Untuk selamat di saat qiyamat

121225  Untuk selamat di saat qiyamat

Bismi ‘l-lahi ‘r-rahmani ‘r-rahiem.

Tidak dapat disangkal bahwa berita tentang qiyamat cukup menarik. Orang pun banyak  yang mereka-reka kapan dan bagaimana qiyamat itu akan terjadi. Ummat Islam sebenarnya sudah diingatkan oleh Rasulullah Muhammad saw. bahwa saat qiyamat sudah “dekat” dengan menunjukkan sejumlah tanda-tandanya. Namun Rasulullah juga  memberikan gambaran bahwa “kedekatan” ke saat qiyamat itu relatif dalam artian bahwa selama masih ada orang yang menyembah Allah SwT, maka qiyamat “pasti” belum akan diberlakukan oleh Allah.

Yang lebih perlu kita perhatikan terkait dengan qiyamat itu adalah bahwa qiyamat itu merupakan “pengadilan” bagi manusia, untuk menilai apakah seseorang pantas masuk surga ataukah harus ke neraka (meskipun ada yang di situ hanya “sementara”). Catatan sejarah hidupnya (track record) dibuka, lalu diperhitungkan nilainya. Secara sederhana hal ini digambarkan Allah dalam firmanNya:

 DAN DILETAKKANLAH KITAB (seibarat NetBook, yang berisi file-file data sejarah hidup seseorang, termasuk videonya), LALU KAMU AKAN MELIHAT ORANG-ORANG YANG BERSALAH KETAKUTAN TERHADAP APA YANG (TEREKAM) DI DALAMNYA, DAN MEREKA BERKATA: “ADUHAI CELAKA KAMI, KITAB APAKAH INI YANG TIDAK MENINGGALKAN YANG KECIL DAN TIDAK (PULA) YANG BESAR, MELAINKAN IA MENCATAT SEMUANYA; DAN MEREKA DAPATI APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN ADA (TERTULIS)… (Surah al-Kahfi [18] ayat 49)

 

Walaupun Allah maupun RasulNya berulang kali juga menyebutkan “siksaNya sangat pedih”, yang juga menggambarkan betapa hebat beberapa dari macam siksaan neraka itu, namun Allah juga menegaskan:

 

…DAN TUHANMU TIDAK MENGANIAYA SEORANG JUAPUN (siksa itu adalah balasan atau akibat dari perbuatan manusia sendiri)”. (Surah al-Kahfi [18] ayat 49)

 

SESUNGGUHNYA ALLAH  TIDAK  MENGANIAYA  SESEORANG  WALAUPUN   SEBESAR ZARRAH; DAN JIKA ADA KEBAJIKAN SEBESAR ZARRAH, NISCAYA ALLAH AKAN MELIPAT GANDAKANNYA DAN MEMBERIKAN DARI SISINYA PAHALA YANG BESAR. (Surah an-Nisa’ [4] ayat 40)

 

Bahkan di ayat di atas Allah menunjukkan sifatNya “Kasih-sayangNya lebih besar dari murkaNya”, maka Allah pun “menggali” kebaikan-kebaikan ataupun peluang permaafan atas apa yang dilakukannya. Oleh karena itulah balasan atas “kebaikan” manusia dihargai berlipat ganda paling tidak 10 kali, 700 kali, ataupun “tak terhingga”; bahkan niat baik saja sudah dinilai 1. Adapun kesalahan atau dosa dicatat dengan satu nilai saja, ataupun bahkan nilai dosa itu akan dihapus jika si pelaku bertaubat. Semua itu lewat proses, yang tak ada kecurangan pembuktian maupun persaksian di dalamnya, antara lain digambarkan Allah:

 

PADA HARI INI KAMI TUTUP MULUT MEREKA; DAN BERKATALAH KEPADA KAMI TANGAN MEREKA DAN MEMBERI KESAKSIANLAH KAKI MEREKA TERHADAP APA YANG DAHULU MEREKA USAHAKAN. (Surah Ya Sin [36] ayat 65)

 

AKAN DIBERI KABAR KEPADA MANUSIA DI HARI ITU APA YANG TELAH DIKERJAKANNYA DAHULU ITU (di dunia) DAN APA PULA YANG DILALAIKANNYA. (Surah al-Qiyamah [75] ayat 13)

 

KAMI AKAN MEMASANG TIMBANGAN YANG TEPAT PADA HARI KIAMAT, MAKA TIADALAH DIRUGIKAN SESEORANG BARANG SEDIKITPUN. DAN JIKA (AMALAN ITU) HANYA SEBERAT BIJI SAWIPUN PASTI KAMI MENDATANGKAN (PAHALA)NYA. DAN CUKUPKAH KAMI MENJADI ORANG-ORANG YANG MEMBUAT PERHITUNGAN. (Surah al-Anbiya’ [21] ayat 47)

 

 

Begitulah saat-saat yang masing-masing kita akan mengalami, yang kita dituntut untuk mempersiapkan diri untuk menjalaninya. Walaupun “qiyamat besar” mungkin masih akan “lama” seolah-olah kita masih dapat berleha-leha, namun ada “qiyamat kecil” (baca: kematian) yang kita tidak tahu kapan datang, yang masa menjelangnya merupakan kesempatan “singkat” yang kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Marilah kita berusaha menambah amal baik kita, meninggalkan amal buruk, marilah kita bertaubat atas amal buruk kita yang lalu.

 

 

Semoga Allah masih memberi kita kesempatan berbenah diri.

 

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

0 Responses to “Untuk selamat di saat qiyamat”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: