Arsip untuk Januari, 2010

“Hadiah”

100131

“Hadiah”

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Memang tak terlalu salah jika ada orang yang mengatakan bahwa korupsi itu sudah membudaya dalam masyarakat kita. Yang salah adalah anggapan bahwa korupsi tidak dapat dihilangkan, sebagaimana orang mengatakan bahwa pelacuran tidak dapat dihapus karena sudah tumbuh lama sejalan dengan pertumbuhan kehidupan bermasyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah kebiasaan yang sudah memasyarakat. Namun harus disadari bahwa kebiasaan itu jika ditilik dari pedoman Allah ada yang baik ada pula yang buruk; yang buruk harus diperbaiki, sedangkan yang baik perlu dipertahankan ataupun bahkan dikembangkan lebih lanjut. Misalnya saja dalam hal korupsi; oleh sejumlah orang korupsi dianggap dianggap sudah sebagai budaya.

Senyatanya sudah sejak lama telah ada kebiasaan yang menjadikan munculnya sebutan jabatan basah, jabatan kering; yaitu kebiasaan “memberi hadiah”, tanda setia kepada pejabat-pejabat tertentu. Jika mereka yang berkecimpung dalam bidang yang terkait dengan ini diingatkan ataupun ditegur, mereka menjawab: “Dari dulu memang sudah demikian” tanpa terlintas di benak mereka keinginan untuk memperbaikinya. jawaban seperti itu sama dengan jawaban kaum-kaum para nabi terdahulu ketika diingatkan untuk memperbaiki kebiasaan mereka dalam hal ibadahnya, misalnya:

KAUM TSAMUD BERKATA:

“HAI SHALEH, SESUNGGUHNYA KAMU SEBELUM INI ADALAH SEORANG DI ANTARA KAMI YANG KAMI HARAPKAN, APAKAH KAMU LALU MELARANG KAMI MENYEMBAH APA YANG DISEMBAH OLEH BAPAK-BAPAK KAMI? SESUNGGUHNYALAH KAMI JADI BETUL- BETUL DALAM KERAGUAN YANG MENGGELISAHKAN TERHADAP AGAMA YANG KAMU SERUKAN KEPADA KAMI.” (Qur’an Surat Hud [11]: 62)

Sepertinya para pejabat di tempat “”basah” itu hendak mengatakan “Bukankah dari dulu biasanya para pejabat mendapat tanda setia (‘bulu bekti’, Jw.), tanda terima kasih dari masyarakatnya?”, padahal Rasulullah Muhammad SAW sudah menyebutkan bahwa apa yang didapat pejabat di luar gajinya adalah pelanggaran (sukhtun,ghulul; dosa). Pada kesempatan lain dalam suatu pertemuan, seorang petugas pengumpul zakat datang menyampaikan hasilnya dengan memilah mana yang diperoleh sebagai zakat yang terkumpul dan mana yang dikumpulkannya sebagai bagian untuk dirinya, yaitu hadiah, pemberian dari orang-orang yang dikunjunginya. Langsung saja Rasulullah menyampaikan “Mengapa dia tidak tinggal di rumah ibunya saja; orang memberi hadiah kepadanya ataukah tidak?”. Pemberian ataupun hadiah yang terkait dengan jabatan seseorang itu bukanlah hak si pejabat, tak halal baginya! Bahkan orang yang menolong seseorang lalu orang itu memberinya hadiah dan diterimanya, itu berarti dia telah masuk salah satu pintu dari pintu-pintu riba.

Dari sedikit gambaran itu saja maka mereka yang bekerja di “tempat basah” harus bersiap-siap untuk “berbasah-basah direndam di neraka” jika tidak segera bertaubat.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

======================================== Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292

Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================

Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW Serius berusaha? Kunjungi http://www.esyariah.com/?id=tauhidhw

Iklan

Memahami perbedaan status diri

100114

Memahami perbedaan status.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Allah SWT melebihkan pemberian kepada sebagian orang dibandingkan dengan yang lain untuk tujuan luhur dan hikmah yang agung, yaitu sebagai ujian di dalam memikul segala beban hidup; bersyukur atas kelebihan yang diterima, bersabar terhadap kekurangan yang dihadapinya. Itulah perkara yang tidak jarang kita lupakan dalam melihat hakikat perbedaan yag ada itu, sehingga kita luput dari merealisasikan maksud Allah dalam hal penciptaan dan pengaturan itu, yaitu ada tanggung jawab.

DAN DIALAH YANG MENJADIKAN KAMU PENGUASA-PENGUASA DI BUMI DAN DIA MENINGGIKAN SEBAGIAN KAMU ATAS SEBAGIAN (YANG LAIN) BEBERAPA DERAJAT, UNTUK MENGUJIMU TENTANG APA YANG DIBERIKANNYA KEPADAMU. SESUNGGUHNYALAH TUHANMU AMAT CEPAT SIKSAANNYA (BAGI YANG MENYALAHINYA); SESUNGGUHNYALAH DIA MAHA PENGAMPUN LAGI MAHA PENYAYANG. (Quran Surah al-An’am [6]:165)

Allah melestarikan keberadaan manusia dan fungsinya dengan menyediakan petunjuk-petunjuk yang dengannya manusia akan selamat dalam kehidupannya di ddunia untuk mempersiapkan diri bagi kebahagiaannya di akhirat nanti. Allah menyediakan sarana yang diperlukan manusia dalam bentuk sandang, pangan, dan papan. Semua itu memang bukan disediakan dalam bentuk seibarat nasi yang tinggal menyantapnya; Allah memberi sarana kemampuan berfikir untuk dapat memahami apa-apa yang dihadapinya. Dengan itu manusia dapat membedakan mana yang baik maupun yang buruk; dengannya manusia lalu dapat memilih yang baik bukannya yang buruk, dapat memilih yang memberi manfaat bukannya yang membahayakan. Atas adanya kemampuan berfikir dengan akalnya itulah nanti manusia dimintai pertanggungjawaban atas apa yang senyatanya dilakukan dengan apa yang telah diberikan Allah.

Dari sinilah dapat lebih kita fahami mengapa kemudian Allah pantas bertanya seperti yang tertera pada akhir ayat 72 surat an-Nahl [16]:

ALLAH MENJADIKAN BAGI KAMU ISTERI-ISTERI DARI JENIS KAMU SENDIRI DAN MENJADIKAN BAGIMU DARI ISTERI-ISTERI KAMU ITU ANAK-ANAK DAN CUCU-CUCU, DAN MEMBERIMU REZKI DARI YANG BAIK-BAIK. MAKA MENGAPAKAH MEREKA (manusia) BERIMAN KEPADA YANG BATHIL DAN MENGINGKARI NIKMAT ALLAH? (Quran Surat an-Nahl [16]: 72)

Mudah-mudahan kita dapat memahami keberagaman kenyataan dan keberadaan kita masing-masing dengan kesadaran atas tanggung jawab atas semua yang dipaparkan Allah kepada kita, untuk kemudian dapat bersikap dengan benar.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Asalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wasalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Tugas kita berdakwah; keberhasilannya di tangan Allah.

100108

Tugas kita berdakwah; keberhasilannya di tangan Allah.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Allah SWT lebih menentukan berhasil ataukah tidaknya suatu upaya hamba Allah. Namun bagaimanapun juga kita masih perlu mengetahui  duduk permasalahannya sehingga kita bukannya lalu tidak berbuat apa-apa. Dalam gambaran sederhana Allah swt. mencontohkan apa yang dialami Nabi Nuh AS ketika ajakannya kepada warga kaumnya ditanggapi negatif, sampai-sampai nabi Nuh dianggap memperpanjang alasan, sehingga mereka itu lalu menantang untuk disegerakan datangnya siksa yang telah diancamkan kepada mereka sebebelum ini.

