Menyerahkan kepemimpinan.
Pemilihan umum pada hakikatnya adalah penyerahan amanah. Ummat Islam perlu jeli dalam memilih siapa-siapa yang nantinya akan diamanahi untuk memikirkan permasalahan ummat. Amanah tidak seharusnya diserahkan kepada orang yang memusuhi ummat, yang telahsecara jelas-jelas ataupun yang dapat berpeluang besar untuk melakukannya.
Dalam kenyataan keberagaman calon yang akan dipilih, dalam masyarakat demokratis, peran pemilih sangat menentukan; di masyarakat yang banyak penjahatnya, maka merekalah yang akan berkuasa menentukan masa depan masyarakat itu. Di sinilah perlu kita sadari bahwa jika ummat Islam banyak yang tak hendak memilih (jadi golput), maka masa depan ummat Islam di Indonesia akan lebih banyak dipengaruhi (baca: ditentukan) oleh mereka yang mungkin justru tidak nenyukai Islam. Di situlah akan berlaku yang diingatkan Rasulullah Muhammad SAW: “Apabila amanah disia-siakan, maka nantikanlah saat kehancuran”. Ketika seseorang bertanya apa yang dimaksud dengan disia-siakan itu, Rasulullah menjelaskan: “Bila urusan (baca:wewenang) diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancuran itu” (HSR Bukhary dari Abi Hurairah).
Akhir-akhir ini banyak terungkap bahwa cukup banyak mereka yang telah dipasrahi amanah untuk mengurusi masalah ummat ternyata berkhianat; yang diurusinya bukannya kepentingan ummat (baca: umum), tetapi lebih banyak yang bersifat untuk golongan, kelompok, partai, ataupun bahkan pribadinya sendiri.
Mungkin ada yang merasa bahwa calon-calon yang ada sekarang ini tidak ada yang sempurna, namun Rasulullah SAW mengajari kita bahwa dalam keadaan “tidak” adanya pilihan sempurna, maka pilihan harus ke arah menghindari keburukan, bukannya memilih yang sekedar berpeluang untuk baik. Dalam hal ini jika secara pribadi masih juga sulit untuk menentukan pilihan, masih ada tempat bertanya: Allah. Kita memohon arahan dengan istikharah.
Semoga masa depan ummat masih kian membaik.
0 Tanggapan ke “Menyerahkan kepemimpinan”