“Hadiah”

100131

“Hadiah”

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Memang tak terlalu salah jika ada orang yang mengatakan bahwa korupsi itu sudah membudaya dalam masyarakat kita. Yang salah adalah anggapan bahwa korupsi tidak dapat dihilangkan, sebagaimana orang mengatakan bahwa pelacuran tidak dapat dihapus karena sudah tumbuh lama sejalan dengan pertumbuhan kehidupan bermasyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah kebiasaan yang sudah memasyarakat. Namun harus disadari bahwa kebiasaan itu jika ditilik dari pedoman Allah ada yang baik ada pula yang buruk; yang buruk harus diperbaiki, sedangkan yang baik perlu dipertahankan ataupun bahkan dikembangkan lebih lanjut. Misalnya saja dalam hal korupsi; oleh sejumlah orang korupsi dianggap dianggap sudah sebagai budaya.

Senyatanya sudah sejak lama telah ada kebiasaan yang menjadikan munculnya sebutan jabatan basah, jabatan kering; yaitu kebiasaan “memberi hadiah”, tanda setia kepada pejabat-pejabat tertentu. Jika mereka yang berkecimpung dalam bidang yang terkait dengan ini diingatkan ataupun ditegur, mereka menjawab: “Dari dulu memang sudah demikian” tanpa terlintas di benak mereka keinginan untuk memperbaikinya. jawaban seperti itu sama dengan jawaban kaum-kaum para nabi terdahulu ketika diingatkan untuk memperbaiki kebiasaan mereka dalam hal ibadahnya, misalnya:

KAUM TSAMUD BERKATA:

“HAI SHALEH, SESUNGGUHNYA KAMU SEBELUM INI ADALAH SEORANG DI ANTARA KAMI YANG KAMI HARAPKAN, APAKAH KAMU LALU MELARANG KAMI MENYEMBAH APA YANG DISEMBAH OLEH BAPAK-BAPAK KAMI? SESUNGGUHNYALAH KAMI JADI BETUL- BETUL DALAM KERAGUAN YANG MENGGELISAHKAN TERHADAP AGAMA YANG KAMU SERUKAN KEPADA KAMI.” (Qur’an Surat Hud [11]: 62)

Sepertinya para pejabat di tempat “”basah” itu hendak mengatakan “Bukankah dari dulu biasanya para pejabat mendapat tanda setia (‘bulu bekti’, Jw.), tanda terima kasih dari masyarakatnya?”, padahal Rasulullah Muhammad SAW sudah menyebutkan bahwa apa yang didapat pejabat di luar gajinya adalah pelanggaran (sukhtun,ghulul; dosa). Pada kesempatan lain dalam suatu pertemuan, seorang petugas pengumpul zakat datang menyampaikan hasilnya dengan memilah mana yang diperoleh sebagai zakat yang terkumpul dan mana yang dikumpulkannya sebagai bagian untuk dirinya, yaitu hadiah, pemberian dari orang-orang yang dikunjunginya. Langsung saja Rasulullah menyampaikan “Mengapa dia tidak tinggal di rumah ibunya saja; orang memberi hadiah kepadanya ataukah tidak?”. Pemberian ataupun hadiah yang terkait dengan jabatan seseorang itu bukanlah hak si pejabat, tak halal baginya! Bahkan orang yang menolong seseorang lalu orang itu memberinya hadiah dan diterimanya, itu berarti dia telah masuk salah satu pintu dari pintu-pintu riba.

Dari sedikit gambaran itu saja maka mereka yang bekerja di “tempat basah” harus bersiap-siap untuk “berbasah-basah direndam di neraka” jika tidak segera bertaubat.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

======================================== Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292

Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================

Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW Serius berusaha? Kunjungi http://www.esyariah.com/?id=tauhidhw

Memahami perbedaan status diri

100114

Memahami perbedaan status.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Allah SWT melebihkan pemberian kepada sebagian orang dibandingkan dengan yang lain untuk tujuan luhur dan hikmah yang agung, yaitu sebagai ujian di dalam memikul segala beban hidup; bersyukur atas kelebihan yang diterima, bersabar terhadap kekurangan yang dihadapinya. Itulah perkara yang tidak jarang kita lupakan dalam melihat hakikat perbedaan yag ada itu, sehingga kita luput dari merealisasikan maksud Allah dalam hal penciptaan dan pengaturan itu, yaitu ada tanggung jawab.

DAN DIALAH YANG MENJADIKAN KAMU PENGUASA-PENGUASA DI BUMI DAN DIA MENINGGIKAN SEBAGIAN KAMU ATAS SEBAGIAN (YANG LAIN) BEBERAPA DERAJAT, UNTUK MENGUJIMU TENTANG APA YANG DIBERIKANNYA KEPADAMU. SESUNGGUHNYALAH TUHANMU AMAT CEPAT SIKSAANNYA (BAGI YANG MENYALAHINYA); SESUNGGUHNYALAH DIA MAHA PENGAMPUN LAGI MAHA PENYAYANG. (Quran Surah al-An’am [6]:165)

Allah melestarikan keberadaan manusia dan fungsinya dengan menyediakan petunjuk-petunjuk yang dengannya manusia akan selamat dalam kehidupannya di ddunia untuk mempersiapkan diri bagi kebahagiaannya di akhirat nanti. Allah menyediakan sarana yang diperlukan manusia dalam bentuk sandang, pangan, dan papan. Semua itu memang bukan disediakan dalam bentuk seibarat nasi yang tinggal menyantapnya; Allah memberi sarana kemampuan berfikir untuk dapat memahami apa-apa yang dihadapinya. Dengan itu manusia dapat membedakan mana yang baik maupun yang buruk; dengannya manusia lalu dapat memilih yang baik bukannya yang buruk, dapat memilih yang memberi manfaat bukannya yang membahayakan. Atas adanya kemampuan berfikir dengan akalnya itulah nanti manusia dimintai pertanggungjawaban atas apa yang senyatanya dilakukan dengan apa yang telah diberikan Allah.

Dari sinilah dapat lebih kita fahami mengapa kemudian Allah pantas bertanya seperti yang tertera pada akhir ayat 72 surat an-Nahl [16]:

ALLAH MENJADIKAN BAGI KAMU ISTERI-ISTERI DARI JENIS KAMU SENDIRI DAN MENJADIKAN BAGIMU DARI ISTERI-ISTERI KAMU ITU ANAK-ANAK DAN CUCU-CUCU, DAN MEMBERIMU REZKI DARI YANG BAIK-BAIK. MAKA MENGAPAKAH MEREKA (manusia) BERIMAN KEPADA YANG BATHIL DAN MENGINGKARI NIKMAT ALLAH? (Quran Surat an-Nahl [16]: 72)

Mudah-mudahan kita dapat memahami keberagaman kenyataan dan keberadaan kita masing-masing dengan kesadaran atas tanggung jawab atas semua yang dipaparkan Allah kepada kita, untuk kemudian dapat bersikap dengan benar.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Asalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wasalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Tugas kita berdakwah; keberhasilannya di tangan Allah.

100108

Tugas kita berdakwah; keberhasilannya di tangan Allah.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Allah SWT lebih menentukan berhasil ataukah tidaknya suatu upaya hamba Allah. Namun bagaimanapun juga kita masih perlu mengetahui  duduk permasalahannya sehingga kita bukannya lalu tidak berbuat apa-apa. Dalam gambaran sederhana Allah swt. mencontohkan apa yang dialami Nabi Nuh AS ketika ajakannya kepada warga kaumnya ditanggapi negatif, sampai-sampai nabi Nuh dianggap memperpanjang alasan, sehingga mereka itu lalu menantang untuk disegerakan datangnya siksa yang telah diancamkan kepada mereka sebebelum ini.

“MEREKA BERKATA: “HAI NUH, SESUNGGUHNYA KAMU TELAH BERBANTAH DENGAN KAMI, DAN KAMU TELAH MEMPERPANJANG BANTAHANMU TERHADAP KAMI, MAKA DATANGKANLAH KEPADA KAMI AZAB YANG KAMU ANCAMKAN KEPADA KAMI, JIKA KAMU TERMASUK ORANG-ORANG YANG BENAR”. (Qur’an, surah Hud [11]: 32)

Sikap menantang azab Allah itu dijawab Nabi Nuh sesuai dengan wewenangnya, yaitu bahwa Allah sendirilah yang punya kuasa untuk menyegerakan ataukah menundanya sampai nanti, dengan tetap mengingatkan mereka itu untuk berhati-hati dalam bicara, yaitu bahwa siksa yang diancamkan oleh Allah itu bukan main-main, yang kalau sudah didatangkan oleh Allah pastilah mereka tidak mungkin melepaskan diri darinya.

NUH MENJAWAB: “HANYALAH ALLAH YANG AKAN MENDATANGKAN AZAB ITU KEPADAMU JIKA DIA MENGHENDAKI, DAN KAMU SEKALI-KALI TIDAK AKAN DAPAT MELEPAS DIRI.” (Qur’an, surah Hud [11]: 33)

Selanjutnya Nabi Nuh lebih merendah lagi terdapat kekuasaan Allah itu dengan menyatakan:

“DAN TIDAKLAH BERMANFAAT KEPADAMU NASIHATKU JIKAPUN AKU HENDAK MEMBERI NASIHAT KEPADA KAMU, KALAULAH ALLAH HENDAK (MEMBIARKAN KAMU DALAM SIKAP MAUPUN PERILAKU YANG MENURUT SUNATULLAH PASTI) AKAN MENYESATKAN KAMU. DIA ADALAH TUHANMU, DAN KEPADANYALAH KAMU DIKEMBALIKAN (UNTUK DIBERI BALASAN SESUAI DENGAN ULAH FIKIR MAUPUN PERBUATAN KAMU)”. (Qur’an, surah Hud [11]: 34)

Begitulah jika kita berdakwah, tidak mustahil pula bahwa kita ditolak dengan berbagai macam alasan yang dicari-cari. Jika sudah demikian tak ada langkah yang lain yang dapat kita lakukan selain kita kembalikan permasalahannya kepada Allah. Berhasil atau tidaknya dakwah atau ajakan kita semuanya itu tergantung pada bagaimana Allah memberikan kemudahan terbukanya hati sasaran dakwah kita itu. Bagaiamana orang-otrang yang salah itu dihukum bukanlah ranah wewenang kita untuk berbuat. Namun satu hal yang kita dapat yakini adalah bahwa Allah sudah memberi pedoman umum adanya pola sebab-akibat, dengan keleluasaan kepada mereka untuk memilih beriman ataukah memilih kekafiran yang tentu saja harus mereka pertanggungjawabkan sesuai dengan kelonggaran akal yang telah diberikan oleh Allah. Yang jelas kebaikan akan dibalas pahala yang bernilai sepuluh kalinya, tujuh ratus kali, ataupun lebih banyak lagi yang tak terhingga besarnya. Adapun   jika seseorang berbuat salah hanya akan dibalas sepadan dengan kesalahannya itu saja. Lebih jauh Allah juga bersifat tanggap yang berlebih jika manusia ini bermaksud baik, semisal yang dikemukakan oleh Rasulullah Muhammad SAW bahwa jika manusia mendekat dengan sehasta maka Allah menyambutnya dengan sedepa; jika manusia mendekat dengan berjalan maka Allah menyambutnya dengan berlari.

Semoga Allah memberi keterbukan hati sasaran dakwah kita dengan limpahan hidayahNya, sehingga kita dapat juga bergembira dengan penuh rasa syukur ketika melihat keberhasilan dakwah kita.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Berlomba berusaha

100101

Berlomba berusaha.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Tidak sedikit dari kita yang “silau” melihat sukses yang telah dicapai orang, apalagi jika yang “sukses” itu adalah orang yang non-muslim. Kadang-kadang muncul “pemberontakan” dalam hati kita, mempertanyakan mengapa yang sukses orang yang tak shalat, padahal kita sudah shalat setiap hari. Terkait dengan ini mungkin kita lupa ataupun belum pernah membaca pedoman dasar yang telah diberikan Allah SWT, yang tertulis dalam al-Qur’an, ataupun gambaran yang telah diberikan oleh RasulNya, Muhammad SAW., misalnya:

“BARANG SIAPA YANG MENGHENDAKI KEHIDUPAN DUNIA DAN PERHIASANNYA,NISCAYA KAMI MEMBERIKAN KEPADA MEREKA BALASAN PEKERJAAN MEREKA DI DUNIA DENGAN  SEMPURNA DAN MEREKA DI DUNIA ITU TIDAK AKAN DIRUGIKAN.” (Qur’an Surah Hud [11]: 15)

“BARANG SIAPA MENGHENDAKI (SUKSES) KEHIDUPAN SEKARANG (DUNIAWI) MAKA KAMI SEGERAKAN BAGINYA DI DUNIA ITU APA YANG KAMI KEHENDAKI BAGI ORANG YANG KAMI KEHENDAKI…” (Qur’an Surah al-Isra’[17]: 18)

Di dalam kehidupan dunia ini Allah telah menetapkan “hukum sebab-akibat” sebagai salah satu dari sunnatullah, hal yang sering kita lupakan. Banyak dari kita yang kurang benar dalam berserah diri (tawakkal), banyak dari kita yang kurang bersungguh-sungguh dalam berusaha; misalnya ingin kaya tetapi tidak mau bekerja keras, ingin pandai tetapi malas belajar. Bahkan ada pula yang lupa untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan akhiratnya, padahal kehidupan akhirat itu jauh-jauh lebih panjang ketimbang masa kehidupan dunia ini; mereka yang tidak mempersiapkan kehidupan akhirat itu akan memperoleh kehidupan sengsara di neraka!

“ITULAH ORANG-ORANG YANG TIDAK MEMPEROLEH (BALASAN) DI AKHIRAT KECUALI NERAKA; LENYAPLAH DI AKHIRAT ITU APA YANG TELAH MEREKA USAHAKAN DI DUNIA, DAN SIA-SIALAH APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN.” (Qur’an Surah Hud [11]: 16)

“…DAN KAMI TENTUKAN BAGINYA NERAKA JAHANNAM; IA AKAN MEMASUKINYA DALAM KEADAAN TERCELA DAN TERUSIR.” (Qur’an Surah al-Isra’[17]:18)

Beruntunglah kita yang telah sadar bahwa untuk mencapai sukses di dunia maupun akhirat kita harus giat berusaha secara bersungguh-sungguh, termasuk menguatkan usaha itu dengan ilmu maupun sarananya yang terkait. Allah itu Maha Pemurah membantu siapapun yang berusaha; kita harus pandai-pandai “bersaing” dengan mereka yang berusaha menuju ke kerusakan dn kemungkaran.

“KEPADA MASING-MASING GOLONGAN BAIK GOLONGAN INI MAUPUN GOLONGAN ITU KAMI BERIKAN BANTUAN DARI KEMURAHAN TUHANMU. DAN KEMURAHAN TUHANMU TIDAK DAPAT DIHALANGI.” (Qur’an Surah al-Isra’[17]: 20)

“DAN BARANG SIAPA MENGHENDAKI KEHIDUPAN AKHIRAT DAN BERUSAHA KE ARAH ITU DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH SEDANG IA ADALAH MUKMIN, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG USAHANYA DIBALASI DENGAN BAIK.” (Qur’an Surah al-Isra’[17]: 19)

Semoga Allah swelalu memberikan kekuatan untuk berusaha dalam arah hidayahNya.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Asalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wasalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

91221 Menghitung-hitung amal.

91221 Menghitung-hitung amal.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Allah SWT telah mengingatkan kita sekalian untuk mawas diri, antara lain dalam firmanNya (QS al-Hasyr [59]: 18)

HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERTAKWALAH KEPADA ALLAH DAN HENDAKLAH SETIAP DIRI MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA APA YANG TELAH DIPERBUATNYA UNTUK HARI ESOK (AKHIRAT), DAN BERTAKWALAH KEPADA ALLAH, SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.

Baimana ketentuan Allah untuk bertaqwa, yaitu untuk hanya melakukan yang benar menurut Allah, meninggalkan yang terlarang menurut Allah. Kemudian Allah mengingatkan kita untuk menghitung-hitung ulang dengan cermat apa yang telah kita persiapkan untuk masa depan kita, terutama untuk kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan di akhrat harus kita persiapkan di masa hidup kita di dunia ini, sebelum hidup kita berakhir; semua itu kita tempuh waktu demi waktu, dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, bahkan dari detik ke detik berikutnya. Dalam memperhitungkan langkah-langkah kita yang lalu hendaknya kita jeli untuk selalu bersyukur jika kita telah berhasil, dan kian bergiat jika belum. Jika ternyata masih ada yang salah secepatnyalah kita berbenah diri; secepatnyalah bertaubat dan memperbaiki diri.

APA SAJA NIKMAT YANG KAMU PEROLEH ADALAH DARI ALLAH, DAN APA SAJA BENCANA YANG MENIMPAMU, MAKA DARI (KESALAHAN) DIRIMU SENDIRI…(QS an-Nisa’[4]: 79)

Bagaimana kita akan melanjutkan langkah lagi? Allah juga sudah mengingatkan: bertaqwalah. Jangan sampai kita kemudian menempuh jalan yang salah; jangan kita pakai peluang korupsi sekecil apapun kalaupun karena merasa masih berkekurangan meski ada kesempatan. Allah menunjukkan peringatannya dengan menyebutkan: “ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU KERJAKAN.” (QS al-Hasyr [59]: 18).

Jadi dengan menyadari bahwa sangat banyak kenikmatan maupun potensi yang telah diberikan Allah kepada kita, maka sangat tepatlah jika persiapan untuk masa depan kita itu kita lakukan dengan memanfaatkan apa-apa yang telah diberikan Allah itu untuk lebih banyak lagi beramal, sesuai dengan arahan Allah:

DAN CARILAH DENGAN APA YANG TELAH DIANUGERAHKAN ALLAH KEPADAMU (BEKAL UNTUK MENCAPAI KEBAHAGIAAN) NEGERI AKHIRAT, NAMUN JANGANLAH KAMU MELUPAKAN BAGIANMU DARI (MENIKMATI KENIKMATAN) DUNIAWI; BERBUAT BAIKLAH (KEPADA ORANG LAIN) SEBAGAIMANA ALLAH TELAH BERBUAT BAIK, KEPADAMU. DAN JANGANLAH KAMU BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI; SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERBUAT KERUSAKAN. (QS al-Qashash [28]: 77)

Semoga kesempatan yang masih ada ini dapat kita manfaatkan dengan baik.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

======================================= Asalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wasalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292

Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================

Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Berdakwahlah, walau mungkin “tidak” berhasil

Berdakwahlah walau mungkin “tidak” berhasil.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Ayat 99-100 Surat Yunus [10] ini harus kita baca dengan penuh rasa syukur, bahwa Allah telah mengizinkan kita sekalian menjadi mukmin. Rasulullah Muhammad SAW pernah juga menggambarkan bahwa kalaulah Allah menjadikan kita sebagai perantara untuk sampainya iman kepada seseorang, maka Allah menghadiahi kita dengan balasan yang lebih besar dari nilai dunia seisinya. Walaupun demikian tidak salah kalau kita juga berterima kasih kepada fihak-fihak yang mungkin dapat kita kenali siapanya, yang telah menjadi perantara untuk sampainya ajaran Islam ataupun iman kepada kita itu. Jika kita kemudian juga berharap lebih, lalu juga berusaha menyampaikan ajaran Allah kepada orang lain, mungkin saja seruan kita itu berhasil mendulang pahala, walau mungkin saja “sepertinya” tidak ada hasilnya. Yang jelas kewajiban kita adalah menyeru, berdakwah; kita tak boleh berputus asa atas “kegagalan” usaha kita dalam upaya ini; kita harus sadar bahwa hanya izin Allah yang dapat menjadikan da’wah kita “berhasil”.

DAN JIKALAU TUHANMU MENGHENDAKI, TENTULAH BERIMAN SEMUA ORANG YANG DI MUKA BUMI SELURUHNYA. MAKA APAKAH KAMU (HENDAK) MEMAKSA MANUSIA SUPAYA MEREKA MENJADI ORANG- ORANG YANG BERIMAN SEMUANYA? (QS 10: 99) DAN TIDAK ADA SEORANGPUN AKAN BERIMAN KECUALI DENGAN IZIN ALLAH; DAN ALLAH MENIMPAKAN KEMURKAAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK MEMPERGUNAKAN AKALNYA (QS 10: 100)

Bahkan Rasulullah sendiri pun tidak terjamin bahwa da’wahnya akan selalu sukses; beliau pun diingatkan kepada batasan tugas utama: mengajak, bukannya memaksa-maksa.

JIKA MEREKA BERPALING MAKA KAMI TIDAK MENGUTUS KAMU SEBAGAI PENGAWAS BAGI MEREKA. KEWAJIBANMU TIDAK LAIN HANYALAH MENYAMPAIKAN (RISALAH). SESUNGGUHNYA APABILA KAMI MERASAKAN KEPADA MANUSIA SESUATU RAHMAT DARI KAMI DIA BERGEMBIRA- RIA KARENA RAHMAT ITU. DAN JIKA MEREKA DITIMPA KESUSAHAN DISEBABKAN PERBUATAN TANGAN MEREKA SENDIRI (NISCAYA MEREKA INGKAR) KARENA SESUNGGUHNYA MANUSIA ITU AMAT INGKAR (KEPADA NIKMAT).(Qur’an Surah Asy-Syura [42]: 48 ) KAMI LEBIH MENGETAHUI TENTANG APA YANG MEREKA KATAKAN, DAN KAMU SEKALI-KALI BUKANLAH SEORANG PEMAKSA TERHADAP MEREKA. MAKA BERI PERINGATAN- LAH DENGAN AL-QURAN ORANG YANG TAKUT KEPADA ANCAMANKU. (QS Qaaf [50]: 45)

Terhadap mereka yang menolak kebenaran yang seharusnya dapat mereka terima sesuai dengan kemampuan akal yang telah diberikan kepada mereka itu, Allah punya kuasa. Setelah peringatan dengan kasih sayang disampaikan kepada mereka untuk menggunakan akal mereka, yang ternyata mereka tidak mempergunakannya, maka Allah akan menegur lebih lanjut mereka itu dengan peringatan kesusahan, ataupun menghukum mereka dengan berbagai malapetaka yang dapat menghancurkan mereka.

Semoga kita dapat memahami potensi maupun keterbatasan diri, untuk mampu menjaga diri melangkah berda’wah dalam koridor izin Allah.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48

Surabaya INDONESIA 60292

Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================

Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

————————————

=================================

Jika Anda punya pegangan hidup yang ingin ditularkan, kirimlah ke: pelita-hikmah@YahooGroups.com

91031 Memutar balik hukum

91031

Memutar balik hukum.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Jika seseorang menjumpai suatu barang (baca: rezeki) yang diminatinya, pastilah dia harus bersikap terhadap barang itu, pasti akan muncul dalam benaknya: diambil ataukah tidak. Sifat hanif yang ada pada setiap manusia pastilah membawanya untuk berfikir: halal ataukah haram? Pada dasarnya dengan kemampuan dasar hanif itu orang sebenarnya mampu untuk mengenali mana yang halal mana yang haram. Apalagi jika dia selalu bermohon dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW agar kepadanya ditampakkan yang baik itu baiknya sehingga dia tak ragu memilihnya, dan memohon ditampakkan yang buruk itu buruknya sehingga dia tidak ragu meninggalkannya. Di sinilah syaithan mulai lebih aktif bergerak; ditampakkannya yang buruk itu sebagai suatu yang baik, ditampakkannya yang sebenarnya baik itu sebagai sesuatu yang buruk. Jika orang ini telah termakan pedaya syaithan seperti ini, maka dianggapnyalah yang buruk itu baik, yang baik dianggap buruk!. Dia jadi memutarbalikkan huklum, menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal. Begitulah maka mereka inipun lalu tanpa ragu mengambil yang bukan haknya (baca: korupsi) dengan segala akibat buruk yang akan menimpanya. Kepada mereka itu pantas disampaikan -pertanyaan yang pernah dipertanyakan Rasulullah kepada kaumknya (Qur’an, Surah Yunus [10]: 59)

...”TERANGKANLAH KEPADAKU TENTANG REZKI YANG DITURUNKAN ALLAH
KEPADAMU, LALU KAMU JADIKAN SEBAGIANNYA HARAM DAN (SEBAGIANNYA) HALAL”…

…”APAKAH ALLAH TELAH MEMBERIKAN IZIN KEPADAMU (TENTANG INI)
ATAU KAMU MENGADA-ADAKAN SAJA TERHADAP ALLAH?”

Padahal apa yang mereka lakukan itu tidak akan luput dari amatan Allah SWT, dan mereka akan mendapat sanksi hukum dari apa yang telah mereka lakukan itu.

(DALAM KEADAAN APAPUN) KAMU TIDAK BERADA DALAM SUATU KEADAAN DAN TIDAK MEMBACA SUATU AYAT DARI AL-QURAN DAN/ATAUPUN KAMU TIDAK MENGERJAKAN SUATU PEKERJAAN, MELAINKAN KAMI (ALLAH) MENJADI SAKSI ATASMU DI WAKTU KAMU MELAKUKANNYA. TIDAK ADA YANG LUPUT DARI PENGETAHUAN TUHANMU BIARPUN SEBESAR ZARRAH (ATOM) DI BUMI ATAUPUN DI LANGIT. TIDAK ADA YANG LEBIH KECIL DAN TIDAK (PULA) YANG BESAR DARI ITU, MELAINKAN (SEMUANYA ITU TERCATAT) DALAM KITAB NYATA (LAUHUL-MAHFUZH)
(Qur’an, Surah Yunus [10]: 61)

Mudah-mudahan mereka yang pernah tersalah langkah itu segera menyadari kekeliruannya lalu cepat bertaubat dengan sebenar-benar taubat.

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================

Sepuluh Tahun Kebangkitan Kembali HW

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Tanggal 18 Nopember 2009 nanti sudah  sepuluh tahun Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendeklarasikan Kebangkitan Kembali Pandu HW sebagai Ortom   Gerakan Kepanduan Hizbul-Wathan (HW) setelah “ditidurkan” sejak tahun 1961. Sudah banyak yang terjadi, sudah banyak yang dilakukan oleh para pegiatnya, pimpinan Kwartirnya, pembina, pelatih, maupun anggauta didiknya, namun seharusnya dapat jauh lebih banyak lagi….

Mari kita renungkan bersama, mengapa?

Kita tata lagilah langkah-langkah ke depan.

Wasalam,

tauhid

Kepekaan terhadap ibadah sosial

91016

Kepekaan ummat terhadap ibadah sosial.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Tidak sedikit jamaah hajji Indonesia ketika di tanah suci mendapat pertanyaan yang cukup menggelitik, yang tidak mudah menjawab. Pertanyaab seperti ini rupanya muncul melihat kenyataan bahwa jamaah hajji Indonesia termasuk yang suka belanja barang-barang mahal, dan belinya juga banyak. Pertanyaan ini muncul lebih-lebih karena banyak koran yang memberitakan banyaknya gambaran kemiskinan di Indonesia. Pertanyaan itu juga tidak mudah dijawab karena jumlah mereka yang ingin menunaikan ibadah hajji ternyata selalu melebihi kuota yang tersedia bagi Indonesia, sehingga konon jika seseorang mendaftar hajji sekarang, dia harus menunggu sampai lima tahun lagi untuk memperoleh peluang  berangkat.

Memang tidak salah jika ada orang yaang berkeinginan untuk berangkat berhajji karena hajji adalah rukun Islam ke lima. Namun untuk pergi berhajji untuk yang kesekian kalinya perlu perenungan lanjut, antara lain manakah yang lebih baik dana sekian banyak itu untuk berhajji LAGI ataukah untuk bantuaan sosial? Bayangkan bahwa keimanan seseorang perlu diragukan Rasulullah SAW jika ada orang yang tidur nyenyak dengan perut kenyang kalaulah tetangganya masih ada yang kelaparan. Bahkan ada juga diriwayatkan bahwa seseorang yang digambarkan Rasulullah SAW dia selalu beserta dengan pahala yang sama dengan mereka di kelompok jamaahnya kemanapun mereka bergerak, padahal orang ini telah membatalkan rencana perjalanan hajjinya karena perbekalanannya diserahkan kepada tetangganya yang sangat memerlukan di saat dia sudah siap berangkat. Tidak terlalu salah jika sejumlah ulama mengingatkan bahwa ummat Islam perlu meningkatkan ibadah sosialnya, misalnya di bidang pendidikan yang punya manfaat berlipat ganda itu (multiplying effects).

Jika seseorang mengaku ingin tergolong muttaqin, maka dia seharusnya mau berinfak walaupun dalam keadaan pas-pasan ataupun kekurangan (QS Ali ‘Imran [3]: 134)

“(SIFAT ORANG MUTAQIN ITU) ORANG-ORANG YANG BERINFAQ (MENAFKAHKAN HARTANYA), BAIK DI WAKTU LAPANG  MAUPUN  SEMPIT….”

Orang yang berkecukupan jelas diwajibkan untuk berinfaq, namun bagi mereka yang diterbatasi rezeqinya oleh Allah masih juga dituntut untuk berinfaq dari yang telah diberikan Allah kepadanya itu (QS ath-Thalaq [65]: 7)

“MAKA HENDAKLAH ORANG YANG BERKECUKUPAN BERINFAK MENURUT KEMAMPUANNYA. DAN ORANG YANG DISEMPITKAN REZEKINYA HENDAKLAH JUGA BERINFAK DARI HARTA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADANYA. ALLAH TIDAK MEMIKULKAN BEBAN KEPADA SESEORANG MELAINKAN (SEKEDAR) APA YANG ALLAH BERIKAN KEPADANYA….”

Lebih rinci Rasulullah SAW menyebutkan bahwa  dalam pandangan Allah itu satu dirham infaq orang berkekurangan ini nilainya lebih besar dari seribu dirham infaq orang kaya.  Yang jelas jika kita tidak mensyukuri berbagai macam kenikmatan yang telah diberikan Allah, kita terancam untuk mendapat siksa yang sangat pedih (QS Ibrahim [14]:7).

“DAN INGATLAH JUGA TATKALA TUHANMU MEMAKLUMKAN: <SESUNGGUHNYA JIKA KAMU BERSYUKUR, PASTI KAMI AKAN MENAMBAH NIKMAT KEPADAMU, DAN JIKA KAMU MENGINGKARI NIKMATKU, MAKA SESUNGGUHNYA SIKSAKU SANGAT PEDIH….>”

Semoga kita menyadari posisi kita masing-masing, untuk kemudian berbuat dengan benar, agar ummat Islam dapat segera muncul pantas sesuai dengan keluhuran agamanya.


Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah.
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
e-mail: tauhid@telkom.net

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486

=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Tata langkah dalam beribadah puasa

90821

Tata langkah dalam berpuasa.

Bismi l-lahi r-rahmani r-rahim.

Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang penting karena mempunyai sasaran yang cukup menentukan nilai hidup kita nantinya. Allah SWT telah menyebutkan secara jelas sasaran ibadah puasa itu: taqwa. Kita tahu bahwa dengan menjaga mutu taqwa ini akan tercapailah akhir hidup yang baik: sebagai muslim, yang ini merupakan penentu apakah kita mendapat peluang menikmati kehidupan sorga ataukah tidak.

“HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, DIWAJIBKAN ATAS KAMU BERPUASA SEBAGAIMANA DIWAJIBKAN ATAS ORANG-ORANG SEBELUM KAMU AGAR KAMU BERTAKWA” (Surah al-Baqarah [2] ayat 183)

Taqwa itulah yang mampu mendorong kita untuk mau menegakkan shalat ataukah tidak, yang shalat ini disebutkan Rasulullah Muhammad SAW merupakan kunci untuk masuk sorga! Keberhasilan untuk mencapai sasaran shalat banyak ditentukan oleh semangat pendorong untuk melakukannya. Jika salah pendorongnya, maka arah puasanya pun dapat melenceng, sampai-sampai Rasulullah menyebutkan:

“Berapa banyak orang yang berpuasa yang hanya tidak meperoleh apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.”

Untuk menghindari puasa yang sia-sia, maka ibadah puasa harus kita lakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar. Kita hindari hal-hal yang menghilangkan ataupun mengurangi pahala, kita lakukan kegiatan-kegiatan yang jelas berpahala karena wajib ataupun yang disunnahkan. Kita upayakanlah agar kita dapat melakukan puasa itu. Semisal kita bepergian, janganlah sejak awal sudah tidak berpuasa, tetapi batalkanlah puasa jika memang mendesak, untik menghindarkan diri dari kelemahan yang merugikan, sebagaimana Rasulullah mencontohkan dalam perjalanannya ke Mekah dari Madinah. Beliau membatalkan puasanya di tengah perjalanan. Ketika ada sebagian rombongannya ada yang memaksa diri tetap berpuasa, Rasulullah menyebut mereka itu bermaksiyat. Rasulullah juga menyalahkan orang yang mau tetap berpuasa dalam perjalanan, apalagi kalau sampai dia pingsan dan menyusahkan orang lain.

Dalam keadaan terpaksa, puasa memang dapat ditinggalkan untuk diganti pada kesempatan lain, namun ini bukanlah untuk “bermanja-manja” atas peluang menunda puasa. Berupayalaaah untuk tetap berpuasa sampai keadaan memang memaksa. Aaaallaaah menegaskan pada akhir ayat 184 surah al-Baqarah [2] :

“… DAN BERPUASA LEBIH BAIK BAGIMU JIKA KAMU MENGETAHUI.”

Wa l-Lahu a’lamu bi sh-shawwab

**************

SAW. = shalla ‘l-Lahu ‘alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-’ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).

*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software sederhana: “Indeks Terjemah Qur’an”.

========================================

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat. Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup silakan hubungi saya.

Wassalam,

dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.

e-mail: tauhid@telkom.net Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya INDONESIA 60292 Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486 =

====================

Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW

Halaman Berikutnya »