Arsip untuk Juli, 2009

Menyikapi hasil suatu kesepakatan

90710 Menyikapi hasil suatu kesepakatan.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Jika kita perhatikan secara sepintas saja mudahlah kita tarik kesimpulan bahwa keadaan ummat Islam belumlah sebaik ajaran agamanya, Islam, yang disiapkan Allah untuk digunakan sebagai pedoman hidup seseorang secara pribadi maupun dalam kehidupannya berkeluarga dan bermasyarakat. Atas keadaan masyarakat yang begini sebagaian dari kita telah berusaha untuk membenahinya, karena Allah SWT sudah menegaskan:

“..SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENGUBAH KEADAAN SESUATU KAUM SEHINGGA MEREKA (BERUPAYA) MENGUBAH KEADAAN YANG ADA PADA DIRI MEREKA SENDIRI..” (Surah ar-Ra’d [13] ayat 11)

Upaya itu antara lain dengan langkah-langkah untuk mengatur kehidupan dalam bermasyarakat yang lebih luas di dalam bernegara dengan upaya menyediakan orang-orang pilihan untuk dijadikan pimpinan, untuk diikuti kepemimpinannya. Mungkin dari kita ada yang merasa kurang puas terhadap hasil yang telah tercapai dari suatu usaha.Dalam halini hendaknya kita kembali menyadari bahwa kewajiban kita adalah berusaha sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian berusaha, maka berusahalah”

Allah Maha Kuasa untuk menentukan hasil akhir semua usaha kita, tanpa mengurangi nilai usaha kita, asalkan kita tetap menjaga langkah usaha kita itu dengan iman dan amal shalih. Sebagai anggota masyarakat kita telah membuat ketentuan-ketentuan sebagai suatu kesepakatan, kebulatan tekad bersama, perjanjian yang harus dipatuhi. Apapun hasilnya kita ikuti dengan tetap berserah diri kepada Allah dalam langkah-langkah lanjutnya.

“MAKA DISEBABKAN RAHMAT DARI ALLAHLAH KAMU BERLAKU LEMAH LEMBUT TERHADAP MEREKA; SEKIRANYA KAMU BERSIKAP KERAS LAGI BERHATI KASAR,TENTULAH MEREKA MENJAUHKAN DIRI DARI SEKELILINGMU. KARENA ITU MAAFKANLAH MEREKA, MOHONKANLAH AMPUNAN BAGI MEREKA. DAN BERMUSYAWARAHLAH DENGAN MEREKA DALAM URUSAN ITU. KEMUDIAN APABILA KAMU TELAH MEMBULATKAN TEKAD (DALAM KESEPAKATAN TENTANG SUATU), MAKA BERTAWAKKALLAH KEPADA ALLAH. SESUNGGUHNYA ALLAH MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERTAWAKKAL KEPADANYA.” (Qur’an, Surah Ali Imran [3] ayat 159)

Seibarat di zaman Rasulullah ketika tercapai perjanjian Hudaibiyah, banyak dari kaum mukmin yang merasa kecewa, namun marilah kita bersikap positif sebagaimana sebagian kaum mukminin saat itu; marilah kita menata langkah lagi. Kita manfaatkan peluang yang ada sebaik mungkin untuk mencapai cita-cita luhur, kebaikan bagi ummat Islam untuk menampakkan hasil penugasan Allah atas kita bersama sebagai penebar rahmat kebaikan penuh kasih sayang bagi seluruh alam. Kita tata lagi langkah kita.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

========

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana (2,5 MB): “Indeks Terjemah Qur’an”. ========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ajaklah teman bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292 Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

Iklan

Jalan yang mendaki.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Tidak sedikit dari kita yang telah berbuat banyak, lalu berfikir bahwa itu semua sudah cukup untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat: surga. Padahal Rasulullah Muhammad SAW sudah mengingatkan agar kita tidak mengandalkan apa yang sudah kita perbuat untuk mendapatkan kehidupan surga; hanya rahmat Allah SWT sajalah yang dapat membawa kita ke kehidupan surga. Oleh karena itulah kita perlu lebih banyak lagi berbuat sebagai pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah. Jadi kalau Allah menyebutkan bahwa ada peluang yang baik di samping yang buruk, maka kesempatan menempuh jalan ke arah yang baik harus benar-benar kita manfaatkan. Misalnya saja Allah memberi gambaran sebagaimana disebutkan dalam firmanNya:

“DAN KAMI TELAH MENUNJUKKAN KEPADANYA DUA JALAN,TETAPI DIA TIADA MENEMPUH JALAN YANG MENDAKI LAGI SUKAR. TAHUKAH KAMU APAKAH JALAN YANG MENDAKI LAGI SUKAR ITU (YAITU) MELEPASKAN BUDAK DARI PERBUDAKAN, ATAU MEMBERI MAKAN PADA HARI KELAPARAN (KEPADA) ANAK YATIM YANG ADA HUBUNGAN KERABAT, ATAU ORANG YANG SANGAT FAKIR.” (Surah al-Balad [90] ayat 10-16)

Sangat beruntunglah kita yang tergerak untuk memilih jalan yang “mendaki” itu, yang tidak ingin hanya berpangku tangan karena merasa telah banyak berbuat, lalu berusaha untuk memanfaatkan potensi diri (harta, tenaga, ilmu) yang telah diberikan Allah kepadanya. Orang yang begini ini mungkin dianggap “cari repot” saja, padahal ini dinilai tinggi oleh Allah. Jangan kita menjadi orang yang sebaliknya, yang acuh terhadap peringatan dan arahan Allah itu, yang diancam dengan siksa neraka sebagaimana dinyatakan Allah dalam firmanNya:

“DAN ORANG-ORANG YANG (MENOLAK ARAHAN ITU, YANG SAMA HALNYA DENGAN) KAFIR KEPADA AYAT-AYAT KAMI, MEREKA ITU ADALAH GOLONGAN KIRI; MEREKA BERADA DALAM NERAKA YANG DITUTUP RAPAT.” (Surah al-Balad [90] ayat 19-20)

Semoga kesadaran kita akan arahan ini dapat banyak membantu meringankan tanggungan saudara-saudara kita yang berkekurangan.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

 

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”. ========================================

Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Kesiapan mental untuk berkegiatan

Kesiapan mental dalam ber- “amar ma’ruf dan nahi munkar”

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahim. Dalam mengisi hidup ini kepada kita pada dasarnya diperintahkan oleh Allah SWT untuk berbakti hanya kepada Allah dengan agama yang lurus (QS al-Bayyinah [98] ayat 5). Kemurnian niat ini adalah untuk mendapatkan pengakuan (keridhaan) atas benarnya apa yang telah kita lakukan. Termasuk di sini adalah ketika kita melakukan “amar ma’ruf dan nahi munkar”, bahwa yang kita lakukan itu sebagai tanda bukti kepatuhan kita membaktikan potensi yang telah diberikan oleh Allah, semisal potensi kekuasaan untuk “memaksa” orang dengan hak menyusun ketentuan, peraturan, perundang-undangan, ataupun bahkan memberi perintah, yang telah diamanahkan oleh masyarakat kepada kita yang sedang menjadi pejabat di tingkat pusat maupun daerah. Dalam melaksanakan amanah seperti itu kita mungkin harus berhadapan dengan kekuatan yang menentang ataupun menantang langkah kita. Dalam hal ini hendaknya kita tetap yakin bahwa kebenaran harus ditegakkan, walaupun ada ancaman yang dapat berujung ke kematian. Sangat penting kesadaran untuk berani bersikap seperti ini untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah dalam salah satu sabdanya menyebutkan: “Setinggi-tinggi jihad adalah menyampaikan kalimat kebenaran kepada kepala negara yang jahat (yang dia siap dihukum mati karenanya)”. Di sisi lain kita jumpai tidak sedikit orang yang pandai berbicara, berolah kata, yang dapat menyesatkan arah kita bersikap, sehingga kita tak menyadari bahwa telah terbawa melangkah di jalur yang salah. Bahkan ada pula dari kita yang silau oleh kilatan harta ataupun bayangan kenikmatan tahta, lalu mendukung ataupun membela yang salah dalam menghadapi mereka yang benar, padahal Allah SWT sudah mengingatkan: “SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MENURUNKAN KITAB KEPADAMU DENGAN MEMBAWA KEBENARAN, SUPAYA KAMU MENGADILI ANTARA MANUSIA DENGAN APA YANG TELAH ALLAH WAHYUKAN KEPADAMU, DAN JANGANLAH KAMU MENJADI PENANTANG (ORANG YANG TIDAK BERSALAH), KARENA (KAMU MEMBELA) ORANG-ORANG YANG KHIANAT.” (Surah an-Nisa’ [4] ayat 105). Allah akan memintai petanggungjawaban atas apa-apa yang pernah kita lakukan… Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab ======================================== SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad). SWT. = subhanahu wa ta-‘ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya). *** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana (2,5 Mb): “Indeks Terjemah Qur’an”. Assalamu ‘alaikum wr. wb. Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya. Wassalam, dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF. e-mail: tauhid@telkom.net Jalan Kendangsari Lebar No. 48 Surabaya INDONESIA 60292 Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486 ===================== Dana dakwah. Transfer ke BCA RekNo 822 0213791 (a/n RM Tauhid), atau bergabung dalam http://www.asiakita.com/pandu-hw