91221 Menghitung-hitung amal.

91221 Menghitung-hitung amal.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Allah SWT telah mengingatkan kita sekalian untuk mawas diri, antara lain dalam firmanNya (QS al-Hasyr [59]: 18)

HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERTAKWALAH KEPADA ALLAH DAN HENDAKLAH SETIAP DIRI MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA APA YANG TELAH DIPERBUATNYA UNTUK HARI ESOK (AKHIRAT), DAN BERTAKWALAH KEPADA ALLAH, SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.

Baimana ketentuan Allah untuk bertaqwa, yaitu untuk hanya melakukan yang benar menurut Allah, meninggalkan yang terlarang menurut Allah. Kemudian Allah mengingatkan kita untuk menghitung-hitung ulang dengan cermat apa yang telah kita persiapkan untuk masa depan kita, terutama untuk kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan di akhrat harus kita persiapkan di masa hidup kita di dunia ini, sebelum hidup kita berakhir; semua itu kita tempuh waktu demi waktu, dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, bahkan dari detik ke detik berikutnya. Dalam memperhitungkan langkah-langkah kita yang lalu hendaknya kita jeli untuk selalu bersyukur jika kita telah berhasil, dan kian bergiat jika belum. Jika ternyata masih ada yang salah secepatnyalah kita berbenah diri; secepatnyalah bertaubat dan memperbaiki diri.

APA SAJA NIKMAT YANG KAMU PEROLEH ADALAH DARI ALLAH, DAN APA SAJA BENCANA YANG MENIMPAMU, MAKA DARI (KESALAHAN) DIRIMU SENDIRI…(QS an-Nisa’[4]: 79)

Bagaimana kita akan melanjutkan langkah lagi? Allah juga sudah mengingatkan: bertaqwalah. Jangan sampai kita kemudian menempuh jalan yang salah; jangan kita pakai peluang korupsi sekecil apapun kalaupun karena merasa masih berkekurangan meski ada kesempatan. Allah menunjukkan peringatannya dengan menyebutkan: “ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.” (QS al-Hasyr [59]: 18).

Jadi dengan menyadari bahwa sangat banyak kenikmatan maupun potensi yang telah diberikan Allah kepada kita, maka sangat tepatlah jika persiapan untuk masa depan kita itu kita lakukan dengan memanfaatkan apa-apa yang telah diberikan Allah itu untuk lebih banyak lagi beramal, sesuai dengan arahan Allah:

DAN CARILAH DENGAN APA YANG TELAH DIANUGERAHKAN ALLAH KEPADAMU (BEKAL UNTUK MENCAPAI KEBAHAGIAAN) NEGERI AKHIRAT, NAMUN JANGANLAH KAMU MELUPAKAN BAGIANMU DARI (MENIKMATI KENIKMATAN) DUNIAWI; BERBUAT BAIKLAH (KEPADA ORANG LAIN) SEBAGAIMANA ALLAH TELAH BERBUAT BAIK, KEPADAMU. DAN JANGANLAH KAMU BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI; SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERBUAT KERUSAKAN. (QS al-Qashash [28]: 77)

Semoga kesempatan yang masih ada ini dapat kita manfaatkan dengan baik.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

======================================= Asalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wasalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292

Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================

Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Berdakwahlah, walau mungkin “tidak” berhasil

Berdakwahlah walau mungkin “tidak” berhasil.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Ayat 99-100 Surat Yunus [10] ini harus kita baca dengan penuh rasa syukur, bahwa Allah telah mengizinkan kita sekalian menjadi mukmin. Rasulullah Muhammad SAW pernah juga menggambarkan bahwa kalaulah Allah menjadikan kita sebagai perantara untuk sampainya iman kepada seseorang, maka Allah menghadiahi kita dengan balasan yang lebih besar dari nilai dunia seisinya. Walaupun demikian tidak salah kalau kita juga berterima kasih kepada fihak-fihak yang mungkin dapat kita kenali siapanya, yang telah menjadi perantara untuk sampainya ajaran Islam ataupun iman kepada kita itu. Jika kita kemudian juga berharap lebih, lalu juga berusaha menyampaikan ajaran Allah kepada orang lain, mungkin saja seruan kita itu berhasil mendulang pahala, walau mungkin saja “sepertinya” tidak ada hasilnya. Yang jelas kewajiban kita adalah menyeru, berdakwah; kita tak boleh berputus asa atas “kegagalan” usaha kita dalam upaya ini; kita harus sadar bahwa hanya izin Allah yang dapat menjadikan da’wah kita “berhasil”.

DAN JIKALAU TUHANMU MENGHENDAKI, TENTULAH BERIMAN SEMUA ORANG YANG DI MUKA BUMI SELURUHNYA. MAKA APAKAH KAMU (HENDAK) MEMAKSA MANUSIA SUPAYA MEREKA MENJADI ORANG- ORANG YANG BERIMAN SEMUANYA? (QS 10: 99) DAN TIDAK ADA SEORANGPUN AKAN BERIMAN KECUALI DENGAN IZIN ALLAH; DAN ALLAH MENIMPAKAN KEMURKAAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK MEMPERGUNAKAN AKALNYA (QS 10: 100)

Bahkan Rasulullah sendiri pun tidak terjamin bahwa da’wahnya akan selalu sukses; beliau pun diingatkan kepada batasan tugas utama: mengajak, bukannya memaksa-maksa.

JIKA MEREKA BERPALING MAKA KAMI TIDAK MENGUTUS KAMU SEBAGAI PENGAWAS BAGI MEREKA. KEWAJIBANMU TIDAK LAIN HANYALAH MENYAMPAIKAN (RISALAH). SESUNGGUHNYA APABILA KAMI MERASAKAN KEPADA MANUSIA SESUATU RAHMAT DARI KAMI DIA BERGEMBIRA- RIA KARENA RAHMAT ITU. DAN JIKA MEREKA DITIMPA KESUSAHAN DISEBABKAN PERBUATAN TANGAN MEREKA SENDIRI (NISCAYA MEREKA INGKAR) KARENA SESUNGGUHNYA MANUSIA ITU AMAT INGKAR (KEPADA NIKMAT).(Qur’an Surah Asy-Syura [42]: 48 ) KAMI LEBIH MENGETAHUI TENTANG APA YANG MEREKA KATAKAN, DAN KAMU SEKALI-KALI BUKANLAH SEORANG PEMAKSA TERHADAP MEREKA. MAKA BERI PERINGATAN- LAH DENGAN AL-QURAN ORANG YANG TAKUT KEPADA ANCAMANKU. (QS Qaaf [50]: 45)

Terhadap mereka yang menolak kebenaran yang seharusnya dapat mereka terima sesuai dengan kemampuan akal yang telah diberikan kepada mereka itu, Allah punya kuasa. Setelah peringatan dengan kasih sayang disampaikan kepada mereka untuk menggunakan akal mereka, yang ternyata mereka tidak mempergunakannya, maka Allah akan menegur lebih lanjut mereka itu dengan peringatan kesusahan, ataupun menghukum mereka dengan berbagai malapetaka yang dapat menghancurkan mereka.

Semoga kita dapat memahami potensi maupun keterbatasan diri, untuk mampu menjaga diri melangkah berda’wah dalam koridor izin Allah.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48

Surabaya INDONESIA 60292

Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================

Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

————————————

=================================

Jika Anda punya pegangan hidup yang ingin ditularkan, kirimlah ke: pelita-hikmah@YahooGroups.com

91031 Memutar balik hukum

91031

Memutar balik hukum.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Jika seseorang menjumpai suatu barang (baca: rezeki) yang diminatinya, pastilah dia harus bersikap terhadap barang itu, pasti akan muncul dalam benaknya: diambil ataukah tidak. Sifat hanif yang ada pada setiap manusia pastilah membawanya untuk berfikir: halal ataukah haram? Pada dasarnya dengan kemampuan dasar hanif itu orang sebenarnya mampu untuk mengenali mana yang halal mana yang haram. Apalagi jika dia selalu bermohon dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW agar kepadanya ditampakkan yang baik itu baiknya sehingga dia tak ragu memilihnya, dan memohon ditampakkan yang buruk itu buruknya sehingga dia tidak ragu meninggalkannya. Di sinilah syaithan mulai lebih aktif bergerak; ditampakkannya yang buruk itu sebagai suatu yang baik, ditampakkannya yang sebenarnya baik itu sebagai sesuatu yang buruk. Jika orang ini telah termakan pedaya syaithan seperti ini, maka dianggapnyalah yang buruk itu baik, yang baik dianggap buruk!. Dia jadi memutarbalikkan huklum, menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal. Begitulah maka mereka inipun lalu tanpa ragu mengambil yang bukan haknya (baca: korupsi) dengan segala akibat buruk yang akan menimpanya. Kepada mereka itu pantas disampaikan -pertanyaan yang pernah dipertanyakan Rasulullah kepada kaumknya (Qur’an, Surah Yunus [10]: 59)

...”TERANGKANLAH KEPADAKU TENTANG REZKI YANG DITURUNKAN ALLAH
KEPADAMU, LALU KAMU JADIKAN SEBAGIANNYA HARAM DAN (SEBAGIANNYA) HALAL”…

…”APAKAH ALLAH TELAH MEMBERIKAN IZIN KEPADAMU (TENTANG INI)
ATAU KAMU MENGADA-ADAKAN SAJA TERHADAP ALLAH?”

Padahal apa yang mereka lakukan itu tidak akan luput dari amatan Allah SWT, dan mereka akan mendapat sanksi hukum dari apa yang telah mereka lakukan itu.

(DALAM KEADAAN APAPUN) KAMU TIDAK BERADA DALAM SUATU KEADAAN DAN TIDAK MEMBACA SUATU AYAT DARI AL-QURAN DAN/ATAUPUN KAMU TIDAK MENGERJAKAN SUATU PEKERJAAN, MELAINKAN KAMI (ALLAH) MENJADI SAKSI ATASMU DI WAKTU KAMU MELAKUKANNYA. TIDAK ADA YANG LUPUT DARI PENGETAHUAN TUHANMU BIARPUN SEBESAR ZARRAH (ATOM) DI BUMI ATAUPUN DI LANGIT. TIDAK ADA YANG LEBIH KECIL DAN TIDAK (PULA) YANG BESAR DARI ITU, MELAINKAN (SEMUANYA ITU TERCATAT) DALAM KITAB NYATA (LAUHUL-MAHFUZH)
(Qur’an, Surah Yunus [10]: 61)

Mudah-mudahan mereka yang pernah tersalah langkah itu segera menyadari kekeliruannya lalu cepat bertaubat dengan sebenar-benar taubat.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================

Sepuluh Tahun Kebangkitan Kembali HW

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Tanggal 18 Nopember 2009 nanti sudah  sepuluh tahun Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendeklarasikan Kebangkitan Kembali Pandu HW sebagai Ortom   Gerakan Kepanduan Hizbul-Wathan (HW) setelah “ditidurkan” sejak tahun 1961. Sudah banyak yang terjadi, sudah banyak yang dilakukan oleh para pegiatnya, pimpinan Kwartirnya, pembina, pelatih, maupun anggauta didiknya, namun seharusnya dapat jauh lebih banyak lagi….

Mari kita renungkan bersama, mengapa?

Kita tata lagilah langkah-langkah ke depan.

Wasalam,

tauhid

Kepekaan terhadap ibadah sosial

91016

Kepekaan ummat terhadap ibadah sosial.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Tidak sedikit jamaah hajji Indonesia ketika di tanah suci mendapat pertanyaan yang cukup menggelitik, yang tidak mudah menjawab. Pertanyaab seperti ini rupanya muncul melihat kenyataan bahwa jamaah hajji Indonesia termasuk yang suka belanja barang-barang mahal, dan belinya juga banyak. Pertanyaan ini muncul lebih-lebih karena banyak koran yang memberitakan banyaknya gambaran kemiskinan di Indonesia. Pertanyaan itu juga tidak mudah dijawab karena jumlah mereka yang ingin menunaikan ibadah hajji ternyata selalu melebihi kuota yang tersedia bagi Indonesia, sehingga konon jika seseorang mendaftar hajji sekarang, dia harus menunggu sampai lima tahun lagi untuk memperoleh peluang  berangkat.

Memang tidak salah jika ada orang yaang berkeinginan untuk berangkat berhajji karena hajji adalah rukun Islam ke lima. Namun untuk pergi berhajji untuk yang kesekian kalinya perlu perenungan lanjut, antara lain manakah yang lebih baik dana sekian banyak itu untuk berhajji LAGI ataukah untuk bantuaan sosial? Bayangkan bahwa keimanan seseorang perlu diragukan Rasulullah SAW jika ada orang yang tidur nyenyak dengan perut kenyang kalaulah tetangganya masih ada yang kelaparan. Bahkan ada juga diriwayatkan bahwa seseorang yang digambarkan Rasulullah SAW dia selalu beserta dengan pahala yang sama dengan mereka di kelompok jamaahnya kemanapun mereka bergerak, padahal orang ini telah membatalkan rencana perjalanan hajjinya karena perbekalanannya diserahkan kepada tetangganya yang sangat memerlukan di saat dia sudah siap berangkat. Tidak terlalu salah jika sejumlah ulama mengingatkan bahwa ummat Islam perlu meningkatkan ibadah sosialnya, misalnya di bidang pendidikan yang punya manfaat berlipat ganda itu (multiplying effects).

