Arsip untuk Desember, 2012

Untuk selamat di saat qiyamat

121225  Untuk selamat di saat qiyamat

Bismi ‘l-lahi ‘r-rahmani ‘r-rahiem.

Tidak dapat disangkal bahwa berita tentang qiyamat cukup menarik. Orang pun banyak  yang mereka-reka kapan dan bagaimana qiyamat itu akan terjadi. Ummat Islam sebenarnya sudah diingatkan oleh Rasulullah Muhammad saw. bahwa saat qiyamat sudah “dekat” dengan menunjukkan sejumlah tanda-tandanya. Namun Rasulullah juga  memberikan gambaran bahwa “kedekatan” ke saat qiyamat itu relatif dalam artian bahwa selama masih ada orang yang menyembah Allah SwT, maka qiyamat “pasti” belum akan diberlakukan oleh Allah.

Yang lebih perlu kita perhatikan terkait dengan qiyamat itu adalah bahwa qiyamat itu merupakan “pengadilan” bagi manusia, untuk menilai apakah seseorang pantas masuk surga ataukah harus ke neraka (meskipun ada yang di situ hanya “sementara”). Catatan sejarah hidupnya (track record) dibuka, lalu diperhitungkan nilainya. Secara sederhana hal ini digambarkan Allah dalam firmanNya:

 DAN DILETAKKANLAH KITAB (seibarat NetBook, yang berisi file-file data sejarah hidup seseorang, termasuk videonya), LALU KAMU AKAN MELIHAT ORANG-ORANG YANG BERSALAH KETAKUTAN TERHADAP APA YANG (TEREKAM) DI DALAMNYA, DAN MEREKA BERKATA: “ADUHAI CELAKA KAMI, KITAB APAKAH INI YANG TIDAK MENINGGALKAN YANG KECIL DAN TIDAK (PULA) YANG BESAR, MELAINKAN IA MENCATAT SEMUANYA; DAN MEREKA DAPATI APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN ADA (TERTULIS)… (Surah al-Kahfi [18] ayat 49)

 

Walaupun Allah maupun RasulNya berulang kali juga menyebutkan “siksaNya sangat pedih”, yang juga menggambarkan betapa hebat beberapa dari macam siksaan neraka itu, namun Allah juga menegaskan:

 

…DAN TUHANMU TIDAK MENGANIAYA SEORANG JUAPUN (siksa itu adalah balasan atau akibat dari perbuatan manusia sendiri)”. (Surah al-Kahfi [18] ayat 49)

 

SESUNGGUHNYA ALLAH  TIDAK  MENGANIAYA  SESEORANG  WALAUPUN   SEBESAR ZARRAH; DAN JIKA ADA KEBAJIKAN SEBESAR ZARRAH, NISCAYA ALLAH AKAN MELIPAT GANDAKANNYA DAN MEMBERIKAN DARI SISINYA PAHALA YANG BESAR. (Surah an-Nisa’ [4] ayat 40)

 

Bahkan di ayat di atas Allah menunjukkan sifatNya “Kasih-sayangNya lebih besar dari murkaNya”, maka Allah pun “menggali” kebaikan-kebaikan ataupun peluang permaafan atas apa yang dilakukannya. Oleh karena itulah balasan atas “kebaikan” manusia dihargai berlipat ganda paling tidak 10 kali, 700 kali, ataupun “tak terhingga”; bahkan niat baik saja sudah dinilai 1. Adapun kesalahan atau dosa dicatat dengan satu nilai saja, ataupun bahkan nilai dosa itu akan dihapus jika si pelaku bertaubat. Semua itu lewat proses, yang tak ada kecurangan pembuktian maupun persaksian di dalamnya, antara lain digambarkan Allah:

 

PADA HARI INI KAMI TUTUP MULUT MEREKA; DAN BERKATALAH KEPADA KAMI TANGAN MEREKA DAN MEMBERI KESAKSIANLAH KAKI MEREKA TERHADAP APA YANG DAHULU MEREKA USAHAKAN. (Surah Ya Sin [36] ayat 65)

 

AKAN DIBERI KABAR KEPADA MANUSIA DI HARI ITU APA YANG TELAH DIKERJAKANNYA DAHULU ITU (di dunia) DAN APA PULA YANG DILALAIKANNYA. (Surah al-Qiyamah [75] ayat 13)

 

KAMI AKAN MEMASANG TIMBANGAN YANG TEPAT PADA HARI KIAMAT, MAKA TIADALAH DIRUGIKAN SESEORANG BARANG SEDIKITPUN. DAN JIKA (AMALAN ITU) HANYA SEBERAT BIJI SAWIPUN PASTI KAMI MENDATANGKAN (PAHALA)NYA. DAN CUKUPKAH KAMI MENJADI ORANG-ORANG YANG MEMBUAT PERHITUNGAN. (Surah al-Anbiya’ [21] ayat 47)

 

 

Begitulah saat-saat yang masing-masing kita akan mengalami, yang kita dituntut untuk mempersiapkan diri untuk menjalaninya. Walaupun “qiyamat besar” mungkin masih akan “lama” seolah-olah kita masih dapat berleha-leha, namun ada “qiyamat kecil” (baca: kematian) yang kita tidak tahu kapan datang, yang masa menjelangnya merupakan kesempatan “singkat” yang kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Marilah kita berusaha menambah amal baik kita, meninggalkan amal buruk, marilah kita bertaubat atas amal buruk kita yang lalu.

 

 

Semoga Allah masih memberi kita kesempatan berbenah diri.

 

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

Iklan

Untuk menyimpan banyak file, gunakan @Dropbox.

Jika perlu banyak ruang untuk menyimpan file, gunakan @Dropbox. Sign up secara cuma-cuma (FREE) dengan masuk ke  http://db.tt/jGds9MqV

Memohon terselamatkan dari siksa neraka

121204   Memohon terselamatkan dari siksa neraka.

 

 

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Kita mungkin tidak pernah melupakan untuk berdoa dengan doa yang sangat populer lafadznya: “Rabbana atina .……dan seterusnya”. Ketika membaca doa itu tidak mustahil kita luput dari menjiwai apa yang kita minta, bahwa kita bermohon dengan rangkaian kalimat:

 

Ya Tuhan kami, Penguasa dan Pengatur seluruh alam, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungi kami dari siksa neraka.” (Qur’an, Surat al-Baqarah [2] ayat 201)

Doa di atas itu mengandung banyak makna dan banyak jangkauan, yang karena banyaknya kita menjadi tak dapat merincinya lagi. Bayangkan apa yang kita harap dengan memohon “kebaikan di dunia”; mungkin ada yang memohon kekayaan, pangkat, jabatan, rumah, kendaraan, pasangan hidup, kesehatan, dan lainnya lagi yang bernilai “baik”, termasuk hal-hal yang tak masuk akal semisal orang cebol yang bermohon untuk menjadi jangkung. Ketika kita memohon “kebaikan di akhirat”, mungkin sulit bagi kita membayangkan apa yang kita minta, kecuali bahwa kita bermohon untuk mencapai puncak kenikmatan di akhirat: hidup di surga (dengan kata lain bukan di neraka!). Lalu mengapa harus ditambahkan : “lindungi kami dari siksa neraka”. Di sinilah antara lain kita dapat merenungkan betapa adilnya Allah, yang mengingatkan hambaNya untuk teliti dalam berbuat.

Semua yang dilakukan maupun difikirkan manusia ada terekam dalam “buku” yang tersimpan rapi, yang inputnya dimasukkan lewat “jalur” malaikat dalam kendali Allah SwT, sehingga mungkin saja malaikat  “salah entry” yang kemudian dikoreksi oleh Allah, semisal orang dilaporkan malaikat teramati sebagai dermawan, mungkin dicatat terkoreksi oleh Allah sebagai “pendusta” karena dia berderma bukan karena Allah namun karena cari muka.

Bagi yang telah terbiasa “bermain” komputer dapat membayangkan betapa banyak data tulis, gambar diam, maupun gambar hidup yang dapat dimasukkan sebagai rekaman dalam komputer mungil buatan manusia yang terkenal dengan sebutan “tablet” itu; rekaman Allah pasti jauh-jauh lebih banyak menampung data dengan kwalitas superprima.

Begitulah, maka pada pengadilan di hari qiyamat nanti diperhitungkanlah atau “ditimbang” semua amal manusia dan akalnya, yang baik maupun yang buruk, termasuk keburukan-keburukan atau dosa yang telah terkoreksi dan terhapus dengan taubat. Hasilnya ada orang yang langsung masuk ke dalam surga, ada yang langsung masuk neraka, ada pula yang untuk sampai ke surga harus “diproses” dulu di neraka dalam masa yang “pendek” (cepat) ataupun yang lambat. Dapat dicatat bahwa “proses pembersihan” yang paling ringan tergambarkan sebagai orang yang berdiri di bata yang membara, yang hantaran (konduksi) panasnya telah dapat menjadikan otaknya mendidih lantaran tingginya suhu bata yang membara itu. Padahal di neraka itu orang tidaklah mati walaupun dalam penderitaan ataupun kesakitan yang sangat, yang lebih hebat dari sekedar gambaran itu; sedangkan sehari di sana lebih panjang ketimbang 5000 tahun lama waktu dunia.

Semoga kita dengan taat melaksanakan perintah Allah, serta banyak melakukan kebajikan sebagai penghapus dosa, ataupun dengan segera bertaubat jika kita tersalah langkah, kita tidak lagi menyisakan dosa pada diri agar kita tidak sekejappun merasakan siksa neraka.

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292