Jalan pun juga olah raga

Jalan pun olah raga.

Ketika saya masuk Fakultas Kedokteran lebih dari setengah abad yang lalu perploncoan masih merupakan hal yang baku bagi mahasiswa baru. Salah satu bentuknya adalah para mahasiswa baru itu dibawa lari tak tentu arah, maunya untuk melemahkan semangat mereka jika sampai mereka tak mampu. Ketika lebih dari tiga orang senior yang bergantian “membawa” saya lari melihat saya masih dapat mengikutinya, kemudian mereka bertanya apa olahraga saya. Saya bilang tak ada, namun saya membiasakan diri untuk bersepeda secepat-cepatnya ketika berangkat mupun pulang sekolah. Itu merupakan salah satu bukti bahwa ada kebiasaan yang jarang disebut sebagai olahraga ternyata juga mampu membawa ke stamina (kekokohan tubuh) yang tinggi, yaitu bersepeda untuk anak muda. Apa kegiatan untuk kaum tua? Jawabnya sederhana: berjalan.

 

Olahraga dan kesehatan.

Banyak orang bilang bahwa sehat itu mahal. Ini tidak salah jika orang berfikir bahwa jika sudah terlanjur sakit, maka upaya menebus keshatan yang hilang itu, upaya pemulihan kesehatannya itu ternyata perlu beaya yang tak sedikit. Misalnya beaya untuk berbagai pemeriksaan laboratorium, obat-obat yang harus diminum, maupun honorarium dokter maupun  tenaga kesehatan lainnya yang terlibat (misalnya fisioterapist, perawat, laboran). Di sisi lain tidak sedikit orang yang menyatakan bahwa untuk sehat itu murah! Mereka ini berani mengatakan demikian karena telah membuktikan sendiri bahwa dirinya tetap sehat walaupun mnereka itu “tidak”  mengeluarkan uang ekstra untuk mempertahankan kesehatannya.

Sering kali orang tampak kurang menghargai nilai sehat; perilakunya menampakkan hal ini.  Mereka itu sering hanya duduk-duduk menikmati tayangan televisi yang mungkin hanya membuang uang pemakaian listrik tetapi  tidak mendidik. Mereka banyak memanjakan lidahnya dengan makanan yang mahal tetapi justru merusak kesehatan misalnya karena lemak dengan kolesterolnya yang berlebihan ataupun lainnya. Barulah kemudian mereka menyadari betapa mahalnya kesehatan ketika telah jatuh sakit, kehilangan kesehatan. Ternyata untuk “menebus” kesehatan yang hilang itu perlu beaya yang tidak sedikit.

Tidaklah terlalu berlebihan jika organisasi kesehatan dunia WHO menyatakan” Health is not everything, but without it everything is nothing” (Kesehatan memang bukan segalanya, namun tanpa kesehatan itu semuanya jadi tak punya arti). Apa artinya uang banyak, rumah bagus, mobil mewah; jika badan sakit semua kemewahan itu  tak ada artinya. Artinya bahwa untuk dapat menikmati hidup di dunia ini dan memperoleh peluang banyak untuk beramal, upaya menjaga kesehatan mutlak harus kita lakukan.

 

Bagaimana upaya untuk sehat?

Pada dasarnya upaya untuk ini adalah  menjaga keseimbangan makan, istirahat, dan olahraga. Jika orang sudah memilih makanan yang sempurna (tidak harus malah!), bekerja sesuai dengan batas kewajaran, lalu juga memanfaatkan waktu istirahat dengan benar, ditambah dengan olahraga, maka secara umum tubuh orang itu akan terjaga dalam keadaan sehat.

Untuk menjaga kemampuan agar tahan bekerja, para ahli menegaskan bahwa olahraganya harus berupa kegiatan yang lebih berat dari beban pekerjaannya, misalnya orang yang kerjanya duduk, maka olahraganya adalah berdiri ataupun berjalan; jika pekejaannya berjalan maka olahraganya harus lari. Namun demikian jika dimaksudkan untuk sekedar menjaga kesegaran jasmani (baca: kesehatan) ternyata kegiatan berjalan itu sudah merupakan kegiatan sehari-hari yang juga bernilai olahraga. Artinya orang yang membiasakan dirinya berjalan (kalau bisa 10 ribu langkah per harinya) akan juga meningkatkan kemampuan aerobiknya, mengurangi lemak tubuh, menurunkan tekanan darah, mengurangi peluang serangan jantung, menghambat munculnya osteoporosis (pengeroposan tulang).

Ribuan tahun yang lalu Hippocrates yang diberi julukan kehormatan Bapak Kedokteran telah mengatakan “Walking is man’s best medicine” (Berjalan adalah obat yang terbaik bagi manusia), jauh sebelum ilmu kesehatan berkembang. Rasulullah Muhammad SAW pun juga gemar berjalan, bahkan kadang-kadang juga beliau beradu cepat dengan isteri beliau.

Jika dibandingkan dengan berbagai macam olahraga yang banyak dilakukan, ternyata “olahraga berjalan” ternyata mempunyai banyak kelebihan. Misalnya saja olahraga ini tidak memerlukan ketrampilan (baca: tak perlu kursus). Beban yang menerpa persendian-persendian selama kegiatan jauh lebih ringan ketimbang lari ataupun jogging.  Jika untuk berjalan saja seseorang mengalami kesulitan (misalnya karena gangguan tulang ataupun persendiannya), renang boleh juga digunakan sebagai penggantinnya.

Penutup.

Berjalan yang dimaksudkan di uraian di atas boleh saja dikaitkan dengan orang yang lemah ataupun baru sembuh dari penyakitnya, tetapi untuk orang yang masih sehat bukanlah  dimaksudkan untuk sekedar berjalan santai. Oleh karena itu kecepatan jalannya harus diupayakan setinggi mungkin, dengan denyut nadi per menitnya kalau dapat mencapai  sasaran sebesar 60-85 % dari denyut nadi maksimal seseorang. Adapun denyut nadi maksimal (baca: denyut jantung maksimal) itu secara diperhitungkan dengan  rumus: 220 – umur.  Karena yang dituntut dalam kegiatan berjalan ini adalah kegiatan yang bersifat aerobik, maka sebagai pedoman kasar adalah bahwa selama berjalan itu masih dapat mudah bernafas sehingga masih dapat membaca wiridan ataupun berbincang-bincang dengan teman seperjalanan.

Semoga sekedar uraian di atas bermanfaat.

===

Pesan: Jika Anda merasa dapat mengambil manfaat dari tulisan ini, silakan berinfak seikhlasnya ke kotak amal masjid terdekat.

 

0 Responses to “Jalan pun juga olah raga”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: