Kesurupan salah satu bentuk histeria.

Histeri

Kesurupan cukup banyak diperbincangkan dalam berbagai media,  lebih-lebih jika muncul sebagai kesurupan masal siswa di sekolah ataupun buruh di pabrik. Secara tradisional hal ini biasanya dikaitkan dengan adanya gangguan dari roh-roh halus, sedangkan menurut ilmu kejiwaan hal itu merupakan reaksi salah terhadap permasalahan yang dihadapi penderitanya.

Kesurupan.
Kesurupan cukup banyak dijumpai di masyarakat siswa taupun karyawan yang menghadapi krisis. Kesurupan masal yang terjadi sebenarnya pada awalnya merupakan “kesurupan” individual yang kemudian berubah menjadi masal karena ada orang lain yang tersugesti. Kesurupan individual yang terjadi muncul sebagai reaksi atas apa yang sedang dirasakan. Kesurupan pada hakikatnya adalah reaksi kejiwaan yang salah, yang disebut juga reaksi disosiasi ataupun reaksi konversi. Kejadian kesurupan cenderung terjadi berulang atau kambuh-kambuhan, selama penanganan kejiwaannya belum benar.

Histeria.
Gangguan jiwa yang sudah lama di kenal sejak dulu ialah hysteria. Pada mulanya orang menyangka bahwa yang dihinggapi penyakit ini hanya kaum wanita, namun nyatanya laki-laki pun dapat mengalami gangguan ini. Dalam menghadapi suatu masalah seseorang akan bersikap sesuai dengan kemampuannya sejalan dengan pengalaman dan perkembangan kejiwaannya.

Orang yang sehat pertumbuhan kejiwaannya mampu  bersikap benar terhadap permasalahan yang ada, tidak banyak mengubah perilaku dirinya. Dia dapat menerima apa yang ia anggap baik dan menolak apa yang ia anggap buruk berdasarkan norma yang ada. Meski banyak masalah, namun kondisi dalam dirinya tetap stabil dan utuh; dia merespons permasalahan secara realistis dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Orang yang perkembangan jiwanya tidak sempurna ataupun terhambat mungkin menanggapi masalah dengan cara yang salah, misalnya mengadakan reaksi regresi (memundurkan diri); bentuk ini memunculkan orang yang jika menghadapi masalah “berat” lalu menggigit jari tangannya, karena dia menjadikan dirinya kembali seperti bayi yang jika takut lalu lari ke pelukan ibunya untuk mendapatkan ketenangan dengan adanya kesempatan menetek (ibu jarinya dianggap sebagai puting susu ibunya, lambang kasih sayang). Ada orang yang mengompol jika terlalu tegang, ataupun perut kembung ketika khawatir. Bentuk lain yang paling terkenal adalah reaksi konversi; di sini dalam menghadapi masalah itu penderita mengubah sikap dirinya (baca: kejiwaannya) ke bentuk lain, yang dalam hal yang berlebihan ini berupa konversi histerik, yang secara singkat disebut sebagai histeria. Beban fikiran yang berat, rasa tertekan (depresi), putus asa (frustasi), ketidakadilan dapat memunculkan histeria itu.

Seorang yang sedih, memperlihatkan raut muka yang khas. Raut muka sedih itu sebenarnya merupakan reaksi tubuh yang sesungguhnya dan wajar. Penampilan raut muka adalah salah satu bentuk komunikasi non-verbal. Komunikasi seperti itu juga dapat terjadi dalam bentuk lain. Seorang isteri dapat saja tiba-tiba “menjadi lumpuh” kedua kakinya setelah ia mengancam akan meninggalkan suaminya. Itu adalah suatu reaksi konversi atau reaksi histerik sebagai perwujudan suatu bentuk komunikasi. Reaksi konversi histeris  yang berupa kelumpuhan melambangkan pembatalan ancamannya, yang merupakan permohonan kasih sayang baginya. Kelumpuhan itu bukanlah kelumpuhan yang benar-benar senyatanya; artinya kalaulah ada tikus yang lari menuju dirinya dia pun akan bangkit dan lari untuk menghindar.

Tindakan.
Walaupun jika ditanya sepertinya tak mendengar, itu harus difahami sebagai bukti bahwa penderita histeria tidak mau mengungkapkan permasalahannya. Namun sifat histeriknya dapat terungkap oleh pertanyaan-pertanyaan tentang manifestasi psikosomatik (gangguan tubuh yang muncul) yang muncul. Dengan memahami bahwa seseorang lebih rela menderita penyakit badaniah daripada menderita penyakit jiwa, maka kalau dia mendengar orang yang menyatakan “penyakitnya” sebagai manifestasi gangguan mental, ia akan menerimanya sebagai penghinaan, yang merendahkan martabatnya dan nama baik keluarganya. Dia akan berontak dengan “memperparah” penampilan histerisnya. Penderita konversi histerik akan bereaksi lebih histerik jika ditanya tentang penderitaan jiwanya; pertanyaan dapat dijawab dengan tangisan, pingsan atau bahkan kejang-kejang. Pengungkapannya harus dilakukan secara tidak langsung. Misalnya: “Sudah pernah berobat pada dokter mana? Berobat pada dokter  pertama karena apa? Pada dokter lain karena apa?”.

Penutup.
Guru ataupun pendamping perlu memahami bahwa penderita kesurupan atau histeria sebenarnya sadar, dapat mendengar. Pembangkitan semangat perlu dibisikkan, misalnya untuk mendorong penderita untuk berbuat sesuatu demi kebaikan dan kebahagiaan orang
lain bukannya malah menyusahkan orang lain. Jika memungkinkan nantinya penderita dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter ahli jiwa untuk memperoleh bimbingan kejiwaan lebih lanjut demi masa depannya, yaitu untuk mampu bersikap yang benar dalam menghadapi masalah; penderita akan diajari dan dilatih mengelola stress dan konflik dengan baik dan benar.

 

*** Dimuat juga dalam Majalah Mimbar Penerangan Agama, Kanwildepag Jatim

0 Responses to “Kesurupan salah satu bentuk histeria.”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: