Memahami isi al-Qur’an untuk tidak salah

Memahami isi al-Qur’an.

 

 

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

 

 

 

(BEBERAPA  HARI  YANG DITENTUKAN ITU IALAH) BULAN  RAMADHAN,  BULAN YANG DI DALAMNYA DITURUNKAN (PERMULAAN) AL-QURAN SEBAGAI PETUNJUK BAGI  MANUSIA  DAN  PENJELASAN-PENJELASAN MENGENAI  PETUNJUK  ITU  DAN PEMBEDA (ANTARA YANG HAK DAN YANG BATHIL)....(Surah al-Baqarah [2] ayat 185)

 

 

 

…KATAKANLAH: “AL-QURAN ITU BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN ADALAH PETUNJUK DAN OBAT.” ...(Surah al-Fushilat [41] ayat 44)

 

 

 

Tidak ada ummat Islam yang menolak mengakui atas benarnya apa yang tertulis di dalam al-Qur’an, termasuk  ayat-ayat di atas yang merupakan cuplikan dari sekian banyak ayat yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah hidayah, petunjuk. Al-Qur’an itu seibarat rambu lalu lintas, untuk menyelamatkan orang dalam perjalanannya untuk menempuh jalan kehidupan  di dunia guna mencapai sukses dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat nanti. Secara  sederhana dapat kita fahami bahwa orang yang menjumpai adanya suatu rambu dalam perjalanannya namun mungkin saja dia masih akan tersesat atau salah bertindak kalaulah dia tidak memahami makna rambu itu. Tiga puluh tahunan yang lalu, ketika saya diajak ke daerah pegunungan di Australia, di salah satu kelokan tempat kami berhenti untuk melihat indahnya panorama di sana, ada rambu lalu lintas yang bertulisan jelas “NO STANDING”, yang terjemahan sederhananya “DILARANG BERDIRI”. Apakah di situ orang harus jongkok ataupun harus tiduran? Ternyata bukan; kendaraan tidak boleh menunggu penumpang di situ walaupun tidak mematikan mesinnya, tidak parkir. Begitulah ibaratnya, orang mungkin saja tahu ada ayat yang seharusnya menjadi pedoman, dia dapat membacanya (melafalkannya), tetapi dapat saja dia salah jika tidak memahami maksudnya.

 

Di dalam sejarah tercatat adanya peristiwa contoh, yaitu kesalahan Qudamah memahami ayat 93 surat al-Maidah, yang pasti dia memahami makna kata per kata dari ayat itu. Dengan berpegang pada ayat itu Qudamah menjadi seenaknya minum minuman keras (khamar), terbiasa sampai mabuk; padahal dia adalah Gubernur Bahrain dalam pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab. Ketika dia dipanggil oleh Khalifah atas laporan seorang shahabat, dia menyatakan bahwa dia berani minum khamar karena ayat 93 surat al-Maidah secara jelas menyebutkan:

 

TIDAK ADA DOSA BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN MENGERJAKAN AMALAN  YANG SALEH ATAS MAKANAN YANG TELAH MEREKA MAKAN, APABILA MEREKA BERTAKWA SERTA BERIMAN, DAN MENGERJAKAN AMALAN-AMALAN YANG SALEH, KEMUDIAN MEREKA TETAP BERTAKWA DAN BERIMAN, KEMUDIAN MEREKA (TETAP JUGA) BERTAKWA DAN BERBUAT KEBAJIKAN. DAN ALLAH MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERBUAT KEBAJIKAN.  (Surah al-Maidah [5] ayat 93)

 

Qudamah menganggap bahwa asalkan dia tetap bertaqwa, beriman, beramal shalih dan berbuat kebajikan, maka dia boleh makan-minum apa saja, tanpa harus takut dosa; yang kemudian ternyata bahwa anggapannya itu salah, karena ayat itu merupakan jawaban atas kekhawatiran nasib para syuhada terdahulu yang terkena hukum dari ayat 90 karena dulunya banyak juga yang suka mabuk, berjudi, dan sebagainya.

 

 

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, SESUNGGUHNYA (MEMINUM) KHAMAR, BERJUDI, (BERKORBAN UNTUK) BERHALA, MENGUNDI NASIB DENGAN PANAH, ADALAH PERBUATAN KEJI TERMASUK PERBUATAN SYAITAN. MAKA JAUHILAH PERBUATAN-PERBUATAN ITU AGAR KAMU MENDAPAT KEBERUNTUNGAN.” (Surah al-Maidah [5] ayat 90)

 

 

Jika kita membaca al-Qur’an hendaklah dengan cara yang bukan sekedar melafalkannya saja; kita harus berusaha memahami maknanya. Untuk ini kita dapat menggunakan al-Qur’an yang dengan terjemahnya; cukup banyak terbitan kitab al-Qur’an dengan terjemahnya yang merupakan hasil karya para penterjemah yang berbeda, tunggal ataupun berpasangan. Terjemah biasanya menyajikan terjemahanan ayat per ayat, tetapi ada juga yang melengkapinya dengan “sedikit” tafsir dengan menambahkan kata-kata penjelas yang dicantumkan dalam tanda kurung. Yang lebih lengkap lagi memberikan catatan kaki (foot note) untuk hal-hal yang lebih pelik, semisal jika ada sejumlah ahli tafsir yang punya pemahaman “berbeda”.

 

Langkah yang dapat lebih membantu adalah jika kita menggunakan al-Qur’an dengan terjemah lafdziyah (letterlijk, kata demi kata). Bentuk ini ada yang melengkapinya dengan mencantumkan peristiwa yang dianggap sebagai “sebab” turunnya ayat (asbabunnuzul) tertentu, ataupun bahkan juga memberikan tafsir singkatnya. Tentu saja akan lebih baik lagi jika kita dapat memanfaatkan tafsir al-Qur’an yang sudah berbahasa Indonesia, yang sudah banyak jumlahnya. Tafsir ini ada yang merupakan “karya asli”, tetapi banyak juga yang merupakan terjemah dari kitab-kitab tafsir karya ulama-ulama terdahulu. Jika ingin yang lebih “khusus” ada juga beberapa kitab tafsir ayat-ayat bidang khusus, misalnya bidang hukum.

 

Yang perlu direnungkan lebih lanjut adalah kita perlu berhati-hati jika akan  menerapkan ketentuan-ketentuan dari yang sekedar terbaca di dalam al-Qur’an; kita perlu berusaha memperoleh tafsirnya, walaupun dalam keadaan “terpaksa” (baca: belum memperoleh rujukan lanjut) kita “boleh” juga memanfaatkan penalaran kita dengan penuh tanggung jawab.

 

Semoga kita jadi lebih sadar atas peran al-Qur’an yang bukan hanya sekedar untuk dibaca, tetapi perlu difahami kandungannya yang merupakan pedoman hidup.

 

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

 

 

 

***

Manfaatkan artikel-artikel pendek (Bhs. Inggris) di http://www.readbud.com/?ref=6137952 ; Anda dapat mengoleksi dollar dari membacanya.

 

0 Responses to “Memahami isi al-Qur’an untuk tidak salah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: