Arsip untuk Juli, 2012

Memahami isi al-Qur’an untuk tidak salah

Memahami isi al-Qur’an.

 

 

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

 

 

 

(BEBERAPA  HARI  YANG DITENTUKAN ITU IALAH) BULAN  RAMADHAN,  BULAN YANG DI DALAMNYA DITURUNKAN (PERMULAAN) AL-QURAN SEBAGAI PETUNJUK BAGI  MANUSIA  DAN  PENJELASAN-PENJELASAN MENGENAI  PETUNJUK  ITU  DAN PEMBEDA (ANTARA YANG HAK DAN YANG BATHIL)....(Surah al-Baqarah [2] ayat 185)

 

 

 

…KATAKANLAH: “AL-QURAN ITU BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN ADALAH PETUNJUK DAN OBAT.” ...(Surah al-Fushilat [41] ayat 44)

 

 

 

Tidak ada ummat Islam yang menolak mengakui atas benarnya apa yang tertulis di dalam al-Qur’an, termasuk  ayat-ayat di atas yang merupakan cuplikan dari sekian banyak ayat yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah hidayah, petunjuk. Al-Qur’an itu seibarat rambu lalu lintas, untuk menyelamatkan orang dalam perjalanannya untuk menempuh jalan kehidupan  di dunia guna mencapai sukses dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat nanti. Secara  sederhana dapat kita fahami bahwa orang yang menjumpai adanya suatu rambu dalam perjalanannya namun mungkin saja dia masih akan tersesat atau salah bertindak kalaulah dia tidak memahami makna rambu itu. Tiga puluh tahunan yang lalu, ketika saya diajak ke daerah pegunungan di Australia, di salah satu kelokan tempat kami berhenti untuk melihat indahnya panorama di sana, ada rambu lalu lintas yang bertulisan jelas “NO STANDING”, yang terjemahan sederhananya “DILARANG BERDIRI”. Apakah di situ orang harus jongkok ataupun harus tiduran? Ternyata bukan; kendaraan tidak boleh menunggu penumpang di situ walaupun tidak mematikan mesinnya, tidak parkir. Begitulah ibaratnya, orang mungkin saja tahu ada ayat yang seharusnya menjadi pedoman, dia dapat membacanya (melafalkannya), tetapi dapat saja dia salah jika tidak memahami maksudnya.

 

Di dalam sejarah tercatat adanya peristiwa contoh, yaitu kesalahan Qudamah memahami ayat 93 surat al-Maidah, yang pasti dia memahami makna kata per kata dari ayat itu. Dengan berpegang pada ayat itu Qudamah menjadi seenaknya minum minuman keras (khamar), terbiasa sampai mabuk; padahal dia adalah Gubernur Bahrain dalam pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab. Ketika dia dipanggil oleh Khalifah atas laporan seorang shahabat, dia menyatakan bahwa dia berani minum khamar karena ayat 93 surat al-Maidah secara jelas menyebutkan:

 

TIDAK ADA DOSA BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN MENGERJAKAN AMALAN  YANG SALEH ATAS MAKANAN YANG TELAH MEREKA MAKAN, APABILA MEREKA BERTAKWA SERTA BERIMAN, DAN MENGERJAKAN AMALAN-AMALAN YANG SALEH, KEMUDIAN MEREKA TETAP BERTAKWA DAN BERIMAN, KEMUDIAN MEREKA (TETAP JUGA) BERTAKWA DAN BERBUAT KEBAJIKAN. DAN ALLAH MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERBUAT KEBAJIKAN.  (Surah al-Maidah [5] ayat 93)

 

Qudamah menganggap bahwa asalkan dia tetap bertaqwa, beriman, beramal shalih dan berbuat kebajikan, maka dia boleh makan-minum apa saja, tanpa harus takut dosa; yang kemudian ternyata bahwa anggapannya itu salah, karena ayat itu merupakan jawaban atas kekhawatiran nasib para syuhada terdahulu yang terkena hukum dari ayat 90 karena dulunya banyak juga yang suka mabuk, berjudi, dan sebagainya.

 

 

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, SESUNGGUHNYA (MEMINUM) KHAMAR, BERJUDI, (BERKORBAN UNTUK) BERHALA, MENGUNDI NASIB DENGAN PANAH, ADALAH PERBUATAN KEJI TERMASUK PERBUATAN SYAITAN. MAKA JAUHILAH PERBUATAN-PERBUATAN ITU AGAR KAMU MENDAPAT KEBERUNTUNGAN.” (Surah al-Maidah [5] ayat 90)

 

 

Jika kita membaca al-Qur’an hendaklah dengan cara yang bukan sekedar melafalkannya saja; kita harus berusaha memahami maknanya. Untuk ini kita dapat menggunakan al-Qur’an yang dengan terjemahnya; cukup banyak terbitan kitab al-Qur’an dengan terjemahnya yang merupakan hasil karya para penterjemah yang berbeda, tunggal ataupun berpasangan. Terjemah biasanya menyajikan terjemahanan ayat per ayat, tetapi ada juga yang melengkapinya dengan “sedikit” tafsir dengan menambahkan kata-kata penjelas yang dicantumkan dalam tanda kurung. Yang lebih lengkap lagi memberikan catatan kaki (foot note) untuk hal-hal yang lebih pelik, semisal jika ada sejumlah ahli tafsir yang punya pemahaman “berbeda”.

 

Langkah yang dapat lebih membantu adalah jika kita menggunakan al-Qur’an dengan terjemah lafdziyah (letterlijk, kata demi kata). Bentuk ini ada yang melengkapinya dengan mencantumkan peristiwa yang dianggap sebagai “sebab” turunnya ayat (asbabunnuzul) tertentu, ataupun bahkan juga memberikan tafsir singkatnya. Tentu saja akan lebih baik lagi jika kita dapat memanfaatkan tafsir al-Qur’an yang sudah berbahasa Indonesia, yang sudah banyak jumlahnya. Tafsir ini ada yang merupakan “karya asli”, tetapi banyak juga yang merupakan terjemah dari kitab-kitab tafsir karya ulama-ulama terdahulu. Jika ingin yang lebih “khusus” ada juga beberapa kitab tafsir ayat-ayat bidang khusus, misalnya bidang hukum.

 

Yang perlu direnungkan lebih lanjut adalah kita perlu berhati-hati jika akan  menerapkan ketentuan-ketentuan dari yang sekedar terbaca di dalam al-Qur’an; kita perlu berusaha memperoleh tafsirnya, walaupun dalam keadaan “terpaksa” (baca: belum memperoleh rujukan lanjut) kita “boleh” juga memanfaatkan penalaran kita dengan penuh tanggung jawab.

 

Semoga kita jadi lebih sadar atas peran al-Qur’an yang bukan hanya sekedar untuk dibaca, tetapi perlu difahami kandungannya yang merupakan pedoman hidup.

 

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

 

 

 

***

Manfaatkan artikel-artikel pendek (Bhs. Inggris) di http://www.readbud.com/?ref=6137952 ; Anda dapat mengoleksi dollar dari membacanya.

 

Iklan

Tadarrus untuk peningkatan diri

120723  Tadarrus untuk peningkatan mutu diri.

 

 

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

 

 

Banyak di antara kita yang bertadarrus dengan “berlomba” banyak-banyakan membaca al-Qur’an, karena Rasulullah dalam bulan Ramadhan setiap malam bertadarrus dengan malaikat Jibril. Tidak sedikit pula dari kita yang mengejar pahala kebaikan dari membaca al-Qur’an mengejar yang digambarkan oleh Rasulullah Muhammad saw:

 

“Barang siapa membaca huruf-huruf dari Kitab Allah (al-Qur’an), maka baginya ada nilai kebaikan (hasanah) yang nilainya diperhitungkan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif-Lam-Mim sebagai satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf”.

 

Gambaran itu merupakan dorongan agar ummat Islam mau banyak-banyak membaca al-Qur’an. Para shahabat pun berlomba cepat-cepatan mengkhatamkan bacaan al-Qur’an, oleh karena itu ketika Rasulullah meminta mereka untuk mengkhatamkan al-Qur’an dengan menanyakan berapa lama mereka dapat melaksanakannya, para shahabat pun ada yang menyatakan sanggup dalam satu bulan, ada yang sanggup dalam sepekan, bahkan ada pula yang sanggup dalam satu hari. Mungkin terbayang oleh kita berapa banyak kebaikan yang diperoleh oleh orang-orang yang setiap hari mengkhatamkan membaca al-Qur’an itu. Ternyata ketika ada yang menyatakan sanggup dalam satu hari itu Rasulullah mengatakan “Tak ada nilainya jika membaca al-Qur’an khatam dalam waktu kurang dari tiga hari!”.

 

Jika kita renungkan bahwa para shahabat itu adalah orang-orang yang berbahasa Arab, yang merupakan bahasa al-Qur’an, maka mudah kita fahami bahwa ketika mereka membaca al-Qur’an itu mereka dapat mengerti maknanya kata demi kata, walupun makna ayat demi ayat mungkin ada saja yang mereka tidak menangkapnya; apalagi jika membacanya terlalu cepat semisal ketika merasa “harus” khatam dalam waktu kurang dari tiga hari. Ini harus kita tangkap sebagai bahwa dalam membaca al-Qur’an bukanlah sekedar melafalkan huruf-hurufnya, tetapi membaca dengan menangkap maknanya, walaupun bagi yang pemula melafalkan hurufnya saja sudah berpahala. Namun bagi kita yang sudah dapat melafalkan huruf-huruf al-Qur’an dengan benar, hendaknya meningkatkan diri agar mampu mengangkap makna ayat-ayat yang dibaca, karena pada hakikatnya al-Qur’an itu adalah petunjuk (guidance)dari Allah SwT .

 

“BULAN  RAMADHAN,  BULAN YANG DI DALAMNYA DITURUNKAN (PERMULAAN) AL-QURAN SEBAGAI PETUNJUK BAGI  MANUSIA  DAN  PENJELASAN-PENJELASAN MENGENAI  PETUNJUK  ITU  DAN PEMBEDA (ANTARA YANG HAK DAN YANG BATHIL…” (Surah al-Baqarah [2] ayat 185)

 

“Tak ada gunanya” jika kita tahu bahwa al-Qur’an itu adalah petunjuk, kalau kita tidak memahami apa maksud atau makna petunjuk itu. Begitulah kita perlu memamahi bahwa ketika malaikat Jibril bertadarrus dengan Rasulullah itu bukanlah sekedar membaca ulang, tetapi mendalami kandungan isi al-Qur’an untuk kemudian diamalkan. Hal itu tecermin dari riwayat:

“Rasulullah saw itu adalah manusia yang paling dermawan. Kedermawanannya itu dalam bulan Ramadhan lebih menonjol, termasuk ketika malaikat Jibril menemuinya; dia menemuinya di setiap malam bulan Ramadhan, yang lalu mengajari (bertadarrus) al-Qur’an sehingga Rasulullah dalam hal kebaikan (harta) menjadi lebih dermawan lagi ketimbang meratanya angin yang bertiup.” (HR Bukhari dari Ibnu ‘Abbas)

 

Marilah kita bertadarrus al-Qur’an dengan membacanya, membaca maknanya (langsung ataupun dari terjemahnya), memahami tafsirnya, mencamkan, menghayati, mengamalkan, dan mengajarkannya. Semoga kita menjadi kian lebih baik lagi dengan mengisi bulan Ramadhan secara benar.

 

 

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab.

 

 

 

==============================

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

 

SwT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

 

 

 

 

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

 

========================================

 

 

 

 

 

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

 

 

 

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

 

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung JOIN di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah/.

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

 

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhidhw@gmail.com

 

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292

 

 

 

***

Manfaatkan artikel-artikel pendek (Bhs. Inggris) di http://www.readbud.com/?ref=6137952 ; Anda dapat mengoleksi dollar dari membacanya.

 

Arah kiblat shalat.

ARAH KIBLAT SHALAT

Cara yang “mudah” untuk berdiri shalat biasanya adalah dengan menentukan dulu kira-kira arah barat-timur lalu mengarahkan hadap berdiri sedikit ke utara; tidak jarang orang hanya mengarah ke barat begitu saja.
Untuk yang bermaksud lebih menepatkan arah kiblat shalatnya, ada dua kesempatan terbaik, yaitu ketika matahari tepat di atas Ka’bah. Pada kedua saat itu jika orang menghadap ke arah matahari berarti dia telah menghadap tepat ke arah ka’bah. Saat seperti itu adalah tanggal 28 Mei 2014 jam 16:17 dan tanggal 16 Juli 2014 jam 16:26.

Bagi yang punya GPS sewaktu-waktu dia dapat “memperoleh” petunjuk arah ke Mekah, di manapun dia berada di bumi ini. Di Indonesia bagi yang punya kompas, dia dapat mengarahkan hadapnya ke barat, sedikit ke utara (sekitar 20-25 derajat dari arah barat, tergantung tempat dia berada; ada daftarnya). Masalahnya ialah kadang-kadang arah utara-selatan kompas agak menyimpang karena adanya pengaruh medan magnet kuat di disekitarnya, semisal akibat banyaknya kerangka besi beton, besi yang tertanam, jaringan listrik tegangan tinggi, dinamo besar, motor listrik, di samping bahwa kutub magnet bumi juga mengalami “sedikit” bergeser (perhatikan arah kompas di dalam mobil sebelum dan sesudah mesin dihidupkan).
Jika ingin sedikit lebih pasti, menentukan arah timur-barat ini dapat dibantu dengan mengadakan “percobaan” kecil:
Tancapkan kokoh sebuah tongkat sepanjang 1 m atau lebih, lalu lihat bayangan titik ujungnya pada sekitar jam 9 pagi beri tanda B pada titik ini, dan juga pada jam 3 sore, beri tanda T pada titik ini. Garis antara kedua titik itu adalah arah timur-barat. Dari titik T (timur) itu tariklah satu garis ke arah barat, sepanjang 100,00 cm, tandai titik ini dengan X. Dari titik X ini tariklah garis XY ke arah utara, dengan sudut siku (90 derajat). ARAH GARIS T-Y INI ADALAH ARAH KIBLAT. Panjang XY ini tertentu untuk masing-masing kota, ada daftarnya (dalam cm); misalnya:

Bandung 47,03

Banjarmasin 42,16

Denpasar 43,98
Gunungkidul 45,99

Jakarta  46,93

Jambi  45,07
Jayapura 40,71
Manado 39,12

Maros  41,28
Malang 44,98
Mataram 43,56
Makassar 41,38

Medan  41,93

Pontianak 41,92

Poso  40,09
Purwosari 44,81
Surabaya 44,58

Sorong 39,19

Wajo  40,80

We, Pulau  40,36
Yogyakarta 46,02

*Jika memerlukan ukuran XY untuk kota lain, tanyalah ke Kantor Kementerian Agama, KUA, ataupun DMI (Dewan Msjid Indonesia) setempat. Boleh juga menghubungi saya dengan alamat e-mail tauhidhw@gmail.com; tuliskan nama kota Anda.