Jika seseorang mengaku ingin tergolong muttaqin, maka dia seharusnya mau berinfak walaupun dalam keadaan pas-pasan ataupun kekurangan (QS Ali ‘Imran [3]: 134)

“(SIFAT ORANG MUTAQIN ITU) ORANG-ORANG YANG BERINFAQ (MENAFKAHKAN HARTANYA), BAIK DI WAKTU LAPANG  MAUPUN  SEMPIT….”

Orang yang berkecukupan jelas diwajibkan untuk berinfaq, namun bagi mereka yang diterbatasi rezeqinya oleh Allah masih juga dituntut untuk berinfaq dari yang telah diberikan Allah kepadanya itu (QS ath-Thalaq [65]: 7)

“MAKA HENDAKLAH ORANG YANG BERKECUKUPAN BERINFAK MENURUT KEMAMPUANNYA. DAN ORANG YANG DISEMPITKAN REZEKINYA HENDAKLAH JUGA BERINFAK DARI HARTA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADANYA. ALLAH TIDAK MEMIKULKAN BEBAN KEPADA SESEORANG MELAINKAN (SEKEDAR) APA YANG ALLAH BERIKAN KEPADANYA….”

Lebih rinci Rasulullah SAW menyebutkan bahwa  dalam pandangan Allah itu satu dirham infaq orang berkekurangan ini nilainya lebih besar dari seribu dirham infaq orang kaya.  Yang jelas jika kita tidak mensyukuri berbagai macam kenikmatan yang telah diberikan Allah, kita terancam untuk mendapat siksa yang sangat pedih (QS Ibrahim [14]:7).

“DAN INGATLAH JUGA TATKALA TUHANMU MEMAKLUMKAN: <SESUNGGUHNYA JIKA KAMU BERSYUKUR, PASTI KAMI AKAN MENAMBAH NIKMAT KEPADAMU, DAN JIKA KAMU MENGINGKARI NIKMATKU, MAKA SESUNGGUHNYA SIKSAKU SANGAT PEDIH….>”

Semoga kita menyadari posisi kita masing-masing, untuk kemudian berbuat dengan benar, agar ummat Islam dapat segera muncul pantas sesuai dengan keluhuran agamanya.


Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Tata langkah dalam beribadah puasa

90821

Tata langkah dalam berpuasa.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahim.

Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang penting karena mempunyai sasaran yang cukup menentukan nilai hidup kita nantinya. Allah SWT telah menyebutkan secara jelas sasaran ibadah puasa itu: taqwa. Kita tahu bahwa dengan menjaga mutu taqwa ini akan tercapailah akhir hidup yang baik: sebagai muslim, yang ini merupakan penentu apakah kita mendapat peluang menikmati kehidupan sorga ataukah tidak.

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, DIWAJIBKAN ATAS KAMU BERPUASA SEBAGAIMANA DIWAJIBKAN ATAS ORANG-ORANG SEBELUM KAMU AGAR KAMU BERTAKWA” (Surah al-Baqarah [2] ayat 183)

Taqwa itulah yang mampu mendorong kita untuk mau menegakkan shalat ataukah tidak, yang shalat ini disebutkan Rasulullah Muhammad SAW merupakan kunci untuk masuk sorga! Keberhasilan untuk mencapai sasaran shalat banyak ditentukan oleh semangat pendorong untuk melakukannya. Jika salah pendorongnya, maka arah puasanya pun dapat melenceng, sampai-sampai Rasulullah menyebutkan:

“Berapa banyak orang yang berpuasa yang hanya tidak meperoleh apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.”

Untuk menghindari puasa yang sia-sia, maka ibadah puasa harus kita lakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar. Kita hindari hal-hal yang menghilangkan ataupun mengurangi pahala, kita lakukan kegiatan-kegiatan yang jelas berpahala karena wajib ataupun yang disunnahkan. Kita upayakanlah agar kita dapat melakukan puasa itu. Semisal kita bepergian, janganlah sejak awal sudah tidak berpuasa, tetapi batalkanlah puasa jika memang mendesak, untik menghindarkan diri dari kelemahan yang merugikan, sebagaimana Rasulullah mencontohkan dalam perjalanannya ke Mekah dari Madinah. Beliau membatalkan puasanya di tengah perjalanan. Ketika ada sebagian rombongannya ada yang memaksa diri tetap berpuasa, Rasulullah menyebut mereka itu bermaksiyat. Rasulullah juga menyalahkan orang yang mau tetap berpuasa dalam perjalanan, apalagi kalau sampai dia pingsan dan menyusahkan orang lain.

Dalam keadaan terpaksa, puasa memang dapat ditinggalkan untuk diganti pada kesempatan lain, namun ini bukanlah untuk “bermanja-manja” atas peluang menunda puasa. Berupayalaaah untuk tetap berpuasa sampai keadaan memang memaksa. Aaaallaaah menegaskan pada akhir ayat 184 surah al-Baqarah [2] :

“… DAN BERPUASA LEBIH BAIK BAGIMU JIKA KAMU MENGETAHUI.”

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

**************

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292 Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486 =

====================

Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Menyikapi hasil suatu kesepakatan

90710 Menyikapi hasil suatu kesepakatan.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Jika kita perhatikan secara sepintas saja mudahlah kita tarik kesimpulan bahwa keadaan ummat Islam belumlah sebaik ajaran agamanya, Islam, yang disiapkan Allah untuk digunakan sebagai pedoman hidup seseorang secara pribadi maupun dalam kehidupannya berkeluarga dan bermasyarakat. Atas keadaan masyarakat yang begini sebagaian dari kita telah berusaha untuk membenahinya, karena Allah SWT sudah menegaskan:

“..SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENGUBAH KEADAAN SESUATU KAUM SEHINGGA MEREKA (BERUPAYA) MENGUBAH KEADAAN YANG ADA PADA DIRI MEREKA SENDIRI..” (Surah ar-Ra’d [13] ayat 11)

Upaya itu antara lain dengan langkah-langkah untuk mengatur kehidupan dalam bermasyarakat yang lebih luas di dalam bernegara dengan upaya menyediakan orang-orang pilihan untuk dijadikan pimpinan, untuk diikuti kepemimpinannya. Mungkin dari kita ada yang merasa kurang puas terhadap hasil yang telah tercapai dari suatu usaha.Dalam halini hendaknya kita kembali menyadari bahwa kewajiban kita adalah berusaha sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian berusaha, maka berusahalah”

Allah Maha Kuasa untuk menentukan hasil akhir semua usaha kita, tanpa mengurangi nilai usaha kita, asalkan kita tetap menjaga langkah usaha kita itu dengan iman dan amal shalih. Sebagai anggota masyarakat kita telah membuat ketentuan-ketentuan sebagai suatu kesepakatan, kebulatan tekad bersama, perjanjian yang harus dipatuhi. Apapun hasilnya kita ikuti dengan tetap berserah diri kepada Allah dalam langkah-langkah lanjutnya.

“MAKA DISEBABKAN RAHMAT DARI ALLAHLAH KAMU BERLAKU LEMAH LEMBUT TERHADAP MEREKA; SEKIRANYA KAMU BERSIKAP KERAS LAGI BERHATI KASAR,TENTULAH MEREKA MENJAUHKAN DIRI DARI SEKELILINGMU. KARENA ITU MAAFKANLAH MEREKA, MOHONKANLAH AMPUNAN BAGI MEREKA. DAN BERMUSYAWARAHLAH DENGAN MEREKA DALAM URUSAN ITU. KEMUDIAN APABILA KAMU TELAH MEMBULATKAN TEKAD (DALAM KESEPAKATAN TENTANG SUATU), MAKA BERTAWAKKALLAH KEPADA ALLAH. SESUNGGUHNYA ALLAH MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERTAWAKKAL KEPADANYA.” (Qur’an, Surah Ali Imran [3] ayat 159)

Seibarat di zaman Rasulullah ketika tercapai perjanjian Hudaibiyah, banyak dari kaum mukmin yang merasa kecewa, namun marilah kita bersikap positif sebagaimana sebagian kaum mukminin saat itu; marilah kita menata langkah lagi. Kita manfaatkan peluang yang ada sebaik mungkin untuk mencapai cita-cita luhur, kebaikan bagi ummat Islam untuk menampakkan hasil penugasan Allah atas kita bersama sebagai penebar rahmat kebaikan penuh kasih sayang bagi seluruh alam. Kita tata lagi langkah kita.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

========

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana (2,5 MB): “Indeks Terjemah Qur’an”. ========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ajaklah teman bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292 Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

Kesiapan mental untuk berkegiatan

Kesiapan mental dalam ber- “amar ma’ruf dan nahi munkar”

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahim. Dalam mengisi hidup ini kepada kita pada dasarnya diperintahkan oleh Allah SWT untuk berbakti hanya kepada Allah dengan agama yang lurus (QS al-Bayyinah [98] ayat 5). Kemurnian niat ini adalah untuk mendapatkan pengakuan (keridhaan) atas benarnya apa yang telah kita lakukan. Termasuk di sini adalah ketika kita melakukan “amar ma’ruf dan nahi munkar”, bahwa yang kita lakukan itu sebagai tanda bukti kepatuhan kita membaktikan potensi yang telah diberikan oleh Allah, semisal potensi kekuasaan untuk “memaksa” orang dengan hak menyusun ketentuan, peraturan, perundang-undangan, ataupun bahkan memberi perintah, yang telah diamanahkan oleh masyarakat kepada kita yang sedang menjadi pejabat di tingkat pusat maupun daerah. Dalam melaksanakan amanah seperti itu kita mungkin harus berhadapan dengan kekuatan yang menentang ataupun menantang langkah kita. Dalam hal ini hendaknya kita tetap yakin bahwa kebenaran harus ditegakkan, walaupun ada ancaman yang dapat berujung ke kematian. Sangat penting kesadaran untuk berani bersikap seperti ini untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah dalam salah satu sabdanya menyebutkan: “Setinggi-tinggi jihad adalah menyampaikan kalimat kebenaran kepada kepala negara yang jahat (yang dia siap dihukum mati karenanya)”. Di sisi lain kita jumpai tidak sedikit orang yang pandai berbicara, berolah kata, yang dapat menyesatkan arah kita bersikap, sehingga kita tak menyadari bahwa telah terbawa melangkah di jalur yang salah. Bahkan ada pula dari kita yang silau oleh kilatan harta ataupun bayangan kenikmatan tahta, lalu mendukung ataupun membela yang salah dalam menghadapi mereka yang benar, padahal Allah SWT sudah mengingatkan: “SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MENURUNKAN KITAB KEPADAMU DENGAN MEMBAWA KEBENARAN, SUPAYA KAMU MENGADILI ANTARA MANUSIA DENGAN APA YANG TELAH ALLAH WAHYUKAN KEPADAMU, DAN JANGANLAH KAMU MENJADI PENANTANG (ORANG YANG TIDAK BERSALAH), KARENA (KAMU MEMBELA) ORANG-ORANG YANG KHIANAT.” (Surah an-Nisa’ [4] ayat 105). Allah akan memintai petanggungjawaban atas apa-apa yang pernah kita lakukan… Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab ======================================== SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad). SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya). *** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana (2,5 Mb): “Indeks Terjemah Qur’an”. Assalamu ‘alaikum wr. wb. Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya. Wassalam, dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF. e-mail: tauhid@telkom.net Jalan Kendangsari Lebar No. 48 Surabaya INDONESIA 60292 Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486 ===================== Dana dakwah. Transfer ke BCA RekNo 822 0213791 (a/n RM Tauhid), atau bergabung dalam http://www.asiakita.com/pandu-hw

Meningkatkan komuniasi

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Jika Anda menjumpai anggota Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (Pandu HW) maupun peminatnya yang suka berinternet, tolong kirimkan e-mailnya ke saya, atau ajak langsung bergabung di www.groups.yahoo.com/group/hizbul-wathan.
Terima kasih.

Wassalam,
Tauhid
HP 081-652-7486

Hari Lingkungan Sedunia, 5 Juni

Tanggal 5 Juni Hari Lingkungan Sedunia


Oleh
Ninil R. Miftahuljannah 1) dan Rasyid M. Tauhid-al-Amien 2))

Dalam pertemuannya di tahun 1972 Sidang Umum PBB menetapkan tanggal pembukaan Konperensi Stckholm tentang Lingkungan Manusia (Stockholm Conference on the Human Environment) , 5 Juni, kesepakatan sebagai hari lingkungan sedunia (World Environment Day, WED), yang diperingati di lebih dari 100 negara. Ini dimaksudkan untuk menggugah kesadaran masyarakat umum maupun negara untuk bergerak bersama dalam menghadapi permasalahan lingkungan dalam kehidupan bermasayarakat, lokal maupun global. Termasuk di sini adalah upaya mengatasi kemiskinan maupun perbaikan pengelolaan hutan. Sebagaimana ditegaskan sejak tahun lalu bahwa pembakaran hutan akan meningkatkan pemanasan global karena panas pembakaran itu sendiri, produksi CO2 dengan akibat buruknya atas efek rumah kaca, maupun berkurangnya daun sebagai “pembersih” CO2.

Tujuan Peringatan.
Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB menyebutkan bahwa pergulatan ekonomi dan keuangan dunia membangkitkan seruan atas munculnya marabahaya yang menuntut perlunya kebiasaan masa lalu agar menjadikan bumi kian hijau dan bersih, untuk menghindarkan bumi dari akibat buruk perubahan cuaca yang kian memburuk dan memanas ini. Oleh karena itulah peringatan Hari Lingkungan Sedunia kali ini memilih tema utama “Your planet needs you” (Bumimu memerlukanmu). Lebih operasional Sekjen PBB ini menyerukan semua orang untuk menyegarkan bumi ini dengan menyerukan “Tanam pohon, bersihkan lingkungan petamananmu”.
Secara umum adanya kegiatan peringatan hari lingkungan sedunia ini mengingatkan masyarakat akan permasalahan lingkungan, menggerakkan masyarakat untuk menjadi penggerak yang aktif dalam pengembangan lingkunan yang mandiri, menggalakkan pemahaman bahwa masyarakat perlu mengubah diri dalam menyikapi masalah lingkungan menjadi tidak acuh lagi, mendorong kebersamaan dalam menggalang masyarakat untuk mencapai kenikmatan di masa depan yang makmur dalam keamanan.
Pada tanggal 5 Juni itu Badan Pemrograman Lingkungan PBB (the United Nations Environment Programme, UNEP), para kepala negara, perdana menteri, menteri, maupun orang-orang penting lainnya dan organisasi-organisasi dari seluruh dunia menandai kerjasama untuk menggalakkan kesadaran masyarakat atas pentingnya masalah lingkungan. Kalau tahun lalu dunia diigatkan pentingnya menyelamatkan dunia dari pemanasan global, maka di tahun ini perhatian itu ditingkatkan dengan langkah-langkah kongkrit dengan mengambil tema “Bumimu memerlukanmu, bersatulah melawan perubahan iklim” (Your Planet Needs You – UNite to Combat Climate Change). Masyarakat umum didorong untuk secara aktif bergerak secara mandiri dan berkelanjutan. Salah satunya adalah yang dicanangkan “Tanam satu pohon untuk setiap orang”. Kegiatan sederhana ini diacarakan menyeluruh di seluruh dunia, termasuk di Afrika yang sering kita dengar tempatnya hutan-hutan yang sangat luas itu. Di berbagai negara upaya ini digalakkan dengan banyak melibatkan anak-anak sekolah maupun mahasiswa sebagai salah satu upaya membangkitkan kesadaran anak bangsa dengan menanam tanaman, apapun macamnya semisal buah-buahan, tanaman obat, tanaman hias, maupun tanaman keras serta tanaman pangan lainnya.
Kalau tahun lalu peringatan hari lingkungan hidup sedunia ini dipusatkan di New Zealand, tahun ini Mexico menjadi pusat kegiatannya Acara apa saja yang terkait dengan kegiatan ini dapat dilihat di web site http://www.unep.org/wed/2009/english/. Dunia dalam menyambut hari lingkungan hidup ini masyarakatnya ada yang melakukan kegiatan pokok di sekitar 5 Juni saja, tetapi ada yang melakukannya sepanjang tahun dalam artian membuat kegiatan dengan dengan merujuk ke permasalahan lingkungan sejak tahun yang lalu maupun yang membuat rencana sampai menjelang 5 Juni tahun depan.

Ragam Kegiatan.
Kegiatan-kegiatan masyarakat dalam peringatan hari lingkungan hidup ini ada yang lebih menonjolkan acara seremonial dengan pentas, konser musik, pesta rakyat, , menyelenggarakan reli jalan kaki, parade sepeda ontel, ataupun pawai. Ada juga kegiatan yang lebih bersifat aksi semisal pameran, kegiatan bersama tanam pohon. Di samping itu tidak pula sedikit kegiatan yang lebih bersifat pendidikan sedarhana maupun lanjut semisal lomba antar anak-anak, lomba menulis ataupun membuat poster di sekolah, ceramah-ceramah, pengajian, seminar, simposium, secara formal maupun informal dalam bentuk tatap muka ataupun jarak jauh lewat jaringan internet. Jadi secara umum kegiatan ini semua dilakukan oleh pemerintah dengan seluruh jajarannya, dengan juga melibatkan masyarakat secara langsung maupun tidak lewat organisasi-organisasi massa umum, LSM, maupun pendidikan (sekolah, perguruan tinggi)
Pengajian dapat banyak mengetengahkan antara lain perlunya menyadari bahwa keseimbangan lingkungan (ecosystem) yang telah dibangun Allah tidak boleh dirusak (QS al-A’raf [7]: 56; QS al-Maidah [5]: 33. Namun nyatanya cukup banyak manusia serakah yang mengambil manfaat bumi ini dengan merusak, sepertinya lupa bahwa Allah melarang terjadinya perusakan sebagai akibat dari eksploitasinya, eksploitasi yang berlebihan dapat mengganggu kelestarian lingkungannya dengan segala akibatnya (QS an-Nisa’ [4]:79, QS asy-Syura [42]: 30, al-Qashash [28]:77, al-Maidah [5]: 33, ar-Rum [30]:41). Melihat gambaran ini maka ummat Islam tidak boleh tinggal diam. Terhadap keadaan yang tidak benar ini, mereka juga dituntut untuk berusaha mengatasi permasalahan yang mulai timbul ini, melakukan pencegahan awal untuk menghindari bahaya umum (QS al-Anfal [8]:25).
Lebih luas lagi, dalam bentuk terintegrasi pendidikan lingkungan seperti ini dapat disisipkan dalam berbagai materi pendidikan untuk menumbuhkan sikap “baru” terhadap komponen bumi seperti air, udara, hewan, dan tumbuhan, dalam pemikiran yang menyeluruh yaitu untuk menjaga keseimbangannya bukannya menguras atau merusakkannya. Dalam bentuk sederhananya upaya penghijauan dengan cara menugasi masing-masing anak menanam sebatang pohon dan merawatnya merupakan hal yang dapat dimulai sadar lingkungan pada masa-masa awal dalam kehidupan mereka ini.
Kegiatan lain yang bersifat kampanye kreatif dan bernilai pengembangan minat dan kreativitas anggota masyarakat muda dapat berupa lomba-lomba beregu, misalnya membuat poster, kaligrafi ataupun cerdas cermat tentang ayat-ayat serta hadits tentang pentingnya tanaman dalam menjaga kelestarian peran lingkungan. Dapat juga diadakan lomba menulis puisi, menyusunan yel-yel yang bertema memperbaiki perilaku buruk yang abai lingkungan. Untuk yang bergerak di bidang kepanduan (Pramuka, Hizbul Wathan) ataupun di kegiatan tadabur alam (outbound) ada kegiatan-kegiatan penanaman pohon yang dapat digabungkan dengan kegiatan perkemahan, yang untuk itu misalnya setiap regu dapat difasilitasi dengan tersedianya alat ataupun bibitnya.
Untuk nilai publikasi, secara menyeluruh dapatlah disebutkan bahwa kegiatan-kegiatan di atas maupun yang lain perlu dipilihkan yang sesuai dengan situasi, potensi lingkungan (alam) tempat kegiatan diselenggarakan, yaitu mengarah ke agar lebih tampak oleh masyarakat umum. Tempat umum (public space) yang dapat dipilih untuk berkegiatan yang meliputi misalnya taman ataupun hutan kota, bumi perkemahan, pantai, tempat wisata umum lainnya (kebun binatang, wisata alam, dan lain-lain), ruang terbuka yang menghijau seperti tanah lapang, bantaran sungai, dan sebagainya. Pemilihan tempat seperti ini berdasarkan pada harapan untuk banyaknya khalayak umum yang turut terlibat ataupun menyaksikan aksi dan kampanye yang dilaksanakan sebagai bentuk pembelajaran publik.

Penutup.
Mari kita berbuat yang berguna bukan untuk sesaat, untuk diri kita sendiri maupun masyarakat.

1). Ninil R. Miftahuljannah (ninil@lingkar.or.id), SKed, penerima penghargaan nasional penyelamat lingkungan tahun 2004, mahasiswa pascasarjana U.N. Yogyakarta, Executive Director Lingkar, anggota Steering Committee Nasional Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL), berdomisili di Kaliurang.
2). Rasyid M. Tauhid-al-Amien, (tauhid@telkom.net), dr., MSc., DiplHPEd., Ahli Ilmu Faal, Koordinator Litbang Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW), dan Ketua Kwartir Wilayah HW Jawa Timur, berdomisili di Surabaya

Halaman Berikutnya »