Kerangka acuan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni

KERANGKA ACUAN

 

1. LATAR BELAKANG

Hari Lingkungan Hidup Sedunia (WED, World Environment Day),  tanggal 5 Juni, diperingati di lebih dari 100 negara; pada hari peringatan ini orang memfokuskan perhatian pada lingkungan. Hari Lingkungan Hidup Sedunia disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1972 untuk menandai pembukaan Konferensi Lingkungan (Human Environment) di Stockholm. Hari lingkungan hidup sedunia dimunculkan  untuk mempromosikan isu lingkungan. Agenda pentingnya adalah menampakkan peran manusia pada isu-isu lingkungan, menjadikan manusia sebagai agen aktif keberlanjutan dan pengembangan yang adil, mempromosikan pemahaman bahwa komunitas memainkan peran penting dalam mengubah sikap terhadap isu-isu lingkungan dan mengadvokasi kerjasama yang akan menjamin seluruh bangsa dan manusia menikmati masa depan yang aman dan sejahtera. Hari Lingkungan Hidup Sedunia menggunakan pendekatan membangun kesadaran, mendukung anggota masyarakat untuk menyuarakan pikiran mereka dan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki lingkungan.

 

Hari lingkungan  diperingati dengan banyak cara, misalnya acara reli berjalan kaki, parade sepeda,  konser musik, kompetisi esai dan poster di sekolah, penanaman pohon, usaha-usaha daur ulang, kampanye bersih-bersih, dan masih banyak lagi. Di banyak negara, peringatan tahunan ini biasa dilakukan untuk kepentingan dan aksi politik organisasi massa. Slogan peringatan hari lingkungan untuk tahun 2008 ini adalah “Kick the Habit! Towards a Low Carbon Economy” (Tinggalkan kebiasaan lama! Tujulah  ekonomi berkarbon rendah)

 

Menyadari bahwa perubahan iklim telah menjadi isu yang sangat penting pada era kita, UNEP (badan PBB untuk perlindungan lingkungan) menghimbau negara-negara, perusahaan, dan masyarakat untuk fokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Peringatan hari lingkungan memberi perhatian lebih pada sumber energi dan inisiatif yang mempromosikan ekonomi rendah karbon dan gaya hidup masyarakat, terutama yang terkait dengan  efisiensi energi, sumber energi alternatif, konservasi hutan, dan konsumsi ramah lingkungan.

 

2.   PEMIKIRAN LANJUT

 

Efek Rumah Kaca.

Pancaran gelombang  pendek energi matahari yang berupa “cahaya” yang terlihat itu berjalan dari matahari menuju bumi tak terhalang ketika melewati lapisan-lapisan yang tersusun dari berbagai macam gas yang membentuk “lapisan” seibarat selimut panas (thermal blanket) yang meliputi bumi.   Bagian utama lapisan ini adalah uap air di samping gas-gas lain semisal CO2, methan (CH4), NO, NO2, Chloro Fluoro Carbon (CFC), dan ozone (O3).

 

 Dari pancaran sinar matahari yang diterima bumi, sepersepuluhnya dipantulkan kembali oleh permukaan bumi dan ditangkap oleh lapisan “selimut panas” yang meliputi bumi itu. Sebagian dari energi panas yang tertangkap di selimut itu dipancarkan kembali ke bumi, meningkatkan suhu bumi. Perkembangan industri, pertanian, dan transportasi telah menghasilkan berbagai macam gas yang meningkatkan pengaruh selimut panas ini. Gas CO2 yang dihasilkan  dari pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara, maupun bahan bakar organik lainnya itu kian mempertebal selimut panas itu. Akibatnya akan terjadi peningkatan suhu dunia. Ini berarti bahwa kegiatan dengan penggunaan berbagai mesin dan pembakaran itu yang semula terkesan menguntungkan secara ekonomis, ternyata dapat menjadi ancaman  yang membahayakan oleh peningkatan produksi CO2 itu..

 

Suhu yang meninggi ini juga menjadikan tanah kian kering, memaksa perubahan pola pertanian ataupun bahkan mematikan sejumlah tanaman ataupun hewan tertentu, namun serangga akan lebih mudah berkembang biak sehingga merebaklah berbagai penyakit epidemik seperti malaria, diare, dan demam berdarah akibat perkembangbiakan serangga yang dipercepat. Pemanasan global juga akan berakibat tenggelamnya pulau-pulau kecil yang tersebar di tanah air.  Perubahan suhu ini juga berpengaruh pada cuaca secara umum sehingga dapat memunculkan berbagai persitiwa alam seperti badai yang kuat dan hujan lebat yang berakibat banjir karena air tak tertahan oleh hutan, lebih-lebih jika penggundulan hutan tak terkendali. Penggundulan hutan lebih lanjut  juga akan meningkatkan lapisan gas selimut panas di ruang angkasa itu karena berkurangnya kecepatan asimilasi yang menyerap CO2.

 

 Kita tidak dapat berdiam diri. Kita harus berupaya untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dari kerusakan lingkungan itu. Di era otonomi daerah, Pemerintah Daerah dituntut untuk menyelaraskan pembangunan di daerahnya dengan kepentingan pelestarian lingkungan hidup;  Kepala Daerah bertanggung jawab dalam penanganan  lingkungan, termasuk dalam mengkoordinasikannya dengan  aktivitas masyarakat.

 

Pesan Ilahiyah.

Manusia diciptakan Allah SWT adalah sebagai khalifah di bumi, wakil Allah yang diamanati untuk mengelelola bumi ini (QS al-Baqarah [2] :30). Keseimbangan lingkungan (ecosystem) yang telah dibangun Allah tidak boleh dirusak (QS al-A’raf [7]:56; QS al-Maidah [5]:33, QS Asy-Syu’ara [26]:52). Sayangnya cukup banyak manusia serakah yang mengambil manfaat bumi ini dengan merusak, sepertinya lupa bahwa Allah melarang terjadinya perusakan sebagai akibat dari eksploitasinya, yang dapat mengganggu kelestarian lingkungannya dengan segala akibatnya (QS an-Nisa’ [4]:79, QS asy-Syura [42]:30, al-Qashash [28]:77, al-Maidah [5]:33, ar-Rum [30]:41). Melihat hal ini maka ummat Islam  tidak boleh tinggal diam. Terhadap keadaan yang tidak benar ini, mereka juga dituntut untuk berusaha mengatasi permasalahan yang mulai timbul ini, melakukan pencegahan awal (QS al-Anfal [8]:25). Semua itu disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya, melakukan penanganan langsung secara nyata dengan berbagai tindakan, pembenahan, ataupun sekedar beharap dengan hati atau doanya agar keadaan tidak kian memburuk. (Hadits). Langkah-langkah ini pada dasarnya  harus dimulai dari diri sendiri (Hadits), dan masyarakat perlu diajak serta dengan segala upaya penuh dengan kebijaksanaan (QS al-Maidah [5]:2, an-Nahl [16]:125), lewat pejabat pemerintah maupun para tokoh masyarakat. Untuk suksesnya langkah ini perlu bekerja sama dengan fihak-fihak terkait untuk penyadaran masyarakat, yang harus dimulai sejak kanak-kanak lewat pendidikan maupun latihan agar sikap peduli lingkungan telah kokoh, yang dimunculkan awal-awal  sejak pendidikan di usia dini. Dalam bentuk terintegrasi disisipkan pendidikan lingkungan sebagai pendidikan untuk menumbuhkan sikap baru terhadap komponen bumi seperti air, udara, hewan dan tumbuhan, dalam  pemikiran yang  menyeluruh   .            

3.             TUJUAN DAN STRATEGI

Ummat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia ikut bertanggung jawab atas lingkungan di Indonesia. Mereka ini sebagai angghota masyarkat luas harus berbuat untuk ikut menyelamatkan dunia dari pmanasan bumi.

Keluaran:

1.        Terlaksananya aksi lingkungan dengan kegiatan praktis yang dilaksanakan di mana saja  yang mungkin di tingkat manapun, sendiri-sendiri ataupun bergeak bersama masyarakat umum

2.        Terlaksananya kampanye sebagai penyadartahuan masyarakat luas tentang isu lingkungan terkini, khususnya tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2008 yaitu “Kick the Habit! Towards a Low Carbon Economy” (Tinggalkan kebiasaan lama! Tujulah  ekonomi berkarbon rendah)

3.        Inisiatif sedapat mungkin terintegrasinya pendidikan lingkungan dalam berbagai macam kegiatan pendidikan,  khususnya dalam kaitan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2008

4.        Terjadinya pengembangan kompetensi ummat  dalam pendidikan lingkungan di masyarakat

5.        Pelaksanaan kegiatan terakui (recognized) baik secara nasional maupun global, untuk tercatat sebagai bagian dari dari gerakan dunia; untuk ini kegiatan-kegiatan  perlu didaftarkan ke UNEP (http://www.UNEP.org/WED/2008/English/Around_the_World/)

Untuk mencapai tujuan dan keluaran (output) yang telah disebutkan di atas ditempuh strategi menggolongkan kegiatan dalam 2 jenis yaitu:

a)        Upacara peringatan (Celebration event) perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia  melalui acara (event) khusus di tingkat provinsi, kabupaten/kota, maupun yang lebih kecil

b)        Perluasan makna peringatan (Celebration outreach) dapat dicapai dengan mengntegrasikan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke dalam kegiatan organisasi-organisasi massa maupun pendidikan (sekolah, perguruan tinggi)

4.             GAMBARAN CONTOH PELAKSANAAN DAN METODENYA

 Upacara peringatan (Celebration event), perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia melalui event khusus di tingkat wilayah; kegiatan ini akan dengan mudah menampakkan peran masyarakat muslim:

1.                      kegiatan bersifat aksi: gerakan pembersihan  lingkungan (bersih-bersih sampah di pantai, sungai, jalan, taman, sekolah), pawai sepeda, penghijauan dengan penanaman pohon (pohon besar, tanaman hias)

2.                      kegiatan kampanye kreatif dan pengembangan minat dan kreativitas anggota, meliputi lomba-lomba beregu: membuat poster, kaligrafi ataupun cerdas cermat tentang ayat-ayat serta hadits tentang lingkungan, menulis puisi, meyerukan yel-yel – yang bertema “ubah prilaku boros dan abai lingkungan” (mengelola konsumsi energi (hemat energi),  mengelola sampah, dan berkreasi membuat kerajinan dari bahan bekas (tak terpakai). Jika kegiatan digabungkan dengan perkemahan, untuk setiap regu dapat difasilitasi dengan tersedianya  “stand” khusus atau petak tenda pamer.

3.                      kegiatan menyenangkan: permainan tradisional yang alat ataupun bahan permainannya dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan bekas, yang tak terpakai, misalnya layang-layang ataupun balon dari bekas tas “kresek” (plastik).

4.                      kegiatan-kegiatan di atas maupun yang lain dapat  disesuaikan dengan situasi, potensi lingkungan (alam) tempat kegiatan agar lebih tampak oleh masyaralkat umum, misalnya: tempat umum (public space) yang dapat dipilih untuk berkegiatan adalah: taman/hutan kota, bumi perkemahan, pantai, tempat wisata umum lainnya (kebun binatang, wisata alam, dan lain-lain), ruang terbuka yang menghijau (green & open public space)  seperti tanah lapang, bantaran sungai, dan sebagainya. Area pribadi (privat)  harus dihindari karena yang diharapkan adalah banyaknya khalayak umum yang turut menyaksikan aksi maupun kampanye yang dilaksanakan sebagai pembelajaran publik.

 

Perluasan makna peringatan (Celebration outreach)  dapat dicapai dengan mengintegrasikan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini ke dalam kegiatan pendidikan secara umum di sekolah maupun kegiatan masjid. Semuanya itu disesuaikan dengan kebiasaan pendidikan ataupun kursus yang biasa dilaksanakan rutin dengan  lebih direkomendasikan agar kegiatan ini dapat dilaksanakan sebelum upacara peringatan (celebration event)  jika dilaksanakan. Tujuan lain dari strategi ini adalah memperkaya metode kegiatan rutin pelatihan. Jika mungkin dilakukan juga pendekatan ke institusi TK (bustanul-athfal) agar juga terlibat dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini.

Untuk membantu pelaksanaan kegiatan dapat disusun petunjuk pelaksanaan setiap kegiatan dalam bentuk kerangka acuan perayaan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, ataupun sekolah maka  kerangka acuan  khusus untuk pelatihan ataupun modul untuk pendamping/pelatih/fasilitator kegiatan-kegiatan diskusi prilaku bertanggung jawab dan pengelolaan sampah (5R, refuse, reduce, recycle, reuse, reform) maupun persiapan untuk lomba yang mungkin diadakan.

a) SD/MI

1.              Bertukar mainan yang mengandung ajaran tentang lingkungan

2.              Bertukar majalah/komik/buku bacaan tentang lingkungan hidup

3.              Diskusi prilaku bertanggung jawab dan pengelolaan sampah  termasuk pengenalan jenis sampah (basah, kering)

 

b) SMP/MTs   

1.              Diskusi prilaku bertanggung jawab dan pengelolaan sampah (3R, reduce, recycle, reuse)

2.              Praktik pembuatan komposting sederhana,

3.              Bertukar majalah/komik/buku bacaan tentang lingkungan

4.              Membuat wayang kardus bekas (engkrek)

 

c) SMA/SMK/MA

1.              Diskusi tentang prilaku bertanggung jawab, hemat energi (misalnya berboncengan ke sekolah).

2.              Diskusi tentang pengelolaan sampah (8R, rethink, respect, refuse, reduce, recycle, remake, reform, reuse,) dan bagaimana memudahkan penerapannya di sekolah dan di rumah

3.              Praktek pembuatan komposting sederhana, daur ulang limbah kertas.

4.              Pengenalan jenis sampah: basah, kering (dari segi afektif, dan psikomotor)

5.              Game sampah dengan berbagai model sampah (psikomotor)

6.              Dan persiapan untuk lomba

 

5.                    PENUTUP.

Semoga kita dalam taufik dan hidayah Allah, lancar dalam semua kegiatan dalam bimbingan Allah dan mudah terlaksana karena sejalan dengan kehendak Allah.

 

Fastabiqulkhairat.

0 Responses to “Kerangka acuan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: