Arsip untuk November, 2012

Terkadang dakwah “tak berhasil”

121124    Terkadang dakwah “tak berhasil”!

 Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Orang-orang musyrik merupakan salah satu kelompok sasaran dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Tidak sedikit upaya yang telah dilakukan oleh Rasulullah, namun tantangan dan hambatan demikian kuat sehingga seolah-olah upaya beliau tak berhasil; padahal sebagian dari orang-orang musyrik itu sebenarnya masih juga kerabat Rasulullah. Mereka tetap bersikukuh mempertahankan keyakinan mereka, meskipun sebenarnya mereka itu tak faham atas yang diyakini itu; mereka hanya ikut-ikutan kepada kebiasaan nenek-moyangnya. Secara manusiawi, wajar jika hal ini menimbulkan rasa sedih atau kecewa, seperti yang digambarkan oleh Allah SwT dalam firmanNya:

 

MAKA BARANGKALI KAMU AKAN MEMBUNUH DIRIMU KARENA BERSEDIH HATI SESUDAH MEREKA BERPALING, SEKIRANYA MEREKA TIDAK BERIMAN KEPADA KETERANGAN INI (AL-QURAN). (Surah al-Kahfi [18] ayat 6)

 

Kita pun tidak mustahil berperasaan seperti Rasulullah ketika merasa tak berhasil sesudah berusaha berdakwah, mau meluruskan kesalahan sikap orang jauh ataupun orang dekat (keluarga sendiri). Jikapun kita nyatanya mengalami yang seperti itu kita perlu segera ingat pada apa yang kemudian dijelaskan oleh Allah untuk menenangkan hati Rasulullah:

 

BUKANLAH KEWAJIBANMU MENJADIKAN MEREKA MENDAPAT PETUNJUK, AKAN TETAPI ALLAHLAH YANG MEMBERI PETUNJUK (MEMBERI TAUFIK)  SIAPA  YANG DIKEHENDAKINYA… (Surah al-Baqarah [2] ayat 272)

 

Secara lebih tegas Allah menyebutkan:

 

MAKA APAKAH ORANG YANG DIJADIKAN (TERTIPU OLEH SYAITAN) MENGANGGAP BAIK PEKERJAANNYA  YANG BURUK LALU DIA MEYAKINI PEKERJAAN ITU  BAIK, (SAMA DENGAN ORANG YANG TIDAK DITIPU OLEH SYAITAN)? MAKA SESUNGGUHNYA ALLAH MENYESATKAN  SIAPA  YANG  DIKEHENDAKINYA  DAN  MENUNJUKI  SIAPA  YANG DIKEHENDAKINYA; MAKA JANGANLAH DIRIMU BINASA KARENA KESEDIHAN TERHADAP  MEREKA. SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG MEREKA PERBUAT.  (Surah al-Fathir [35] ayat 8)

 

Secara sederhana dapatlah kita fahami bahwa tugas risalah (penyampaian) Islam sebagai bimbingan hidup manusia adalah kewajiban Rasulullah. Tugas ini kemudian diteruskan kepada kita sebagai pengikutnya dan penerus risalahnya. Namun tugas ini bukanlah tugas yang HARUS berhasil; tugas itu hanyalah SEKEDAR kewajiban berupaya, berhasil ataukah tidak bukanlah wewenang kita. Tugas kita hanya pemberi peringatan, sebagaimana Allah juga mengingatkan RasulNya:

 

MAKA BERILAH PERINGATAN, KARENA SESUNGGUHNYA KAMU HANYALAH PEMBERI PERINGATAN (21); KAMU BUKANLAH ORANG YANG BERKUASA ATAS MEREKA (22) (Surah al-Ghasyiyah [88] ayat 21-22)

 

 

Bahkan Allah juga sudah menegaskan tak boleh ada paksaan untuk beragama Islam:

 

TIDAK ADA  PAKSAAN UNTUK (MEMASUKI) AGAMA  (ISLAM);  SESUNGGUHNYA TELAH JELAS JALAN YANG BENAR DARI PADA JALAN YANG SALAH… (Surah al-Baqarah [2] ayat 256)

 

Lebih lanjut yang perlu juga kita fahami adalah bahwa kegiatan dakwah masih tetap harus kita lakukan masing-masingnya, bukannya tugas para dai (pendakwah) saja; estafet tugas dakwah ini secara sederhanya disampaikan oleh Rasulullah dengan kalimat sederhana: “Sampaikan yang dariku, walau hanya satu ayat!”.

 

Semoga kita dapat melaksanakan tugas amanah dakwah ini, kepada orang dekat kita (keluarga) maupun mereka yang dapat kita jangkau, sesuai dengan peluang yang ada pada kita masing-masing.

