Budi daya gaharu

Budi Daya Gaharu

HRM Tauhid-al-Amien

 

Gaharu sudah lama dikenal dalam budaya manusia. Semula gaharu diperoleh dari tanaman yang tumbuh di alam bebas (baca: hutan). Di alam hutan kurang dari 20% “pohon gaharu” yang menghasilkan gubal. Tuntutan yang kian banyak mengkhawatirkan punahnya pohon penghasil gaharu ini; dunia pun membatasi pembalakan pohon gaharu ini. Orang pun melakukan budi daya produksi gaharu. Gubal pada hakikatnya adalah zat resin fitoaleksin (zat macam inilah yang menimbulkan bau!) untuk mempertahankan diri dari pengaruh buruk yang mengenai pohon itu, semisal masuknya kuman yang berupa jamur, pukulan, tekanan oleh paku yang ditancapkan ke pohon itu.

 

Keharuman gaharu diperoleh dari hasil yang berupa gubal (dengan klasifikasi super,super AB, sabah super, kelas C), kemedangan (dengan klasifikasi tanggung A, Sabah I, tanggung AB, Tanggung C, Kemedangan I, kemedangan II, kemedangan III) ataupun yang disebut abu (cincangan “buangan” yang masih mengeluarkan aroma gaharu). Masing-masingnya itu dengan harga yang berbeda, yang tak ada pedoman baku harganya.

 

Budi daya gaharu adalah secara sengaja merangsang pohon dengan memasukkan “kuman” (misalnya satu jenis jamur fusarium) ke dalam pohon gaharu itu; tindakan ini disebut inokulasi. Pengaruh macam inokulan terhadap macam pohon satu dan lainnya tidak selalu sama. Oleh karena itulah “pengalaman” perlu; maka muncullah orang-orang yang menjual jasa inokulasi ini.

 

Ada lebih dari 27 spesies pohon penghasil gaharu dengan berbagai macam produk dan kwalitasnya; yang termasuk paling banyak dibudidayakan adalah Aquilaria malaccensis.

 

 

Budi daya:

Pohon gaharu dapat ditanam ditanah dengan ketinggian 0-1500 m di atas permukaan laut dengan kelembaban 80 % dan curah hujan 1200-1500 mm. Pada dasarnya gaharu ditanam dengan jarak tanam 2m X 2 m. Karena bibit gaharu dalam tumbuhnya sampai umur sekitar 2 th perlu naungan, maka dianjurkan penanaman dilakukan dengan tumpangsari, misalnya dengan kakao, pinang, ataupun lainnya. Untuk ini gaharu perlu ditanam dengan jarak yang sedikit lebih besar menjadi  2,5 m x 2,5 m. Jika tanpa naungan maka dari 3000 pohon yang ditanam tinggal 1000 yang masih dapat bertahan hidup setelah dua tahun, sedangkan yang ditanam dengan pohon penaung kematian pohon gaharu setelah 5 tahun ”hanya” 500 dari 1000 pohon yang ditanam di lahan seluas 3 ha.

 

Inokulasi dapat dilakukan ketika pohon sudah mencapai    diameter 10 cm dengan ketinggian sekitar 3-4 m, pada umur sekitar 3 tahun. Ini dilakukan dengan membuat banyak lubang di pohon menggunakan bor dengan diameter 5 mm; satu pohon dapat dibor 250 sampai sekitar 2000 titik untuk diberi “kuman” perangsang munculnya gubal. Lebih dari 50 macam “kuman” yang dikenal dapat memicu munculnya gubal.

 

Hasil.

Seberapa banyak “gaharu” yang dihasilkan dari satu pohon dipengaruhi oleh macam dan umur pohon, serta macam “kuman” yang dimasukkan ke dalam lubang pengeboran itu, serta lama “kuman” itu di dalam pohon. Sekitar 2 tahun setelah inokulasi dapat dihasilkan  gubal sebanyak 1 kg atau lebih yang laku idjual dengan harga  5-15 juta per kilogram. Jika kurang beruntung, pohon yang sudah setinggi 25 m dengan diameter sebesar 40 cm (umur 30 tahun) hanya menghasilkan 2 kg kemedangan (harga 1 juta per kg) pada 2 tahun setelah diinokulasi.

Yang benar-benar belum beruntung adalah yang pohonnya ternyata sakit sampai mati setelah mendapat inokulasi; mungkin “kuman” yang diberikan terlalu kuat ataupun pohon sudah sakit sebelum inokulasi.

 

Bibit.

Cukup banyak perusahaan yang menjual bibit pohon gaharu jenis-jenis tertentu yang dianggap punya prospek bagus, dengan harga Rp. 25 – 50 ribu per pohon setinggi sekitar 50 cm. Mereka itu juga bekerja sama dengan orang-orang yang “ahli” dalam melakukan inokulasi, dengan pola bagi hasil ataupun pembayaran di depan.

 

 

Catatan:

Untuk penelusuran lebih lanjut, silakan baca majalah Trubus, No. 470 Januari 2009, halaman 10- 28, ataupun jika ingin lebih luas lagi cari di internet dengan key word: Trubus, gaharu

0 Responses to “Budi daya gaharu”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: