Shalat sebagai kebutuhan

130606

 Shalat sebagai kebutuhan.

 Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

 Saya masih terharu setiap teringat apa yang disampaikan anak saya yang waktu itu sedang menuntut ilmu di fakultas dakwah; di bilang “Shalat sebagai kebutuhan, bukan kewajiban”. Saya tidak menanyakan dari mana dia dapat ungkapan itu ataupun maknanya; namun saya dapat memahami kebenarannya, walaupun pasti sulit diterima oleh sebagian orang, lebih-lebih lagi bagi orang munafik.   

 Pada hakikatnya shalat memang kewajiban, karena ada perintahnya. Karena shalat ini perintah maka mudah kita fahami bahwa ada yang menurut ada pula yang membangkang; jika ditelusuri lebih lanjut ini mungkin karena menyadari perihal kedekatannya kepada Allah, karena keterpaksaannya, ataupun karena hal yang lainnya. Namun jika kita perhatian sasaran shalat bahwa shalat akan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, maka shalat akan merupakan kebutuhan; jika orang ingin selamat dari melakukan kekejian ataupun dari melakukan kemungkaran, maka dia perlu menjalani shalat.

 BACALAH APA YANG TELAH DIWAHYUKAN KEPADAMU, YAITU AL-KITAB (AL-QURAN) DAN DIRIKANLAH SHALAT. SESUNGGUHNYA SHALAT ITU MENCEGAH DARI (PERBUATAN-PERBUATAN) KEJI DAN MUNGKAR. DAN SESUNGGUHNYA MENGINGAT ALLAH (SHALAT) ADALAH LEBIH BESAR (KEUTAMAANNYA DARI IBADAT-IBADAT LAIN). DAN ALLAH MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN. (Surah al-‘Ankabut [29] ayat 45)

 Apapun alasannya, shalat bermanfaat bagi manusia; paling tidak ini sudah merupakan kepatuhan terhadap perintah Allah, Penguasa seluruh alam, yang mencipta manusia disertai dengan segala pedoman hidupnya. Namun jika ingin memperoleh lebih, maka mutu pelaksanaan shalat haruslah ditingkatkan.

 Seburuk-buruk shalat yang seibarat “rubuh-rubuh gedhang” (Jw., sekedar mengikuti gerakan imam)sudah boleh, diterima oleh Allah. Untuk pendekatan diri kepada Allah, maka harus difahami bahwa shalat pada hakikatnya adalah doa; orang harus sadar sepenuhnya apa yang diminta dalam doanya itu, orang harus tahu makna apa yang dibaca. Untuk ini setidak-tidaknya orang harus faham bahwa shalat itu pendekatan diri kepada Allah dengan tata cara menjalankannya secara benar, menuruti apa-apa yang diperintahkanNya; selanjutnya sesudah shalat itulah barulah dia berdoa. Dengan melakukan ritual shalat itu, dia merasa telah dekat kepada Allah, maka dia lalu menyampaikan permasalahan yang dihadapinya dan mengajukan permintaan dengan bahasanya sendiri yang dia menjiwainya.

 Lebih jauh lagi, jika orang ingin selamat dari melakukan kekejian ataupun dari melakukan kemungkaran, maka dia perlu menjalani shalat dengan penuh pengertian. Bacaan shalatnya bukan sekedar melafalkan bacaan shalat, tetapi mengucapkan kata-kata dengan penuh kesadaran, memahami apa bacaan yang keluar dari mulutnya; setiap kata ataupun kalimat. Orang yang sudah mampu menjalankan shalat seperti ini akan selalu mengkaitkan dirinya dengan Allah.

 Orang seperti itu tidak hendak berfikir tentang yang tidak dimaui oleh Allah, tetapi berfikir bagaimana mensyukuri semua apa yang telah diberikan oleh Allah dengan memanfaatkan sebaik-baiknya. Dia tidak mau melakukan hal-hal terlarang; dia berusaha melaksanakan yang benar dalam pandangan Allah. Untuk itu semua dia selalu berusaha meningkatkan pemahaman diri, sehingga semisal kalaupun tak ada orang yang melihat dia tidak mau melakukan pelanggaran karena dia yakin Allah selalu memperhatikan dirinya. Orang seperti ini tidak akan melakukan korupsi walaupun peluang terbuka baginya….

Semoga kita sudah dapat merasakan bahwa shalat sudah menjadi kebutuhan yang perlu kita lakukan, bukannya sekedar kewajiban yang kita harus melakukannya. Semoga dengannya kita terjaga diri.

 

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

                                    e-mail: tauhidHW@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

0 Responses to “Shalat sebagai kebutuhan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: