dimulai dengan menggunakan kikir untuk “meratakan” mata kapak yang tidak rata, kemudian menajamkan mata kapak menggunakan batu asahan. Jika ada batu asahan yang bulat atau lebar akan lebih baik yaitu dengan menggosok tepi mata kapak dengan gerakan “berputar” seperti ketika menggosokkan kain ke permukaan meja yang kotor. Untuk ini yang harus digosok adalah tepi mata kapak, yang harus benar-benar tampak tergosok yaitu dengan meletakkan kapak pada punggungnya sehingga mata kapak tampak jelas karena menjadi terletak di sebelah atas. Untuk ini dapat juga kapak dibaringkan miring dengan sudut 60-70 derajat lalu menggosok mata kapak dengan batu pengasah yang dipegang horizontal. Jika menggunakan batu asah yang panjang, dapat juga dilakukan dengan menggerakkan kampak itu maju seperti hendak mengikis batu asahan itu; perhatikan kemiringan bilah kapak agar yang terkikis itu adalah mata kapak, bukan permukaan bilahnya yang luas itu!  Cara ini juga dapat diterapkan pada pisau yang besar.  

Revisi: 28/9/2013; 20/8/2015

Amal yang berkembang

130917

 Amal yang berkembang.

(Multiplying actions)

 

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

 

Secara sederhana dapat kita gambarkan bahwa keikhlasan kita akan meningkatkan nilai amal kita, sehingga nilainya bukan hanya dua, sepuluh, tujuh ratus, tetapi menjadi tak terhingga, bahkan tak ada berhentinya karena tak terukur lagi. Oleh karena itulah seibarat berinvestasi kita dapat memilih jalur mana yang hendak kita ambil.

 Semisal kita punya uang seratus ribu rupiah yang siap untuk kita infaq-kan. Kalau uang itu kita serahkan langsung kepada seorang pengemis mungkin saja kita langsung mendapat nilai sepuluh. Jika uang itu kita serahkan kepada seorang mahasiswa kita dengan pesan agar diserahkan kepada pengemis yang semula hendak kita beri shadaqah, nilainya berpeluang naik oleh “bonus” karena kita dengan cara itu juga mengajari mahasiswa itu untuk berinfaq. Misalnya saja kemudiannya mahasiswa itu setelah lulus dan “berkedudukan” juga berinfaq dengan lima ratus ribu karena mencontoh kita, maka Allah SwT akan memberi kita bonus senilai lima ratus ribu, sama dengan pahala yang diterima mantan mahasiswa itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala si mahasiswa itu. Jika mantan mahasiswa itu juga melakukan hal yang sama dengan yang telah kita “ajarkan” kepadanya kepada banyak orang, maka mantan mahasiswa itu akan mendapat “banyak” pahala dengan bonus seperti yang kita peroleh tadi itu … dan kita pun akan mendapat tambahan dan tambahan bonus yang tak dapat kita perhitungkan lagi banyaknya selama masih ada yang meneruskan “cara” itu sampai hari kiamat nanti. Begitulah gambaran sederhana pahala bagi orang kreatif ataupun perintis, yang “mudah” dilakukan oleh orang yang berilmu ataupun orang yang punya harta, yang menyadari adanya potensi yang diberikan Allah kepada dirinya.

 Lebih lanjut perlu kita ingat kembali apa yang sudah diingatkan oleh Allah kepada kita dalam firmanNya:

 DAN CARILAH DARI APA-APA YANG TELAH DIBERIKAN ALLAH KEPADAMU SANGU BUAT HIDUPMU DI KAMPUNG AKHIRAT, TANPA MELUPAKAN NASIBMU DI DUNIA” (QS al-Qashash [28]:77)

 

Dalam kaitan ini lebih lanjut perlu juga kita perhatian peringatan (warning) yang telah diberikan oleh Rasulullah saw agar kita tidak kehilangan peluang:

 Perhatikan untuk dapat memanfaatkan lima hal sebelum datangnya lima hal penggantinya:(1) hidupmu sebelum matimu, (2) sehatmu sebelum sakit, (3) waktu senggangmu sebelum sibuk,(4) masa mudamu sebelum tua, (5) kayamu sebelum miskin” (HSR Hakim, Baihaqi, Ahmad, Abu Nu’aim).

 “Apabila manusia (anak Adam) mati, maka terputuslah semua peluang pahala beramalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah (penyerahan harta untuk kemanfaatan umum), ilmu yang manfaatnya dapat diambil darinya, dan anak shalih yang mendoakannya” (HHR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i)

 Semoga kita dapat memanfaatkan peluang yang masih diberikan Allah kepada kita, yang dengannya kita berharap keadaan ummat Islam kian membaik dengan lebih cepat.

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292

 

Proyek di BKM.

Pemikiran lanjut proyek di BKM.

Untuk “memulai” suatu usaha pada dasarnya orang dapat numpang nama (mengikuti produk yang sudah terkenal), memulai produk baru, ataupun melakukan inovasi.  Untuk yang pertama itu misalnya menjual bakso di area yang sudah terkenal ada atau banyak penjual bakso, dengan harapan ada juga yang membeli bakso padanya; untuk ini harus ada keunggulan dibandingkan dengan bakso yang sudah ada.  Untuk yang kedua misalnya mulai menjual soto di wilayah yang banyak pendjual bakso, dengan harapan bagi yang sudah jemu dengan bakso dapat beralih ke soto yang ditawarkannya. Untuk yang ke tiga misalnya menawarkan bakso kotak, bakso goreng, ataupun bakso ikan di kawasan penjual bakso. Semua itu memang bukan tanpa tantangan, termasuk tantangan dari mereka yang merasa tersaingi. Oleh karena itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan setiap langkah hendaklah selalu didasarkan pada fastabiqul khairat (for a better service), bukannya untuk mematikan usaha orang lain.

 

Dari gagasan “kasar” yang mungkin asal tulis oleh sebagian peserta kajian BKM dalam Perpala yang lalu ada yang dapat dilakukan secara perseorangan ataupun beberapa orang semisal yang akan jual bakso goreng,  tahu campur, es tape, kopi joss; bentuk ini peluang berkembangnya biasaanya lambat. Adapun yang  berbentuk pengolahan untuk produk, yang melibatkan banyak orang akan berpeluang untuk lebih cepat berkembang luas, semisal produksi emping garut, sambal pecel, kripik tempe, criping pisang, pertanian, dengan pola produsi maupun pemasaran yang tepat. Semua itu dapat dimulai dengan modal yang tidak terlalu besar ataupun patungan. Di sisi lain tampaknya ada yang memang pandangan jauh ke depan sehingga memikirkan untuk melakukan kegiatan yang biasanya bukan lagi skala kecil, semisal ternak sapi, ternak kambing etawa, yang memerlukan modal besar; walaupun dalam skala kecilnya dapat berupa “pemeliharaan” hewan ternak yang dapat dilakukan secara perseorangan. itu semua yang difikirkan oleh  para pandu Penghela; pandu  Penuntut pasti punya ide yang lebih luas lagi. 

 

Untuk pemasaran dalam bentuk sederhananya dapat dilakukan dalam bentuk langsung menggelar dagangan ataupun menjajakan produk dari satu tempat ke tempat lain. Untuk yang lebih maju dapat menggunakan selebaran, poster, ataupun spanduk. Yang lebih maju lagi dapat menggunakan jalur internet ataupun iklan komerisal, dengan ataupun tanpa memberikan contoh (sample). Jalur persyarikatan juga dapat digunakan, semisal kordinasi lewat koperasi di persyarikatan ataupun jalur antar Kwarda.

 

Pada prinsipnya mereka yang punya kesamaan minat (5-40 orang) dapat dikordinasikan oleh KwarCab, KwarDa, ataupun KwarWil untuk dapat belajar atau berlatih bersama dengan ataupun tanpa meggunakan nara sumber maupun sarana dari luar. Bahan pelajaran untuk pelatihan dapat diperoleh dari koran, majalah, ataupun buku terkait yang dapat dijumpai di perpustakaan, instansi tekait, ataupun jaringan internet.

 

Menggairahkan Bina Karya Mandiri

Menggairahkan BKM

Secara sederhana Bina Karya Mandiri (BKM) adalah wadah bagi pandu peghela dan penuntun untuk memperoleh tambahan pengetahuan, ketrampilan, kecakapan dan pengalaman yang dapat memberikan sejumlah bekal kemampuan untuk menghasilkan uang guna kehidupannya berkeluarga dan bermasyarakat kelak, yang juga memberikan bekal bagi pengabdiannya pada persyarikatan, tanah air, dan bangsa.