“MEREKA BERKATA: “HAI NUH, SESUNGGUHNYA KAMU TELAH BERBANTAH DENGAN KAMI, DAN KAMU TELAH MEMPERPANJANG BANTAHANMU TERHADAP KAMI, MAKA DATANGKANLAH KEPADA KAMI AZAB YANG KAMU ANCAMKAN KEPADA KAMI, JIKA KAMU TERMASUK ORANG-ORANG YANG BENAR”. (Qur’an, surah Hud [11]: 32)

Sikap menantang azab Allah itu dijawab Nabi Nuh sesuai dengan wewenangnya, yaitu bahwa Allah sendirilah yang punya kuasa untuk menyegerakan ataukah menundanya sampai nanti, dengan tetap mengingatkan mereka itu untuk berhati-hati dalam bicara, yaitu bahwa siksa yang diancamkan oleh Allah itu bukan main-main, yang kalau sudah didatangkan oleh Allah pastilah mereka tidak mungkin melepaskan diri darinya.

NUH MENJAWAB: “HANYALAH ALLAH YANG AKAN MENDATANGKAN AZAB ITU KEPADAMU JIKA DIA MENGHENDAKI, DAN KAMU SEKALI-KALI TIDAK AKAN DAPAT MELEPAS DIRI.” (Qur’an, surah Hud [11]: 33)

Selanjutnya Nabi Nuh lebih merendah lagi terdapat kekuasaan Allah itu dengan menyatakan:

“DAN TIDAKLAH BERMANFAAT KEPADAMU NASIHATKU JIKAPUN AKU HENDAK MEMBERI NASIHAT KEPADA KAMU, KALAULAH ALLAH HENDAK (MEMBIARKAN KAMU DALAM SIKAP MAUPUN PERILAKU YANG MENURUT SUNATULLAH PASTI) AKAN MENYESATKAN KAMU. DIA ADALAH TUHANMU, DAN KEPADANYALAH KAMU DIKEMBALIKAN (UNTUK DIBERI BALASAN SESUAI DENGAN ULAH FIKIR MAUPUN PERBUATAN KAMU)”. (Qur’an, surah Hud [11]: 34)

Begitulah jika kita berdakwah, tidak mustahil pula bahwa kita ditolak dengan berbagai macam alasan yang dicari-cari. Jika sudah demikian tak ada langkah yang lain yang dapat kita lakukan selain kita kembalikan permasalahannya kepada Allah. Berhasil atau tidaknya dakwah atau ajakan kita semuanya itu tergantung pada bagaimana Allah memberikan kemudahan terbukanya hati sasaran dakwah kita itu. Bagaiamana orang-otrang yang salah itu dihukum bukanlah ranah wewenang kita untuk berbuat. Namun satu hal yang kita dapat yakini adalah bahwa Allah sudah memberi pedoman umum adanya pola sebab-akibat, dengan keleluasaan kepada mereka untuk memilih beriman ataukah memilih kekafiran yang tentu saja harus mereka pertanggungjawabkan sesuai dengan kelonggaran akal yang telah diberikan oleh Allah. Yang jelas kebaikan akan dibalas pahala yang bernilai sepuluh kalinya, tujuh ratus kali, ataupun lebih banyak lagi yang tak terhingga besarnya. Adapun   jika seseorang berbuat salah hanya akan dibalas sepadan dengan kesalahannya itu saja. Lebih jauh Allah juga bersifat tanggap yang berlebih jika manusia ini bermaksud baik, semisal yang dikemukakan oleh Rasulullah Muhammad SAW bahwa jika manusia mendekat dengan sehasta maka Allah menyambutnya dengan sedepa; jika manusia mendekat dengan berjalan maka Allah menyambutnya dengan berlari.

Semoga Allah memberi keterbukan hati sasaran dakwah kita dengan limpahan hidayahNya, sehingga kita dapat juga bergembira dengan penuh rasa syukur ketika melihat keberhasilan dakwah kita.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Berlomba berusaha

100101

Berlomba berusaha.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Tidak sedikit dari kita yang “silau” melihat sukses yang telah dicapai orang, apalagi jika yang “sukses” itu adalah orang yang non-muslim. Kadang-kadang muncul “pemberontakan” dalam hati kita, mempertanyakan mengapa yang sukses orang yang tak shalat, padahal kita sudah shalat setiap hari. Terkait dengan ini mungkin kita lupa ataupun belum pernah membaca pedoman dasar yang telah diberikan Allah SWT, yang tertulis dalam al-Qur’an, ataupun gambaran yang telah diberikan oleh RasulNya, Muhammad SAW., misalnya:

“BARANG SIAPA YANG MENGHENDAKI KEHIDUPAN DUNIA DAN PERHIASANNYA,NISCAYA KAMI MEMBERIKAN KEPADA MEREKA BALASAN PEKERJAAN MEREKA DI DUNIA DENGAN  SEMPURNA DAN MEREKA DI DUNIA ITU TIDAK AKAN DIRUGIKAN.” (Qur’an Surah Hud [11]: 15)

“BARANG SIAPA MENGHENDAKI (SUKSES) KEHIDUPAN SEKARANG (DUNIAWI) MAKA KAMI SEGERAKAN BAGINYA DI DUNIA ITU APA YANG KAMI KEHENDAKI BAGI ORANG YANG KAMI KEHENDAKI…” (Qur’an Surah al-Isra'[17]: 18)

Di dalam kehidupan dunia ini Allah telah menetapkan “hukum sebab-akibat” sebagai salah satu dari sunnatullah, hal yang sering kita lupakan. Banyak dari kita yang kurang benar dalam berserah diri (tawakkal), banyak dari kita yang kurang bersungguh-sungguh dalam berusaha; misalnya ingin kaya tetapi tidak mau bekerja keras, ingin pandai tetapi malas belajar. Bahkan ada pula yang lupa untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan akhiratnya, padahal kehidupan akhirat itu jauh-jauh lebih panjang ketimbang masa kehidupan dunia ini; mereka yang tidak mempersiapkan kehidupan akhirat itu akan memperoleh kehidupan sengsara di neraka!

“ITULAH ORANG-ORANG YANG TIDAK MEMPEROLEH (BALASAN) DI AKHIRAT KECUALI NERAKA; LENYAPLAH DI AKHIRAT ITU APA YANG TELAH MEREKA USAHAKAN DI DUNIA, DAN SIA-SIALAH APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN.” (Qur’an Surah Hud [11]: 16)

“…DAN KAMI TENTUKAN BAGINYA NERAKA JAHANNAM; IA AKAN MEMASUKINYA DALAM KEADAAN TERCELA DAN TERUSIR.” (Qur’an Surah al-Isra'[17]:18)

Beruntunglah kita yang telah sadar bahwa untuk mencapai sukses di dunia maupun akhirat kita harus giat berusaha secara bersungguh-sungguh, termasuk menguatkan usaha itu dengan ilmu maupun sarananya yang terkait. Allah itu Maha Pemurah membantu siapapun yang berusaha; kita harus pandai-pandai “bersaing” dengan mereka yang berusaha menuju ke kerusakan dn kemungkaran.

“KEPADA MASING-MASING GOLONGAN BAIK GOLONGAN INI MAUPUN GOLONGAN ITU KAMI BERIKAN BANTUAN DARI KEMURAHAN TUHANMU. DAN KEMURAHAN TUHANMU TIDAK DAPAT DIHALANGI.” (Qur’an Surah al-Isra'[17]: 20)

“DAN BARANG SIAPA MENGHENDAKI KEHIDUPAN AKHIRAT DAN BERUSAHA KE ARAH ITU DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH SEDANG IA ADALAH MUKMIN, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG USAHANYA DIBALASI DENGAN BAIK.” (Qur’an Surah al-Isra'[17]: 19)

Semoga Allah swelalu memberikan kekuatan untuk berusaha dalam arah hidayahNya.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Asalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wasalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW