Arsip untuk Mei, 2013

Alat pendingin tanpa listrik

Alat pendingin tanpa listrik.

Kalau kita melihat gambar-gambar masjid “tempo doeloe” kita akan melihat bahwa di dalamnya “selalu” ada kolam dengan atau tanpa tanaman. Kolam ini bukan untuk berwudhu, tetapi sebagai pendingin ruangan. Bahkan literatur ada yang menyebutkan bahwa di daerah padang pasir kolam seperti ini pun dapat dikembangkan sampai bukan hanya mendinginkan ruangan tetapi  untuk menghasilkan es tanpa aliran listrik. Ini dimungkinkan dengan mengalirkan udara kering berhembus menyapu permukaan air, menguapkan air itu. Untuk penguapan ini perlu panas, ini diperoleh dari “mengambil” panas dari air itu (baca:  mendinginkannya), prinsip yang sama dengan lemari pendingin (refrigerator) ataupun pembeku (freezer). Air dalam “kendi” (Jw., “teko” dari tembikar, tanah liat yang dibakar)  juga dingin segar untuk diminum karena pendinginan oleh penguapan air yang merembes ke luar.

Pernah (lebih dari 40 tahun yang lalu) ada penghargaan internasional atas “alat pendingin” tanpa listrik yang untuk digunakan di Afrika. Bahan makanan yang disimpan di dalamnya menjadi mampu bertahan cukup segar lebih dari 24 jam (suhu rendah menghambat pembusukan).  Alat pendingin ini terdiri wadah yang ditaruh di dalam wadah yang lebih besar (sebangsa genthong, Jw.) bertutup,  yang bagian bawahnya terendam air di nampan dasarnya (tatakan) sehingga dinding ini selalu basah. Dinding wadah terluar itu dapat diberi lubang-lubang untuk meningkatkan aliran udara, memperbaiki pendinginan.

Iklan