Menjadikan al-Qur’an sebagai obat.

121103    Menjadikan al-Qur’an sebagai obat.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

DAN KAMI TURUNKAN DARI AL-QURAN ITU SUATU YANG MENJADI PENAWAR (OBAT) DAN RAHMAT BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN; DAN AL-QURAN ITU TIDAKLAH MENAMBAH KEPADA ORANG-ORANG YANG ZALIM SELAIN KERUGIAN. (Surah al-Isra’ [17] ayat 82)

 

Firman Allah di atas secara sederhana menggambarkan bahwa al-Qur’an adalah obat, namun kita perlu memahami sejauh mana al-Qur’an itu menjadi obat. Tidak sedikit orang yang karena kesederhanaan ataupun keterbatasan kemampuan pemikirannya lalu menganggap bahwa al-Qur’an itu merupakan obat seperti halnya ramu-ramuan dedaunan ataupun obat-obatan yang jika diminum akan menyembuhkan penyakit. Maka orang yang seperti ini ada yang lalu menuliskan ayat-ayat al-Qur’an pada secarik kertas (ada yang menuliskan berbagai huruf al-Qur’an) lalu merendamnya ataupun membakarnya dan memasukkan abunya ke segelas air untuk kemudian diminumkan kepada orang yang sakit. Ada pula yang memahami bahwa yang dimaksud ayat itu adalah “bunyi” ayatnya, maka diapun membacakan ayat-ayat atau surat tertentu ketika bermaksud “menyembuhkan” suatu penyakit.

 

Jika kita telaah lebih lanjut kita juga akan mendapati ayat lain yang “sedikit” lebih jelas memberikan pengertian perihal bahwa al-Qur’an sebagai obat, yaitu:

 

HAI MANUSIA, SESUNGGUHNYA TELAH DATANG KEPADAMU (YAITU AL-QUR’AN) PELAJARAN DARI TUHANMU,  DAN PENYEMBUH BAGI PENYAKIT-PENYAKIT (YANG BERADA) DALAM DADA, DAN PETUNJUK, SERTA RAHMAT BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN. (Surah Yunus [10] ayat 57)

 

Di saat ayat-ayat al-Qur’an diturunkan, ilmu kedokteran belumlah banyak berkembang. Oleh karena itu jika Allah swt menyebutkan “penyakit-penyakit di dalam dada” perlu kita fahami bahwa itu bukanlah berarti bahwa ayat-ayat al-Qur’an jika dibacakan ataupun abu kertas yang berisi tulisan ayat yang dibakar akan dapat menyembuhkan penyakit tuberkulosis yang menyerang paru-paru, sakit asma yang menyesakkan dada, ataupun yang sedang terkena serangan jantung. Al-Maraghi menjelaskan antara lain bahwa al-Qur’an itu bisa untuk menyembuhkan orang dari kebodohan dan kesesatan, serta menghilangkan penyakit-penyakit keraguan dan kemunafikan, penyelewengan, dan anti Tuhan.

 

Gambaran di atas dapat kian jelas jika kita fahmkan lebih jauh dari firman Allah di surat yang lain:

 

DAN JIKALAU KAMI JADIKAN AL-QURAN ITU SUATU BACAAN DALAM BAHASA SELAIN BAHASA ARAB TENTULAH MEREKA MENGATAKAN: “MENGAPA TIDAK DIJELASKAN AYAT-AYATNYA?” APAKAH (PATUT AL-QURAN) DALAM BAHASA ASING SEDANG (RASUL ADALAH ORANG) ARAB? KATAKANLAH: ” AL-QURAN ITU ADALAH PETUNJUK DAN PENAWAR BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN. DAN ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN PADA TELINGA MEREKA ADA SUMBATAN, SEDANG  AL-QURAN ITU SUATU KEGELAPAN BAGI MEREKA. MEREKA ITU ADALAH (SEPERTI) ORANG-ORANG YANG DIPANGGIL (DISERU) DARI TEMPAT YANG JAUH”. (Surah al-Fushilat [41] ayat 44)

 

Orang-orang yang tidak beriman tidak dapat memperoleh manfaat dari al-Qur’an yang dibaca masa itu karena dia tidak dapat mendengarnya, tidak dapat mengambil makna dari ayat-ayat yang dibaca orang, ataupun yang digambarkan oleh Allah seperti “orang-orang yang diseru dari tempat yang jauh”. Ketika ayat-ayat al-Qur’an dibaca di masa itu, orang-orang yang tak beriman itu pastilah langsung memahami maksudnya, karena al-Qur’an dengan bahasa yang sudah difahaminya. Namun karena setiap kali mereka mendengar satu ayat al-Qur’an yang dibaca lalu “ditolaknya”, mereka justru semakin jauh dari iman, semakin kafir kepada Allah karena “hati” mereka tertutup rapat. Jadi orang yang diharapkan memperoleh manfaat dari al-Qur’an itu perlu “menangkap” makna ayat-ayat al-Qur’an yang didengarnya ataupun dibacanya. Bagaimana halnya dengan kita?

 

Kita juga tidak akan memperoleh “manfaat jauh” dari al-Qur’an jika kita tidak menangkap maksudnya. Jadi jika kita tidak (ataupun tidak mau berusaha dengan berbagai cara ataupun fasilitas yang ada masa ini) untuk memahami maknanya, maka kita tidaklah berbeda jauh dengan orang-orang yang tidak beriman itu, walaupun kita sudah akan mendapat pahala ketika membaca ataupun mendengarkan bacaan al-Qur’an meskipun tanpa tahu maknanya.

 

Semoga kita benar-benar tersadarkan dari “kesalahan umum” ummat kita yaitu bahwa tidak memahami makna ayat-ayat al-Qur’an, agar kita lalu terbangkitan untuk berbenah diri, untuk segera melangkah dengan benar: kaji al-Qur’an.

 

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana (2 MB): “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

 

0 Responses to “Menjadikan al-Qur’an sebagai obat.”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: