Arsip untuk April, 2009

Penggalangan dana

Penggalangan dana dakwah.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

“SERULAH (MANUSIA) KEPADA JALAN TUHANMU DENGAN BIJAK DAN PELAJARAN YANG BAIK ….” (Surah an-Nahl [16] ayat 125)

Dalam upaya memahami firman Allah SWT di atas kita dapat merenung lebih jauh, kita dapat merasakan lebih dalam apa yang seharusnya kita lakukan. Sarana dakwah secara menyeluruh dapat berupa semisal sarana sederhana untuk penyampaian ajakan secara lisan; ini meliputi ruangan dengan mimbar ataupun meja, tempat duduk yang berupa tikar aaupun kursi, sound system, ataupun lainnya. Untuk masa sekarang sarana dakwah dituntut untuk lebih maju lagi; sarana itu dapat berupa sarana elektronik, yang sederhana berupa radio, tape, VCD, maupun televisi yang melibatkan satelit maupun sarana pendukung lainnya di samping sarana lainnya yang berupa buku, leaflet, poster, film, dan semacamnya. Jaringan internet pun cukup banyak yang telah digunakan sebagai sarana dakwah. Pemilihan materi yang bijak sangatlah penting. Suatu ceritera semisal dalam sinetron dapat menampilkan contoh gambaran kehidupan manusia dan lingkungannya; ini dapat merupakan sarana pelajaran yang baik untuk mengajak orang menuju jalan Allah. Sayangnya sarana siaran radio, TV, maupun penerbitan masih banyak dikuasai oleh pemilik modal yang lebih mengejar keuntungan uang ketimbang sebagai media pendidikan. Namun harus kita syukuri bahwa masih ada saja peran sarana dakwah dasar yang berupa masjid, selain gedung sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan sebagainya yang dalam kendali ummat Islam.
Bagaimana proses penyelenggaraan kegiatan-kegiatan dakwah itu juga perlu diperhatikan demi suksesnya kegiatan terkait. Mereka yang berkecimpung di sini seharusnya terdidik dengan benar. Tidak sedikit dari mereka itu yang juga perlu ditopang dalam hal kehidupan keluarga dan rumah tangganya. Itu semua perlu dana yang tidak kecil, yang terkelola dengan benar.
Rasulullah Muhammad SAW pernah menyebutkan:
“Nanti akan ada masanya bahwa dakwah hanya berlangsung dengan dirham (uang)”
Orang-orang kaya banyak yang terbuai oleh kekayaannya, lupa peran kekayaan yang harus disyukuri itu. Orang yang miskin ataupun yang hidupnya pas-pasan mungkin ada yang punya dana, tidak besar, yang telah diikhlaskan sebagai infaq untuk kegiatan dakwah; namun mereka merasa bahwa dana itu terlalu kecil untuk kegiatan dakwah yang mereka bayangkan besarnya. Mereka ini rupanya lupa bahwa butir-butir pasir maupun kerikil yang kecil-kecil itu jika tersusun dapat membentuk gunung yang tidak berkesan kecil lagi. Siapa yang akan mengumpulkan pasir dan kerikil itu? Untuk ini harus ada orang ataupun lembaga yang amanah untuk mengelolanya.
Jika Anda mau, kami akan mengelola amanah “kerikil ataupun pasir” itu, untuk itu silakan bergabung dengan kami di http://www.asiakita.com/pandu-hw.
Semoga Allah membalas infaq ataupun shadaqah Anda, dan melimpahkan taufiq dan hidayahNya kepada kita sekalian.

Wa ‘l-Lahu a’lamu bi ‘sh-shawwab

Iklan

Menentukan pilihan untuk memimpin.

Menentukan pilihan untuk memimpin.

 

  

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

 

 

Ketika kita memilih seseorang untuk mewakili keperluan kita, sama halnya dengan memilih seseorang untuk mengurusi keperluan kita, tidak berbeda dengan menyerahkan pengarahan kepadanya tentang apa yang perlu kita lakukan, dengan kata lain bahwa pemilihan seperti itu sama dengan pemilihan pimpinan, pelindung, ataupun lainnya yang semakna. Oleh karena itulah kita perlu merenungkan kembali apa yang kepada kita sudah dibimbingkan Allah SWT, misalnya:

 

 

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, JANGANLAH KAMU MENGAMBIL MUSUHKU DAN MUSUHMU  MENJADI PEMIMPIN, TEMAN SETIA,..” (Surah al-Mumtahannah [60] ayat 1)

 

Salah satu dari yang dihindarkan dari pertemanan ini antara lain pembocoran rahasia, seperti yang disebut Allah:

 

“..KAMU MEMBERITAHUKAN SECARA RAHASIA KEPADA MEREKA, KARENA RASA KASIH SAYANG ..” (Surah al-Mumtahannah [60] ayat 1)

 

Bahkan Allah SWT juga melarang kita memilih hanya berdasar kekerabatan atau kedekatan kalaulah orang itu masih cenderung ke pelanggaran,kerusakan, ataupun lainnya yang merupakan bentuk kekafiran atas ketentuan Allah.