 

Di dalam Perkemahan Besar Pandu Penghela (Perpala) HW Kwartir Wilayah Jawa Timur 3-5 September 2013 yang lalu peserta diajak berfikir untuk memanfaatkan lembaga BKM dalam struktur HW, dengan penekanan segi praktisnya, yaitu sebagai sarana pelatihan untuk belajar mencari uang. Setelah diuraikan latar belakang adanya BKM ini, yang digambarkan bahwa tidak sedikit kegiatan-kegiatan yang terkesan kecil, tetapi jika ditangani dengan sungguh-sungguh akan dapat menghasilkan uang. Diingatkan bahwa di tiap daerah pasti ada peluang untuk usaha ini, yang berpangkal pada adanya produk unggulan daerah ataupun adanya kebutuhan daerah lain yang perlu untuk dipenuhi, yang secara menyeluruh merupakan kegiatan perekonomian. Dari beberapa Kwarda eserta ada yang cukup sadar akan potensi yang ada di daerahnya maupun pada dirinya, lalu mampu mulai berfikir untuk mengembangkan berbagai usaha ataupun untuk berproduksi.

 

Para peserta yang telah berfikir untuk usaha di lingkungan Kwardanya:

Nganjuk: Bakso goreng, nasi campur (di sekolah), es tape, es ketan hitam, ternak sapi , jual daging, emping garut, nasi becek, bakso bakar, kopi joss, tahu campur, sambal pecel, susu kedelai, kripik tempe, kripik belut, kripik tahu, getuk pisang, kripik singkong, krupuk puli, cenil, samplok, teh rosela.

Bojonegoro: Ledre, batik Bojonegoro, minyak tanah, kayu jati, paving stone, krupuk, marning,, perdagangan sapi, kebun singkong, olahan singkng, ternak kelinci, ternak kambing etawa,

 Trenggalek: Pindang ikan (sentra ikan laut), kresek/abon, kripik tempe, alen-alen, buah-buahan (manggis, durian, salak), cengkeh, bakso ikan, ikan bakar, gathot

Jember: Ceriping pisang, gethuk, tape, suwar-suwir, cewel, tembakau, krupuk singkong, susu kedelai, rempeyek

Blitar: Baju batik, sari kedelai rasa baru, dessert dari tahu, empek-empek rsa keju, obat herbal

Banyuwangi: Tanaman hias, minuman sehat (yoghurt, nata de coco), krupuk rambak, hijab syar’i modern

Pacitan: Kripik singkong, sale pisang, bakso super Pacitan, onde-onde, kopi

Sidoarjo: Ote-ote potong, kupang lontong, rujak cingur, tahu campur, onde-onde, ceker pedas Lapindo

 Situbondo: Batik Situbodo (Selowogo), kerajinan kulit kerang, produk olahan ikan, tanglur, rujak kelangan

Malang:  Kripik tempe, kripik buah, sari apel, bakso, tahu bulat, lalapan

Gresik: singkong keju, jamur krispi, martabak, nasi krawu, batagor, siomay

Ngawi: Kripik tempe, pabrik tahu, batik Ngawi, air minum (isi ulang?), marning, kripik singkong

 

Ada juga yang “hanya” berorientasi pada langkah-langkah awal dengan mengemukakan pengadaan warung makan tempe penyet, pabrik roti, nasi goreng, bakso bakar.

Secara menyeluruh pemikiran anak-anak muda di atas itu potensiil, artinya tidak sedikit orang yang sudah berhasil dalam usaha semacam itu; ada yang cukup dilakukan secara perseorangan, berkelompok, berkoperasi, ataupun ada yang memang harus dilakukaan dalam suatu perusahaan besar. Kwarcab, Kwarda , ataupun Kwarwil dapat membantu mereka dengan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang telah berhasil di bidang itu dalam bentuk kegiatan kursus, pelatihan, ataupun bentuk magang bersama, dikemas dalam krida Bina Karya Mandiri.

Mudah-mudahan para peserta Perpala itu dapat menentukan pilihan utamanya untuk dibahas lebih rinci nantinya, seperti yang telah ditugaskan kepada mereka.

 

Secara lebih lengkap ide-ide untuk BKM ini nanti insya Allah akan saya sajikan di https://tauhid.wordpress.com