 

 

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidHW@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

Rezeki berbagi

121107  Rezeki berbagi

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Ketika orang-orang kafir di sekitar Rasulullah Muhammad saw meminta bukti-bukti untuk mereka mau beriman, yaitu minta diadakannya kebun-kebun yang subur dengan sumber airnya, Allah swt menyuruh Rasulullah apa yang terdapat di ayat 100 surat al-Isra’ [17]:

KATAKANLAH: “KALAU SEANDAINYA KAMU MENGUASAI PERBENDAHARAAN-PERBENDAHARAAN RAHMAT TUHANKU, NISCAYA PERBENDAHARAAN ITU KAMU TAHAN,KARENA TAKUT MISKIN (MEMBELANJAKANNYA)”. DAN ADALAH MANUSIA ITU SANGAT KIKIR. (Surah al-Isra’ [17] ayat 100)

Kalaulah orang-orang kafir itu mampu mengumpulkan banyak harta dengan menempuh cara menurut sunnatullah (bekerja keras), pastilah harta yang pada hakikatnya perbendaharaan Allah itu akan ditahan mereka. Sebenarnya orang-orang kafir itu (maupun manusia lainnya, termasuk yang mukmin) tidak akan dapat menghabiskan perbendaharaan Allah, karena perbendaharaan Allah tak akan kosong, tak akan habis selama-lamanya. Orang tak perlu bakhil, takut miskin asalkan mau berusaha sesuai dengan sunnatullah. Namun perlu kita fahami bahwa jika Allah tidak mengabulkan orang yang ingin kaya, dan sudah berusaha untuknya, itu bukanlah karena Allah yang kikir. Semua itu hanya karena Allah dengan hikmahNYa memang membagi rezekiNya tidak selalu sama pada orang satu dan lainnya. Semua itu untuk “menyelamatkan” manusia, karena dengan banyaknya harta di tangan mereka ada kecenderungan besar buat mereka untuk berbuat salah. Oleh karena itu untuk kemaslahatan manusia dan sesuai dengban hikmahNya, maka Allah terkadang meluaskan rezekiNya pada suatu kaum dan menyempitkannya pada kaum yang lain.

 

SESUNGGUHNYA TUHANMU MELAPANGKAN REZKI KEPADA SIAPA YANG DIA KEHENDAKI DAN MENYEMPITKANNYA; SESUNGGUHNYA DIA MAHA MENGETAHUI LAGI MAHA MELIHAT AKAN HAMBA-HAMBANYA. (Surah al-Isra’ [17] ayat 30)

 

DAN JIKALAU ALLAH MELAPANGKAN REZKI KEPADA HAMBA-HAMBANYA TENTULAH MEREKA AKAN MELAMPAUI BATAS DI MUKA BUMI, TETAPI ALLAH MENURUNKAN APA YANG DIKEHENDAKINYA DENGAN UKURAN. SESUNGGUHNYA DIA MAHA MENGETAHUI (KEADAAN) HAMBA-HAMBANYA LAGI MAHA MELIHAT.  (Surah asy-Syura [42] ayat 27)

 

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mampu memahami adanya perbedaan rezeki pada orang satu dan lainnya, lalu bersikap dengan benar berkelapangan bersyukur,berkesempitan bershabar.

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

Menjadikan al-Qur’an sebagai obat.

121103    Menjadikan al-Qur’an sebagai obat.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

DAN KAMI TURUNKAN DARI AL-QURAN ITU SUATU YANG MENJADI PENAWAR (OBAT) DAN RAHMAT BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN; DAN AL-QURAN ITU TIDAKLAH MENAMBAH KEPADA ORANG-ORANG YANG ZALIM SELAIN KERUGIAN. (Surah al-Isra’ [17] ayat 82)

 

Firman Allah di atas secara sederhana menggambarkan bahwa al-Qur’an adalah obat, namun kita perlu memahami sejauh mana al-Qur’an itu menjadi obat. Tidak sedikit orang yang karena kesederhanaan ataupun keterbatasan kemampuan pemikirannya lalu menganggap bahwa al-Qur’an itu merupakan obat seperti halnya ramu-ramuan dedaunan ataupun obat-obatan yang jika diminum akan menyembuhkan penyakit. Maka orang yang seperti ini ada yang lalu menuliskan ayat-ayat al-Qur’an pada secarik kertas (ada yang menuliskan berbagai huruf al-Qur’an) lalu merendamnya ataupun membakarnya dan memasukkan abunya ke segelas air untuk kemudian diminumkan kepada orang yang sakit. Ada pula yang memahami bahwa yang dimaksud ayat itu adalah “bunyi” ayatnya, maka diapun membacakan ayat-ayat atau surat tertentu ketika bermaksud “menyembuhkan” suatu penyakit.

 

Jika kita telaah lebih lanjut kita juga akan mendapati ayat lain yang “sedikit” lebih jelas memberikan pengertian perihal bahwa al-Qur’an sebagai obat, yaitu:

 

HAI MANUSIA, SESUNGGUHNYA TELAH DATANG KEPADAMU (YAITU AL-QUR’AN) PELAJARAN DARI TUHANMU,  DAN PENYEMBUH BAGI PENYAKIT-PENYAKIT (YANG BERADA) DALAM DADA, DAN PETUNJUK, SERTA RAHMAT BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN. (Surah Yunus [10] ayat 57)

 

Di saat ayat-ayat al-Qur’an diturunkan, ilmu kedokteran belumlah banyak berkembang. Oleh karena itu jika Allah swt menyebutkan “penyakit-penyakit di dalam dada” perlu kita fahami bahwa itu bukanlah berarti bahwa ayat-ayat al-Qur’an jika dibacakan ataupun abu kertas yang berisi tulisan ayat yang dibakar akan dapat menyembuhkan penyakit tuberkulosis yang menyerang paru-paru, sakit asma yang menyesakkan dada, ataupun yang sedang terkena serangan jantung. Al-Maraghi menjelaskan antara lain bahwa al-Qur’an itu bisa untuk menyembuhkan orang dari kebodohan dan kesesatan, serta menghilangkan penyakit-penyakit keraguan dan kemunafikan, penyelewengan, dan anti Tuhan.

 

Gambaran di atas dapat kian jelas jika kita fahmkan lebih jauh dari firman Allah di surat yang lain:

 

DAN JIKALAU KAMI JADIKAN AL-QURAN ITU SUATU BACAAN DALAM BAHASA SELAIN BAHASA ARAB TENTULAH MEREKA MENGATAKAN: “MENGAPA TIDAK DIJELASKAN AYAT-AYATNYA?” APAKAH (PATUT AL-QURAN) DALAM BAHASA ASING SEDANG (RASUL ADALAH ORANG) ARAB? KATAKANLAH: ” AL-QURAN ITU ADALAH PETUNJUK DAN PENAWAR BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN. DAN ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN PADA TELINGA MEREKA ADA SUMBATAN, SEDANG  AL-QURAN ITU SUATU KEGELAPAN BAGI MEREKA. MEREKA ITU ADALAH (SEPERTI) ORANG-ORANG YANG DIPANGGIL (DISERU) DARI TEMPAT YANG JAUH”. (Surah al-Fushilat [41] ayat 44)

 

Orang-orang yang tidak beriman tidak dapat memperoleh manfaat dari al-Qur’an yang dibaca masa itu karena dia tidak dapat mendengarnya, tidak dapat mengambil makna dari ayat-ayat yang dibaca orang, ataupun yang digambarkan oleh Allah seperti “orang-orang yang diseru dari tempat yang jauh”. Ketika ayat-ayat al-Qur’an dibaca di masa itu, orang-orang yang tak beriman itu pastilah langsung memahami maksudnya, karena al-Qur’an dengan bahasa yang sudah difahaminya. Namun karena setiap kali mereka mendengar satu ayat al-Qur’an yang dibaca lalu “ditolaknya”, mereka justru semakin jauh dari iman, semakin kafir kepada Allah karena “hati” mereka tertutup rapat. Jadi orang yang diharapkan memperoleh manfaat dari al-Qur’an itu perlu “menangkap” makna ayat-ayat al-Qur’an yang didengarnya ataupun dibacanya. Bagaimana halnya dengan kita?

 

Kita juga tidak akan memperoleh “manfaat jauh” dari al-Qur’an jika kita tidak menangkap maksudnya. Jadi jika kita tidak (ataupun tidak mau berusaha dengan berbagai cara ataupun fasilitas yang ada masa ini) untuk memahami maknanya, maka kita tidaklah berbeda jauh dengan orang-orang yang tidak beriman itu, walaupun kita sudah akan mendapat pahala ketika membaca ataupun mendengarkan bacaan al-Qur’an meskipun tanpa tahu maknanya.

 

Semoga kita benar-benar tersadarkan dari “kesalahan umum” ummat kita yaitu bahwa tidak memahami makna ayat-ayat al-Qur’an, agar kita lalu terbangkitan untuk berbenah diri, untuk segera melangkah dengan benar: kaji al-Qur’an.

 

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana (2 MB): “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF., AIFO.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292