 

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, JANGANLAH KAMU JADIKAN BAPAK-BAPAK DAN  SAUDARA-SAUDARAMU MENJADI PEMIMPIN(MU), JIKA MEREKA LEBIH MENGUTAMAKAN KEKAFIRAN ATAS KEIMANAN. DAN SIAPA DI ANTARA KAMU YANG MENJADIKAN MEREKA PEMIMPIN, MAKA MEREKA ITULAH ORANG-ORANG YANG ZALIM.” (Surah at-Taubah [9] ayat 23)

 

 

Untuk keselamtan diri dari hukuman Allah, maupun kebaikan kehidupan bersama dalam bermasyarakat, kita perhatikan benarlah apa yang juga diingatkan Allah:

 

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, JANGANLAH KAMU MENGAMBIL ORANG-ORANG  YAHUDI DAN NASRANI (YANG BUKAN ORANG MUKMIN!) MENJADI WAKIL ATAU PEMIMPINMU; SEBAGIAN MEREKA ADALAH PEMIMPIN BAGI SEBAGIAN YANG LAIN. BARANG SIAPA DI ANTARA KAMU MENGAMBIL MEREKA MENJADI WALI, MAKA SESUNGGUHNYA ORANG ITU TERMASUK GOLONGAN MEREKA…” (Surah al-Maidah [5] ayat 51)

 

 

Mari kita tanamkan kesungguhan kita untuk hanya memilih calon-calon yang beriman kokoh dalam pemilihan di negara yang demokratis ini; jangan biarkan orang-orang yang memusuhi Allah maupun memusuhi kita berkuasa.

 

“DAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN, LELAKI DAN PEREMPUAN, SEBAGIAN MEREKA   (ADALAH)  MENJADI PENOLONG BAGI SEBAGIAN YANG LAIN. MEREKA  MENYURUH (MENGERJAKAN) YANG MAKRUF, MENCEGAH DARI YANG MUNGKAR, MENDIRIKAN SEMBAHYANG, MENUNAIKAN ZAKAT, DAN MEREKA TAAT KEPADA ALLAH DAN RASULNYA….” (Surah at-Taubah [9] ayat 71)

 

 

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

 

Menyerahkan kepemimpinan

Menyerahkan kepemimpinan.

Pemilihan umum pada hakikatnya adalah penyerahan amanah. Ummat Islam perlu jeli dalam memilih siapa-siapa yang nantinya akan diamanahi untuk memikirkan permasalahan ummat. Amanah tidak seharusnya diserahkan kepada orang yang memusuhi ummat, yang telahsecara jelas-jelas ataupun yang dapat berpeluang besar untuk melakukannya.

 

Dalam kenyataan keberagaman calon yang akan dipilih, dalam masyarakat demokratis, peran pemilih sangat menentukan; di masyarakat yang banyak penjahatnya, maka merekalah yang akan berkuasa menentukan masa depan masyarakat itu. Di sinilah perlu kita sadari bahwa jika ummat Islam banyak yang tak hendak memilih (jadi golput), maka masa depan ummat Islam di Indonesia akan lebih banyak dipengaruhi (baca: ditentukan) oleh mereka yang mungkin justru tidak nenyukai Islam. Di situlah akan berlaku yang diingatkan Rasulullah Muhammad SAW: “Apabila amanah disia-siakan, maka nantikanlah saat kehancuran”. Ketika seseorang bertanya apa yang dimaksud dengan disia-siakan itu, Rasulullah menjelaskan: “Bila urusan (baca:wewenang) diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancuran itu” (HSR Bukhary dari Abi Hurairah).

 

Akhir-akhir ini banyak terungkap bahwa cukup banyak mereka yang telah dipasrahi amanah untuk mengurusi masalah ummat ternyata berkhianat; yang diurusinya bukannya kepentingan ummat (baca: umum), tetapi lebih banyak yang bersifat untuk golongan, kelompok, partai, ataupun bahkan pribadinya sendiri.

 

Mungkin ada yang merasa bahwa calon-calon yang ada sekarang ini tidak ada yang sempurna, namun Rasulullah SAW mengajari kita bahwa dalam keadaan “tidak” adanya pilihan sempurna, maka pilihan harus ke arah menghindari keburukan, bukannya memilih yang sekedar berpeluang untuk baik. Dalam hal ini jika secara pribadi masih juga sulit untuk menentukan pilihan, masih ada tempat bertanya: Allah. Kita memohon arahan dengan istikharah.

 

Semoga masa depan ummat masih kian membaik.